BERPIKIR MAJU IKUT PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Berpikir di luar kotak
Teknologi sangat maju, CARA KITA BERPIKIR juga harus maju ,supaya kita tidak ketinggalan dan tidak rugi dalam mengikuti arus zman.
Kita lihat contoh ini; Suatu masa belum berapa lama berselang, harga minyak negara kita naik melonjak, apa lagi harga barang dinegara kita melambung tinggi sekali, ini adalah kesempata para peniaga menaikkan harga barangnya, dengan alasan ongkos pengangkutan melambung naik, terselip juga dalam pikiran para pedagang hendak memperoleh keuntungan yang sangat besar, peluang ini datang hanya sekali-sekali saja. Memang hal ini sudah menjadi rahasia umum para pedagang. Kadang-kadang kenaikan harga tidak manesabah, tidak sebanding dengan kenaikan harga minyak untuk penggunaan pengangkutan barang-barang mereka.
Seharusnya kalau harga minyak diturunkan kepada harga asal tentulah harga barang-barang kembali seperti sediakala.
Apa yang berlaku ???????? Harga minyak turun lebih murah dari harga sebelum di naikkan, apakah harga barang kembali kepada harga asal ???
Siapa yang berpikir lebih maju dalam hal ini pedagang atau si penentu harga minyak ?
Disinilah pentingnya berpikiran maju, apalagi menyangkut dengan kepentingan orang ramai. Apakah tidak berdosa orang yang tidak berpikir maju ?
Mantan Perdana Menteri Malaysia, yang sangat-sangat di sayangi rakyat; TUN DR MAHATHIR MOHAMAD, telah mendidik rakyat negara ini untuk berpikir maju.
Beliau telah menyelamatkan rakyat negara ini dari kesengsaraan dan kepapaan. Ketika Soros menyangak wang kita, kita telah miskin, wang kita tinggal sedikit. Mengikut teori biasa jika kita tidak ada wang kita boleh meminjam wang. IMF membuka pintu seluas-luasnya, meminjamkan wang kepada negara-negara yang memerlukannya, DENGAN MENGENAKAN BUNGA YANG SANGAT TINGGI, SEHINGGA SANGAT SUSAH NEGARA-NEGARA MISKIN UNTUK MEMBAYARNYA, DAN BERBAGAI-BAGAI SYARAT YANG DIKENAKAN, SEHINGGA SI PEMINJAM TERPAKSA MENGIKUT TELUNJUK NEGARA-NEGARA TERTENTU.
Langkah meminjam wang inilah yang dielakkan oleh DR Mahathir ketika itu.
Pada waktu penyangak mata wang George Soros telah menyangak wang kita, Tun DR Mahathir Mohamad telah mengeluarkan beberapa teorinya, sebagai hasil berpikir maju beliau. Beliau berpikir di luar kotak. Mari kita lihat cara berpikir beliau, kita bandingkan dengan cara berpikir orang-orang biasa.
Pada saat negara telah miskin, beliau menyeru supaya rakyat berbelanja, para pedagang disuruh meminjam wang dari bank dan bank harus meminjamkan wangnya dan pedagang harus memperbesarkan perniagaannya. Di sa'at Teorinya ini sungguh berjaya. Ditambah lagi dengan beberapa teorinya yang lain negara Malaysia tidaklah berapa teruk, dan cepat pulih perekonomiannya. Ini adalah salah satu teorinya yang bertentangan dengan cara berpikir biasa.
Ada dua lagi teori penting beliau ketika itu, untuk menyelamatkan negara ini dari kepapaan. Inilah salah satu jasa beliau untuk negara ini. Rakyatnya tidak merasakan kesusahan ketika Soros cuba menghancurkan negara-negara di rantau ini. Sedangkan negara-negara lain seperti lazimnya orang kesusahan, pastilah meminjam kepada IMF, dan pastilah mereka terikat terjerat, dengan jerat yang sudah menunggu mengikat mangsanya. Sememangnya DR Mahathir patut jadi pemimpin, dalam dirinya memang sudah ada modal untuk memimpin, dengan disiplinnya, sifat tegasnya, berani pada yang benar dan mempunyai gezah yang tinggi disegani oleh lawan dan kawan, dan banyak lagi .
Salah satunya beliau dapat berpikir secara logis, lain dari cara berpikir biasa.
Jika ingin maju memanglah kita harus belajar berpikir di luar pola berpikir biasa.
Pernah saya membaca tentang "teori konvensioal", dan teori yang menyanggahnya.
Petani yang hidup miskin, haruslah berhemat, berjimat cermat sesuai dengan kemampuan. Diwaktu pagi sebelum pergi ke sawah, terlebih dahulu harus makan. Sebagai hidangan adalah rebus ubi kayu, selesai makan barulah turun ke sawah. Ketika musim susah padi tidak menjadi terpaksalah para petani berhemat, rebus ubi kayu sebagai hidangan pagi harus dikurangi, biasanya dua kerat, dimusim susah ini hanya mendapat satu kerat sahaja. Pemikir yang kreatif, yang maju menentang sungguh teori berjimat cermat para petani itu.
"Mereka ( para petani ) seharusnya bukan dikurangi makanannya diwaktu pagi itu, tetapi harus ditambah. Bukan hanya makan rebus ubi kayu tetapi harus makan nasi dengan lauk pauk yang berzat, supaya badan mereka sehat, tenaga kuat dan bertambah, supaya terasa ringan menghayunkan cangkul di sawah. Tenaganya berlipat ganda, hasil kerjanya akan berlipat ganda pula, pastilah hasi sawahnya akan berlipat ganda, dibandingkan dengan petani yang lemah kurang makan, pastilah tidak terdaya menghayunkan cangkul nya di sawah. Apakah kita dapat mengharapkan hasil yang lumayan dari petani yang lemah, tidak sehat, dan tidak terdaya menghayunkan cangkul di sawah ?
Inilah sekedar contoh cara berpikir dengan pola berpikir yang lebih logik, tidak berpikir mengikut kebiasaan, tidak berpikir ikut orang ramai berpikir, kalau sekiranya cara berpikir itu tidak sesuai dengan situasi kan kondisi dimana kita berada dan tidak sesuai dengan permasahan yang ada.
Nanti kita sambung lagi........
29 June 2012.
Friday, 29 June 2012
Saturday, 9 June 2012
HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU
PENGHUJUNG USIA
Di penghujung usiaku ini, selalu aku menoleh kebelakang, aku dapat melihat kembali dengan jelas liku-liku kehidupan yang aku lalui. kadang-kadang kepalaku menggeleng-geleng tanpa kusedari. betapa kuatnya aku betapa aku dapat melalui kehidupanku yang keras dan gersang itu, tidak ada sahabat, tempat mencurahkan perasaan tdak ada handai taulan yang membantu dan menolong, aku tempuh yang demikian itu, sambil hatiku berkata sendiri, "Aku mampu menjalani hidup seperti itu ? Aku mampu menjalani hidup yang keras seperti itu ?"
Allah Yang Maha Kuasa telah menurunkan kepada setiap kaum hawa rasa kasih sayang yang tak terhingga kepada anak-anak yang dilahirkannya. Begitu jugalah aku, rasa kasih sayangku kepada anak-anakkulah menjadikan aku seorang yang tegar pantang menyerah, seperti kata pribahasa patah kaki bertongkat paruh, walaupun tak terdaya, aku kuatkan juga dengan tenaga apa yang ada demi membesarkan anak-anakku tercinta.
"Bu ....! kenapa rumah orang tu, rumah orang yang kita pergi tadi tu cantik, cantik sangat, kenapa rumah kita buruk ?
Lina tak nak rumah buruk tu, Lina nak rumah cantik macam tadi tu, macam mana bu ?" anakku Lina bertanya kepadaku ketika kami balik dari rumah kakak sepupuku untuk meminjam wang.
Aku termenung sebentar mencari jawaban yang tepat dan baik bagi anakku. Aku dahului dengan senyuman sebelum menjawab pertanyaannya itu.
"Lina suka rumah cantik macam tu ? Ibupun suka juga", jawabku
"Kita beli lah bu rumah macamtu Lina suka", anakku meneruskan lagi permintaanya.
"Lina sekarang baru umur 3 tahun setengah, umur 6 tahun nanti Lina sekolah. Lina harus belajar rajin-rajin dapat nombor satu ", belum habis aku berkata tak sabar Lina memotong
"Kalau dapat nombor satu dapat rumah cantik ke bu ?"
"Kalau Lina rajin-rajin belajar dapat nombor satu selalu, nanti Lina dapat kerja bagus, gaji banyak, dapatlah beli rumah cantik, besar, macam rumah yang kita pergi tu." kataku.
Lina termangu-mangu mendengarkan, entah dia mengerti entah tidak akupun tak tahu. Turun dari bas kupimpin anakku bejalan ke rumah. Lina diam tidak berkata sepatahpun. Aku tahu pastilah Lina masih memikirkan rumah cantik dan besar yang dinaikinya tadi. Ku lihat wajah Lina ketika masuk ke rumah kecil yang ku sewa itu, seperti wajah kecewa, kecewa seorang anak kecil terasa di hatinya tak dapat dia kemukakan kekecewaannya sepuas hatinya.
Setiap pagi kakak Mia datang menjaga Lina, aku pergi bekerja dapt kubayangkan betapa bosannya anakku tinggal di rumah kecil, tiada hiasan dalaman yang menarik, tinggal berdua saja dengan kak Mia. Entah apa yang dibuat mereka di rumah itu akupun tak tahu.
Pada waktu Lisa adik Lina lahir, terbayang kegembiraan di wajah Lina, tertapi kecembuaruan dihati Lina takut kasih sayang ibu tertumpah kepada adiknya Lisa menyebabkan kegembiraan Lina tidak kekal lama. Tambahan lagi mereka berdua harus ku antar kerumah tetangga ketika aku pergi bekerja. Kak Mia tak bekerja lagi.
Kehidupanku bertambah sedih, suamiku yang seharusnya memberi nafkah kami, justru minta wang dariku untuk dijadikan modal. Gajiku yang tak seberapa terpaksa kuberikan juga untuk membeli kerusi gunting rambut sebab katanya dia mau bekerja sebagai tukang gunting rambut. Tak dapat kukatakan lagi kekecewaanku belumpun sampai sebulan kerusi itu dibawanya balik dan dibiarkanya berhujan berpanas di luar rumah seperti barang tak berharga, sebab dia tidak mau lagi bekerja sebagai tukang gunting rambut. Padahal keringatku belum lagi kering untuk mencari wang pembeli kerusi itu.
Setiap hari kupandang kursi yang berhujan berpanas itu, yang wang pembelinya adalah wang belanja makan yang harus dikurangi. Aku menangis sedih dengan air mataku jatuh ke dalam. Perkelahian akan terjadi kalau aku bersuara mengenai hal itu.
Tidak ada lagi pekerjaan minta lagi wang untuk modal. Seperti aku memotong dagingku sendiri pedihnya ketika aku terpaksa memberikan wang untuk modal itu sebab gajiku hanya sedikit. Cukup untuk belanja makan, beli susu anak dan semua keperluan yang lain-lain. Tidak cukup sampai disitu wang modal itu habis minta lagi sebab katanya modal sedikit memang terpaksa rugi, semua orang juga begitu, itulah jawaban suamiku.
Pernah juga dia minta untuk dibelikan terompet katanya mau belajar main terompet biar ikut artis mudah dapat wang. Permintaan yang satu ini tidak kukabulkan di samping wang ku memang tidak cukup untuk belanja seharian. Dia sendiri tidak pernah kenal terompet, berapa pula lamanya harus belajar dan apakah dia memang boleh pandai dan apakah ada yang mau menerima dia untuk bekerja, terbayang pula olehku apakah terompetnya sama pula nasibnya dengan kerusi tempat gunting rambut yang masih terbaring di luar sana.
Permintaannya tidak ku kabulkan, tentulah terjadi pergaduhan, dia pergi meninggalkan kami bertiga. Aku sudah pasrah, kalau dia pergi apa boleh buat aku tak tahan lagi dengan kerenahnya. Anakku Lina merasa kesunyian, dia menangis memanggil-manggill bapanya.
Akupun termenung apakah aku akan menurutkan kesal hatiku atau aku akan menghentikan rintihan anakku yang kehilangan bapanya.
Alangkah terkejutnya aku, rupanya dia sang suami beberapa hari tidak balik ini berdiam di rumah sepupuku itu, dengan bermacam-macam crita yang dibawanya memburuk-burukkan aku. Betapa pedihnya hatiku, aku dikatakan perempuam mata duitan, aku tidak suka kepadanya sebab dia miskin dan lain-lain sebagainya. Dalam kepedihan begitu aku terpaksa menerimanya kembali, demi anakku yang merindukannya.
