Pengalaman adalah kekayaan
Tuesday, 10 February 2015
MENGAPA BANJIR G I L A ???????????
Wah........wah.......... catik GILA
Sedap GILA .......................
Jauh GILA.....................
Susah GILA .............................
BURUK GILA ...................
PANDAI GILA ...............................
BESAR GILA ................................
JAHAT GILA ........................................
BERSIH GILA .....................................
BAGAI NAK GILA ...................................
Berapa banyak kata gila dalam percakapan sehari-hari yang dapat kita dengar sekarang ini.
Apakah kata gila sudah menjadi bunga bahasa pada zaman moden ini ???
mengapa bunga bahasa, untuk keindahan bahasa kata G I L A yang dipilih ?
Apakah sekarang ini seseorang itu suka menjadi gila ?????????????????
kata orang ; kadang-kadang apa yang kita ucapkan itu adalah sebuah do'a , jika ini betul , janganlah sering-sering menggunakan kata GILA ini dalam percakapan.
Kita semua pastilah tahu bagaimana keadaan orang yang dikatakan gila itu
Keadaannya sangat menakutkan sangat mengerikan , bukanlah suatu keadaan yang menggembirakan
tetapi sebaliknya sangan menyedihkan .
mintak dijauhkan . Semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit gila ini.
Hentikanlah pemakaian kata ini dalam percapan..
Tentulah guru-guru di sekolah tidak mengajarkan pemakaian kata tersebut, yang tidak sesuai, dan tidak pada tempatnya seperti contoh di atas .
Tentu guru-guru menggunakan kata-kata:
Sangat cantik , terlalu besar , sungguh sedap, jauh nian , sangat susah , pandai sekali , sangat buruk
sangat bersih .
Alangkah manisnya paduan dua kata itu , sedap didengar, dapat dibanggakan untuk halua telinga bukan saja bagi kita orang Malaysia tetapi juga dapat menjadi halua telinga untuk orang asing .
Daripada kita menggunakan kata Gila yang mungkin mengejutkan orang yang tidak biasa mendengarkannya.. Mungkin mereka merasa takut dan ngeri , terbayang makna kata GILA itu. Jangan sampai tercabut jantung mereka .
Wednesday, 10 September 2014
DISINI KAMI BERNAFAS
D I S I N I KA M I B E R N A F A S
Sebuah true story disampaikan secara naratif ……………………..
Tidak seorangpun yang menyangka ada orang sekejam itu .
Kejam memang sungguh-sungguh kejam , sanggup memecahkan periuk nasi orang .
Sanggup menutup sumber rezeki ramai orang.
Mereka merasa menang dan Berjaya dengan menganiaya orang
lain yang tidak mengusik dan mengganggu kehidupan mereka .
“Macam mana ……………………………….??? mereka tidak tahu siapa kita ? , mereka tidak
tahu dengan siapa mereka berhadapan ?”,
pak Kenok berkata dengan bangganya .
“Untunglah perjuangan kita cepat Berjaya”, pak Koneng menjawab
dengan gembira.
“Perjuangan yang mudah ,…………………… dia siapa ,……………… kita
siapa ,………………………. kita angkat saja telepon , berlari berterbirit-biritlah
pegawai tu mengikut telunjuk kita , mana boleh main-main , Tanya lah siapa dulu
kita …………………………….???”, pak Kenok semakin
berselera untuk berkata-kata .
“Semuanya diam saja tak ada reaksi apa-apapun dari mereka”,
pak Koneng menambah lagi .
“Apa yang boleh mereka buat
………….??? , pegawai itu sudah kita pegang ,…………………… sudah mesti dia menurut telunjuk kita ,
semalam datang lori besar, habis semua barang-barang dan alat-alat perniagaan
mereka diangkut , tentulah tak dapat mereka berniaga lagi , semua alat-alat
memasak , semua kerusi meja habis semua , entah kemana diangkut , semua itu atas
perintah pegawai itu”, pak Kenok bertambah-tambah sombongnya.
“Aku pun merasa seronok , dengan
begitu , bertambah naiklah harga rumah kita di sini , sebab tidak ada orang
berniaga di sini , membuat bising dan kacau saja , tak ada kelas”, kata pak
Koneng berpuas hati .
“Kita mahu menjadikan tempat ini
, tempat yang ada kelas , tidak mahu bercampur aduk dengan tempat berniaga ,
dengan rumah besar seperti rumah kita ini , selayaknya kita bina tempat
kediaman yang tenang aman dan damai , ye lah mestilah sesuai dengan level kita
sebagai orang atasan yang ada duit . Kita bukan orang sembarangan , pegawaipun
dapat kita beli”, pak Kenok bertambah seronok dan bergairah untuk berkata-kata,
dan dapat membanggakan dirinya .
“Memang mereka tak sedarkan
diri………………… , dari awal lagi seharusnya mereka sudah tahu , di mana mereka
harus berniaga . Takkanlah mereka tak tahu bahwa mereka tak layak untuk berjiran
dengan kita”, pak Koneng pun merasa mendapat angin pula untuk membanggakan diri
.
“Mereka seharusnya sudah tahu ,
pegawai itu sudah kita pegang, sudah kita beli , apapun kesalahan-kesalahan
kita , pegawai yang berkuasa itupun tak berani angkat mulut . Beranikah pegawai
itu menegur kesalahan pembuatan jalan ?. Setengah jalan itu bukan tanah kita ,
sudah termakan tanah orang , tetapi adakah pegawai itu kesah ? Tetap juga pegawai meluluskan pembuatan
jalan itu”, pak Kenok meneruskan lagi mencari bukti-bukti kehebatan dirinya.
“Ah……………. Syukurlah kalau begitu
, beruntungnya kita menjadi orang yang berduit ini , semua dapat kita beli ,
mengenai hal ini , seharusnya semua orang tahu”, pak Koneng pun tertawa lebar ,
dengan senyum puas .
Selain Pak Kenok dan Pak Koneng ,
banyak lagi yang tertawa lebar , pak Seman ,pak Miun , pak Sewot , pak dollah ,
pak Jail , pak Ireng , dan semua pak cik-pakcik yang merasa dari level ‘atasan’
yang sanggup membeli apa-apa saja dengan duit , berlumba-lumba tertawa lebar .
Tertawalah ya tertawalah tiada
siapa yang melarang .
……………………………………
Tak sampai hati Atan melihat
keadaan ibunya , terasa mahu lari dia
dari berjumpa dengan ibunya.
Deraian air mata ibu dan isak
tangis,yang tak tertahan, tak tahan pula Atan melihatnya .
Rasa mahu lari Atan dari
menghadapi ibunya yang teramat sangat dilanda kesedihan itu.
“Mengapa mereka hendak meroboh
kedai kita Atan ? ……………….. Mengapa barang-barang kita diambilnya semua Atan ?
…………………
Hutang kita untuk kmembuat kadai
itu dan membeli barang-barang itu belumpun habis terbayar , mengapa mereka
merampas barang-barang kita Atan ? ………………….. Mengapa ???????????????????????
Apa salah kita ????????????????????????”
Ibu Atan terus menangis , pertanyaan itu diulang-ulangnya entah beberapa kali ,
dia tak habis pikir , dan tidak mendapatkan jawapannya .
“Mak !!!!!!!!!!!!!!!!! Atan tak tahu , Mak
!! Macam manaAtan hendak menjawap
pertanyaan Mak !!!!!!!!!! Atan tak
tahu ,
memang Atan betul-betul tak tahu .” jawab Atan dengan sebak .
“Apa salah kita ? Sanggup orang-orang itu menganiaya kita ,
memecahkan periuk nasi kita , ramai cucu-cucu mak menumpang makan,hasil dari
kedai itu, sanggup , sampai hati orang-orang itu menganiaya ramai orang ?” ibu Atan
meluahkan perasaan sedihnya .
“Mak ………….!!!!!!! Kita orang
teraniaya , bagaimana kalau kita sembahyang hajatkan saja siapa yang menganiaya
kita itu , do’a orang teraniaya pasti dikabulkan Tuhan . Kita do’akan saja
supaya herot mulutnya, buta matanya sebelah , cengkok tangannya , lumpuh
kakinya, atau sesak nafasnya . Macam-macam lagi dapat kita do’a kan , biar
padan mukanya , seronok sangat menganiaya orang , biar dia rasa”, Atan melepaskan sakit hatinya pula , sakit
hati terhadap orang yang menganiaya , dan kesian melihat kesedihan ibunya .
Ibu Atan ternganga mendengarkan
kata-kata anaknya , tidak biasanya Atan mengeluarkan kata-kata sekejam itu ,
apalagi melakukan kerja sekejam itu , dia mengenal anaknya sebagai seorang
pengasih penyayang , lemah lembut , dan senyumnya membuat orang simpatik .
“Atan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! mengapa cakap macam tu , Tak baik kita
menganiaya orang macam tu
!!!!!!”, ibunya bersuara dan berhenti menangis .
“Kan dia yang dulu menganiaya
kita ? Apa salahnya kita balas?”, Atan menjawab .
“Apapun yang kita minta kepada
Allah , apa yang kita do’akan , haruslah yang baik-baik saja, kita do’akan
supaya mereka diberi petunjuk dan hidayah semoga terbuka hatinya untuk berbuat
baik sesama manusia apalagi sesama Isalam”, ibu Atan menasehati .
“Mak ni baik sangat ……………………….!!!
Sekali-sekali kita buat pula orang itu supaya dia serik dan berhenti menganiaya orang . Sesudah
kita dianiaya begini , entah siapa lagi yang akan dianiayanya . Dia sangat
berleluasa .
Kalau sudah cengkok tangannya , herot mulutnya , macam mana lagi dia nak
buat jahat kepada orang lain”, Atan mempertahankan hujahnya.
“Atan ……………..!!!!!!!, tak baik ,
mak kata tak baik , tak baiklah , dengar cakap mak”, ibu Atan berkata selamba.
“Mak …………………..!!!! kita ni teraniaya , apa kita nak buat , apa
daya kita untuk melawan orang-orang berduit itu
? Kita tak salahpun jadi salah
juga . Kita berniaga membuat kedai di atas tanah kita sendiri apa salahnyanya
? Mak tengok berapa banyak kedai –kedai
kecil berdiri di sepanjang jalan, apakah orang berniaga di kedai-kedai yang
bukan tanahnya sendiri itu dapat lessen untuk brerniaga ? Di pasar borong itu
,orang asing yang berniaga, apakah mereka di beri lessen perniagaan dan dapat
tapak pula tempat berniaga ?
Mengapa Mak ??????????????????? Mengapa ?????????????????????? Kita berniaga
diatas tanah kita sendiri tak boleh ke Mak ????????????? Orang yang berniaga di
tepi jalan itu orang berduit ke Mak ???
mengapa mereka dibiarkan bertahun-tahun , tidak diganggupun . Mereka
kebanyakkannya orang asing , orang asing itu datang ke Negara kita ini membawa
banyak duit ke Mak , untuk membeli lessen ? ….
semua orang itu banyak duit
ke ? dapat membeli lessen . Dapat pula
membeli apa yang mereka hendak ?” Atan menyuarakan perasaannya yang tak dapat
dibendungnya .
“Cuba mak pikir , orang-orang
yang berniaga liar itu kebanyakkannya orang asing , mereka mendirikan
kedai-kedai bukan di atas tanah mereka , mereka berniaga itu Mak rasa dapat
lessen ke ,… tak ? ………………. Berapa
kesalahan mereka Mak ?......................... , Tidak ada apa-apa tindakan
kepada mereka . Adakah ini adil Mak
? Kita rakyat Negara ini mengapa
kita diperlakukan begini ?” , Tak habis-habis rasa kecewa di hati Atan .
“Orang-orang itu berniaga ,
tak ada orang yang dengki , jadi tak
adalah yang mengadu”, Mak Atan menduga-duga .
“Kalau ada orang mengadu ,
barulah ada tindakan ………………… , kalau tak
ada , tak adalah tindakan , walaupun kesalahannya jelas dan nyata ?...........
Begitu ke Mak ? Kalau begitu ,
kerja- kerja dijalankan berdasarkan pengaduan ? Kalau Tak ada orang orang yang dengki , yang busuk hati , orang yang jahat sesama
Islam yang suka mengadu , tidak perlukah orang-orang pejabat tu buat kerja
? Perlu ke , kita membina
sebanyak-banyaknya orang busuk hati , orang dengki, orang yang jahat , yang
suka mengadu , supaya kerja-kerja berjalan ?................................
Orang yang bukan Islam tak suka mengadu , tidak adalah apa-apa tindakan kepada mereka
, walaupun mereka berbuat suatu kesalahan
………………???????????????????? Betul ke Mak , undang-undang Negara kita
macam itu ?
