Sunday, 26 February 2012

HATI-HATI ROBEAH

                                            HATI-HATI  ROBEAH

Main roundes ala kampung, sangat menyeronokkan kanak- kanak pekan kecil Tapah Road.
"Lili, cepat tangkap bola itu, cepat Lili cepat !!!!!!!!!! Tangkap bola tu Lili !!!!!!!!!!!!",  terdengar suara- suara  anak-anak  yang bermain bersama Lili.
Lili berlari mundur ke belakang menangkap bola itu dan berjaya, bola bersarang di tangan Lili yang tidak seberapa besar itu.
"Kita menang Lili !!!!!!!!!  Kita menang !!!!!!!!!!!", terdengar suara-suara bergembira.
"Memanglah kome menang, kome masuk kumpulan Lili, besok kalau main aku nak masuk kumpulan Lili supaya menang," terdengar seorang kawan Lili tak puas hati.
"Kita main sama-sama, kita berusaha sama-sama, barulah kita boleh menang," terdengar suara Lili memberikan penjelasan.
"Kamipun berusaha juga tapi kenapa kami kalah ?" jawab kawan Lili tadi.
"Beginilah, hari ini kita rehat dulu, besok atau lusa kalau ada masa kita berlatih dulu sebelun bermain supaya adil dalam pemilihan kumpulan". terdengar suara Lili menenangkan hati kawannya yang tak puas hati itu.

Permainan hari itu selesai Lili tak sedap hati, sebab ada kawannya yang tak puas hati dia tak mau terjadi perselisihan diantara kawan-kawanya, takut terjadi pergaduhan.
"Sementara waktu ini lebih baik tidak bermain roundes dulu", pikir Lili.

"Lili jom kita pergi ke stesen keretapi, kita main-main disana. Tadi kamu main dengan
budak-budak kecil, kamu lebih sesuai main dengan kita-kita ini", terdengar ajakan kak Imah
Lilipun bersemangat diajak kak Imah main ke stesen keretapi.
"Siapa yang ikut  kak ?"Lili bertanya ingin tahu.
"Ramai yang pergi kalau kamu tak pergi , kamu rugi tentu disana kita seronok", kak Imah menjekaskan.
Lili terasa ragu-ragu, maknya tidak akan membenarkan dia pergi, tetapi hatinya ingin sekali pergi. Banyak kawan-kawan yang besar-besar ikut serta pasti mereka akan membuat suasana jadi meriah.
"Jom lah Lili, kita sekejap je sebelum magrib kita sudah sampai di rumah", kak Imah menjelaskan.

Lili ingin sekali pergi, jarang sekali dia dapat pergi ke stesen itu, suasana di situ lain dari suasana tempat dia biasa bermain. Disana dia dapat melihat ramai orang, keretapi yang lalu lalang disitu menimbulkan minat Lili untuk pergi kesuatu tempat yang lain suatu hari nanti. Dia juga berharap suatu ketika nanti dapat melihat tempat-tempat yang belum pernah dilihatnya.Tentulah tempat itu tempat yang luar biasa. Bermacam-macam khayalan Lili ketika itu.
"Jom Lili kita pergi, kita berlari-lari kesana supaya cepat sampai, mungkin orang lain sudah sampai ke sana kita saja yang lambat", kak Imah meggesa Lili.

Dengan berlari-lari kecil merekapun sampai kestesen itu, memang betul sudah ramai kawan-kawan lainnya berkumpul di stesen itu, semuanya tertawa riang gembira melihat kedatangan mereka.

"Mari kita main kejar-kejaran melintasi jembatan ini", ajak Oneh penuh semangat .
" Jom !!!!!  jom, jom!!!!!! Jom, jom, jom !!!!!!!!" teriak kawan-kawan yang lain.
Lili berpikir-pikir, kalau dia ikut serta pastilah dia kalah saja, tentulah dari awal hingga akhir dialah yang jadi tukang kejar. Kawan-kawan yang lain akan mentertawakan dia.
Tetapi kalau tidak ikut  serta tentulah tidak dapat ikut bergembira, semua orang tertawa riang , apakah dia hanya akan tersengih saja tanpa rasa seronok ?