"Sekarang ini aku bukan hidup untuk diriku, aku hanya hidup untuk anak-anakku, Jangan banyak tingkah dan jangan banyak bersuara", begitulah aku memarahi diriku, setiap kali kesedihan melanda hatiku.
Hari demi hari berlalu, kehidupan berjalan terus, dengan berbagai-bagai permintaan tidak lupa uantuk modal, menambah modal, membeli barang-barang lebih banyak supaya harga lebih murah dan berbagai macam lagi alasan memperkuat berbagai-bagai pemintaan. Dia juga pernah menyuruhku," Pinjamkanlah aku duit kepada kawan-kawan kamu itu mereka kan kaya kaya, nanti akan ku bayar kalau jualanku laris," Aku tidak meminjamkan wang itu kepada kawanku tetapi kuberikan wangku sendiri, entah berdosa aku berbohong mengatakan wang itu kupinjam dari kawanku dan haru di angsur membayarnya setiap bulan. Sebulan dibayarnya, dua bulan, bulan ketiaga disuruhnya aku membayar sebab dia perlu wang, bulan keempat di bayar, dan seterusnya dia seolah-olah tidak berhutang apa-apa. Aku telan semuanya itu demi kebaikan anak-anakku.
Aku kesian dengan anak-anakku tidak ada kegembiraan hidup, tinggal di rumah yang sangat sederhana, tidak ada kemudahan apapun semuanya serba susah dan membosankan. Untuk menghibur anak-anakku setiap bulan kusisihkan wang gajiku untuk membawa mereka ke supermarket berbelanja apa saja yang mereka inginkankan, dan juga aku bawa merka bemain-main ketempat permainan kanak-kanak. Anak-anakku sungguh gembira, setiap hari mereka menunggu bila aku akan dapat gaji supaya mereka dapat ke tempat yang mereka sukai itu.
Betapa sulitnya keadaanku, aku harus menjaga martabat keluarga, aku malu dengan teman-teman sekerja, bajuku hanya tiga, empat helai untuk kupakai mencari wang sedangkan temanku mempunyai bermacam-macam jenis baju yang di belikan suaminya di London Paris dan baru-baru ini di Jepun. Aku ke tempat kerja dengan baju lusuh.
Suatu pagi aku bersiaplah dengan baju lusuh pergi bekerja, tiba-tiba sang suami datang dengan mengejek, "Pakai baju lusuh begini pergi bekerja ? Tapi kawan kamu semua pakai baju cantik-cantik, kamu tidak malu begini ? Aku sendiri malu."
"Aku ini isteri siapa, siapa yang harus membelikan aku baju ?" jawabku
"Kamu bekerja belilah baju kamu sendiri, minta dengan aku tak ada lah" , jawabnya.
"Kemana perginya wang gaji aku, kita semua tahu kan? Aku permpuan aku ingin sekali mamakai baju cantik-cantik, bersolek diwaktu muda ini seperti teman-temanku itu !" jawabku dengan sedih, bercampur marah dan terasa mau menangis, tetapi sebelum habis ayat-ayat ku dia sudah pergi meninggalkan aku. Terasa seperti dia hanya mau menyakitkan hatiku akupun tidak tahu apa yang tersembunyi di hatinya. Dan apa maunya.
Waktu terus berlalu, anakku Lina dapat masuk U M , anakku Lisa dapat ke U K, dan harus belajar 2 tahun di PPP Shah Alam, anak lelakiku, tingkatan 2 yang perempuan kecil derjah 4 dan yang bungsu lelaki belum bersekolah. Sang suami dapat kedai, tetapi kedai itu tiada pengunjung sama sekali, dibiarkan kosong hanya membayar sewa lebih dari setahun. Dia menyuruhku menunggu kedai itu sehabis jam kerjaku. Betapa tersiksanya aku duduk di kedai tanpa ada pembelinya, sedangkan anakku masih memerlukan aku duduk menungguku di rumah. Pernah sekali kudapati anakku berdua sedang menangis sebab yang kecil terjatuh masuk longkang, akupun tak dapat menahan tangisku, kupeluk anakku sambail menangis pilu menanggung kesedihan.
Besoknya ku suruh anakku yang perempuan umur belum cukup 10 tahun itu mengambil adiknya di rumah orang tempat aku metitipkan setiap hari, membawa adiknya yang berumur 3 tahun setengah itu pergi kekedaiku naik bas. betapa tersiksanya aku duduk menunggu anak-anakku dua orang masih kecil-kecil, betapa sia-sianya aku. Aku tahu pekerjaanku ini sangat berbahaya tetapi terpaksa kulakukan juga. Sejak itu setiap hari anakku yang dua orang itu datang ke kedaiku dengan bas. Sangat banyak hal-hal yang merenggut jantungku terjadi, terlalu panjang untuk diceritakan di sini.
Aku terus berpikir apa yang harus kubuat di kedai itu, dari pada menunggu jualan yang tak laku, aku beli sebuah mesin jahit, akupun belajar menjahit untuk mengisi waktu. ALLAH memberi rezeki, banyak sekali orang menempah denganku, sehinggalah aku membeli satu demi satu mesin jahit dari penghasilan kadai itu, aku membeli sepuluh mesin dengan memakai 10 orang pekerja. Barulah aku merasakan mempunyai wang dan dapatlah aku agak mewah berbelanja. tetapi anehnya setelah mempunyai wangpun tidaklah aku boros sebab telah terbiasa hidup sederhana.
Dapatlah aku membeli kereta, menyimpan wang sedikit-sedikit.
Aku masih juga tidak dapat bergembira, masih terus dikehendaki terus bersedih, dengan penghinaan yang tidak kusangka sma sekali, sebab aku dikatakan hanya selevel dengan pendatang haram, bekerja sebagai tukang jahit, inilah kata-kata yang harus aku telan dari sang suami.
walaupun hatiku pedih tetapi aku tetap juga bertahan, sebab banyaknya pekerjaan tidak aku hiraukan penghinaan atau ejekan atau yang lainnya. Yang terpikir olehku hanyalah bagai mana aku harus melayan pelangganku supaya tetap datang menempah denganku. Tetapi hatiku ssangat sedih hiba mengenangkan nasibku. Aku tidak tahu apalagi baktiku untuk keluarga yang belum aku tunaikan, aku kikis habis tenagaku, pikiranku, jiwaku dan ragaku tetapi aku masih lagi diperlakukan seperti orang tiada berguna.
Ketika anakku Lina menikah, aku berpakatlah dengan sang suami, bagaimana pernikahan itu akan diadakan nanti. Apa jawabnya ?
"Buat apa diadakan kenduri, menghabiskan wang, lebih baik digunakan untuk modal, cukuplah dipanggil seorang kadhi dan beberapa orang saksi, hanya itu yang perlu menurut Islam." Ucapannya itu betul tetapi aku ketika itu sudah ada sedikit wang tak sampai hatiku untuk tidak menghargai anakku Lina yang telah mendapatkan ijazah DR menikah sesederhana begitu.
Begitulah sekelumit kisah dari kehidupan berpuluh tahun, sebenarnya terlalu banyak untuk diceritakan, semua cerita membosankan tidak sedap untuk dipaparkan lebih lanjut. Biarlah selebihnya kusimpam sebagai penbendaharaan di lubuk hatiku, untuk kutangisi seorang diri, sebagai rahasia kusimpan ia jauh-jauh di lubuk hati.
Segala sesuatu itu ada batasnya, kesabaranku, ketabahanku, kecekalan hatiku, kekuatanku untuk bertahan akhirnya rapuh jua bersama usiaku yang meningkat tua. Do'aku puluhan tahun yang mengharapkan mudah-mudahan suami akan sadar dan akan berubah menjadi baik tidak terkabul. Aku tidak rela lagi diperlakukan sewenang wenang, walaupun pada mulamya aku berjanji hidupku bukan untuk diriku tetapi untuk anak-anakku, akhirnya janjiku itu ku ungkai semula. Aku mengatakan kepada anak-anakku bahwa aku tidak mau lagi, tidak tahan lagi hidup seperti itu. Anak-anakku terdiam, ada yang melelehkan air mata, sebab mereka belum mempunyai pasangan hidup masing-masing. Walaupun begitu mereka merelakannya. Ada yang berkata, " Tak apalah bu kalau ibu sudah tak tahan lagi macam mana, kami ikut saja mana yang ibu rasa baik, kami juga tidak mau ibu menderita lebih lama ".
Akhirnya perpisahan itu terjadi, tiada siapa yang tahu, jiran-jiran semuanya ternganga-nganga sebab mereka tidak pernah mendengar kami bertengkar apalagi berkelahi.
Anakku Lina yang ingin sekali mempunyai rumah cantik, besar dan indah kini telah terkabul. Dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya sejak dari kecil, bukan hasil dari jerih payahku tetapi adalah usahanya suami isteri, aku sangat gembira.
Walau berapa banyak kesusahan yang kutanggung, betapa banyak keringat yang tercurah, berapa banyak air mata yang tertumpah,
Aku halalkan semuanya, untuk anak-anakku, aku redo dengan semua yang berlaku, aku sadar, semua itu takdir ALLAH untukku, sekali lagi aku redo menjalani hidup yang Allah tentukan untukku. Alhamdulillah selama aku menjalani hidupku tak pernah aku menyeleweng dan tak pernah teringatpun olehku. Yang teringat adalah 'HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU, BUKAN UNTUK DIRIKU'. Aku ampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, semoga juga mereka mengampunkan aku, banyak silap dan salahku waktu membesarkan mereka, banyak kekurangan-kekuranganku sebagai ibu, aku sering memarahi mereka, terlebih waktu aku terdesak dengan kerja-kerja, yang aku hanya pentingkan kerja, siang malam, pernah juga aku pergi dubing alih bahasa, menjual suara untuk cerita-cerita, dengan membawa dua orang anak umur tiga tahun dan sepuluh tahun diwaktu malam hari menambahkan lagi pendapatan. Adakah sang suami melarangku atau kesian denganku, satu hari tiga kerja yang dibuat oleh isteri ? Tidak pernah, jangan mengharap.
Aku tulis kisahku ini supaya mereka dapat melihat aku, siapa aku yang sebenarnya, supaya mereka tidak salah menilai aku, jika ada kesalahanku, tersebab kekangan hidup, bukanlah kusengajakan untuk berbuat salah. mudah-mudahan anak-anakku memaafkanya.
Kini aku sangat gembira semua anak-anakku berjaya dalam hidup, tidaklah mereka mewarisi kesusahanku. Terlebih lagi kegembiraanku anak-anakku semuanya mengingatiku sebagai ibunya walaupun mereka telah mendapatkan kedudukan tinggi tetapi aku adalah tetap masih ibu mereka.
Di penghujung usiaku ini, selalu aku menoleh kebelakang, aku dapat melihat kembali dengan jelas liku-liku kehidupan yang aku lalui. kadang-kadang kepalaku menggeleng-geleng tanpa kusedari. betapa kuatnya aku betapa aku dapat melalui kehidupanku yang keras dan gersang itu, tidak ada sahabat, tempat mencurahkan perasaan tdak ada handai taulan yang membantu dan menolong, aku tempuh yang demikian itu, sambil hatiku berkata sendiri, "Aku mampu menjalani hidup seperti itu ? Aku mampu menjalani hidup yang keras seperti itu ?"
Allah Yang Maha Kuasa telah menurunkan kepada setiap kaum hawa rasa kasih sayang yang tak terhingga kepada anak-anak yang dilahirkannya. Begitu jugalah aku, rasa kasih sayangku kepada anak-anakkulah menjadikan aku seorang yang tegar pantang menyerah, seperti kata pribahasa patah kaki bertongkat paruh, walaupun tak terdaya, aku kuatkan juga dengan tenaga apa yang ada demi membesarkan anak-anakku tercinta.
"Bu ....! kenapa rumah orang tu, rumah orang yang kita pergi tadi tu cantik, cantik sangat, kenapa rumah kita buruk ?
Lina tak nak rumah buruk tu, Lina nak rumah cantik macam tadi tu, macam mana bu ?" anakku Lina bertanya kepadaku ketika kami balik dari rumah kakak sepupuku untuk meminjam wang.
Aku termenung sebentar mencari jawaban yang tepat dan baik bagi anakku. Aku dahului dengan senyuman sebelum menjawab pertanyaannya itu.
"Lina suka rumah cantik macam tu ? Ibupun suka juga", jawabku
"Kita beli lah bu rumah macamtu Lina suka", anakku meneruskan lagi permintaanya.