Kalau begitu Dapatkah ditegakkan
keadilan ?”, banyaknya factor-faktor penyebab Atan tak puashati .
“Entahlah Tan , tanah kita ini
tanah pertanian peninggalan dari bapamu,
itu saja yang Mak tahu , kita berniaga di situ , memang hanya itulah
tanah pusaka yang kita ada ………….. , salah ke tu
…………………..?” itulah yang dapat
dijelaskan oleh ibu Atan .
“Tanah kita tanah pertanian
,……………………… Tak bolehkah seorang petani
berniaga Mak ?”, Atan meneruskan .
“Kita berniaga di atas tanah kita
, tidak sedikitpun termakan tanah orang
, Mak tengok berapa banyak tanah kita yang diambil orang untuk membuat jalan
untuk laluan mereka ? Mak ………………….!!!! Dimana letaknya keadilan ?” memang tak
habis persoalan dalam kepala Atan.
“Makpun tak tahu menjawabnya
,cubalah bertanya kepada siapa-siapa yang dapat mencarikan jawapan untuk soalan
kamu itu”, ibu Atanpun terdiam mendengarkan persoalan Atan yang panjang lebar itu .
………………………………………………………………
“Sudah terjawabkah persoalan kamu
Atan?”Ibu Atan bertanya , kelihatan dia agak tenang , tetapi kesedihan wajahnya
tidak berkurang .
“Ada yang sudah dan ada yang
belum ,Mak . Tetapi sembahyang hajat rasa nak buat juga mak !” jawab Atan .
“Jangan Atan …………….!!!!!
Dahsyat akibat dari SOLAT HAJAT TU …..!!!!!!!!!!!!!!!!!! Tak payah kita mebalasnya macam tu sekali , Kita do’akan
mereka mendapat hidayah dan petunjuk . Berdo’a kepada Allah mesti yang
baik-baik saja , jangan ada do,a yang tak baik .
Allah MAHA KUASA DAN MAHA ADIL ,
biarlah Allah yang menentukan segala-galanya . Kalau Allah berkehendak sangat
mudah baginya.
Biarlah kita dianiaya jangan kita
yang menganiaya”, ibu Atan menambahkan nasehatnya .
“Terima kasih Mak ……!!!! Mak mendidik kami sangat baik , Atan bangga
dengan Mak, Mak mendidik kami , tidak lain tujuannya menyelamatkan kami dunia
dan akhirat . Mak beritahu kami bahwa kehidupan dunia ini sementara………….. ,
dunia adalah tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan yang kekal untuk akhirat
nanti , dunia ini adalah mainan , hiasan yang melalaikan, Mak melarang kami
terpesona dengan keindahan dunia , HIDUP YANG SEBENARNYA ADALAH DIAKHIRAT
NANTI”, Atan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya ………………………………………
Hari itu ibu Atan datang juga ke
kedainya , disapunya dan dibersihkannya juga seperti biasa.
“Tapi Atan lihat Mak tetap sedih
juga , Atanpun jadi sedih ,bercampur marah , macam mana Atan dapat tenang melihat
keadaan Mak macam tu?” Atan bertanya kepada ibunya .
“Atan anakku macam mana Mak tak
sedih , di sinilah di kedai ini mak merasakan ketenteraman , kedamaian ,
setelah ditinggalkan bapakmu, disini sering berkumpul saudara-saudaramu ,
datang menengok Mak , mereka datang menolong Mak , datang menolong kerja-kerja
Mak , dapat makan bersama-sama , seperti masa kecil dulu di kala bapamu masih
ada”, ibu Atan mencurahkan perasaan hatinya .
“Sejak bapamu meninggalkan kita ,
hati mak sangat kosong, mak dapat mengisi hati mak dengan kehadiran anak-anak
di sisi Mak.
Di sinilah , di tanah pusaka
peninggalan Bapakmu ini , di kedai ini , masih terasa bayangan bapamu tetap ada
bersama kita”, ibu Atan bermadah dengan sedihnya.
“Mengapalah kedai ini harus ditutup , dilarang kami untuk
bersama-sama .
DI SINI LAH KAMI BERNAFAS , DI
SINILAH KAMI MENIKMATI KEBERSAMAAN , DI TANAH PUSAKA INI”, IBU ATAN MENGINGAT
KEMBALI KEHIDUPANNYA YANG LALU , Kehidupan bahagia yang telah lama luput
darinya . Air matanya berderai-derai , menggelinding di pipinya , entah sampai
bila pula akan berhenti ……………………………………………………
……………………………………………………………………
Friday, 29 June 2012
BERPIKIR MAJU IKUT PERKEMBANGAN TEKNOLOGI LOGI, BERPIKIR DI LUAR KOTAK LOGI BERPIKIR DI LUAR KOTAK LOGI
BERPIKIR MAJU IKUT PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Berpikir di luar kotak
Teknologi sangat maju, CARA KITA BERPIKIR juga harus maju ,supaya kita tidak ketinggalan dan tidak rugi dalam mengikuti arus zman.
Kita lihat contoh ini; Suatu masa belum berapa lama berselang, harga minyak negara kita naik melonjak, apa lagi harga barang dinegara kita melambung tinggi sekali, ini adalah kesempata para peniaga menaikkan harga barangnya, dengan alasan ongkos pengangkutan melambung naik, terselip juga dalam pikiran para pedagang hendak memperoleh keuntungan yang sangat besar, peluang ini datang hanya sekali-sekali saja. Memang hal ini sudah menjadi rahasia umum para pedagang. Kadang-kadang kenaikan harga tidak manesabah, tidak sebanding dengan kenaikan harga minyak untuk penggunaan pengangkutan barang-barang mereka.
Seharusnya kalau harga minyak diturunkan kepada harga asal tentulah harga barang-barang kembali seperti sediakala.
Apa yang berlaku ???????? Harga minyak turun lebih murah dari harga sebelum di naikkan, apakah harga barang kembali kepada harga asal ???
Siapa yang berpikir lebih maju dalam hal ini pedagang atau si penentu harga minyak ?
Disinilah pentingnya berpikiran maju, apalagi menyangkut dengan kepentingan orang ramai. Apakah tidak berdosa orang yang tidak berpikir maju ?
Mantan Perdana Menteri Malaysia, yang sangat-sangat di sayangi rakyat; TUN DR MAHATHIR MOHAMAD, telah mendidik rakyat negara ini untuk berpikir maju.
Beliau telah menyelamatkan rakyat negara ini dari kesengsaraan dan kepapaan. Ketika Soros menyangak wang kita, kita telah miskin, wang kita tinggal sedikit. Mengikut teori biasa jika kita tidak ada wang kita boleh meminjam wang. IMF membuka pintu seluas-luasnya, meminjamkan wang kepada negara-negara yang memerlukannya, DENGAN MENGENAKAN BUNGA YANG SANGAT TINGGI, SEHINGGA SANGAT SUSAH NEGARA-NEGARA MISKIN UNTUK MEMBAYARNYA, DAN BERBAGAI-BAGAI SYARAT YANG DIKENAKAN, SEHINGGA SI PEMINJAM TERPAKSA MENGIKUT TELUNJUK NEGARA-NEGARA TERTENTU.
Langkah meminjam wang inilah yang dielakkan oleh DR Mahathir ketika itu.
Pada waktu penyangak mata wang George Soros telah menyangak wang kita, Tun DR Mahathir Mohamad telah mengeluarkan beberapa teorinya, sebagai hasil berpikir maju beliau. Beliau berpikir di luar kotak. Mari kita lihat cara berpikir beliau, kita bandingkan dengan cara berpikir orang-orang biasa.
Pada saat negara telah miskin, beliau menyeru supaya rakyat berbelanja, para pedagang disuruh meminjam wang dari bank dan bank harus meminjamkan wangnya dan pedagang harus memperbesarkan perniagaannya. Di sa'at Teorinya ini sungguh berjaya. Ditambah lagi dengan beberapa teorinya yang lain negara Malaysia tidaklah berapa teruk, dan cepat pulih perekonomiannya. Ini adalah salah satu teorinya yang bertentangan dengan cara berpikir biasa.
Ada dua lagi teori penting beliau ketika itu, untuk menyelamatkan negara ini dari kepapaan. Inilah salah satu jasa beliau untuk negara ini. Rakyatnya tidak merasakan kesusahan ketika Soros cuba menghancurkan negara-negara di rantau ini. Sedangkan negara-negara lain seperti lazimnya orang kesusahan, pastilah meminjam kepada IMF, dan pastilah mereka terikat terjerat, dengan jerat yang sudah menunggu mengikat mangsanya. Sememangnya DR Mahathir patut jadi pemimpin, dalam dirinya memang sudah ada modal untuk memimpin, dengan disiplinnya, sifat tegasnya, berani pada yang benar dan mempunyai gezah yang tinggi disegani oleh lawan dan kawan, dan banyak lagi .
Salah satunya beliau dapat berpikir secara logis, lain dari cara berpikir biasa.
Jika ingin maju memanglah kita harus belajar berpikir di luar pola berpikir biasa.
Pernah saya membaca tentang "teori konvensioal", dan teori yang menyanggahnya.
Petani yang hidup miskin, haruslah berhemat, berjimat cermat sesuai dengan kemampuan. Diwaktu pagi sebelum pergi ke sawah, terlebih dahulu harus makan. Sebagai hidangan adalah rebus ubi kayu, selesai makan barulah turun ke sawah. Ketika musim susah padi tidak menjadi terpaksalah para petani berhemat, rebus ubi kayu sebagai hidangan pagi harus dikurangi, biasanya dua kerat, dimusim susah ini hanya mendapat satu kerat sahaja. Pemikir yang kreatif, yang maju menentang sungguh teori berjimat cermat para petani itu.
"Mereka ( para petani ) seharusnya bukan dikurangi makanannya diwaktu pagi itu, tetapi harus ditambah. Bukan hanya makan rebus ubi kayu tetapi harus makan nasi dengan lauk pauk yang berzat, supaya badan mereka sehat, tenaga kuat dan bertambah, supaya terasa ringan menghayunkan cangkul di sawah. Tenaganya berlipat ganda, hasil kerjanya akan berlipat ganda pula, pastilah hasi sawahnya akan berlipat ganda, dibandingkan dengan petani yang lemah kurang makan, pastilah tidak terdaya menghayunkan cangkul nya di sawah. Apakah kita dapat mengharapkan hasil yang lumayan dari petani yang lemah, tidak sehat, dan tidak terdaya menghayunkan cangkul di sawah ?
Inilah sekedar contoh cara berpikir dengan pola berpikir yang lebih logik, tidak berpikir mengikut kebiasaan, tidak berpikir ikut orang ramai berpikir, kalau sekiranya cara berpikir itu tidak sesuai dengan situasi kan kondisi dimana kita berada dan tidak sesuai dengan permasahan yang ada.
Nanti kita sambung lagi........
29 June 2012.
Berpikir di luar kotak
Teknologi sangat maju, CARA KITA BERPIKIR juga harus maju ,supaya kita tidak ketinggalan dan tidak rugi dalam mengikuti arus zman.
Kita lihat contoh ini; Suatu masa belum berapa lama berselang, harga minyak negara kita naik melonjak, apa lagi harga barang dinegara kita melambung tinggi sekali, ini adalah kesempata para peniaga menaikkan harga barangnya, dengan alasan ongkos pengangkutan melambung naik, terselip juga dalam pikiran para pedagang hendak memperoleh keuntungan yang sangat besar, peluang ini datang hanya sekali-sekali saja. Memang hal ini sudah menjadi rahasia umum para pedagang. Kadang-kadang kenaikan harga tidak manesabah, tidak sebanding dengan kenaikan harga minyak untuk penggunaan pengangkutan barang-barang mereka.
Seharusnya kalau harga minyak diturunkan kepada harga asal tentulah harga barang-barang kembali seperti sediakala.
Apa yang berlaku ???????? Harga minyak turun lebih murah dari harga sebelum di naikkan, apakah harga barang kembali kepada harga asal ???
Siapa yang berpikir lebih maju dalam hal ini pedagang atau si penentu harga minyak ?
Disinilah pentingnya berpikiran maju, apalagi menyangkut dengan kepentingan orang ramai. Apakah tidak berdosa orang yang tidak berpikir maju ?
Mantan Perdana Menteri Malaysia, yang sangat-sangat di sayangi rakyat; TUN DR MAHATHIR MOHAMAD, telah mendidik rakyat negara ini untuk berpikir maju.