Tanpa berpikir panjang Lili menerima tawaran untuk ikut serta, dia akan berusaha lari sekencang-kencangnya, dia harus berlatih lari kencang, Lili yakin pasti boleh.
Memang betul sekarang giliran Lili yang harus mengejar kawan-kawannya, Lili dimain-
mainkan oleh teman-temannya itu.
"Tangkap aku Lili, aku hanya berjalan, takkan tak dapat tangkap aku", terdengar suara temannya mempermainkan Lili. Lili berlari mengejar kawan-kawannya itu, dengan pantas kawan-kawannya itu berlari turun tangga , dan cepat pula naik tangga jembatan itu
Sekarang Lili berazam untuk mendapatkan salah seorang dari mereka, dia tidak mau hanya jadi tukang kejar, dia ingin pula jadi orang yang dikejar dan dapat pula mempermain-mainkan orang lain.
"Tangkap aku Lili", terdengar suara Robeah. Lili berlari sekuat-kuat tenaganya mengejar Ro ,  sehingga sampailah Ro dekat tangga , dan harus menuruni tangga itu.
"Hati-hati  Robeah, Lili sudah dekat ", terdengar suara memperingatkan Ro .
Ro terpaksa perlahan untuk menuruni tangga, dengan kencangnya Lilipun sampai ketempat  itu digeselnya badan Ro, tanpa disadari tangan Lili terlalu kuat menggesel badan Ro, sebab dia berlari terlalu kencang, badan Ro tertolak dengan kuat, Ro tak dapat mengawal dirinya dan Ro terjatuh dua anak tangga.
Lili terpaku melihat Ro, mukanya pucat tidak tahu apa yang akan dibuatnya. Dilihatnya kepala Ro berdarah. Tiba-tiba kak Imah datang memanggil Lili.
"Lili cepat lari, mari kita lari nanti kita kena tangkap, cepat lari !!!!!!!!!!!! ",  Lili cepat lari mengikut kak Imah.
Kak Imah membawa Lili bersembunyi dalam polongan air di bawah jalan.
"Macam mana Ro kak ?" Lili bertanya hampir menangis.
"Akakpun tak tahu, kamu yang menolak Ro akak takut kamu kena tangkap, itu sebab akak bawa kamu lari", kak Imah memberi penjelasan.
Bermacam-macam berlega-lega dalam pikiran Lili, dia kasian dengan Ro, tak tahu pula nasib Ro macam mana dan tak dapat menolong Ro, takut pula dia kena tangkap kalau
orang tahu  dia yang menolak Ro.
Tambah lagi ketakutan Lili, waktu pergi tidak minta izin dengan emaknya, pastilah dia akan dimarahi emaknya dirumah nanti.
"Kak tadi kita tidak minta izin dengan emak, itulah sebabnya Lili ditimpa sial hari ini",
Lili menyesali dirinya hampir menangis ketakutan.
"Lain kali kita tidak buat lagi seperti ini ya Lili ?" kak Imah membujuk Lili.
"Macam mana ni kak, Lili takut, hari sudah mulai gelap", Lili sangat ketakutan.
"Mari kita keluar, kita balik rumah, sampai di rumah cepat mandi, pakai baju cantik-cantik, tolong mak sapu rumah, bersihkan cempeni lampu dan pasang, kalau kamu rajin, tentulah mak kamu tak marah. Mari kita berlari balik supaya cepat sampai", Kak Imah mengajar Lili apa yang harus dilakukan sesampai dirumah.
Dengan terengah-engah mereka sampai di rumah, Lili mengikuti semua nasehat kak Imah
Hari bertambah gelap, lampu sudah dinyalakan, Lili duduk diam-diam menunggu apa yang akan terjadi. Dipasangnya telinganya terdengar suara riuh di luar sana.
"Mana dia budak Azmah dan budak Laili dua orang tu, tengoklah anak aku berbalut kepalanya, ditolak oleh budak berdua tu di stesen keretapi. Nasib baik ada jaga distesen tu kalau tidak anak aku terbiar kat situ. Mana dia budak berdua tu", terdengar suara mak Robeah marah-marah di luar sana.
"Mana ada kak, depa dua orang tu ada di rumah, tak ada kemana-mana , entah siapa yang jahat dengan anak akak, kita di rumah mana tahu ?", suara emak Lili mebelamereka berdua.

"Lili apa yang engkau buat degan Robeah, tadi emaknya datang menyerang betulkah kamu yang menolak anaknya ", tanya emak Lili agak marah.
"Betul mak Lili yang menolak Ro, Lili tak sengaja, Lili mintak maaf dengan mak , tak minta izin pergi bemain-main dekat stesen siang tadi", jawab Lili jujur.
"Lain kali jangan buat lagi, jadikanlah ini pengajaran , kalau tak minta izin dengan mak tentu akan dapat bahaya", mak Lili mengajar anaknya.

Besoknya Lili pergi melihat Ro ,  balut kepalanya masih berbekas darah, Lili sangat sedih dia minta maaf dengan Ro dan juga emaknya. Walaupun mak Ro marah besar ,  Lili terpaksa menahan semuanya. Peristiwa ini dijadikan oleh Lili sebuah pengajaran.

No comments:

Post a Comment