"Lina sekarang baru umur 3 tahun setengah, umur 6 tahun nanti Lina sekolah. Lina harus belajar rajin-rajin dapat nombor satu ", belum habis aku berkata tak sabar Lina memotong
"Kalau dapat nombor satu dapat rumah cantik ke bu ?"
"Kalau Lina rajin-rajin belajar dapat nombor satu selalu, nanti Lina dapat kerja bagus, gaji banyak, dapatlah beli rumah cantik, besar, macam rumah yang kita pergi tu." kataku.
Lina termangu-mangu mendengarkan, entah dia mengerti entah tidak akupun tak tahu. Turun dari bas kupimpin anakku bejalan ke rumah. Lina diam tidak berkata sepatahpun. Aku tahu pastilah Lina masih memikirkan rumah cantik dan besar yang dinaikinya tadi. Ku lihat wajah Lina ketika masuk ke rumah kecil yang ku sewa itu, seperti wajah kecewa, kecewa seorang anak kecil terasa di hatinya tak dapat dia kemukakan kekecewaannya sepuas hatinya.
Setiap pagi kakak Mia datang menjaga Lina, aku pergi bekerja dapt kubayangkan betapa bosannya anakku tinggal di rumah kecil, tiada hiasan dalaman yang menarik, tinggal berdua saja dengan kak Mia. Entah apa yang dibuat mereka di rumah itu akupun tak tahu.
Pada waktu Lisa adik Lina lahir, terbayang kegembiraan di wajah Lina, tertapi kecembuaruan dihati Lina takut kasih sayang ibu tertumpah kepada adiknya Lisa menyebabkan kegembiraan Lina tidak kekal lama. Tambahan lagi mereka berdua harus ku antar kerumah tetangga ketika aku pergi bekerja. Kak Mia tak bekerja lagi.
Kehidupanku bertambah sedih, suamiku yang seharusnya memberi nafkah kami, justru minta wang dariku untuk dijadikan modal. Gajiku yang tak seberapa terpaksa kuberikan juga untuk membeli kerusi gunting rambut sebab katanya dia mau bekerja sebagai tukang gunting rambut. Tak dapat kukatakan lagi kekecewaanku belumpun sampai sebulan kerusi itu dibawanya balik dan dibiarkanya berhujan berpanas di luar rumah seperti barang tak berharga, sebab dia tidak mau lagi bekerja sebagai tukang gunting rambut. Padahal keringatku belum lagi kering untuk mencari wang pembeli kerusi itu.
Setiap hari kupandang kursi yang berhujan berpanas itu, yang wang pembelinya adalah wang belanja makan yang harus dikurangi. Aku menangis sedih dengan air mataku jatuh ke dalam. Perkelahian akan terjadi kalau aku bersuara mengenai hal itu.
Tidak ada lagi pekerjaan minta lagi wang untuk modal. Seperti aku memotong dagingku sendiri pedihnya ketika aku terpaksa memberikan wang untuk modal itu sebab gajiku hanya sedikit. Cukup untuk belanja makan, beli susu anak dan semua keperluan yang lain-lain. Tidak cukup sampai disitu wang modal itu habis minta lagi sebab katanya modal sedikit memang terpaksa rugi, semua orang juga begitu, itulah jawaban suamiku.
Pernah juga dia minta untuk dibelikan terompet katanya mau belajar main terompet biar ikut artis mudah dapat wang. Permintaan yang satu ini tidak kukabulkan di samping wang ku memang tidak cukup untuk belanja seharian. Dia sendiri tidak pernah kenal terompet, berapa pula lamanya harus belajar dan apakah dia memang boleh pandai dan apakah ada yang mau menerima dia untuk bekerja, terbayang pula olehku apakah terompetnya sama pula nasibnya dengan kerusi tempat gunting rambut yang masih terbaring di luar sana.
Permintaannya tidak ku kabulkan, tentulah terjadi pergaduhan, dia pergi meninggalkan kami bertiga. Aku sudah pasrah, kalau dia pergi apa boleh buat aku tak tahan lagi dengan kerenahnya. Anakku Lina merasa kesunyian, dia menangis memanggil-manggill bapanya.
Akupun termenung apakah aku akan menurutkan kesal hatiku atau aku akan menghentikan rintihan anakku yang kehilangan bapanya.
Alangkah terkejutnya aku, rupanya dia sang suami beberapa hari tidak balik ini berdiam di rumah sepupuku itu, dengan bermacam-macam crita yang dibawanya memburuk-burukkan aku. Betapa pedihnya hatiku, aku dikatakan perempuam mata duitan, aku tidak suka kepadanya sebab dia miskin dan lain-lain sebagainya. Dalam kepedihan begitu aku terpaksa menerimanya kembali, demi anakku yang merindukannya.
"Sekarang ini aku bukan hidup untuk diriku, aku hanya hidup untuk anak-anakku, Jangan banyak tingkah dan jangan banyak bersuara", begitulah aku memarahi diriku, setiap kali kesedihan melanda hatiku.
Hari demi hari berlalu, kehidupan berjalan terus, dengan berbagai-bagai permintaan tidak lupa uantuk modal, menambah modal, membeli barang-barang lebih banyak supaya harga lebih murah dan berbagai macam lagi alasan memperkuat berbagai-bagai pemintaan. Dia juga pernah menyuruhku," Pinjamkanlah aku duit kepada kawan-kawan kamu itu mereka kan kaya kaya, nanti akan ku bayar kalau jualanku laris," Aku tidak meminjamkan wang itu kepada kawanku tetapi kuberikan wangku sendiri, entah berdosa aku berbohong mengatakan wang itu kupinjam dari kawanku dan haru di angsur membayarnya setiap bulan. Sebulan dibayarnya, dua bulan, bulan ketiaga disuruhnya aku membayar sebab dia perlu wang, bulan keempat di bayar, dan seterusnya dia seolah-olah tidak berhutang apa-apa. Aku telan semuanya itu demi kebaikan anak-anakku.
Aku kesian dengan anak-anakku tidak ada kegembiraan hidup, tinggal di rumah yang sangat sederhana, tidak ada kemudahan apapun semuanya serba susah dan membosankan. Untuk menghibur anak-anakku setiap bulan kusisihkan wang gajiku untuk membawa mereka ke supermarket berbelanja apa saja yang mereka inginkankan, dan juga aku bawa merka bemain-main ketempat permainan kanak-kanak. Anak-anakku sungguh gembira, setiap hari mereka menunggu bila aku akan dapat gaji supaya mereka dapat ke tempat yang mereka sukai itu.
Betapa sulitnya keadaanku, aku harus menjaga martabat keluarga, aku malu dengan teman-teman sekerja, bajuku hanya tiga, empat helai untuk kupakai mencari wang sedangkan temanku mempunyai bermacam-macam jenis baju yang di belikan suaminya di London Paris dan baru-baru ini di Jepun. Aku ke tempat kerja dengan baju lusuh.
Suatu pagi aku bersiaplah dengan baju lusuh pergi bekerja, tiba-tiba sang suami datang dengan mengejek, "Pakai baju lusuh begini pergi bekerja ? Tapi kawan kamu semua pakai baju cantik-cantik, kamu tidak malu begini ? Aku sendiri malu."
"Aku ini isteri siapa, siapa yang harus membelikan aku baju ?" jawabku
"Kamu bekerja belilah baju kamu sendiri, minta dengan aku tak ada lah" , jawabnya.
"Kemana perginya wang gaji aku, kita semua tahu kan? Aku permpuan aku ingin sekali mamakai baju cantik-cantik, bersolek diwaktu muda ini seperti teman-temanku itu !" jawabku dengan sedih, bercampur marah dan terasa mau menangis, tetapi sebelum habis ayat-ayat ku dia sudah pergi meninggalkan aku. Terasa seperti dia hanya mau menyakitkan hatiku akupun tidak tahu apa yang tersembunyi di hatinya. Dan apa maunya.
Waktu terus berlalu, anakku Lina dapat masuk U M , anakku Lisa dapat ke U K, dan harus belajar 2 tahun di PPP Shah Alam, anak lelakiku, tingkatan 2 yang perempuan kecil derjah 4 dan yang bungsu lelaki belum bersekolah. Sang suami dapat kedai, tetapi kedai itu tiada pengunjung sama sekali, dibiarkan kosong hanya membayar sewa lebih dari setahun. Dia menyuruhku menunggu kedai itu sehabis jam kerjaku. Betapa tersiksanya aku duduk di kedai tanpa ada pembelinya, sedangkan anakku masih memerlukan aku duduk menungguku di rumah. Pernah sekali kudapati anakku berdua sedang menangis sebab yang kecil terjatuh masuk longkang, akupun tak dapat menahan tangisku, kupeluk anakku sambail menangis pilu menanggung kesedihan.
Besoknya ku suruh anakku yang perempuan umur belum cukup 10 tahun itu mengambil adiknya di rumah orang tempat aku metitipkan setiap hari, membawa adiknya yang berumur 3 tahun setengah itu pergi kekedaiku naik bas. betapa tersiksanya aku duduk menunggu anak-anakku dua orang masih kecil-kecil, betapa sia-sianya aku. Aku tahu pekerjaanku ini sangat berbahaya tetapi terpaksa kulakukan juga. Sejak itu setiap hari anakku yang dua orang itu datang ke kedaiku dengan bas. Sangat banyak hal-hal yang merenggut jantungku terjadi, terlalu panjang untuk diceritakan di sini.
Aku terus berpikir apa yang harus kubuat di kedai itu, dari pada menunggu jualan yang tak laku, aku beli sebuah mesin jahit, akupun belajar menjahit untuk mengisi waktu. ALLAH memberi rezeki, banyak sekali orang menempah denganku, sehinggalah aku membeli satu demi satu mesin jahit dari penghasilan kadai itu, aku membeli sepuluh mesin dengan memakai 10 orang pekerja. Barulah aku merasakan mempunyai wang dan dapatlah aku agak mewah berbelanja. tetapi anehnya setelah mempunyai wangpun tidaklah aku boros sebab telah terbiasa hidup sederhana.
Dapatlah aku membeli kereta, menyimpan wang sedikit-sedikit.
Aku masih juga tidak dapat bergembira, masih terus dikehendaki terus bersedih, dengan penghinaan yang tidak kusangka sma sekali, sebab aku dikatakan hanya selevel dengan pendatang haram, bekerja sebagai tukang jahit, inilah kata-kata yang harus aku telan dari sang suami.
walaupun hatiku pedih tetapi aku tetap juga bertahan, sebab banyaknya pekerjaan tidak aku hiraukan penghinaan atau ejekan atau yang lainnya. Yang terpikir olehku hanyalah bagai mana aku harus melayan pelangganku supaya tetap datang menempah denganku. Tetapi hatiku ssangat sedih hiba mengenangkan nasibku. Aku tidak tahu apalagi baktiku untuk keluarga yang belum aku tunaikan, aku kikis habis tenagaku, pikiranku, jiwaku dan ragaku tetapi aku masih lagi diperlakukan seperti orang tiada berguna.
Ketika anakku Lina menikah, aku berpakatlah dengan sang suami, bagaimana pernikahan itu akan diadakan nanti. Apa jawabnya ?
"Buat apa diadakan kenduri, menghabiskan wang, lebih baik digunakan untuk modal, cukuplah dipanggil seorang kadhi dan beberapa orang saksi, hanya itu yang perlu menurut Islam." Ucapannya itu betul tetapi aku ketika itu sudah ada sedikit wang tak sampai hatiku untuk tidak menghargai anakku Lina yang telah mendapatkan ijazah DR menikah sesederhana begitu.
Begitulah sekelumit kisah dari kehidupan berpuluh tahun, sebenarnya terlalu banyak untuk diceritakan, semua cerita membosankan tidak sedap untuk dipaparkan lebih lanjut. Biarlah selebihnya kusimpam sebagai penbendaharaan di lubuk hatiku, untuk kutangisi seorang diri, sebagai rahasia kusimpan ia jauh-jauh di lubuk hati.
Segala sesuatu itu ada batasnya, kesabaranku, ketabahanku, kecekalan hatiku, kekuatanku untuk bertahan akhirnya rapuh jua bersama usiaku yang meningkat tua. Do'aku puluhan tahun yang mengharapkan mudah-mudahan suami akan sadar dan akan berubah menjadi baik tidak terkabul. Aku tidak rela lagi diperlakukan sewenang wenang, walaupun pada mulamya aku berjanji hidupku bukan untuk diriku tetapi untuk anak-anakku, akhirnya janjiku itu ku ungkai semula. Aku mengatakan kepada anak-anakku bahwa aku tidak mau lagi, tidak tahan lagi hidup seperti itu. Anak-anakku terdiam, ada yang melelehkan air mata, sebab mereka belum mempunyai pasangan hidup masing-masing. Walaupun begitu mereka merelakannya. Ada yang berkata, " Tak apalah bu kalau ibu sudah tak tahan lagi macam mana, kami ikut saja mana yang ibu rasa baik, kami juga tidak mau ibu menderita lebih lama ".