Beliau telah menyelamatkan rakyat negara ini dari kesengsaraan dan kepapaan. Ketika Soros menyangak wang kita, kita telah miskin, wang kita tinggal sedikit. Mengikut teori biasa jika kita tidak ada wang kita boleh meminjam wang. IMF membuka pintu seluas-luasnya, meminjamkan wang kepada negara-negara yang memerlukannya, DENGAN MENGENAKAN BUNGA YANG SANGAT TINGGI, SEHINGGA SANGAT SUSAH NEGARA-NEGARA MISKIN UNTUK MEMBAYARNYA, DAN BERBAGAI-BAGAI SYARAT YANG DIKENAKAN, SEHINGGA SI PEMINJAM TERPAKSA MENGIKUT TELUNJUK NEGARA-NEGARA TERTENTU.
Langkah meminjam wang inilah yang dielakkan oleh DR Mahathir ketika itu.
Pada waktu penyangak mata wang George Soros telah menyangak wang kita, Tun DR Mahathir Mohamad telah mengeluarkan beberapa teorinya, sebagai hasil berpikir maju beliau. Beliau berpikir di luar kotak. Mari kita lihat cara berpikir beliau, kita bandingkan dengan cara berpikir orang-orang biasa.
Pada saat negara telah miskin, beliau menyeru supaya rakyat berbelanja, para pedagang disuruh meminjam wang dari bank dan bank harus meminjamkan wangnya dan pedagang harus memperbesarkan perniagaannya. Di sa'at Teorinya ini sungguh berjaya. Ditambah lagi dengan beberapa teorinya yang lain negara Malaysia tidaklah berapa teruk, dan cepat pulih perekonomiannya. Ini adalah salah satu teorinya yang bertentangan dengan cara berpikir biasa.
Ada dua lagi teori penting beliau ketika itu, untuk menyelamatkan negara ini dari kepapaan. Inilah salah satu jasa beliau untuk negara ini. Rakyatnya tidak merasakan kesusahan ketika Soros cuba menghancurkan negara-negara di rantau ini. Sedangkan negara-negara lain seperti lazimnya orang kesusahan, pastilah meminjam kepada IMF, dan pastilah mereka terikat terjerat, dengan jerat yang sudah menunggu mengikat mangsanya. Sememangnya DR Mahathir patut jadi pemimpin, dalam dirinya memang sudah ada modal untuk memimpin, dengan disiplinnya, sifat tegasnya, berani pada yang benar dan mempunyai gezah yang tinggi disegani oleh lawan dan kawan, dan banyak lagi .
Salah satunya beliau dapat berpikir secara logis, lain dari cara berpikir biasa.
Jika ingin maju memanglah kita harus belajar berpikir di luar pola berpikir biasa.
Pernah saya membaca tentang "teori konvensioal", dan teori yang menyanggahnya.
Petani yang hidup miskin, haruslah berhemat, berjimat cermat sesuai dengan kemampuan. Diwaktu pagi sebelum pergi ke sawah, terlebih dahulu harus makan. Sebagai hidangan adalah rebus ubi kayu, selesai makan barulah turun ke sawah. Ketika musim susah padi tidak menjadi terpaksalah para petani berhemat, rebus ubi kayu sebagai hidangan pagi harus dikurangi, biasanya dua kerat, dimusim susah ini hanya mendapat satu kerat sahaja. Pemikir yang kreatif, yang maju menentang sungguh teori berjimat cermat para petani itu.
"Mereka ( para petani ) seharusnya bukan dikurangi makanannya diwaktu pagi itu, tetapi harus ditambah. Bukan hanya makan rebus ubi kayu tetapi harus makan nasi dengan lauk pauk yang berzat, supaya badan mereka sehat, tenaga kuat dan bertambah, supaya terasa ringan menghayunkan cangkul di sawah. Tenaganya berlipat ganda, hasil kerjanya akan berlipat ganda pula, pastilah hasi sawahnya akan berlipat ganda, dibandingkan dengan petani yang lemah kurang makan, pastilah tidak terdaya menghayunkan cangkul nya di sawah. Apakah kita dapat mengharapkan hasil yang lumayan dari petani yang lemah, tidak sehat, dan tidak terdaya menghayunkan cangkul di sawah ?
Inilah sekedar contoh cara berpikir dengan pola berpikir yang lebih logik, tidak berpikir mengikut kebiasaan, tidak berpikir ikut orang ramai berpikir, kalau sekiranya cara berpikir itu tidak sesuai dengan situasi kan kondisi dimana kita berada dan tidak sesuai dengan permasahan yang ada.
Nanti kita sambung lagi........
29 June 2012.
Saturday, 9 June 2012
HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU
PENGHUJUNG USIA
Di penghujung usiaku ini, selalu aku menoleh kebelakang, aku dapat melihat kembali dengan jelas liku-liku kehidupan yang aku lalui. kadang-kadang kepalaku menggeleng-geleng tanpa kusedari. betapa kuatnya aku betapa aku dapat melalui kehidupanku yang keras dan gersang itu, tidak ada sahabat, tempat mencurahkan perasaan tdak ada handai taulan yang membantu dan menolong, aku tempuh yang demikian itu, sambil hatiku berkata sendiri, "Aku mampu menjalani hidup seperti itu ? Aku mampu menjalani hidup yang keras seperti itu ?"
Allah Yang Maha Kuasa telah menurunkan kepada setiap kaum hawa rasa kasih sayang yang tak terhingga kepada anak-anak yang dilahirkannya. Begitu jugalah aku, rasa kasih sayangku kepada anak-anakkulah menjadikan aku seorang yang tegar pantang menyerah, seperti kata pribahasa patah kaki bertongkat paruh, walaupun tak terdaya, aku kuatkan juga dengan tenaga apa yang ada demi membesarkan anak-anakku tercinta.
"Bu ....! kenapa rumah orang tu, rumah orang yang kita pergi tadi tu cantik, cantik sangat, kenapa rumah kita buruk ?
Lina tak nak rumah buruk tu, Lina nak rumah cantik macam tadi tu, macam mana bu ?" anakku Lina bertanya kepadaku ketika kami balik dari rumah kakak sepupuku untuk meminjam wang.
Aku termenung sebentar mencari jawaban yang tepat dan baik bagi anakku. Aku dahului dengan senyuman sebelum menjawab pertanyaannya itu.
"Lina suka rumah cantik macam tu ? Ibupun suka juga", jawabku
"Kita beli lah bu rumah macamtu Lina suka", anakku meneruskan lagi permintaanya.
"Lina sekarang baru umur 3 tahun setengah, umur 6 tahun nanti Lina sekolah. Lina harus belajar rajin-rajin dapat nombor satu ", belum habis aku berkata tak sabar Lina memotong
"Kalau dapat nombor satu dapat rumah cantik ke bu ?"
"Kalau Lina rajin-rajin belajar dapat nombor satu selalu, nanti Lina dapat kerja bagus, gaji banyak, dapatlah beli rumah cantik, besar, macam rumah yang kita pergi tu." kataku.
Lina termangu-mangu mendengarkan, entah dia mengerti entah tidak akupun tak tahu. Turun dari bas kupimpin anakku bejalan ke rumah. Lina diam tidak berkata sepatahpun. Aku tahu pastilah Lina masih memikirkan rumah cantik dan besar yang dinaikinya tadi. Ku lihat wajah Lina ketika masuk ke rumah kecil yang ku sewa itu, seperti wajah kecewa, kecewa seorang anak kecil terasa di hatinya tak dapat dia kemukakan kekecewaannya sepuas hatinya.
Setiap pagi kakak Mia datang menjaga Lina, aku pergi bekerja dapt kubayangkan betapa bosannya anakku tinggal di rumah kecil, tiada hiasan dalaman yang menarik, tinggal berdua saja dengan kak Mia. Entah apa yang dibuat mereka di rumah itu akupun tak tahu.
Pada waktu Lisa adik Lina lahir, terbayang kegembiraan di wajah Lina, tertapi kecembuaruan dihati Lina takut kasih sayang ibu tertumpah kepada adiknya Lisa menyebabkan kegembiraan Lina tidak kekal lama. Tambahan lagi mereka berdua harus ku antar kerumah tetangga ketika aku pergi bekerja. Kak Mia tak bekerja lagi.
Kehidupanku bertambah sedih, suamiku yang seharusnya memberi nafkah kami, justru minta wang dariku untuk dijadikan modal. Gajiku yang tak seberapa terpaksa kuberikan juga untuk membeli kerusi gunting rambut sebab katanya dia mau bekerja sebagai tukang gunting rambut. Tak dapat kukatakan lagi kekecewaanku belumpun sampai sebulan kerusi itu dibawanya balik dan dibiarkanya berhujan berpanas di luar rumah seperti barang tak berharga, sebab dia tidak mau lagi bekerja sebagai tukang gunting rambut. Padahal keringatku belum lagi kering untuk mencari wang pembeli kerusi itu.
Setiap hari kupandang kursi yang berhujan berpanas itu, yang wang pembelinya adalah wang belanja makan yang harus dikurangi. Aku menangis sedih dengan air mataku jatuh ke dalam. Perkelahian akan terjadi kalau aku bersuara mengenai hal itu.
Tidak ada lagi pekerjaan minta lagi wang untuk modal. Seperti aku memotong dagingku sendiri pedihnya ketika aku terpaksa memberikan wang untuk modal itu sebab gajiku hanya sedikit. Cukup untuk belanja makan, beli susu anak dan semua keperluan yang lain-lain. Tidak cukup sampai disitu wang modal itu habis minta lagi sebab katanya modal sedikit memang terpaksa rugi, semua orang juga begitu, itulah jawaban suamiku.
Pernah juga dia minta untuk dibelikan terompet katanya mau belajar main terompet biar ikut artis mudah dapat wang. Permintaan yang satu ini tidak kukabulkan di samping wang ku memang tidak cukup untuk belanja seharian. Dia sendiri tidak pernah kenal terompet, berapa pula lamanya harus belajar dan apakah dia memang boleh pandai dan apakah ada yang mau menerima dia untuk bekerja, terbayang pula olehku apakah terompetnya sama pula nasibnya dengan kerusi tempat gunting rambut yang masih terbaring di luar sana.
Permintaannya tidak ku kabulkan, tentulah terjadi pergaduhan, dia pergi meninggalkan kami bertiga. Aku sudah pasrah, kalau dia pergi apa boleh buat aku tak tahan lagi dengan kerenahnya. Anakku Lina merasa kesunyian, dia menangis memanggil-manggill bapanya.
Akupun termenung apakah aku akan menurutkan kesal hatiku atau aku akan menghentikan rintihan anakku yang kehilangan bapanya.
Alangkah terkejutnya aku, rupanya dia sang suami beberapa hari tidak balik ini berdiam di rumah sepupuku itu, dengan bermacam-macam crita yang dibawanya memburuk-burukkan aku. Betapa pedihnya hatiku, aku dikatakan perempuam mata duitan, aku tidak suka kepadanya sebab dia miskin dan lain-lain sebagainya. Dalam kepedihan begitu aku terpaksa menerimanya kembali, demi anakku yang merindukannya.
"Sekarang ini aku bukan hidup untuk diriku, aku hanya hidup untuk anak-anakku, Jangan banyak tingkah dan jangan banyak bersuara", begitulah aku memarahi diriku, setiap kali kesedihan melanda hatiku.
Hari demi hari berlalu, kehidupan berjalan terus, dengan berbagai-bagai permintaan tidak lupa uantuk modal, menambah modal, membeli barang-barang lebih banyak supaya harga lebih murah dan berbagai macam lagi alasan memperkuat berbagai-bagai pemintaan. Dia juga pernah menyuruhku," Pinjamkanlah aku duit kepada kawan-kawan kamu itu mereka kan kaya kaya, nanti akan ku bayar kalau jualanku laris," Aku tidak meminjamkan wang itu kepada kawanku tetapi kuberikan wangku sendiri, entah berdosa aku berbohong mengatakan wang itu kupinjam dari kawanku dan haru di angsur membayarnya setiap bulan. Sebulan dibayarnya, dua bulan, bulan ketiaga disuruhnya aku membayar sebab dia perlu wang, bulan keempat di bayar, dan seterusnya dia seolah-olah tidak berhutang apa-apa. Aku telan semuanya itu demi kebaikan anak-anakku.
Aku kesian dengan anak-anakku tidak ada kegembiraan hidup, tinggal di rumah yang sangat sederhana, tidak ada kemudahan apapun semuanya serba susah dan membosankan. Untuk menghibur anak-anakku setiap bulan kusisihkan wang gajiku untuk membawa mereka ke supermarket berbelanja apa saja yang mereka inginkankan, dan juga aku bawa merka bemain-main ketempat permainan kanak-kanak. Anak-anakku sungguh gembira, setiap hari mereka menunggu bila aku akan dapat gaji supaya mereka dapat ke tempat yang mereka sukai itu.
Betapa sulitnya keadaanku, aku harus menjaga martabat keluarga, aku malu dengan teman-teman sekerja, bajuku hanya tiga, empat helai untuk kupakai mencari wang sedangkan temanku mempunyai bermacam-macam jenis baju yang di belikan suaminya di London Paris dan baru-baru ini di Jepun. Aku ke tempat kerja dengan baju lusuh.
Suatu pagi aku bersiaplah dengan baju lusuh pergi bekerja, tiba-tiba sang suami datang dengan mengejek, "Pakai baju lusuh begini pergi bekerja ? Tapi kawan kamu semua pakai baju cantik-cantik, kamu tidak malu begini ? Aku sendiri malu."
"Aku ini isteri siapa, siapa yang harus membelikan aku baju ?" jawabku
"Kamu bekerja belilah baju kamu sendiri, minta dengan aku tak ada lah" , jawabnya.
"Kemana perginya wang gaji aku, kita semua tahu kan? Aku permpuan aku ingin sekali mamakai baju cantik-cantik, bersolek diwaktu muda ini seperti teman-temanku itu !" jawabku dengan sedih, bercampur marah dan terasa mau menangis, tetapi sebelum habis ayat-ayat ku dia sudah pergi meninggalkan aku. Terasa seperti dia hanya mau menyakitkan hatiku akupun tidak tahu apa yang tersembunyi di hatinya. Dan apa maunya.
Waktu terus berlalu, anakku Lina dapat masuk U M , anakku Lisa dapat ke U K, dan harus belajar 2 tahun di PPP Shah Alam, anak lelakiku, tingkatan 2 yang perempuan kecil derjah 4 dan yang bungsu lelaki belum bersekolah. Sang suami dapat kedai, tetapi kedai itu tiada pengunjung sama sekali, dibiarkan kosong hanya membayar sewa lebih dari setahun. Dia menyuruhku menunggu kedai itu sehabis jam kerjaku. Betapa tersiksanya aku duduk di kedai tanpa ada pembelinya, sedangkan anakku masih memerlukan aku duduk menungguku di rumah. Pernah sekali kudapati anakku berdua sedang menangis sebab yang kecil terjatuh masuk longkang, akupun tak dapat menahan tangisku, kupeluk anakku sambail menangis pilu menanggung kesedihan.
Besoknya ku suruh anakku yang perempuan umur belum cukup 10 tahun itu mengambil adiknya di rumah orang tempat aku metitipkan setiap hari, membawa adiknya yang berumur 3 tahun setengah itu pergi kekedaiku naik bas. betapa tersiksanya aku duduk menunggu anak-anakku dua orang masih kecil-kecil, betapa sia-sianya aku. Aku tahu pekerjaanku ini sangat berbahaya tetapi terpaksa kulakukan juga. Sejak itu setiap hari anakku yang dua orang itu datang ke kedaiku dengan bas. Sangat banyak hal-hal yang merenggut jantungku terjadi, terlalu panjang untuk diceritakan di sini.
Aku terus berpikir apa yang harus kubuat di kedai itu, dari pada menunggu jualan yang tak laku, aku beli sebuah mesin jahit, akupun belajar menjahit untuk mengisi waktu. ALLAH memberi rezeki, banyak sekali orang menempah denganku, sehinggalah aku membeli satu demi satu mesin jahit dari penghasilan kadai itu, aku membeli sepuluh mesin dengan memakai 10 orang pekerja. Barulah aku merasakan mempunyai wang dan dapatlah aku agak mewah berbelanja. tetapi anehnya setelah mempunyai wangpun tidaklah aku boros sebab telah terbiasa hidup sederhana.
Dapatlah aku membeli kereta, menyimpan wang sedikit-sedikit.
Aku masih juga tidak dapat bergembira, masih terus dikehendaki terus bersedih, dengan penghinaan yang tidak kusangka sma sekali, sebab aku dikatakan hanya selevel dengan pendatang haram, bekerja sebagai tukang jahit, inilah kata-kata yang harus aku telan dari sang suami.
walaupun hatiku pedih tetapi aku tetap juga bertahan, sebab banyaknya pekerjaan tidak aku hiraukan penghinaan atau ejekan atau yang lainnya. Yang terpikir olehku hanyalah bagai mana aku harus melayan pelangganku supaya tetap datang menempah denganku. Tetapi hatiku ssangat sedih hiba mengenangkan nasibku. Aku tidak tahu apalagi baktiku untuk keluarga yang belum aku tunaikan, aku kikis habis tenagaku, pikiranku, jiwaku dan ragaku tetapi aku masih lagi diperlakukan seperti orang tiada berguna.
Ketika anakku Lina menikah, aku berpakatlah dengan sang suami, bagaimana pernikahan itu akan diadakan nanti. Apa jawabnya ?
"Buat apa diadakan kenduri, menghabiskan wang, lebih baik digunakan untuk modal, cukuplah dipanggil seorang kadhi dan beberapa orang saksi, hanya itu yang perlu menurut Islam." Ucapannya itu betul tetapi aku ketika itu sudah ada sedikit wang tak sampai hatiku untuk tidak menghargai anakku Lina yang telah mendapatkan ijazah DR menikah sesederhana begitu.
Begitulah sekelumit kisah dari kehidupan berpuluh tahun, sebenarnya terlalu banyak untuk diceritakan, semua cerita membosankan tidak sedap untuk dipaparkan lebih lanjut. Biarlah selebihnya kusimpam sebagai penbendaharaan di lubuk hatiku, untuk kutangisi seorang diri, sebagai rahasia kusimpan ia jauh-jauh di lubuk hati.
Segala sesuatu itu ada batasnya, kesabaranku, ketabahanku, kecekalan hatiku, kekuatanku untuk bertahan akhirnya rapuh jua bersama usiaku yang meningkat tua. Do'aku puluhan tahun yang mengharapkan mudah-mudahan suami akan sadar dan akan berubah menjadi baik tidak terkabul. Aku tidak rela lagi diperlakukan sewenang wenang, walaupun pada mulamya aku berjanji hidupku bukan untuk diriku tetapi untuk anak-anakku, akhirnya janjiku itu ku ungkai semula. Aku mengatakan kepada anak-anakku bahwa aku tidak mau lagi, tidak tahan lagi hidup seperti itu. Anak-anakku terdiam, ada yang melelehkan air mata, sebab mereka belum mempunyai pasangan hidup masing-masing. Walaupun begitu mereka merelakannya. Ada yang berkata, " Tak apalah bu kalau ibu sudah tak tahan lagi macam mana, kami ikut saja mana yang ibu rasa baik, kami juga tidak mau ibu menderita lebih lama ".
Akhirnya perpisahan itu terjadi, tiada siapa yang tahu, jiran-jiran semuanya ternganga-nganga sebab mereka tidak pernah mendengar kami bertengkar apalagi berkelahi.
Anakku Lina yang ingin sekali mempunyai rumah cantik, besar dan indah kini telah terkabul. Dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya sejak dari kecil, bukan hasil dari jerih payahku tetapi adalah usahanya suami isteri, aku sangat gembira.
Walau berapa banyak kesusahan yang kutanggung, betapa banyak keringat yang tercurah, berapa banyak air mata yang tertumpah,
Aku halalkan semuanya, untuk anak-anakku, aku redo dengan semua yang berlaku, aku sadar, semua itu takdir ALLAH untukku, sekali lagi aku redo menjalani hidup yang Allah tentukan untukku. Alhamdulillah selama aku menjalani hidupku tak pernah aku menyeleweng dan tak pernah teringatpun olehku. Yang teringat adalah 'HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU, BUKAN UNTUK DIRIKU'. Aku ampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, semoga juga mereka mengampunkan aku, banyak silap dan salahku waktu membesarkan mereka, banyak kekurangan-kekuranganku sebagai ibu, aku sering memarahi mereka, terlebih waktu aku terdesak dengan kerja-kerja, yang aku hanya pentingkan kerja, siang malam, pernah juga aku pergi dubing alih bahasa, menjual suara untuk cerita-cerita, dengan membawa dua orang anak umur tiga tahun dan sepuluh tahun diwaktu malam hari menambahkan lagi pendapatan. Adakah sang suami melarangku atau kesian denganku, satu hari tiga kerja yang dibuat oleh isteri ? Tidak pernah, jangan mengharap.
Aku tulis kisahku ini supaya mereka dapat melihat aku, siapa aku yang sebenarnya, supaya mereka tidak salah menilai aku, jika ada kesalahanku, tersebab kekangan hidup, bukanlah kusengajakan untuk berbuat salah. mudah-mudahan anak-anakku memaafkanya.
Kini aku sangat gembira semua anak-anakku berjaya dalam hidup, tidaklah mereka mewarisi kesusahanku. Terlebih lagi kegembiraanku anak-anakku semuanya mengingatiku sebagai ibunya walaupun mereka telah mendapatkan kedudukan tinggi tetapi aku adalah tetap masih ibu mereka.
Di penghujung usiaku ini, selalu aku menoleh kebelakang, aku dapat melihat kembali dengan jelas liku-liku kehidupan yang aku lalui. kadang-kadang kepalaku menggeleng-geleng tanpa kusedari. betapa kuatnya aku betapa aku dapat melalui kehidupanku yang keras dan gersang itu, tidak ada sahabat, tempat mencurahkan perasaan tdak ada handai taulan yang membantu dan menolong, aku tempuh yang demikian itu, sambil hatiku berkata sendiri, "Aku mampu menjalani hidup seperti itu ? Aku mampu menjalani hidup yang keras seperti itu ?"
Allah Yang Maha Kuasa telah menurunkan kepada setiap kaum hawa rasa kasih sayang yang tak terhingga kepada anak-anak yang dilahirkannya. Begitu jugalah aku, rasa kasih sayangku kepada anak-anakkulah menjadikan aku seorang yang tegar pantang menyerah, seperti kata pribahasa patah kaki bertongkat paruh, walaupun tak terdaya, aku kuatkan juga dengan tenaga apa yang ada demi membesarkan anak-anakku tercinta.
"Bu ....! kenapa rumah orang tu, rumah orang yang kita pergi tadi tu cantik, cantik sangat, kenapa rumah kita buruk ?
Lina tak nak rumah buruk tu, Lina nak rumah cantik macam tadi tu, macam mana bu ?" anakku Lina bertanya kepadaku ketika kami balik dari rumah kakak sepupuku untuk meminjam wang.
Aku termenung sebentar mencari jawaban yang tepat dan baik bagi anakku. Aku dahului dengan senyuman sebelum menjawab pertanyaannya itu.
"Lina suka rumah cantik macam tu ? Ibupun suka juga", jawabku
"Kita beli lah bu rumah macamtu Lina suka", anakku meneruskan lagi permintaanya.
"Lina sekarang baru umur 3 tahun setengah, umur 6 tahun nanti Lina sekolah. Lina harus belajar rajin-rajin dapat nombor satu ", belum habis aku berkata tak sabar Lina memotong
"Kalau dapat nombor satu dapat rumah cantik ke bu ?"
"Kalau Lina rajin-rajin belajar dapat nombor satu selalu, nanti Lina dapat kerja bagus, gaji banyak, dapatlah beli rumah cantik, besar, macam rumah yang kita pergi tu." kataku.
Lina termangu-mangu mendengarkan, entah dia mengerti entah tidak akupun tak tahu. Turun dari bas kupimpin anakku bejalan ke rumah. Lina diam tidak berkata sepatahpun. Aku tahu pastilah Lina masih memikirkan rumah cantik dan besar yang dinaikinya tadi. Ku lihat wajah Lina ketika masuk ke rumah kecil yang ku sewa itu, seperti wajah kecewa, kecewa seorang anak kecil terasa di hatinya tak dapat dia kemukakan kekecewaannya sepuas hatinya.
Setiap pagi kakak Mia datang menjaga Lina, aku pergi bekerja dapt kubayangkan betapa bosannya anakku tinggal di rumah kecil, tiada hiasan dalaman yang menarik, tinggal berdua saja dengan kak Mia. Entah apa yang dibuat mereka di rumah itu akupun tak tahu.
Pada waktu Lisa adik Lina lahir, terbayang kegembiraan di wajah Lina, tertapi kecembuaruan dihati Lina takut kasih sayang ibu tertumpah kepada adiknya Lisa menyebabkan kegembiraan Lina tidak kekal lama. Tambahan lagi mereka berdua harus ku antar kerumah tetangga ketika aku pergi bekerja. Kak Mia tak bekerja lagi.