Akhirnya perpisahan itu terjadi, tiada siapa yang tahu, jiran-jiran semuanya ternganga-nganga sebab mereka tidak pernah mendengar kami bertengkar apalagi berkelahi.
Anakku Lina yang ingin sekali mempunyai rumah cantik, besar dan indah kini telah terkabul. Dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya sejak dari kecil, bukan hasil dari jerih payahku tetapi adalah usahanya suami isteri, aku sangat gembira.
Walau berapa banyak kesusahan yang kutanggung, betapa banyak keringat yang tercurah, berapa banyak air mata yang tertumpah,
Aku halalkan semuanya, untuk anak-anakku, aku redo dengan semua yang berlaku, aku sadar, semua itu takdir ALLAH untukku, sekali lagi aku redo menjalani hidup yang Allah tentukan untukku. Alhamdulillah selama aku menjalani hidupku tak pernah aku menyeleweng dan tak pernah teringatpun olehku. Yang teringat adalah 'HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU, BUKAN UNTUK DIRIKU'. Aku ampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, semoga juga mereka mengampunkan aku, banyak silap dan salahku waktu membesarkan mereka, banyak kekurangan-kekuranganku sebagai ibu, aku sering memarahi mereka, terlebih waktu aku terdesak dengan kerja-kerja, yang aku hanya pentingkan kerja, siang malam, pernah juga aku pergi dubing alih bahasa, menjual suara untuk cerita-cerita, dengan membawa dua orang anak umur tiga tahun dan sepuluh tahun diwaktu malam hari menambahkan lagi pendapatan. Adakah sang suami melarangku atau kesian denganku, satu hari tiga kerja yang dibuat oleh isteri ? Tidak pernah, jangan mengharap.
Aku tulis kisahku ini supaya mereka dapat melihat aku, siapa aku yang sebenarnya, supaya mereka tidak salah menilai aku, jika ada kesalahanku, tersebab kekangan hidup, bukanlah kusengajakan untuk berbuat salah. mudah-mudahan anak-anakku memaafkanya.
Kini aku sangat gembira semua anak-anakku berjaya dalam hidup, tidaklah mereka mewarisi kesusahanku. Terlebih lagi kegembiraanku anak-anakku semuanya mengingatiku sebagai ibunya walaupun mereka telah mendapatkan kedudukan tinggi tetapi aku adalah tetap masih ibu mereka.
Friday, 25 May 2012
ADA YANG TAK TERKATAKAN ........
ADA YANG TAK TERKATAKAN .............
"Abang Edi membeli kereta baru, dia hendak membeli warna hitam tetapi terpaksa tunggu dua minggu,tak sempat", anakku Nina memberitahuku.
"Tak sempat ? Kenapa, apa salahnya tunggu dua minggu dapatlah kita warna kereta yang berkenan di hati. Warna apa yang diambilnya ?" tanyaku sedikit hairan.
"Warna silver" jawab anakku Nina selamba.
"O.... warna silver", balasku sambil dalam hati masih tertanya-tanya kenapa tak sempat.
"Mak kak Cik itu akan datang dari Padang minggu ini, mereka akan menjemputnya ke KLIA, seronoklah pakai kereta baru, supaya dapat mak kak Cik dapat merasa naik kereta baru abang Edi", jawab anakku Nina.
Terasa ciut hatiku ketika itu, begitu rupanya Edi ambil berat mertuanya, sedangkan aku ibu kandungnya, jarang dia datang melawatku sekali tiga bulanpun tidak, kecuali kalau ada keperluan, atau untuk mengambil surat-suratnya yang beralamat ke rumahku.
Kepada siapa akan kukatakan apa yang terasa di hatiku ini ? Tidak pernah pula Edi mempelawaku pergi ke rumahnya atau naik kereta barunya. Rasa ini kependam seorang diri. Sejak bulan November hinggalah bulan Mei Edi tak pernah datang ke rumahkku, ketika ada surat penting anakku Nina menaliponnya. Dia datang mengambil suratnya itu, hatiku sedih sehingga tak terkatakan apa-apa melihat wajahnya.
Dia pergi ketika aku menunaikan solat zuhur, tanpa memberitahukanku kepergiannya itu.
Salahkah aku kalau hatiku ini sangat sedih ? tetapi setiap kali aku berdoa, tetap aku doakan dia supaya Allah memberinya petunjuk. Mungkin doaku ini belum Allah kabulkan. Hatiku sedih ini kepada siapa akan ku katakan ?
Aku juga tidak tahu apakah aku terlalu berlebihan, kalau kukatakan hatiku sedih jika anak-anakku tidak ambil tahu apakah aku makan atau tidak, apakah aku sudah makan atau belum. Adakah makanan yang akan aku makan atau tidak ada.
Aku juga tidak tahu apakah aku ini menyusahkan anak-anak atau tidak; setiap kali mereka membawa aku makan ke kedai atau ke restoran aku menolak. Memang aku tidak biasa makan di restoran itu, itu bukan budayaku, aku ini dibesarkan dalam kehidupan yang keras, jauh sekali dari bermewah-mewah. Seleraku juga tidak sesuai dengan makanan yang dihidangkan di situ. Aku makan tidak sesuai dengan seleraku, padahal nanti mereka membayar dengan harga yang sangat mahal, tak sampai hatiku membiarkan hal ini terjadi. Dan kehadiranku bersama mereka terasa pula mengganggu keselesaan mereka berkeluarga, mungkin mereka ingin bersenang-senang suami isteri dan anak-anak tanpa ada yang mengganggunya. Inilah sebabnya aku menolak setiap kali pelawaannya. Mungkin mereka bosan, tiap kali pergi tidak lagi mempelawaku lagi. Bagiku tidak apa-apa. Tapi jauh di lubuk hatiku aku berharap pula ada sedikit perhatian dari mereka atau ambil berat tentangku. Mereka meninggalkan aku sendirian di rumah adakah makanan yang akan aku makan, apa yang dapat untuk pengisi perutku, ataukah aku sehat, ataukah aku sakit. Mungkin mereka lupa untuk bertanya, tetapi itulah yang aku harapkan, sebagai tanda bahwa mereka mengambil berat tentang diriku. Tidak ada seorangpun yang bertanya atau jarang sekali pertanyaan itu keluar dari mulut mereka. Pernah sekali aku berpuasa, mereka pergi meninggalkan aku waktu berbuka telah hampir tiba, tidak ada apa-apa yang layak dimakan untuk aku berbuka, tidak ada pula bahan mentah untuk dimasak. Aku termenung, aku cari dalam peti sejuk kalau-kalau ada untuk dimakan. Aku temuilah sedikit udang goreng entah sudah berapa lama usianya. Aku panaskan, berbukalah aku sendirian, selesai berbuka terasa perutku sakit, aku tahan sendiri tidak siapa yang tahu, aku malu, malu sendiri seperti aku ini tiada harga sama sekali. Aku tetap tegar aku tidak berkata sepatahpun, tiada siapa yang tahu apa yang terjadi pada diriku. Hatiku sangat sedih, sebab tidak ada satu patah katapun yang menunjukkan bahwa ada sedikit ambil berat tentang diriku. Tidak ada pertanyaan yang kuharapkan, tidak ada basa basi sedikitpun, apakah aku sudah berbuka atau belum. Inilah sahaja yang kuharapkan tak lebih dari itu. Tapi ini jarang sekali kudapatkan. Mungkin mereka lupa atau banyak masaalah. Semua kupendam sendiri, semua kisah kutelan sendiri, biarlah menjadi rahasia diriku menjdi rahasia hidupku.
Sebagai ibu aku maa'afkan semua kesalahan mereka tanpa diminta, aku tidak mahu tersebab aku anakku susah di akhirat nanti.
Ramai anak berbagai ragam pula tingkah lakunya, bagaimana perasaan sekiranya anak kita yang kita ajar supaya jujur, terus terang, berkata benar rupanya secara diam-diam telah mengadakan hubungan dan telah berbaik-baik dengan keluarga laki-laki yang diinginkannya. Aku betul-betul rasa terpukul terasa anakku yang aku asuh, kudidik, kubelai dengan penuh kasih sayang, tempat aku menggantungkan harapan untuk dijadikan contoh dan teladan, tanpa kusadari, telah memperbodohkan aku, telah membelakangiku.
Diam-diam aku menangis seorang diri, kubiarkan air mataku bercucuran, setelah reda aku hapus pula air mata yang tersisa seorang diri, kepada siapa akan kukatakan ?
Sebagai ibu tidak aku biarkan anakku berdosa, aku maafkan kesalahannya tanpa diminta.
Kehidupanku yang keras menolong aku untuk melupakan segalanya, seperti tidak ada kepedihan yang bergelora dalam diriku. Ini telah lama sekali berlalu ...................
Sayangnya aku kepada anak-anakku tidak terhingga, mungkin aku membesarkannya dengan jerih payah dan segala tanggung jawab dipikulkan ke pundakku. Setiap kali anak-anakku menjangkau usia berumah tangga aku telah mulai berdoa supaya dapat jodoh yang sesuai yang sebaik-baiknya. Dan terselip juga harapan di hatiku supaya menantu-menantuku nanti juga akan melimpahkan sedikit kasih sayangnya kepadaku. Aku tahu aku akan hidup sendiri di hari tuaku, walaupun sebelumnya akupun memang telah lama sendiri.
Harapanku yang tidak menasabah adalah supaya anak-anakku tidak berpisah denganku, tetap tinggal di rumahku.
"Bu..... saya nak pindah", kata anakku.
Rasa terbang darahku, menggigil tubuhku.Aku tak dapat menjawabnya, seperti ada sesuatu tersekat di kerongkonganku, aku tinggalkan dia, tak berani aku menatap wajahnya. Akupun lari menyembunyikan tangisku..................
Ini telah lama berlalu .........................
Inilah aku, ada yang tak terkatakan goresan hatiku ini kepada siapapun ....................
Aku tumpahkan di sini, bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa .................
Ini hanya sejarah hidupku supaya ada yang mengetahuinya jika terbaca ...................
Jika terbaca katakanlah ia hanya sebuah mimpi yang tak akan berulang lagi, sebuah mimpi buruk supaya cepat-cepat dilupakan ..............................
TIADA GADING YANG TIDAK RETAK
Semua ini aku lupakan, anak-anakku dan menantu-menantuku begitu baik dan sayang padaku di hari tuaku ini, aku selalu berdoa supaya kami semua mendapat petunjuk dari ALLAH SWT.
Anak-anakku tidak kuberi berdosa padaku, aku telah ampunkan dan aku telah ma'afkan walaupun tanpa diminta. Sekali lagi kukatakan aku tidak mahu anak-anakku susah di akhirat nanti tersebab aku ...........................................
"Abang Edi membeli kereta baru, dia hendak membeli warna hitam tetapi terpaksa tunggu dua minggu,tak sempat", anakku Nina memberitahuku.
"Tak sempat ? Kenapa, apa salahnya tunggu dua minggu dapatlah kita warna kereta yang berkenan di hati. Warna apa yang diambilnya ?" tanyaku sedikit hairan.
"Warna silver" jawab anakku Nina selamba.
"O.... warna silver", balasku sambil dalam hati masih tertanya-tanya kenapa tak sempat.
"Mak kak Cik itu akan datang dari Padang minggu ini, mereka akan menjemputnya ke KLIA, seronoklah pakai kereta baru, supaya dapat mak kak Cik dapat merasa naik kereta baru abang Edi", jawab anakku Nina.
Terasa ciut hatiku ketika itu, begitu rupanya Edi ambil berat mertuanya, sedangkan aku ibu kandungnya, jarang dia datang melawatku sekali tiga bulanpun tidak, kecuali kalau ada keperluan, atau untuk mengambil surat-suratnya yang beralamat ke rumahku.
Kepada siapa akan kukatakan apa yang terasa di hatiku ini ? Tidak pernah pula Edi mempelawaku pergi ke rumahnya atau naik kereta barunya. Rasa ini kependam seorang diri. Sejak bulan November hinggalah bulan Mei Edi tak pernah datang ke rumahkku, ketika ada surat penting anakku Nina menaliponnya. Dia datang mengambil suratnya itu, hatiku sedih sehingga tak terkatakan apa-apa melihat wajahnya.
Dia pergi ketika aku menunaikan solat zuhur, tanpa memberitahukanku kepergiannya itu.