Kehidupanku bertambah sedih, suamiku yang seharusnya memberi nafkah kami, justru minta wang dariku untuk dijadikan modal. Gajiku yang tak seberapa terpaksa kuberikan juga untuk membeli kerusi gunting rambut sebab katanya dia mau bekerja sebagai tukang gunting rambut. Tak dapat kukatakan lagi kekecewaanku belumpun sampai sebulan kerusi itu dibawanya balik dan dibiarkanya berhujan berpanas di luar rumah seperti barang tak berharga, sebab dia tidak mau lagi bekerja sebagai tukang gunting rambut. Padahal keringatku belum lagi kering untuk mencari wang pembeli kerusi itu.
Setiap hari kupandang kursi yang berhujan berpanas itu, yang wang pembelinya adalah wang belanja makan yang harus dikurangi. Aku menangis sedih dengan air mataku jatuh ke dalam. Perkelahian akan terjadi kalau aku bersuara mengenai hal itu.
Tidak ada lagi pekerjaan minta lagi wang untuk modal. Seperti aku memotong dagingku sendiri pedihnya ketika aku terpaksa memberikan wang untuk modal itu sebab gajiku hanya sedikit. Cukup untuk belanja makan, beli susu anak dan semua keperluan yang lain-lain. Tidak cukup sampai disitu wang modal itu habis minta lagi sebab katanya modal sedikit memang terpaksa rugi, semua orang juga begitu, itulah jawaban suamiku.
Pernah juga dia minta untuk dibelikan terompet katanya mau belajar main terompet biar ikut artis mudah dapat wang. Permintaan yang satu ini tidak kukabulkan di samping wang ku memang tidak cukup untuk belanja seharian. Dia sendiri tidak pernah kenal terompet, berapa pula lamanya harus belajar dan apakah dia memang boleh pandai dan apakah ada yang mau menerima dia untuk bekerja, terbayang pula olehku apakah terompetnya sama pula nasibnya dengan kerusi tempat gunting rambut yang masih terbaring di luar sana.
Permintaannya tidak ku kabulkan, tentulah terjadi pergaduhan, dia pergi meninggalkan kami bertiga. Aku sudah pasrah, kalau dia pergi apa boleh buat aku tak tahan lagi dengan kerenahnya. Anakku Lina merasa kesunyian, dia menangis memanggil-manggill bapanya.
Akupun termenung apakah aku akan menurutkan kesal hatiku atau aku akan menghentikan rintihan anakku yang kehilangan bapanya.
Alangkah terkejutnya aku, rupanya dia sang suami beberapa hari tidak balik ini berdiam di rumah sepupuku itu, dengan bermacam-macam crita yang dibawanya memburuk-burukkan aku. Betapa pedihnya hatiku, aku dikatakan perempuam mata duitan, aku tidak suka kepadanya sebab dia miskin dan lain-lain sebagainya. Dalam kepedihan begitu aku terpaksa menerimanya kembali, demi anakku yang merindukannya.
"Sekarang ini aku bukan hidup untuk diriku, aku hanya hidup untuk anak-anakku, Jangan banyak tingkah dan jangan banyak bersuara", begitulah aku memarahi diriku, setiap kali kesedihan melanda hatiku.
Hari demi hari berlalu, kehidupan berjalan terus, dengan berbagai-bagai permintaan tidak lupa uantuk modal, menambah modal, membeli barang-barang lebih banyak supaya harga lebih murah dan berbagai macam lagi alasan memperkuat berbagai-bagai pemintaan. Dia juga pernah menyuruhku," Pinjamkanlah aku duit kepada kawan-kawan kamu itu mereka kan kaya kaya, nanti akan ku bayar kalau jualanku laris," Aku tidak meminjamkan wang itu kepada kawanku tetapi kuberikan wangku sendiri, entah berdosa aku berbohong mengatakan wang itu kupinjam dari kawanku dan haru di angsur membayarnya setiap bulan. Sebulan dibayarnya, dua bulan, bulan ketiaga disuruhnya aku membayar sebab dia perlu wang, bulan keempat di bayar, dan seterusnya dia seolah-olah tidak berhutang apa-apa. Aku telan semuanya itu demi kebaikan anak-anakku.
Aku kesian dengan anak-anakku tidak ada kegembiraan hidup, tinggal di rumah yang sangat sederhana, tidak ada kemudahan apapun semuanya serba susah dan membosankan. Untuk menghibur anak-anakku setiap bulan kusisihkan wang gajiku untuk membawa mereka ke supermarket berbelanja apa saja yang mereka inginkankan, dan juga aku bawa merka bemain-main ketempat permainan kanak-kanak. Anak-anakku sungguh gembira, setiap hari mereka menunggu bila aku akan dapat gaji supaya mereka dapat ke tempat yang mereka sukai itu.
Betapa sulitnya keadaanku, aku harus menjaga martabat keluarga, aku malu dengan teman-teman sekerja, bajuku hanya tiga, empat helai untuk kupakai mencari wang sedangkan temanku mempunyai bermacam-macam jenis baju yang di belikan suaminya di London Paris dan baru-baru ini di Jepun. Aku ke tempat kerja dengan baju lusuh.
Suatu pagi aku bersiaplah dengan baju lusuh pergi bekerja, tiba-tiba sang suami datang dengan mengejek, "Pakai baju lusuh begini pergi bekerja ? Tapi kawan kamu semua pakai baju cantik-cantik, kamu tidak malu begini ? Aku sendiri malu."
"Aku ini isteri siapa, siapa yang harus membelikan aku baju ?" jawabku
"Kamu bekerja belilah baju kamu sendiri, minta dengan aku tak ada lah" , jawabnya.
"Kemana perginya wang gaji aku, kita semua tahu kan? Aku permpuan aku ingin sekali mamakai baju cantik-cantik, bersolek diwaktu muda ini seperti teman-temanku itu !" jawabku dengan sedih, bercampur marah dan terasa mau menangis, tetapi sebelum habis ayat-ayat ku dia sudah pergi meninggalkan aku. Terasa seperti dia hanya mau menyakitkan hatiku akupun tidak tahu apa yang tersembunyi di hatinya. Dan apa maunya.
Waktu terus berlalu, anakku Lina dapat masuk U M , anakku Lisa dapat ke U K, dan harus belajar 2 tahun di PPP Shah Alam, anak lelakiku, tingkatan 2 yang perempuan kecil derjah 4 dan yang bungsu lelaki belum bersekolah. Sang suami dapat kedai, tetapi kedai itu tiada pengunjung sama sekali, dibiarkan kosong hanya membayar sewa lebih dari setahun. Dia menyuruhku menunggu kedai itu sehabis jam kerjaku. Betapa tersiksanya aku duduk di kedai tanpa ada pembelinya, sedangkan anakku masih memerlukan aku duduk menungguku di rumah. Pernah sekali kudapati anakku berdua sedang menangis sebab yang kecil terjatuh masuk longkang, akupun tak dapat menahan tangisku, kupeluk anakku sambail menangis pilu menanggung kesedihan.
Besoknya ku suruh anakku yang perempuan umur belum cukup 10 tahun itu mengambil adiknya di rumah orang tempat aku metitipkan setiap hari, membawa adiknya yang berumur 3 tahun setengah itu pergi kekedaiku naik bas. betapa tersiksanya aku duduk menunggu anak-anakku dua orang masih kecil-kecil, betapa sia-sianya aku. Aku tahu pekerjaanku ini sangat berbahaya tetapi terpaksa kulakukan juga. Sejak itu setiap hari anakku yang dua orang itu datang ke kedaiku dengan bas. Sangat banyak hal-hal yang merenggut jantungku terjadi, terlalu panjang untuk diceritakan di sini.
Aku terus berpikir apa yang harus kubuat di kedai itu, dari pada menunggu jualan yang tak laku, aku beli sebuah mesin jahit, akupun belajar menjahit untuk mengisi waktu. ALLAH memberi rezeki, banyak sekali orang menempah denganku, sehinggalah aku membeli satu demi satu mesin jahit dari penghasilan kadai itu, aku membeli sepuluh mesin dengan memakai 10 orang pekerja. Barulah aku merasakan mempunyai wang dan dapatlah aku agak mewah berbelanja. tetapi anehnya setelah mempunyai wangpun tidaklah aku boros sebab telah terbiasa hidup sederhana.
Dapatlah aku membeli kereta, menyimpan wang sedikit-sedikit.
Aku masih juga tidak dapat bergembira, masih terus dikehendaki terus bersedih, dengan penghinaan yang tidak kusangka sma sekali, sebab aku dikatakan hanya selevel dengan pendatang haram, bekerja sebagai tukang jahit, inilah kata-kata yang harus aku telan dari sang suami.
walaupun hatiku pedih tetapi aku tetap juga bertahan, sebab banyaknya pekerjaan tidak aku hiraukan penghinaan atau ejekan atau yang lainnya. Yang terpikir olehku hanyalah bagai mana aku harus melayan pelangganku supaya tetap datang menempah denganku. Tetapi hatiku ssangat sedih hiba mengenangkan nasibku. Aku tidak tahu apalagi baktiku untuk keluarga yang belum aku tunaikan, aku kikis habis tenagaku, pikiranku, jiwaku dan ragaku tetapi aku masih lagi diperlakukan seperti orang tiada berguna.
Ketika anakku Lina menikah, aku berpakatlah dengan sang suami, bagaimana pernikahan itu akan diadakan nanti. Apa jawabnya ?
"Buat apa diadakan kenduri, menghabiskan wang, lebih baik digunakan untuk modal, cukuplah dipanggil seorang kadhi dan beberapa orang saksi, hanya itu yang perlu menurut Islam." Ucapannya itu betul tetapi aku ketika itu sudah ada sedikit wang tak sampai hatiku untuk tidak menghargai anakku Lina yang telah mendapatkan ijazah DR menikah sesederhana begitu.
Begitulah sekelumit kisah dari kehidupan berpuluh tahun, sebenarnya terlalu banyak untuk diceritakan, semua cerita membosankan tidak sedap untuk dipaparkan lebih lanjut. Biarlah selebihnya kusimpam sebagai penbendaharaan di lubuk hatiku, untuk kutangisi seorang diri, sebagai rahasia kusimpan ia jauh-jauh di lubuk hati.
Segala sesuatu itu ada batasnya, kesabaranku, ketabahanku, kecekalan hatiku, kekuatanku untuk bertahan akhirnya rapuh jua bersama usiaku yang meningkat tua. Do'aku puluhan tahun yang mengharapkan mudah-mudahan suami akan sadar dan akan berubah menjadi baik tidak terkabul. Aku tidak rela lagi diperlakukan sewenang wenang, walaupun pada mulamya aku berjanji hidupku bukan untuk diriku tetapi untuk anak-anakku, akhirnya janjiku itu ku ungkai semula. Aku mengatakan kepada anak-anakku bahwa aku tidak mau lagi, tidak tahan lagi hidup seperti itu. Anak-anakku terdiam, ada yang melelehkan air mata, sebab mereka belum mempunyai pasangan hidup masing-masing. Walaupun begitu mereka merelakannya. Ada yang berkata, " Tak apalah bu kalau ibu sudah tak tahan lagi macam mana, kami ikut saja mana yang ibu rasa baik, kami juga tidak mau ibu menderita lebih lama ".
Akhirnya perpisahan itu terjadi, tiada siapa yang tahu, jiran-jiran semuanya ternganga-nganga sebab mereka tidak pernah mendengar kami bertengkar apalagi berkelahi.
Anakku Lina yang ingin sekali mempunyai rumah cantik, besar dan indah kini telah terkabul. Dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya sejak dari kecil, bukan hasil dari jerih payahku tetapi adalah usahanya suami isteri, aku sangat gembira.
Walau berapa banyak kesusahan yang kutanggung, betapa banyak keringat yang tercurah, berapa banyak air mata yang tertumpah,
Aku halalkan semuanya, untuk anak-anakku, aku redo dengan semua yang berlaku, aku sadar, semua itu takdir ALLAH untukku, sekali lagi aku redo menjalani hidup yang Allah tentukan untukku. Alhamdulillah selama aku menjalani hidupku tak pernah aku menyeleweng dan tak pernah teringatpun olehku. Yang teringat adalah 'HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU, BUKAN UNTUK DIRIKU'. Aku ampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, semoga juga mereka mengampunkan aku, banyak silap dan salahku waktu membesarkan mereka, banyak kekurangan-kekuranganku sebagai ibu, aku sering memarahi mereka, terlebih waktu aku terdesak dengan kerja-kerja, yang aku hanya pentingkan kerja, siang malam, pernah juga aku pergi dubing alih bahasa, menjual suara untuk cerita-cerita, dengan membawa dua orang anak umur tiga tahun dan sepuluh tahun diwaktu malam hari menambahkan lagi pendapatan. Adakah sang suami melarangku atau kesian denganku, satu hari tiga kerja yang dibuat oleh isteri ? Tidak pernah, jangan mengharap.
Aku tulis kisahku ini supaya mereka dapat melihat aku, siapa aku yang sebenarnya, supaya mereka tidak salah menilai aku, jika ada kesalahanku, tersebab kekangan hidup, bukanlah kusengajakan untuk berbuat salah. mudah-mudahan anak-anakku memaafkanya.
Kini aku sangat gembira semua anak-anakku berjaya dalam hidup, tidaklah mereka mewarisi kesusahanku. Terlebih lagi kegembiraanku anak-anakku semuanya mengingatiku sebagai ibunya walaupun mereka telah mendapatkan kedudukan tinggi tetapi aku adalah tetap masih ibu mereka.
Friday, 25 May 2012
ADA YANG TAK TERKATAKAN ........
ADA YANG TAK TERKATAKAN .............
"Abang Edi membeli kereta baru, dia hendak membeli warna hitam tetapi terpaksa tunggu dua minggu,tak sempat", anakku Nina memberitahuku.
"Tak sempat ? Kenapa, apa salahnya tunggu dua minggu dapatlah kita warna kereta yang berkenan di hati. Warna apa yang diambilnya ?" tanyaku sedikit hairan.
"Warna silver" jawab anakku Nina selamba.
"O.... warna silver", balasku sambil dalam hati masih tertanya-tanya kenapa tak sempat.
"Mak kak Cik itu akan datang dari Padang minggu ini, mereka akan menjemputnya ke KLIA, seronoklah pakai kereta baru, supaya dapat mak kak Cik dapat merasa naik kereta baru abang Edi", jawab anakku Nina.
Terasa ciut hatiku ketika itu, begitu rupanya Edi ambil berat mertuanya, sedangkan aku ibu kandungnya, jarang dia datang melawatku sekali tiga bulanpun tidak, kecuali kalau ada keperluan, atau untuk mengambil surat-suratnya yang beralamat ke rumahku.
Kepada siapa akan kukatakan apa yang terasa di hatiku ini ? Tidak pernah pula Edi mempelawaku pergi ke rumahnya atau naik kereta barunya. Rasa ini kependam seorang diri. Sejak bulan November hinggalah bulan Mei Edi tak pernah datang ke rumahkku, ketika ada surat penting anakku Nina menaliponnya. Dia datang mengambil suratnya itu, hatiku sedih sehingga tak terkatakan apa-apa melihat wajahnya.
Dia pergi ketika aku menunaikan solat zuhur, tanpa memberitahukanku kepergiannya itu.
Salahkah aku kalau hatiku ini sangat sedih ? tetapi setiap kali aku berdoa, tetap aku doakan dia supaya Allah memberinya petunjuk. Mungkin doaku ini belum Allah kabulkan. Hatiku sedih ini kepada siapa akan ku katakan ?
Aku juga tidak tahu apakah aku terlalu berlebihan, kalau kukatakan hatiku sedih jika anak-anakku tidak ambil tahu apakah aku makan atau tidak, apakah aku sudah makan atau belum. Adakah makanan yang akan aku makan atau tidak ada.
Aku juga tidak tahu apakah aku ini menyusahkan anak-anak atau tidak; setiap kali mereka membawa aku makan ke kedai atau ke restoran aku menolak. Memang aku tidak biasa makan di restoran itu, itu bukan budayaku, aku ini dibesarkan dalam kehidupan yang keras, jauh sekali dari bermewah-mewah. Seleraku juga tidak sesuai dengan makanan yang dihidangkan di situ. Aku makan tidak sesuai dengan seleraku, padahal nanti mereka membayar dengan harga yang sangat mahal, tak sampai hatiku membiarkan hal ini terjadi. Dan kehadiranku bersama mereka terasa pula mengganggu keselesaan mereka berkeluarga, mungkin mereka ingin bersenang-senang suami isteri dan anak-anak tanpa ada yang mengganggunya. Inilah sebabnya aku menolak setiap kali pelawaannya. Mungkin mereka bosan, tiap kali pergi tidak lagi mempelawaku lagi. Bagiku tidak apa-apa. Tapi jauh di lubuk hatiku aku berharap pula ada sedikit perhatian dari mereka atau ambil berat tentangku. Mereka meninggalkan aku sendirian di rumah adakah makanan yang akan aku makan, apa yang dapat untuk pengisi perutku, ataukah aku sehat, ataukah aku sakit. Mungkin mereka lupa untuk bertanya, tetapi itulah yang aku harapkan, sebagai tanda bahwa mereka mengambil berat tentang diriku. Tidak ada seorangpun yang bertanya atau jarang sekali pertanyaan itu keluar dari mulut mereka. Pernah sekali aku berpuasa, mereka pergi meninggalkan aku waktu berbuka telah hampir tiba, tidak ada apa-apa yang layak dimakan untuk aku berbuka, tidak ada pula bahan mentah untuk dimasak. Aku termenung, aku cari dalam peti sejuk kalau-kalau ada untuk dimakan. Aku temuilah sedikit udang goreng entah sudah berapa lama usianya. Aku panaskan, berbukalah aku sendirian, selesai berbuka terasa perutku sakit, aku tahan sendiri tidak siapa yang tahu, aku malu, malu sendiri seperti aku ini tiada harga sama sekali. Aku tetap tegar aku tidak berkata sepatahpun, tiada siapa yang tahu apa yang terjadi pada diriku. Hatiku sangat sedih, sebab tidak ada satu patah katapun yang menunjukkan bahwa ada sedikit ambil berat tentang diriku. Tidak ada pertanyaan yang kuharapkan, tidak ada basa basi sedikitpun, apakah aku sudah berbuka atau belum. Inilah sahaja yang kuharapkan tak lebih dari itu. Tapi ini jarang sekali kudapatkan. Mungkin mereka lupa atau banyak masaalah. Semua kupendam sendiri, semua kisah kutelan sendiri, biarlah menjadi rahasia diriku menjdi rahasia hidupku.
Sebagai ibu aku maa'afkan semua kesalahan mereka tanpa diminta, aku tidak mahu tersebab aku anakku susah di akhirat nanti.
Ramai anak berbagai ragam pula tingkah lakunya, bagaimana perasaan sekiranya anak kita yang kita ajar supaya jujur, terus terang, berkata benar rupanya secara diam-diam telah mengadakan hubungan dan telah berbaik-baik dengan keluarga laki-laki yang diinginkannya. Aku betul-betul rasa terpukul terasa anakku yang aku asuh, kudidik, kubelai dengan penuh kasih sayang, tempat aku menggantungkan harapan untuk dijadikan contoh dan teladan, tanpa kusadari, telah memperbodohkan aku, telah membelakangiku.
Diam-diam aku menangis seorang diri, kubiarkan air mataku bercucuran, setelah reda aku hapus pula air mata yang tersisa seorang diri, kepada siapa akan kukatakan ?
Sebagai ibu tidak aku biarkan anakku berdosa, aku maafkan kesalahannya tanpa diminta.
Kehidupanku yang keras menolong aku untuk melupakan segalanya, seperti tidak ada kepedihan yang bergelora dalam diriku. Ini telah lama sekali berlalu ...................
Sayangnya aku kepada anak-anakku tidak terhingga, mungkin aku membesarkannya dengan jerih payah dan segala tanggung jawab dipikulkan ke pundakku. Setiap kali anak-anakku menjangkau usia berumah tangga aku telah mulai berdoa supaya dapat jodoh yang sesuai yang sebaik-baiknya. Dan terselip juga harapan di hatiku supaya menantu-menantuku nanti juga akan melimpahkan sedikit kasih sayangnya kepadaku. Aku tahu aku akan hidup sendiri di hari tuaku, walaupun sebelumnya akupun memang telah lama sendiri.
Harapanku yang tidak menasabah adalah supaya anak-anakku tidak berpisah denganku, tetap tinggal di rumahku.
"Bu..... saya nak pindah", kata anakku.
Rasa terbang darahku, menggigil tubuhku.Aku tak dapat menjawabnya, seperti ada sesuatu tersekat di kerongkonganku, aku tinggalkan dia, tak berani aku menatap wajahnya. Akupun lari menyembunyikan tangisku..................
Ini telah lama berlalu .........................
Inilah aku, ada yang tak terkatakan goresan hatiku ini kepada siapapun ....................
Aku tumpahkan di sini, bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa .................
Ini hanya sejarah hidupku supaya ada yang mengetahuinya jika terbaca ...................
Jika terbaca katakanlah ia hanya sebuah mimpi yang tak akan berulang lagi, sebuah mimpi buruk supaya cepat-cepat dilupakan ..............................
TIADA GADING YANG TIDAK RETAK
Semua ini aku lupakan, anak-anakku dan menantu-menantuku begitu baik dan sayang padaku di hari tuaku ini, aku selalu berdoa supaya kami semua mendapat petunjuk dari ALLAH SWT.
Anak-anakku tidak kuberi berdosa padaku, aku telah ampunkan dan aku telah ma'afkan walaupun tanpa diminta. Sekali lagi kukatakan aku tidak mahu anak-anakku susah di akhirat nanti tersebab aku ...........................................
"Abang Edi membeli kereta baru, dia hendak membeli warna hitam tetapi terpaksa tunggu dua minggu,tak sempat", anakku Nina memberitahuku.
"Tak sempat ? Kenapa, apa salahnya tunggu dua minggu dapatlah kita warna kereta yang berkenan di hati. Warna apa yang diambilnya ?" tanyaku sedikit hairan.
"Warna silver" jawab anakku Nina selamba.
"O.... warna silver", balasku sambil dalam hati masih tertanya-tanya kenapa tak sempat.
"Mak kak Cik itu akan datang dari Padang minggu ini, mereka akan menjemputnya ke KLIA, seronoklah pakai kereta baru, supaya dapat mak kak Cik dapat merasa naik kereta baru abang Edi", jawab anakku Nina.
Terasa ciut hatiku ketika itu, begitu rupanya Edi ambil berat mertuanya, sedangkan aku ibu kandungnya, jarang dia datang melawatku sekali tiga bulanpun tidak, kecuali kalau ada keperluan, atau untuk mengambil surat-suratnya yang beralamat ke rumahku.
Kepada siapa akan kukatakan apa yang terasa di hatiku ini ? Tidak pernah pula Edi mempelawaku pergi ke rumahnya atau naik kereta barunya. Rasa ini kependam seorang diri. Sejak bulan November hinggalah bulan Mei Edi tak pernah datang ke rumahkku, ketika ada surat penting anakku Nina menaliponnya. Dia datang mengambil suratnya itu, hatiku sedih sehingga tak terkatakan apa-apa melihat wajahnya.
Dia pergi ketika aku menunaikan solat zuhur, tanpa memberitahukanku kepergiannya itu.
Salahkah aku kalau hatiku ini sangat sedih ? tetapi setiap kali aku berdoa, tetap aku doakan dia supaya Allah memberinya petunjuk. Mungkin doaku ini belum Allah kabulkan. Hatiku sedih ini kepada siapa akan ku katakan ?
Aku juga tidak tahu apakah aku terlalu berlebihan, kalau kukatakan hatiku sedih jika anak-anakku tidak ambil tahu apakah aku makan atau tidak, apakah aku sudah makan atau belum. Adakah makanan yang akan aku makan atau tidak ada.
Aku juga tidak tahu apakah aku ini menyusahkan anak-anak atau tidak; setiap kali mereka membawa aku makan ke kedai atau ke restoran aku menolak. Memang aku tidak biasa makan di restoran itu, itu bukan budayaku, aku ini dibesarkan dalam kehidupan yang keras, jauh sekali dari bermewah-mewah. Seleraku juga tidak sesuai dengan makanan yang dihidangkan di situ. Aku makan tidak sesuai dengan seleraku, padahal nanti mereka membayar dengan harga yang sangat mahal, tak sampai hatiku membiarkan hal ini terjadi. Dan kehadiranku bersama mereka terasa pula mengganggu keselesaan mereka berkeluarga, mungkin mereka ingin bersenang-senang suami isteri dan anak-anak tanpa ada yang mengganggunya. Inilah sebabnya aku menolak setiap kali pelawaannya. Mungkin mereka bosan, tiap kali pergi tidak lagi mempelawaku lagi. Bagiku tidak apa-apa. Tapi jauh di lubuk hatiku aku berharap pula ada sedikit perhatian dari mereka atau ambil berat tentangku. Mereka meninggalkan aku sendirian di rumah adakah makanan yang akan aku makan, apa yang dapat untuk pengisi perutku, ataukah aku sehat, ataukah aku sakit. Mungkin mereka lupa untuk bertanya, tetapi itulah yang aku harapkan, sebagai tanda bahwa mereka mengambil berat tentang diriku. Tidak ada seorangpun yang bertanya atau jarang sekali pertanyaan itu keluar dari mulut mereka. Pernah sekali aku berpuasa, mereka pergi meninggalkan aku waktu berbuka telah hampir tiba, tidak ada apa-apa yang layak dimakan untuk aku berbuka, tidak ada pula bahan mentah untuk dimasak. Aku termenung, aku cari dalam peti sejuk kalau-kalau ada untuk dimakan. Aku temuilah sedikit udang goreng entah sudah berapa lama usianya. Aku panaskan, berbukalah aku sendirian, selesai berbuka terasa perutku sakit, aku tahan sendiri tidak siapa yang tahu, aku malu, malu sendiri seperti aku ini tiada harga sama sekali. Aku tetap tegar aku tidak berkata sepatahpun, tiada siapa yang tahu apa yang terjadi pada diriku. Hatiku sangat sedih, sebab tidak ada satu patah katapun yang menunjukkan bahwa ada sedikit ambil berat tentang diriku. Tidak ada pertanyaan yang kuharapkan, tidak ada basa basi sedikitpun, apakah aku sudah berbuka atau belum. Inilah sahaja yang kuharapkan tak lebih dari itu. Tapi ini jarang sekali kudapatkan. Mungkin mereka lupa atau banyak masaalah. Semua kupendam sendiri, semua kisah kutelan sendiri, biarlah menjadi rahasia diriku menjdi rahasia hidupku.