Salahkah aku kalau hatiku ini sangat sedih ? tetapi setiap kali aku berdoa, tetap aku doakan dia supaya Allah memberinya petunjuk. Mungkin doaku ini belum Allah kabulkan. Hatiku sedih ini kepada siapa akan ku katakan ?
Aku juga tidak tahu apakah aku terlalu berlebihan, kalau kukatakan hatiku sedih jika anak-anakku tidak ambil tahu apakah aku makan atau tidak, apakah aku sudah makan atau belum. Adakah makanan yang akan aku makan atau tidak ada.
Aku juga tidak tahu apakah aku ini menyusahkan anak-anak atau tidak; setiap kali mereka membawa aku makan ke kedai atau ke restoran aku menolak. Memang aku tidak biasa makan di restoran itu, itu bukan budayaku, aku ini dibesarkan dalam kehidupan yang keras, jauh sekali dari bermewah-mewah. Seleraku juga tidak sesuai dengan makanan yang dihidangkan di situ. Aku makan tidak sesuai dengan seleraku, padahal nanti mereka membayar dengan harga yang sangat mahal, tak sampai hatiku membiarkan hal ini terjadi. Dan kehadiranku bersama mereka terasa pula mengganggu keselesaan mereka berkeluarga, mungkin mereka ingin bersenang-senang suami isteri dan anak-anak tanpa ada yang mengganggunya. Inilah sebabnya aku menolak setiap kali pelawaannya. Mungkin mereka bosan, tiap kali pergi tidak lagi mempelawaku lagi. Bagiku tidak apa-apa. Tapi jauh di lubuk hatiku aku berharap pula ada sedikit perhatian dari mereka atau ambil berat tentangku. Mereka meninggalkan aku sendirian di rumah adakah makanan yang akan aku makan, apa yang dapat untuk pengisi perutku, ataukah aku sehat, ataukah aku sakit. Mungkin mereka lupa untuk bertanya, tetapi itulah yang aku harapkan, sebagai tanda bahwa mereka mengambil berat tentang diriku. Tidak ada seorangpun yang bertanya atau jarang sekali pertanyaan itu keluar dari mulut mereka. Pernah sekali aku berpuasa, mereka pergi meninggalkan aku waktu berbuka telah hampir tiba, tidak ada apa-apa yang layak dimakan untuk aku berbuka, tidak ada pula bahan mentah untuk dimasak. Aku termenung, aku cari dalam peti sejuk kalau-kalau ada untuk dimakan. Aku temuilah sedikit udang goreng entah sudah berapa lama usianya. Aku panaskan, berbukalah aku sendirian, selesai berbuka terasa perutku sakit, aku tahan sendiri tidak siapa yang tahu, aku malu, malu sendiri seperti aku ini tiada harga sama sekali. Aku tetap tegar aku tidak berkata sepatahpun, tiada siapa yang tahu apa yang terjadi pada diriku. Hatiku sangat sedih, sebab tidak ada satu patah katapun yang menunjukkan bahwa ada sedikit ambil berat tentang diriku. Tidak ada pertanyaan yang kuharapkan, tidak ada basa basi sedikitpun, apakah aku sudah berbuka atau belum. Inilah sahaja yang kuharapkan tak lebih dari itu. Tapi ini jarang sekali kudapatkan. Mungkin mereka lupa atau banyak masaalah. Semua kupendam sendiri, semua kisah kutelan sendiri, biarlah menjadi rahasia diriku menjdi rahasia hidupku.
Sebagai ibu aku maa'afkan semua kesalahan mereka tanpa diminta, aku tidak mahu tersebab aku anakku susah di akhirat nanti.
Ramai anak berbagai ragam pula tingkah lakunya, bagaimana perasaan sekiranya anak kita yang kita ajar supaya jujur, terus terang, berkata benar rupanya secara diam-diam telah mengadakan hubungan dan telah berbaik-baik dengan keluarga laki-laki yang diinginkannya. Aku betul-betul rasa terpukul terasa anakku yang aku asuh, kudidik, kubelai dengan penuh kasih sayang, tempat aku menggantungkan harapan untuk dijadikan contoh dan teladan, tanpa kusadari, telah memperbodohkan aku, telah membelakangiku.
Diam-diam aku menangis seorang diri, kubiarkan air mataku bercucuran, setelah reda aku hapus pula air mata yang tersisa seorang diri, kepada siapa akan kukatakan ?
Sebagai ibu tidak aku biarkan anakku berdosa, aku maafkan kesalahannya tanpa diminta.
Kehidupanku yang keras menolong aku untuk melupakan segalanya, seperti tidak ada kepedihan yang bergelora dalam diriku. Ini telah lama sekali berlalu ...................
Sayangnya aku kepada anak-anakku tidak terhingga, mungkin aku membesarkannya dengan jerih payah dan segala tanggung jawab dipikulkan ke pundakku. Setiap kali anak-anakku menjangkau usia berumah tangga aku telah mulai berdoa supaya dapat jodoh yang sesuai yang sebaik-baiknya. Dan terselip juga harapan di hatiku supaya menantu-menantuku nanti juga akan melimpahkan sedikit kasih sayangnya kepadaku. Aku tahu aku akan hidup sendiri di hari tuaku, walaupun sebelumnya akupun memang telah lama sendiri.
Harapanku yang tidak menasabah adalah supaya anak-anakku tidak berpisah denganku, tetap tinggal di rumahku.
"Bu..... saya nak pindah", kata anakku.
Rasa terbang darahku, menggigil tubuhku.Aku tak dapat menjawabnya, seperti ada sesuatu tersekat di kerongkonganku, aku tinggalkan dia, tak berani aku menatap wajahnya. Akupun lari menyembunyikan tangisku..................
Ini telah lama berlalu .........................
Inilah aku, ada yang tak terkatakan goresan hatiku ini kepada siapapun ....................
Aku tumpahkan di sini, bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa .................
Ini hanya sejarah hidupku supaya ada yang mengetahuinya jika terbaca ...................
Jika terbaca katakanlah ia hanya sebuah mimpi yang tak akan berulang lagi, sebuah mimpi buruk supaya cepat-cepat dilupakan ..............................
TIADA GADING YANG TIDAK RETAK
Semua ini aku lupakan, anak-anakku dan menantu-menantuku begitu baik dan sayang padaku di hari tuaku ini, aku selalu berdoa supaya kami semua mendapat petunjuk dari ALLAH SWT.
Anak-anakku tidak kuberi berdosa padaku, aku telah ampunkan dan aku telah ma'afkan walaupun tanpa diminta. Sekali lagi kukatakan aku tidak mahu anak-anakku susah di akhirat nanti tersebab aku ...........................................
Friday, 11 May 2012
PEDOMAN SUPAYA TERHINDAR DARI PENGARUH NEGETIF DIASRAMA
PEDOMAN SUPAYA TERHINDAR DARI PENGARUH NEGATIF
DIASRAMA
Pelajar-pelajar yang cemerlang akan diasingkan akan dikumpulkan di asrama, untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang lebih intensif.
Mereka ini adalah harapan negara, mereka akan dipersiapkan menjadi orang-orang cerdik pandai negara suatu hari nanti. Negara membelanjakan wang yang tidak sedikit untuk untuk mempersiapkan perlengkapan pembelajaran mereka di asrama ini. Mulai dari membangun sekolah secara fizikal, yang mendekati sempurna lengkap dengan SURAU, LAPANGAN OLAH RAGA, TEMPAT RIADAH, DAN KESENIAN.
YANG PENTING LAGI UNTUK PEMBELAJARAN SEPERTI LABORATORIUM, PERPUSTAKAAN DAN BANYAK LAGI. semuanya ini menggunakan biaya yang sangat besar, ditambah lagi dengan TENAGA GURU-GURU YANG TERLATIH DAN BERPENGALAMAN, semuanya tersedia yang terbaik untuk anak-anak yang dapat pencapaian yang tinggi di sekolah.
Walaupun demikian ada juga anak-anak yang tergelincir, terjatuh, di asrama yang begitu bagus perlengkapannya. Kadang-kadang tingkah laku jadi berubah ada lelaki yang bersubang, minta wang belanja lebih kepada orang tua dan alin sebagainya.
Kita tidak akan membicarakan hal ini, yang penting bagaimana kita dapat menjadikan asrama sesuai dengan tujuan asalnya, anak-anak ditempatkan di asrama dengan harapan ASRAMA ADALAH TEMPAT MENEMPA ANAK-ANAK MENJADI ORANG YANG BIJAK PANDAI, BERPENDIDIKAN TINGGI BERAKHLAK MULIA, memenuhi harapan negara menjadi ASSET NEGARA YANG TAK TERNILAI HARGANYA.
Sebelum anak-anak dimasukkan ke asrama, orang tua terlebih dahulu telah mempersiapkan mental si anak, supaya rajin-rajin belajar, ini sudah semestinya, tetapi yang lebih penting lagi yang harus didengungkan selalu ke dalam telinga dan pikiran anak adalah; betapa tingginya harapan ibu bapa, betapa tingginya cita-cita yang harus dicapai, betapa kuatnya dan gigihnya si anak harus berusaha, semua konsentrasi si anak haruslah terfokus untuk mencapai cita-cita, sehingga tidak ada dalam pikiran si anak untuk melakukah hal-hal yang negatif.
Hidup teratur, berdisiplin, terjamin, terjaga, itulah yang harus dibiasakan. Hidup beginilah berjaya membawa seseorang itu mendapat kejayaan.
Bagi orang yang pertama kali marasakan tinggal di asrama, kehidupan di asrama itu adalah kehidupan yang keras, susah untuk diikuti, hati kecil mereka membantah, tidak mau menurut peraturan yang 'keras' itu. Hati mereka memberontak, mereka berusaha mencari beberapa teman yang sama pendapatnya bahwa peratura itu 'keras'. Mulailah mereka mengadakan bermagai-bagai macam reaksi negatif menentang penguasa-penguasa sekolah , yang menghancurkkna diri mereka sendiri.
Siapa di antara pelajar yang tidak mau mengikuti mereka, akan mereka musuhi, kadang-kadang ada diantara pelajar yang terpaksa mengikuti mereka ini kerana terpaksa sebab takut dengan tindakan-tindakan mereka yang kasar.
Bukanlah maksud penulis disini menakut-nakuti ibu bapa untuk memasukkan anak-anak ke asrama, tetapi bagaimana cara supaya hal yang negatif ini tidak terjadi kepada anak kita.Apakah ada jalan untuk mengelakkannya ? Tentulah ada jalan, tetapi kita harus bijaksana.
* Di rumah kita harus mendidik anak-anak kita dengan pengertian, kita harus memperlakukannya sebagai orang dewasa
maksudnya segala yang memerlukan pemikiran dan pertimbangan kita ajak anak kita ikut serta berpikir untuk menilai buruk dan baiknya, dan memberikan pendapat, kalau memang pendapat anak kita itu adalah betul, kita orang tua haruslah mengikutinya, walaupun pendapat dari anak kita. Misalnya adiknya harus memilih sekolah mana yang terbaik, sekolah agamakah, sekolah pondokkah, atau sekolah yang dekat dengan rumah sajakah ?
Biarkan anak-anak kita memberikan pendapat, kemudian kita orang tua dapat mengambil keputusan dari berbagai-bagai pendapat yang betul. tentulah pendapat masing-masing mempunyai alasan yang betul.
Jika memutuskan suatu perkara dalam hidup ini kita ajak anak-anak kita berpikir, mereka terbiasa berpikir, dan selalu menggunakan pikiran yang matang, mereka tidak akan mudah terpengaruh apalagi dengan hal-hak yang negetif .
* Ketika anak kita ternyata telah diterima masuk asrama, orang tua mestilah menceeritakan serba sedikit keadaan di asrama, hal-hal yang baik dan beberapa hal yang mungkin negatif, dan bagaimana cara mengelakkannya. Jika kebetulan para pelajar berjumpa dengan kumpulan yang melanggar peraturan sekolah seperti yang kita ceritakan tadi, bagaimana?
Jangan para pelajar merasa takut, wajah kita haruslah selamba, seperti kita tidak tahu bahwa mereka dari kumpulan yang melanggar peraturan itu, kita bertegur sapa dengan mereka seperti kepada yang lain-lain. Kalau kita diajak untuk melompat pagar misalnya, usahakanlah mengelak, katakannlah tidak pandai memanjat atau takut pada tempat yang tinggi atau lain-lain usaha yang sesuai untuk mengelak. Kalau mereka mengajak kita menyanyi bersama-sama berilah 'sedikit' waktu kita untuk bernyanyi bersama mereka.