Sebagai ibu aku maa'afkan semua kesalahan mereka tanpa diminta, aku tidak mahu tersebab aku anakku susah di akhirat nanti.
Ramai anak berbagai ragam pula tingkah lakunya, bagaimana perasaan sekiranya anak kita yang kita ajar supaya jujur, terus terang, berkata benar rupanya secara diam-diam telah mengadakan hubungan dan telah berbaik-baik dengan keluarga laki-laki yang diinginkannya. Aku betul-betul rasa terpukul terasa anakku yang aku asuh, kudidik, kubelai dengan penuh kasih sayang, tempat aku menggantungkan harapan untuk dijadikan contoh dan teladan, tanpa kusadari, telah memperbodohkan aku, telah membelakangiku.
Diam-diam aku menangis seorang diri, kubiarkan air mataku bercucuran, setelah reda aku hapus pula air mata yang tersisa seorang diri, kepada siapa akan kukatakan ?
Sebagai ibu tidak aku biarkan anakku berdosa, aku maafkan kesalahannya tanpa diminta.
Kehidupanku yang keras menolong aku untuk melupakan segalanya, seperti tidak ada kepedihan yang bergelora dalam diriku. Ini telah lama sekali berlalu ...................
Sayangnya aku kepada anak-anakku tidak terhingga, mungkin aku membesarkannya dengan jerih payah dan segala tanggung jawab dipikulkan ke pundakku. Setiap kali anak-anakku menjangkau usia berumah tangga aku telah mulai berdoa supaya dapat jodoh yang sesuai yang sebaik-baiknya. Dan terselip juga harapan di hatiku supaya menantu-menantuku nanti juga akan melimpahkan sedikit kasih sayangnya kepadaku. Aku tahu aku akan hidup sendiri di hari tuaku, walaupun sebelumnya akupun memang telah lama sendiri.
Harapanku yang tidak menasabah adalah supaya anak-anakku tidak berpisah denganku, tetap tinggal di rumahku.
"Bu..... saya nak pindah", kata anakku.
Rasa terbang darahku, menggigil tubuhku.Aku tak dapat menjawabnya, seperti ada sesuatu tersekat di kerongkonganku, aku tinggalkan dia, tak berani aku menatap wajahnya. Akupun lari menyembunyikan tangisku..................
Ini telah lama berlalu .........................
Inilah aku, ada yang tak terkatakan goresan hatiku ini kepada siapapun ....................
Aku tumpahkan di sini, bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa .................
Ini hanya sejarah hidupku supaya ada yang mengetahuinya jika terbaca ...................
Jika terbaca katakanlah ia hanya sebuah mimpi yang tak akan berulang lagi, sebuah mimpi buruk supaya cepat-cepat dilupakan ..............................
TIADA GADING YANG TIDAK RETAK
Semua ini aku lupakan, anak-anakku dan menantu-menantuku begitu baik dan sayang padaku di hari tuaku ini, aku selalu berdoa supaya kami semua mendapat petunjuk dari ALLAH SWT.
Anak-anakku tidak kuberi berdosa padaku, aku telah ampunkan dan aku telah ma'afkan walaupun tanpa diminta. Sekali lagi kukatakan aku tidak mahu anak-anakku susah di akhirat nanti tersebab aku ...........................................
Friday, 11 May 2012
PEDOMAN SUPAYA TERHINDAR DARI PENGARUH NEGETIF DIASRAMA
PEDOMAN SUPAYA TERHINDAR DARI PENGARUH NEGATIF
DIASRAMA
Pelajar-pelajar yang cemerlang akan diasingkan akan dikumpulkan di asrama, untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang lebih intensif.
Mereka ini adalah harapan negara, mereka akan dipersiapkan menjadi orang-orang cerdik pandai negara suatu hari nanti. Negara membelanjakan wang yang tidak sedikit untuk untuk mempersiapkan perlengkapan pembelajaran mereka di asrama ini. Mulai dari membangun sekolah secara fizikal, yang mendekati sempurna lengkap dengan SURAU, LAPANGAN OLAH RAGA, TEMPAT RIADAH, DAN KESENIAN.
YANG PENTING LAGI UNTUK PEMBELAJARAN SEPERTI LABORATORIUM, PERPUSTAKAAN DAN BANYAK LAGI. semuanya ini menggunakan biaya yang sangat besar, ditambah lagi dengan TENAGA GURU-GURU YANG TERLATIH DAN BERPENGALAMAN, semuanya tersedia yang terbaik untuk anak-anak yang dapat pencapaian yang tinggi di sekolah.
Walaupun demikian ada juga anak-anak yang tergelincir, terjatuh, di asrama yang begitu bagus perlengkapannya. Kadang-kadang tingkah laku jadi berubah ada lelaki yang bersubang, minta wang belanja lebih kepada orang tua dan alin sebagainya.
Kita tidak akan membicarakan hal ini, yang penting bagaimana kita dapat menjadikan asrama sesuai dengan tujuan asalnya, anak-anak ditempatkan di asrama dengan harapan ASRAMA ADALAH TEMPAT MENEMPA ANAK-ANAK MENJADI ORANG YANG BIJAK PANDAI, BERPENDIDIKAN TINGGI BERAKHLAK MULIA, memenuhi harapan negara menjadi ASSET NEGARA YANG TAK TERNILAI HARGANYA.
Sebelum anak-anak dimasukkan ke asrama, orang tua terlebih dahulu telah mempersiapkan mental si anak, supaya rajin-rajin belajar, ini sudah semestinya, tetapi yang lebih penting lagi yang harus didengungkan selalu ke dalam telinga dan pikiran anak adalah; betapa tingginya harapan ibu bapa, betapa tingginya cita-cita yang harus dicapai, betapa kuatnya dan gigihnya si anak harus berusaha, semua konsentrasi si anak haruslah terfokus untuk mencapai cita-cita, sehingga tidak ada dalam pikiran si anak untuk melakukah hal-hal yang negatif.
Hidup teratur, berdisiplin, terjamin, terjaga, itulah yang harus dibiasakan. Hidup beginilah berjaya membawa seseorang itu mendapat kejayaan.
Bagi orang yang pertama kali marasakan tinggal di asrama, kehidupan di asrama itu adalah kehidupan yang keras, susah untuk diikuti, hati kecil mereka membantah, tidak mau menurut peraturan yang 'keras' itu. Hati mereka memberontak, mereka berusaha mencari beberapa teman yang sama pendapatnya bahwa peratura itu 'keras'. Mulailah mereka mengadakan bermagai-bagai macam reaksi negatif menentang penguasa-penguasa sekolah , yang menghancurkkna diri mereka sendiri.
Siapa di antara pelajar yang tidak mau mengikuti mereka, akan mereka musuhi, kadang-kadang ada diantara pelajar yang terpaksa mengikuti mereka ini kerana terpaksa sebab takut dengan tindakan-tindakan mereka yang kasar.
Bukanlah maksud penulis disini menakut-nakuti ibu bapa untuk memasukkan anak-anak ke asrama, tetapi bagaimana cara supaya hal yang negatif ini tidak terjadi kepada anak kita.Apakah ada jalan untuk mengelakkannya ? Tentulah ada jalan, tetapi kita harus bijaksana.
* Di rumah kita harus mendidik anak-anak kita dengan pengertian, kita harus memperlakukannya sebagai orang dewasa
maksudnya segala yang memerlukan pemikiran dan pertimbangan kita ajak anak kita ikut serta berpikir untuk menilai buruk dan baiknya, dan memberikan pendapat, kalau memang pendapat anak kita itu adalah betul, kita orang tua haruslah mengikutinya, walaupun pendapat dari anak kita. Misalnya adiknya harus memilih sekolah mana yang terbaik, sekolah agamakah, sekolah pondokkah, atau sekolah yang dekat dengan rumah sajakah ?
Biarkan anak-anak kita memberikan pendapat, kemudian kita orang tua dapat mengambil keputusan dari berbagai-bagai pendapat yang betul. tentulah pendapat masing-masing mempunyai alasan yang betul.
Jika memutuskan suatu perkara dalam hidup ini kita ajak anak-anak kita berpikir, mereka terbiasa berpikir, dan selalu menggunakan pikiran yang matang, mereka tidak akan mudah terpengaruh apalagi dengan hal-hak yang negetif .
* Ketika anak kita ternyata telah diterima masuk asrama, orang tua mestilah menceeritakan serba sedikit keadaan di asrama, hal-hal yang baik dan beberapa hal yang mungkin negatif, dan bagaimana cara mengelakkannya. Jika kebetulan para pelajar berjumpa dengan kumpulan yang melanggar peraturan sekolah seperti yang kita ceritakan tadi, bagaimana?
Jangan para pelajar merasa takut, wajah kita haruslah selamba, seperti kita tidak tahu bahwa mereka dari kumpulan yang melanggar peraturan itu, kita bertegur sapa dengan mereka seperti kepada yang lain-lain. Kalau kita diajak untuk melompat pagar misalnya, usahakanlah mengelak, katakannlah tidak pandai memanjat atau takut pada tempat yang tinggi atau lain-lain usaha yang sesuai untuk mengelak. Kalau mereka mengajak kita menyanyi bersama-sama berilah 'sedikit' waktu kita untuk bernyanyi bersama mereka.
Dalam hati harus kita PASANG DINDING PEMISAH, ATAU TEMBOK PEMISAH, katakan dalam hati "AKU DI SINI MEMBENTUK MASA DEPANKU YANG GEMILANG , TIDAK AKAN AKU HANCURKAN MASA DEPANKU BERSAMA KAMU. Kita 'sedikit' saja bersama mereka, untuk menyelamatkan diri kita, supaya mereka tidak memusuhi kita dan mengancam kita, supaya kita tidak susah berada di asrama itu dengan sebab kehadiran mereka. Supaya mereka merasa bahwa kita juga adalah 'teman' mereka.
* Para pelajar yang berada di asrama haruslah disiplin, ikutlah semua peraturan yang ada, yakinlah bahwa setiap peraturan itu pasti ada manfaatnya.
Bangunlah cepat, pada waktu subuh, pergilah solat berjemaah ke surau, bangun pagi menguatkan badan, pahala yang besar dari ALLAH dapat pula kita terima, kita berbaik pula dengan satu lagi kumpulan yaitu 'geng surau' yang akan menganggap kita adalah teman rapat mereka. kalau ada nasyid ikuti juga mungkin kita yang akan ditonjolkan ke depan kalau memang kita mempunya suara merdu.
*Yang paling penting kita mestilah masuk 'geng kutu buku' , yang hanya belajar, belajar dan belajar. Di sinilah kita harus menguras tenaga kita sebanyak-banyaknya. Disinilah kita bejuang sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Dalam kumpulan ini kita berusaha mengajak teman-teman kita bersoal jawab dalam study group untuk memudahkan kita mengingat semua pelajaran untuk modal kita menghadapi peperiksaan.
Kita dapat bergaul dengan semua kumpulan, tidak ada kerisauan dan ketakutan yang akan mengganggu konsentrasi kita untuk belajar, semua mereka adalah 'teman' kita. Kita berbaik dengan semua tidak ada permusuhan, pasti kita tidak terlibat dengan perkelahian di asrama. Hidup kita tenang aman.
Mungkin yang kita bicarakan itu hnya sedikit, mungkin tidak sampai 1% , tetapi kalau yang satu peratus itu adalah kita, tentulah sangat berbahaya. Kita perlu melindungi diri kita dari sekecil manapun bahaya yang mengancam.
Penulis mendapatkan idea untuk menulis, disamping mempunyai pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang guru, penulis juga mengutip dari pangalaman dan cerita anakku MUHAMMAD IMAN , selama belajar di ASRAMA MRSM JASSIN MELAKA. Sepuluh tahun sebelumnya anakku MOHD IRWAN DAHNIL juga belajar di MRSM yang sama. Ketika itu terjadi perkelahian antara pelajar. Walaupun tidak terlibat dengan perkelahian itu, anakku Mohd Irwan tidak suka dengan suasana di situ. dia minta dipindahkan ke MRSM lain. Aku mempercayakan dia, supaya dia mampu mengurus dirinya sendiri. Dengan berani dia pergi berjumpa sendiri dengan pegawai MARA, untuk dipindahkan ke MRSM Kuantan. Bermula dari itu, aku yakinkan dia, bahwa dia mampu, jadilah dia orang yang percaya diri dan dapat berdikari menguruskan segala sesuatu. Mudah-mudahan pembaca dapat manfaat dari tulisan ini. AMIN !!!!!!!!!!!!!
DIASRAMA
Pelajar-pelajar yang cemerlang akan diasingkan akan dikumpulkan di asrama, untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang lebih intensif.
Mereka ini adalah harapan negara, mereka akan dipersiapkan menjadi orang-orang cerdik pandai negara suatu hari nanti. Negara membelanjakan wang yang tidak sedikit untuk untuk mempersiapkan perlengkapan pembelajaran mereka di asrama ini. Mulai dari membangun sekolah secara fizikal, yang mendekati sempurna lengkap dengan SURAU, LAPANGAN OLAH RAGA, TEMPAT RIADAH, DAN KESENIAN.
YANG PENTING LAGI UNTUK PEMBELAJARAN SEPERTI LABORATORIUM, PERPUSTAKAAN DAN BANYAK LAGI. semuanya ini menggunakan biaya yang sangat besar, ditambah lagi dengan TENAGA GURU-GURU YANG TERLATIH DAN BERPENGALAMAN, semuanya tersedia yang terbaik untuk anak-anak yang dapat pencapaian yang tinggi di sekolah.
Walaupun demikian ada juga anak-anak yang tergelincir, terjatuh, di asrama yang begitu bagus perlengkapannya. Kadang-kadang tingkah laku jadi berubah ada lelaki yang bersubang, minta wang belanja lebih kepada orang tua dan alin sebagainya.
Kita tidak akan membicarakan hal ini, yang penting bagaimana kita dapat menjadikan asrama sesuai dengan tujuan asalnya, anak-anak ditempatkan di asrama dengan harapan ASRAMA ADALAH TEMPAT MENEMPA ANAK-ANAK MENJADI ORANG YANG BIJAK PANDAI, BERPENDIDIKAN TINGGI BERAKHLAK MULIA, memenuhi harapan negara menjadi ASSET NEGARA YANG TAK TERNILAI HARGANYA.
Sebelum anak-anak dimasukkan ke asrama, orang tua terlebih dahulu telah mempersiapkan mental si anak, supaya rajin-rajin belajar, ini sudah semestinya, tetapi yang lebih penting lagi yang harus didengungkan selalu ke dalam telinga dan pikiran anak adalah; betapa tingginya harapan ibu bapa, betapa tingginya cita-cita yang harus dicapai, betapa kuatnya dan gigihnya si anak harus berusaha, semua konsentrasi si anak haruslah terfokus untuk mencapai cita-cita, sehingga tidak ada dalam pikiran si anak untuk melakukah hal-hal yang negatif.
Hidup teratur, berdisiplin, terjamin, terjaga, itulah yang harus dibiasakan. Hidup beginilah berjaya membawa seseorang itu mendapat kejayaan.
Bagi orang yang pertama kali marasakan tinggal di asrama, kehidupan di asrama itu adalah kehidupan yang keras, susah untuk diikuti, hati kecil mereka membantah, tidak mau menurut peraturan yang 'keras' itu. Hati mereka memberontak, mereka berusaha mencari beberapa teman yang sama pendapatnya bahwa peratura itu 'keras'. Mulailah mereka mengadakan bermagai-bagai macam reaksi negatif menentang penguasa-penguasa sekolah , yang menghancurkkna diri mereka sendiri.
Siapa di antara pelajar yang tidak mau mengikuti mereka, akan mereka musuhi, kadang-kadang ada diantara pelajar yang terpaksa mengikuti mereka ini kerana terpaksa sebab takut dengan tindakan-tindakan mereka yang kasar.
Bukanlah maksud penulis disini menakut-nakuti ibu bapa untuk memasukkan anak-anak ke asrama, tetapi bagaimana cara supaya hal yang negatif ini tidak terjadi kepada anak kita.Apakah ada jalan untuk mengelakkannya ? Tentulah ada jalan, tetapi kita harus bijaksana.
* Di rumah kita harus mendidik anak-anak kita dengan pengertian, kita harus memperlakukannya sebagai orang dewasa
maksudnya segala yang memerlukan pemikiran dan pertimbangan kita ajak anak kita ikut serta berpikir untuk menilai buruk dan baiknya, dan memberikan pendapat, kalau memang pendapat anak kita itu adalah betul, kita orang tua haruslah mengikutinya, walaupun pendapat dari anak kita. Misalnya adiknya harus memilih sekolah mana yang terbaik, sekolah agamakah, sekolah pondokkah, atau sekolah yang dekat dengan rumah sajakah ?
Biarkan anak-anak kita memberikan pendapat, kemudian kita orang tua dapat mengambil keputusan dari berbagai-bagai pendapat yang betul. tentulah pendapat masing-masing mempunyai alasan yang betul.
Jika memutuskan suatu perkara dalam hidup ini kita ajak anak-anak kita berpikir, mereka terbiasa berpikir, dan selalu menggunakan pikiran yang matang, mereka tidak akan mudah terpengaruh apalagi dengan hal-hak yang negetif .
* Ketika anak kita ternyata telah diterima masuk asrama, orang tua mestilah menceeritakan serba sedikit keadaan di asrama, hal-hal yang baik dan beberapa hal yang mungkin negatif, dan bagaimana cara mengelakkannya. Jika kebetulan para pelajar berjumpa dengan kumpulan yang melanggar peraturan sekolah seperti yang kita ceritakan tadi, bagaimana?
Jangan para pelajar merasa takut, wajah kita haruslah selamba, seperti kita tidak tahu bahwa mereka dari kumpulan yang melanggar peraturan itu, kita bertegur sapa dengan mereka seperti kepada yang lain-lain. Kalau kita diajak untuk melompat pagar misalnya, usahakanlah mengelak, katakannlah tidak pandai memanjat atau takut pada tempat yang tinggi atau lain-lain usaha yang sesuai untuk mengelak. Kalau mereka mengajak kita menyanyi bersama-sama berilah 'sedikit' waktu kita untuk bernyanyi bersama mereka.
Dalam hati harus kita PASANG DINDING PEMISAH, ATAU TEMBOK PEMISAH, katakan dalam hati "AKU DI SINI MEMBENTUK MASA DEPANKU YANG GEMILANG , TIDAK AKAN AKU HANCURKAN MASA DEPANKU BERSAMA KAMU. Kita 'sedikit' saja bersama mereka, untuk menyelamatkan diri kita, supaya mereka tidak memusuhi kita dan mengancam kita, supaya kita tidak susah berada di asrama itu dengan sebab kehadiran mereka. Supaya mereka merasa bahwa kita juga adalah 'teman' mereka.
* Para pelajar yang berada di asrama haruslah disiplin, ikutlah semua peraturan yang ada, yakinlah bahwa setiap peraturan itu pasti ada manfaatnya.
Bangunlah cepat, pada waktu subuh, pergilah solat berjemaah ke surau, bangun pagi menguatkan badan, pahala yang besar dari ALLAH dapat pula kita terima, kita berbaik pula dengan satu lagi kumpulan yaitu 'geng surau' yang akan menganggap kita adalah teman rapat mereka. kalau ada nasyid ikuti juga mungkin kita yang akan ditonjolkan ke depan kalau memang kita mempunya suara merdu.
*Yang paling penting kita mestilah masuk 'geng kutu buku' , yang hanya belajar, belajar dan belajar. Di sinilah kita harus menguras tenaga kita sebanyak-banyaknya. Disinilah kita bejuang sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Dalam kumpulan ini kita berusaha mengajak teman-teman kita bersoal jawab dalam study group untuk memudahkan kita mengingat semua pelajaran untuk modal kita menghadapi peperiksaan.
Kita dapat bergaul dengan semua kumpulan, tidak ada kerisauan dan ketakutan yang akan mengganggu konsentrasi kita untuk belajar, semua mereka adalah 'teman' kita. Kita berbaik dengan semua tidak ada permusuhan, pasti kita tidak terlibat dengan perkelahian di asrama. Hidup kita tenang aman.
Mungkin yang kita bicarakan itu hnya sedikit, mungkin tidak sampai 1% , tetapi kalau yang satu peratus itu adalah kita, tentulah sangat berbahaya. Kita perlu melindungi diri kita dari sekecil manapun bahaya yang mengancam.
Penulis mendapatkan idea untuk menulis, disamping mempunyai pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang guru, penulis juga mengutip dari pangalaman dan cerita anakku MUHAMMAD IMAN , selama belajar di ASRAMA MRSM JASSIN MELAKA. Sepuluh tahun sebelumnya anakku MOHD IRWAN DAHNIL juga belajar di MRSM yang sama. Ketika itu terjadi perkelahian antara pelajar. Walaupun tidak terlibat dengan perkelahian itu, anakku Mohd Irwan tidak suka dengan suasana di situ. dia minta dipindahkan ke MRSM lain. Aku mempercayakan dia, supaya dia mampu mengurus dirinya sendiri. Dengan berani dia pergi berjumpa sendiri dengan pegawai MARA, untuk dipindahkan ke MRSM Kuantan. Bermula dari itu, aku yakinkan dia, bahwa dia mampu, jadilah dia orang yang percaya diri dan dapat berdikari menguruskan segala sesuatu. Mudah-mudahan pembaca dapat manfaat dari tulisan ini. AMIN !!!!!!!!!!!!!
Thursday, 10 May 2012
PEDOMAN MEMILIH TADIKA YANG TEPAT MEMBANGUN MINDA DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANK
PEDOMAN MEMILIH TADIKA YANG TEPAT UNTUK MEMBANGUN
MINDA DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANAK
Memasukkan anak ke Tadika tidak boleh yang memudahkan orang tua sahaja, yang dekat dari rumah, yang murah bayarannya, yang ikut-ikut orang lain yang ramai memasukkan anak mereka, atau ke Tadika yang mempunyai iklan yang banyak di mana-mana ada perpasang iklan Tadikanya.
Memilih Tadika haruslah kita ketahui sukatan pelajarannya, sesuai atau tidak dengan umur kanak-kanak, kita harus ketahui juga cara pengajarannya , ikut MONTESSORI atau ikut pakar pendidikan yang mana satu yang dipilih. Yang paling penting kita harus melihat pendidikan guru-guru yang mengajar di Tadika itu, adakah para guru mendapat latihan, adakah para guru belajar psykologi kanak-kanak, adakah para guru belajar cara mendidik kanak-kanak, serta menyayangi kanak-kanak dan suka dengan kanak-kanak.
Bacalah tulisan saya yang bertajuk :
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI UNTUK ANAK KESAYANGAN ANDA ?
ada tiga tulisan no 1, no 2 dan no 3. Bacalah ketiga-tiganya terlebih dahulu.
MINDA DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANAK
Memasukkan anak ke Tadika tidak boleh yang memudahkan orang tua sahaja, yang dekat dari rumah, yang murah bayarannya, yang ikut-ikut orang lain yang ramai memasukkan anak mereka, atau ke Tadika yang mempunyai iklan yang banyak di mana-mana ada perpasang iklan Tadikanya.
Memilih Tadika haruslah kita ketahui sukatan pelajarannya, sesuai atau tidak dengan umur kanak-kanak, kita harus ketahui juga cara pengajarannya , ikut MONTESSORI atau ikut pakar pendidikan yang mana satu yang dipilih. Yang paling penting kita harus melihat pendidikan guru-guru yang mengajar di Tadika itu, adakah para guru mendapat latihan, adakah para guru belajar psykologi kanak-kanak, adakah para guru belajar cara mendidik kanak-kanak, serta menyayangi kanak-kanak dan suka dengan kanak-kanak.
Bacalah tulisan saya yang bertajuk :
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI UNTUK ANAK KESAYANGAN ANDA ?
ada tiga tulisan no 1, no 2 dan no 3. Bacalah ketiga-tiganya terlebih dahulu.
Subscribe to:
Posts (Atom)