Dalam hati harus kita PASANG DINDING PEMISAH, ATAU TEMBOK PEMISAH, katakan dalam hati "AKU DI SINI MEMBENTUK MASA DEPANKU YANG GEMILANG , TIDAK AKAN AKU HANCURKAN MASA DEPANKU BERSAMA KAMU. Kita 'sedikit' saja bersama mereka, untuk menyelamatkan diri kita, supaya mereka tidak memusuhi kita dan mengancam kita, supaya kita tidak susah berada di asrama itu dengan sebab kehadiran mereka. Supaya mereka merasa bahwa kita juga adalah 'teman' mereka.
* Para pelajar yang berada di asrama haruslah disiplin, ikutlah semua peraturan yang ada, yakinlah bahwa setiap peraturan itu pasti ada manfaatnya.
Bangunlah cepat, pada waktu subuh, pergilah solat berjemaah ke surau, bangun pagi menguatkan badan, pahala yang besar dari ALLAH dapat pula kita terima, kita berbaik pula dengan satu lagi kumpulan yaitu 'geng surau' yang akan menganggap kita adalah teman rapat mereka. kalau ada nasyid ikuti juga mungkin kita yang akan ditonjolkan ke depan kalau memang kita mempunya suara merdu.
*Yang paling penting kita mestilah masuk 'geng kutu buku' , yang hanya belajar, belajar dan belajar. Di sinilah kita harus menguras tenaga kita sebanyak-banyaknya. Disinilah kita bejuang sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Dalam kumpulan ini kita berusaha mengajak teman-teman kita bersoal jawab dalam study group untuk memudahkan kita mengingat semua pelajaran untuk modal kita menghadapi peperiksaan.
Kita dapat bergaul dengan semua kumpulan, tidak ada kerisauan dan ketakutan yang akan mengganggu konsentrasi kita untuk belajar, semua mereka adalah 'teman' kita. Kita berbaik dengan semua tidak ada permusuhan, pasti kita tidak terlibat dengan perkelahian di asrama. Hidup kita tenang aman.
Mungkin yang kita bicarakan itu hnya sedikit, mungkin tidak sampai 1% , tetapi kalau yang satu peratus itu adalah kita, tentulah sangat berbahaya. Kita perlu melindungi diri kita dari sekecil manapun bahaya yang mengancam.
Penulis mendapatkan idea untuk menulis, disamping mempunyai pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang guru, penulis juga mengutip dari pangalaman dan cerita anakku MUHAMMAD IMAN , selama belajar di ASRAMA MRSM JASSIN MELAKA. Sepuluh tahun sebelumnya anakku MOHD IRWAN DAHNIL juga belajar di MRSM yang sama. Ketika itu terjadi perkelahian antara pelajar. Walaupun tidak terlibat dengan perkelahian itu, anakku Mohd Irwan tidak suka dengan suasana di situ. dia minta dipindahkan ke MRSM lain. Aku mempercayakan dia, supaya dia mampu mengurus dirinya sendiri. Dengan berani dia pergi berjumpa sendiri dengan pegawai MARA, untuk dipindahkan ke MRSM Kuantan. Bermula dari itu, aku yakinkan dia, bahwa dia mampu, jadilah dia orang yang percaya diri dan dapat berdikari menguruskan segala sesuatu. Mudah-mudahan pembaca dapat manfaat dari tulisan ini. AMIN !!!!!!!!!!!!!
DIASRAMA
Pelajar-pelajar yang cemerlang akan diasingkan akan dikumpulkan di asrama, untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang lebih intensif.
Mereka ini adalah harapan negara, mereka akan dipersiapkan menjadi orang-orang cerdik pandai negara suatu hari nanti. Negara membelanjakan wang yang tidak sedikit untuk untuk mempersiapkan perlengkapan pembelajaran mereka di asrama ini. Mulai dari membangun sekolah secara fizikal, yang mendekati sempurna lengkap dengan SURAU, LAPANGAN OLAH RAGA, TEMPAT RIADAH, DAN KESENIAN.
YANG PENTING LAGI UNTUK PEMBELAJARAN SEPERTI LABORATORIUM, PERPUSTAKAAN DAN BANYAK LAGI. semuanya ini menggunakan biaya yang sangat besar, ditambah lagi dengan TENAGA GURU-GURU YANG TERLATIH DAN BERPENGALAMAN, semuanya tersedia yang terbaik untuk anak-anak yang dapat pencapaian yang tinggi di sekolah.
Walaupun demikian ada juga anak-anak yang tergelincir, terjatuh, di asrama yang begitu bagus perlengkapannya. Kadang-kadang tingkah laku jadi berubah ada lelaki yang bersubang, minta wang belanja lebih kepada orang tua dan alin sebagainya.
Kita tidak akan membicarakan hal ini, yang penting bagaimana kita dapat menjadikan asrama sesuai dengan tujuan asalnya, anak-anak ditempatkan di asrama dengan harapan ASRAMA ADALAH TEMPAT MENEMPA ANAK-ANAK MENJADI ORANG YANG BIJAK PANDAI, BERPENDIDIKAN TINGGI BERAKHLAK MULIA, memenuhi harapan negara menjadi ASSET NEGARA YANG TAK TERNILAI HARGANYA.
Sebelum anak-anak dimasukkan ke asrama, orang tua terlebih dahulu telah mempersiapkan mental si anak, supaya rajin-rajin belajar, ini sudah semestinya, tetapi yang lebih penting lagi yang harus didengungkan selalu ke dalam telinga dan pikiran anak adalah; betapa tingginya harapan ibu bapa, betapa tingginya cita-cita yang harus dicapai, betapa kuatnya dan gigihnya si anak harus berusaha, semua konsentrasi si anak haruslah terfokus untuk mencapai cita-cita, sehingga tidak ada dalam pikiran si anak untuk melakukah hal-hal yang negatif.
Hidup teratur, berdisiplin, terjamin, terjaga, itulah yang harus dibiasakan. Hidup beginilah berjaya membawa seseorang itu mendapat kejayaan.
Bagi orang yang pertama kali marasakan tinggal di asrama, kehidupan di asrama itu adalah kehidupan yang keras, susah untuk diikuti, hati kecil mereka membantah, tidak mau menurut peraturan yang 'keras' itu. Hati mereka memberontak, mereka berusaha mencari beberapa teman yang sama pendapatnya bahwa peratura itu 'keras'. Mulailah mereka mengadakan bermagai-bagai macam reaksi negatif menentang penguasa-penguasa sekolah , yang menghancurkkna diri mereka sendiri.
Siapa di antara pelajar yang tidak mau mengikuti mereka, akan mereka musuhi, kadang-kadang ada diantara pelajar yang terpaksa mengikuti mereka ini kerana terpaksa sebab takut dengan tindakan-tindakan mereka yang kasar.
Bukanlah maksud penulis disini menakut-nakuti ibu bapa untuk memasukkan anak-anak ke asrama, tetapi bagaimana cara supaya hal yang negatif ini tidak terjadi kepada anak kita.Apakah ada jalan untuk mengelakkannya ? Tentulah ada jalan, tetapi kita harus bijaksana.
* Di rumah kita harus mendidik anak-anak kita dengan pengertian, kita harus memperlakukannya sebagai orang dewasa
maksudnya segala yang memerlukan pemikiran dan pertimbangan kita ajak anak kita ikut serta berpikir untuk menilai buruk dan baiknya, dan memberikan pendapat, kalau memang pendapat anak kita itu adalah betul, kita orang tua haruslah mengikutinya, walaupun pendapat dari anak kita. Misalnya adiknya harus memilih sekolah mana yang terbaik, sekolah agamakah, sekolah pondokkah, atau sekolah yang dekat dengan rumah sajakah ?
Biarkan anak-anak kita memberikan pendapat, kemudian kita orang tua dapat mengambil keputusan dari berbagai-bagai pendapat yang betul. tentulah pendapat masing-masing mempunyai alasan yang betul.
Jika memutuskan suatu perkara dalam hidup ini kita ajak anak-anak kita berpikir, mereka terbiasa berpikir, dan selalu menggunakan pikiran yang matang, mereka tidak akan mudah terpengaruh apalagi dengan hal-hak yang negetif .
* Ketika anak kita ternyata telah diterima masuk asrama, orang tua mestilah menceeritakan serba sedikit keadaan di asrama, hal-hal yang baik dan beberapa hal yang mungkin negatif, dan bagaimana cara mengelakkannya. Jika kebetulan para pelajar berjumpa dengan kumpulan yang melanggar peraturan sekolah seperti yang kita ceritakan tadi, bagaimana?
Jangan para pelajar merasa takut, wajah kita haruslah selamba, seperti kita tidak tahu bahwa mereka dari kumpulan yang melanggar peraturan itu, kita bertegur sapa dengan mereka seperti kepada yang lain-lain. Kalau kita diajak untuk melompat pagar misalnya, usahakanlah mengelak, katakannlah tidak pandai memanjat atau takut pada tempat yang tinggi atau lain-lain usaha yang sesuai untuk mengelak. Kalau mereka mengajak kita menyanyi bersama-sama berilah 'sedikit' waktu kita untuk bernyanyi bersama mereka.
Dalam hati harus kita PASANG DINDING PEMISAH, ATAU TEMBOK PEMISAH, katakan dalam hati "AKU DI SINI MEMBENTUK MASA DEPANKU YANG GEMILANG , TIDAK AKAN AKU HANCURKAN MASA DEPANKU BERSAMA KAMU. Kita 'sedikit' saja bersama mereka, untuk menyelamatkan diri kita, supaya mereka tidak memusuhi kita dan mengancam kita, supaya kita tidak susah berada di asrama itu dengan sebab kehadiran mereka. Supaya mereka merasa bahwa kita juga adalah 'teman' mereka.
* Para pelajar yang berada di asrama haruslah disiplin, ikutlah semua peraturan yang ada, yakinlah bahwa setiap peraturan itu pasti ada manfaatnya.
Bangunlah cepat, pada waktu subuh, pergilah solat berjemaah ke surau, bangun pagi menguatkan badan, pahala yang besar dari ALLAH dapat pula kita terima, kita berbaik pula dengan satu lagi kumpulan yaitu 'geng surau' yang akan menganggap kita adalah teman rapat mereka. kalau ada nasyid ikuti juga mungkin kita yang akan ditonjolkan ke depan kalau memang kita mempunya suara merdu.
*Yang paling penting kita mestilah masuk 'geng kutu buku' , yang hanya belajar, belajar dan belajar. Di sinilah kita harus menguras tenaga kita sebanyak-banyaknya. Disinilah kita bejuang sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita. Dalam kumpulan ini kita berusaha mengajak teman-teman kita bersoal jawab dalam study group untuk memudahkan kita mengingat semua pelajaran untuk modal kita menghadapi peperiksaan.
Kita dapat bergaul dengan semua kumpulan, tidak ada kerisauan dan ketakutan yang akan mengganggu konsentrasi kita untuk belajar, semua mereka adalah 'teman' kita. Kita berbaik dengan semua tidak ada permusuhan, pasti kita tidak terlibat dengan perkelahian di asrama. Hidup kita tenang aman.
Mungkin yang kita bicarakan itu hnya sedikit, mungkin tidak sampai 1% , tetapi kalau yang satu peratus itu adalah kita, tentulah sangat berbahaya. Kita perlu melindungi diri kita dari sekecil manapun bahaya yang mengancam.
Penulis mendapatkan idea untuk menulis, disamping mempunyai pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang guru, penulis juga mengutip dari pangalaman dan cerita anakku MUHAMMAD IMAN , selama belajar di ASRAMA MRSM JASSIN MELAKA. Sepuluh tahun sebelumnya anakku MOHD IRWAN DAHNIL juga belajar di MRSM yang sama. Ketika itu terjadi perkelahian antara pelajar. Walaupun tidak terlibat dengan perkelahian itu, anakku Mohd Irwan tidak suka dengan suasana di situ. dia minta dipindahkan ke MRSM lain. Aku mempercayakan dia, supaya dia mampu mengurus dirinya sendiri. Dengan berani dia pergi berjumpa sendiri dengan pegawai MARA, untuk dipindahkan ke MRSM Kuantan. Bermula dari itu, aku yakinkan dia, bahwa dia mampu, jadilah dia orang yang percaya diri dan dapat berdikari menguruskan segala sesuatu. Mudah-mudahan pembaca dapat manfaat dari tulisan ini. AMIN !!!!!!!!!!!!!
Thursday, 10 May 2012
PEDOMAN MEMILIH TADIKA YANG TEPAT MEMBANGUN MINDA DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANK
PEDOMAN MEMILIH TADIKA YANG TEPAT UNTUK MEMBANGUN
MINDA DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANAK
Memasukkan anak ke Tadika tidak boleh yang memudahkan orang tua sahaja, yang dekat dari rumah, yang murah bayarannya, yang ikut-ikut orang lain yang ramai memasukkan anak mereka, atau ke Tadika yang mempunyai iklan yang banyak di mana-mana ada perpasang iklan Tadikanya.
Memilih Tadika haruslah kita ketahui sukatan pelajarannya, sesuai atau tidak dengan umur kanak-kanak, kita harus ketahui juga cara pengajarannya , ikut MONTESSORI atau ikut pakar pendidikan yang mana satu yang dipilih. Yang paling penting kita harus melihat pendidikan guru-guru yang mengajar di Tadika itu, adakah para guru mendapat latihan, adakah para guru belajar psykologi kanak-kanak, adakah para guru belajar cara mendidik kanak-kanak, serta menyayangi kanak-kanak dan suka dengan kanak-kanak.
Bacalah tulisan saya yang bertajuk :
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI UNTUK ANAK KESAYANGAN ANDA ?
ada tiga tulisan no 1, no 2 dan no 3. Bacalah ketiga-tiganya terlebih dahulu.
MINDA DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANAK
Memasukkan anak ke Tadika tidak boleh yang memudahkan orang tua sahaja, yang dekat dari rumah, yang murah bayarannya, yang ikut-ikut orang lain yang ramai memasukkan anak mereka, atau ke Tadika yang mempunyai iklan yang banyak di mana-mana ada perpasang iklan Tadikanya.
Memilih Tadika haruslah kita ketahui sukatan pelajarannya, sesuai atau tidak dengan umur kanak-kanak, kita harus ketahui juga cara pengajarannya , ikut MONTESSORI atau ikut pakar pendidikan yang mana satu yang dipilih. Yang paling penting kita harus melihat pendidikan guru-guru yang mengajar di Tadika itu, adakah para guru mendapat latihan, adakah para guru belajar psykologi kanak-kanak, adakah para guru belajar cara mendidik kanak-kanak, serta menyayangi kanak-kanak dan suka dengan kanak-kanak.
Bacalah tulisan saya yang bertajuk :
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI UNTUK ANAK KESAYANGAN ANDA ?
ada tiga tulisan no 1, no 2 dan no 3. Bacalah ketiga-tiganya terlebih dahulu.
PEDOMAN MENDIDIK KANAK-KANAK MENUJU KEJAYAAN
PEDOMAN MENDIDIK KANAK-KANAK MENUJU KEJAYAAN
PERINGKAT AWAL
Pendidikan untuk kanak-kanak haruslah kita mulai seawal mungkin, bahkan ada pakar pendidikan mengatakan mendidik itu harus di mulai dari dalam kandungan.
Setiap orang tua mesti mendambakan anak-anak mereka menjadi seseorang, orang yang bijak pandai, orang yang berguna, bagi orang islam tentulah mengharapkan jadi orang yang soleh, berbakti untuk orang tua agama dan bangsa.
Untuk mencapai tujuan, kita harus tahu dulu matlamat kita. Yng menjadi objek kita adalak kanak-kanak. Sebelum kita melangkah mencapai tujuan kita, kita harus mengetahui lebih dahulu, hakikat kanak-kanak itu. Kanak-kanak bukanlah orang dewasa yang badannya kecil, kanak-kanak aalah kanak-kanak tidak ada yang sama dengannya, selain dari ukiran badannyanya kecil yang membedakannya dengan orang dewasa, yang lebih lagi mereka berbeda dari kehendak, kemampuan, mereka masih dalam taraf pertumbuhan, jasmani dan rohani dan lain-lain perbedaan, yang harus kita ketahui lebih dahulu sebelum kita dapat melangkah, untuk mendidik kanak-kanak sesuai dengan matlamat kita.
Untuk mengetahui semuanya itu kita harus membaca terlebih dahulu beberapa tulisan saya terdahulu;
* Siapakah kanak-kanak itu 1
* Siapakah kanak-kanak itu 2
* Menanamkan Kepercayaan Diri 1
* Menanamkan Kepercayaan Diri 2
* Menanamkam Kepercayaan Diri 3
* Menungkah Arus untuk Mendidik Kanak-kanak
* Karakter Seseorang di tentukan Oleh ..........
Setelah membaca dan memahami 7 tulisan itu harus kita tautkan dan kita praktikkan dalam kehidupan kita, seterusnya kita ketahui pula bagaimana selanjutnya.
PERINGKAT AWAL
Pendidikan untuk kanak-kanak haruslah kita mulai seawal mungkin, bahkan ada pakar pendidikan mengatakan mendidik itu harus di mulai dari dalam kandungan.
Setiap orang tua mesti mendambakan anak-anak mereka menjadi seseorang, orang yang bijak pandai, orang yang berguna, bagi orang islam tentulah mengharapkan jadi orang yang soleh, berbakti untuk orang tua agama dan bangsa.
Untuk mencapai tujuan, kita harus tahu dulu matlamat kita. Yng menjadi objek kita adalak kanak-kanak. Sebelum kita melangkah mencapai tujuan kita, kita harus mengetahui lebih dahulu, hakikat kanak-kanak itu. Kanak-kanak bukanlah orang dewasa yang badannya kecil, kanak-kanak aalah kanak-kanak tidak ada yang sama dengannya, selain dari ukiran badannyanya kecil yang membedakannya dengan orang dewasa, yang lebih lagi mereka berbeda dari kehendak, kemampuan, mereka masih dalam taraf pertumbuhan, jasmani dan rohani dan lain-lain perbedaan, yang harus kita ketahui lebih dahulu sebelum kita dapat melangkah, untuk mendidik kanak-kanak sesuai dengan matlamat kita.
Untuk mengetahui semuanya itu kita harus membaca terlebih dahulu beberapa tulisan saya terdahulu;
* Siapakah kanak-kanak itu 1
* Siapakah kanak-kanak itu 2
* Menanamkan Kepercayaan Diri 1
* Menanamkan Kepercayaan Diri 2
* Menanamkam Kepercayaan Diri 3
* Menungkah Arus untuk Mendidik Kanak-kanak
* Karakter Seseorang di tentukan Oleh ..........
Setelah membaca dan memahami 7 tulisan itu harus kita tautkan dan kita praktikkan dalam kehidupan kita, seterusnya kita ketahui pula bagaimana selanjutnya.
Wednesday, 9 May 2012
KARAKTER SESEORANG DITENTUKAN OLEH........
KARAKTER SESEORANG DITENTUKAN OLEH........
Karakter seseorang ditentukan sebagian besar dari pendidikan di waktu kecil ditambahh lagi dengan lingkungan di mana dia dibesarkan. (teori TABULARASA JOHN LOKE )
Teori ini bukan sekedar teori, tetapi tentu saja telah terbukti.
Bacalahlah tulisan saya bertajuk ANUGERAH YANG DILUPAKAN dan SATU JENIS MANUSIA YANG MENGERIKAN. Kedua-dua tulisan itu menggambarkan karakter seseorang yang sangat kasar, sangat egois, hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah mengingat kesusahan dan penderitaan orang lain asalkan diri senang, gembira dan seronok. Merasa puas hati kalau dapat menghancurkan orang-orang yang dirasakanya menghalangi kegembiraan dan kepuasan hidupnya. Tulisan saya itu diilhamkan dari kisah yang benar-benar terjadi, bukan rekaan semata-mata.True story.
(MEMBENTUK KARAKTER YANG BAIK DAN TERPUJI AKAN KITA PERKATAKAN PADA TULISAN YANG AKAN DATANG)
Karakter manusia dalam kedua-dua tulisan itu adalah karakter yang harus kita elakkan, kenapa karakter itu terjadi adalah diasebabkan oleh kedua faktor yang di sebutkan di atas.
- PENDIDIKAN YANG DITERIMANYA SEMASA KECIL
-LINGKUNGAN TEMPAT DIA DI BESARKAN, ditambah lagi dengan;
-PEMBAWAANNYA SEJAK LAHIR (tetapi ini kita bincangkan kemudian).
Satu dan dua dapat kita usahakan dan dapat kita ciptakan, anak-anak kita 24 jam bersama kita, sebelum dia melangkahkan kakinya ke sekolah, sebelum bersekolah telah dapat kita mulai mendidiknya.
Sebab sudah ada contoh karakter seperti dalam dua cerita tersebut diatas kita sediliki dulu kenapa terjadi karakter seperti itu. Sebabnya:
- 1) Antara kedua ibu bapa sering bertengkar, barangkali saling tengking menengking, atau lebih dahsyat lagi kalau saling pukul memukul, kalau dalam pembawaan anak sejak lahir ada sifat suka berkelahi itu, maka anak itu akan memihak orang yang menang dalam pergaduhan itu, dia akan meniru karakter yang menang.
- 2) Dalam rumah tangga biasa menggunakan kata-kata yang kasar-kasar contohnya untuk kata makan digunakan mentedarah atau mencekik telebih lagi kalau ada rasa tak puas hati. Zaman sekarang kata-kata begini terasa sangat kasar tetapi jangan lupa dia masih ada. Masih digunakan dalam kalangan orangorang ..........
Perlu diketahui orang-orang yang menggunakan kata-kata kasar begini merasa puas dan tenteram hatinya dalam menggunakan kata-kata kasar dibandingkan dengan menggunakan kata-kata biasa. Ini adalah modal bagi si anak untuk bertengkar dan berkelahi dengan siapapun. Dia cepat meradang, cepat tersinggung dan marah, cepat melenting, terus maju ke depan untuk meluahkan kata-katanya yang kesat sebab dia "mempunyai modal kata-kata yang mencukupi" untuk berkelahi.
- 3) Dalam rumah tangga anggota keluarga hidup secara nafsi-nafsi, ENGKAU ENGKAU, AKU AKU, TIDAK PEDULI, tidak menghiraukan anggota keluarga yang lain, hanya memikirkan untuk kepentingan diri, tidak ada perbualan, tidak pernah ada anggota keluarga meluahkan perasaan kepada anggota keluarga yang lain ketika susah atau ketika gembira, tidak ada sikap saling tolong menolong, pendek kata seperti ada jurang atau dinding antara satu dengan yang lain, walaupun hakekatnya satu rumah tetapi jarak masing-masing sangat jauh.
- 4) Dalam rumah tangga terdapat perasaan saling membenci, yang seorang merasakan orang lain adalah pengganggu baginya, hatinya dipenuhi oleh rasa marah semata-mata, semuanya tak kena ingin marah selalu kepada adik-adik, abang atau kakak, dan hanya meluahkan rasa tak puas hati, benci dan yang negetif belaka.
- 5) Dalam rumah tangga tidak ada rasa persaudaraan, tidak ada rasa BERKEWAJIPAN menolong adik, abang atau kakak, hidup aku untukku hidup engkau untuk engkau, buatlah apa yang kamu suka akupun buat apa yang aku suka.
- 6) orang tua selalu memarahi anak-anak, selalu saja anak-anak yang dipersalahkan, orang tua tak pernah salah, walaupun salah tetap tidak salah anaklah yang bersalah. Hilanglah rasa percaya diri, hilang rasa hormat pada orang tua, dalam hati si anak timbul dendam terhadap orang tua, timbul rasa benci dan sakit hati, si anak tidak dapat membalasnya, semakin lama dendam semakin besar, menyebabkan ada anak-anak yang lari dari rumah mengikutkan kawan-kawannya yang dirasakannya lebih memahaminya dan memberikan perlindungan kepadanya.
- 7) Orang tua membentuk jurang pemisah antara dirinya dan anak-anaknya. Ada dinding antara orang tua dan anak-anak. Seperti seorang raja dengan rakyat. Tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak-anak, anak-anak harus tunduk dan takut kepada orang tua, betul atau salah harus ikut cakap orang tua, tidak ada pilihan lain.
Tidak ada kesempatan bagi anak-anak mengeluarkan pendapat, tidak ada kesempatan mempertahankan diri kalau dia dipersalahkan yang sebenarnya dia tidak salah. Kadang-kadang anak-anak ingin menyatakan bahwa tuduhan yang dilemparkan kepadanya adalah tidak betul, itupun tak dapat. Tidak ada kesempatan mengemukakan pertimbangan mana yang baik dan mana yang tidak baik, untuk diri anak itu sendiri. Semuanya harus diikuti.
- 8) Memanjakan anak secara berlebihan,sehingga keluar batas.
Kadang-kadang orang tua memanjakan anak-anak, sangat berlebihan, semua dikerjakan oleh orang tua, diikuti semua permintaan anak, dan dituruti semua PERINTAHNYA.
"Mak ambilkan bola tu", padahal bola mainannya itu dapat diambilnya sendiri dan dekat dengannya. "Mak ambilkan tuala", tualanya itu mudah saja untuk mengambilnya.
"Mak buang sampah ni ", "Mak ambilkan buku tu", "Mak cepat ambilkan mainan tu"
Dan banyak lagi. Kalau ini terbiasa anak akan menganggap orang tuanya sebagai hamba.
Sampai suatu peringkat orang tua tidak mungkin lagi menurut perintahnya, anak akan terkejut, hairan dan marah, mulai dia benci kepada orang tuanya. Begitu juga kalau semua permintaannya dituruti, sampai suatu waktu orang tua tidak dapat memenuhi permintaan, anak akan meradang dan melawan orang tua.
Jangan biarkan anak-anak memukul atau menyakiti orang tua, Walaupun anak masih kecil, dan belum mengerti, perbuatan ini harus dilarang, ini akan lebih bahaya lagi,
apa saja yang tidak berkenan dihati anak, mereka akan melepaskan geramnya memukul ibunya atau bapanya. Sebenarnya anak-anak itu sayang kepada ibu bapanya tetapi kerana sudah terbiasa, mereka melakukannya juga hilang pertimbangan dirinya. Bukankah sering kita dengar anak-anak yang mencederakan orang tua sendiri ?
BAGAIMANA KALAU KITA SUDAH TERLANJUR MENDIDIK ANAK-ANAK KITA SEPERTI YANG KITA SEBUT DI ATAS ? MASIHKAH ADA JALAN UNTUK MEMPERBAIKI DAN MENGUBAH KARAKTER ANAK-ANAK KITA ?
TENTU ADA JALAN.
Karakter seseorang ditentukan sebagian besar dari pendidikan di waktu kecil ditambahh lagi dengan lingkungan di mana dia dibesarkan. (teori TABULARASA JOHN LOKE )
Teori ini bukan sekedar teori, tetapi tentu saja telah terbukti.
Bacalahlah tulisan saya bertajuk ANUGERAH YANG DILUPAKAN dan SATU JENIS MANUSIA YANG MENGERIKAN. Kedua-dua tulisan itu menggambarkan karakter seseorang yang sangat kasar, sangat egois, hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah mengingat kesusahan dan penderitaan orang lain asalkan diri senang, gembira dan seronok. Merasa puas hati kalau dapat menghancurkan orang-orang yang dirasakanya menghalangi kegembiraan dan kepuasan hidupnya. Tulisan saya itu diilhamkan dari kisah yang benar-benar terjadi, bukan rekaan semata-mata.True story.
(MEMBENTUK KARAKTER YANG BAIK DAN TERPUJI AKAN KITA PERKATAKAN PADA TULISAN YANG AKAN DATANG)
Karakter manusia dalam kedua-dua tulisan itu adalah karakter yang harus kita elakkan, kenapa karakter itu terjadi adalah diasebabkan oleh kedua faktor yang di sebutkan di atas.
- PENDIDIKAN YANG DITERIMANYA SEMASA KECIL
-LINGKUNGAN TEMPAT DIA DI BESARKAN, ditambah lagi dengan;
-PEMBAWAANNYA SEJAK LAHIR (tetapi ini kita bincangkan kemudian).
Satu dan dua dapat kita usahakan dan dapat kita ciptakan, anak-anak kita 24 jam bersama kita, sebelum dia melangkahkan kakinya ke sekolah, sebelum bersekolah telah dapat kita mulai mendidiknya.
Sebab sudah ada contoh karakter seperti dalam dua cerita tersebut diatas kita sediliki dulu kenapa terjadi karakter seperti itu. Sebabnya:
- 1) Antara kedua ibu bapa sering bertengkar, barangkali saling tengking menengking, atau lebih dahsyat lagi kalau saling pukul memukul, kalau dalam pembawaan anak sejak lahir ada sifat suka berkelahi itu, maka anak itu akan memihak orang yang menang dalam pergaduhan itu, dia akan meniru karakter yang menang.
- 2) Dalam rumah tangga biasa menggunakan kata-kata yang kasar-kasar contohnya untuk kata makan digunakan mentedarah atau mencekik telebih lagi kalau ada rasa tak puas hati. Zaman sekarang kata-kata begini terasa sangat kasar tetapi jangan lupa dia masih ada. Masih digunakan dalam kalangan orangorang ..........
Perlu diketahui orang-orang yang menggunakan kata-kata kasar begini merasa puas dan tenteram hatinya dalam menggunakan kata-kata kasar dibandingkan dengan menggunakan kata-kata biasa. Ini adalah modal bagi si anak untuk bertengkar dan berkelahi dengan siapapun. Dia cepat meradang, cepat tersinggung dan marah, cepat melenting, terus maju ke depan untuk meluahkan kata-katanya yang kesat sebab dia "mempunyai modal kata-kata yang mencukupi" untuk berkelahi.
- 3) Dalam rumah tangga anggota keluarga hidup secara nafsi-nafsi, ENGKAU ENGKAU, AKU AKU, TIDAK PEDULI, tidak menghiraukan anggota keluarga yang lain, hanya memikirkan untuk kepentingan diri, tidak ada perbualan, tidak pernah ada anggota keluarga meluahkan perasaan kepada anggota keluarga yang lain ketika susah atau ketika gembira, tidak ada sikap saling tolong menolong, pendek kata seperti ada jurang atau dinding antara satu dengan yang lain, walaupun hakekatnya satu rumah tetapi jarak masing-masing sangat jauh.
- 4) Dalam rumah tangga terdapat perasaan saling membenci, yang seorang merasakan orang lain adalah pengganggu baginya, hatinya dipenuhi oleh rasa marah semata-mata, semuanya tak kena ingin marah selalu kepada adik-adik, abang atau kakak, dan hanya meluahkan rasa tak puas hati, benci dan yang negetif belaka.
- 5) Dalam rumah tangga tidak ada rasa persaudaraan, tidak ada rasa BERKEWAJIPAN menolong adik, abang atau kakak, hidup aku untukku hidup engkau untuk engkau, buatlah apa yang kamu suka akupun buat apa yang aku suka.
- 6) orang tua selalu memarahi anak-anak, selalu saja anak-anak yang dipersalahkan, orang tua tak pernah salah, walaupun salah tetap tidak salah anaklah yang bersalah. Hilanglah rasa percaya diri, hilang rasa hormat pada orang tua, dalam hati si anak timbul dendam terhadap orang tua, timbul rasa benci dan sakit hati, si anak tidak dapat membalasnya, semakin lama dendam semakin besar, menyebabkan ada anak-anak yang lari dari rumah mengikutkan kawan-kawannya yang dirasakannya lebih memahaminya dan memberikan perlindungan kepadanya.
- 7) Orang tua membentuk jurang pemisah antara dirinya dan anak-anaknya. Ada dinding antara orang tua dan anak-anak. Seperti seorang raja dengan rakyat. Tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak-anak, anak-anak harus tunduk dan takut kepada orang tua, betul atau salah harus ikut cakap orang tua, tidak ada pilihan lain.
Tidak ada kesempatan bagi anak-anak mengeluarkan pendapat, tidak ada kesempatan mempertahankan diri kalau dia dipersalahkan yang sebenarnya dia tidak salah. Kadang-kadang anak-anak ingin menyatakan bahwa tuduhan yang dilemparkan kepadanya adalah tidak betul, itupun tak dapat. Tidak ada kesempatan mengemukakan pertimbangan mana yang baik dan mana yang tidak baik, untuk diri anak itu sendiri. Semuanya harus diikuti.
- 8) Memanjakan anak secara berlebihan,sehingga keluar batas.
Kadang-kadang orang tua memanjakan anak-anak, sangat berlebihan, semua dikerjakan oleh orang tua, diikuti semua permintaan anak, dan dituruti semua PERINTAHNYA.
"Mak ambilkan bola tu", padahal bola mainannya itu dapat diambilnya sendiri dan dekat dengannya. "Mak ambilkan tuala", tualanya itu mudah saja untuk mengambilnya.
"Mak buang sampah ni ", "Mak ambilkan buku tu", "Mak cepat ambilkan mainan tu"
Dan banyak lagi. Kalau ini terbiasa anak akan menganggap orang tuanya sebagai hamba.
Sampai suatu peringkat orang tua tidak mungkin lagi menurut perintahnya, anak akan terkejut, hairan dan marah, mulai dia benci kepada orang tuanya. Begitu juga kalau semua permintaannya dituruti, sampai suatu waktu orang tua tidak dapat memenuhi permintaan, anak akan meradang dan melawan orang tua.
Jangan biarkan anak-anak memukul atau menyakiti orang tua, Walaupun anak masih kecil, dan belum mengerti, perbuatan ini harus dilarang, ini akan lebih bahaya lagi,
apa saja yang tidak berkenan dihati anak, mereka akan melepaskan geramnya memukul ibunya atau bapanya. Sebenarnya anak-anak itu sayang kepada ibu bapanya tetapi kerana sudah terbiasa, mereka melakukannya juga hilang pertimbangan dirinya. Bukankah sering kita dengar anak-anak yang mencederakan orang tua sendiri ?
BAGAIMANA KALAU KITA SUDAH TERLANJUR MENDIDIK ANAK-ANAK KITA SEPERTI YANG KITA SEBUT DI ATAS ? MASIHKAH ADA JALAN UNTUK MEMPERBAIKI DAN MENGUBAH KARAKTER ANAK-ANAK KITA ?
TENTU ADA JALAN.
Monday, 7 May 2012
ANUGERAH YANG TERLUPAKAN
ANUGERAH YANG TERLUPAKAN
Tiada sedikitpun ku menyangka niatku yang tulus, tersimpan hajat untuk membetulkan keadaan terbalik menjadi bomerang bagiku, hampir aku jadi setengah lumpuh menghadapi serangan yang bertubi-tubi dari berbagai arah, musuh yang tidak kukenal, entah dari mana datangnya, tidak tahu lagi aku mana yang lawan dan mana yang kawan.
"Siapa orang yang kamu maksudkan itu? pembantu, atau tukang kebun kamu ?" aku bertanya terus terang tanpa berselindung.
"Ya Allah bapak kamu yang kamu maksudkan? Kenapa dengan bapakmu apakah dia tidak membiayai hidup kamu ?" tambahku lagu. Aku tersangat heran, bapaknya membiayai keluarga mereka sangat berkecukupan bahkan aku tahu hidup mereka jauh di atas, melebihi orang-orang biasa. Dapat dikatakan sangat mewah.
Nuraniku terasa sangat tertekan melihat tulisannya yang mengandung penghinaan kepada bapaknya itu. Bergejolak dalamanku ingin membela bapaknya. Memang tidak patut perlakuannya terhadap bapaknya itu. Aku kenal sekali bapaknya itu, menafkahi mereka dengan tulus ikhlas menyediakan kemewahan untuk anak-anaknya dan isterinya yang tidak bekerja , semua keperluan tinggal meminta.
"Apakah kamu tidak takut dengan hukum karma, ? kamu sedang hamil, bagaimana kalau anak dalam kandungan kamu itu memperlakukan kamu, sebagaimana kamu memperlakukan bapakmu itu ?" aku bertanya sedikit marah, bermaksud untuk menyedarkan dia supaya berhenti menghina bapaknya itu. Memang dalam pikiranku aku bermaksud untuk mengingatkan dia kalau-kalau dia terlupa.
"Heh kenapa bawa-bawa anak saya dalam kandungan, kamu sudah tua ka;lau tidak dapat menasehatkan lebih baik diam. Aku dengan bapa aku, aku punya suka mengapa kamu ikut campur ?" jawabnya dengan bengis.
banyak lagi kata-katanya tak sampai hati aku untuk mengucapkannya, tidak dapat aku menirunya sangat dahsyat, sedang dalam perbendaharaanku hanya ada kata-kata indah dan baik-baik, memang hanya itu yang aku miliki.
Datang lagi beberapa orang lain dengan sekeranjang kata-kata dahsyat yang mengerikan menyerangku, datang lagi yang lain, datang lagi yang lain, datang lagi yang lain, semua level yang sama dan sejenis.
Betul-betul aku hancur lumat dikerjakan mereka yang memiliki sekawah gunung berapi kata-kata dahsyat yang menjijikkan dan mengerikan itu. Sedangkan aku tidak memiliki kata-kata yang bejat seperti itu dalam perbendaharaanku.
Aku kalah, K O, tetapi aku tersenyum, aku dapat melihat hati mereka, hati sanubari mereka betapa kotornya yang setiap hari mereka tutupi dengan pakian indah mewah mengelabui mata.
Sekali lagi aku tersenyum aku katakan kepada mereka,"Aku tidak akan menjawab 'ayat-ayat indah' dan 'kata-kata manis' kalian ini, aku kembalikan dan aku serahkan kepada Allah untuk menjawabnya, DIALAH YANG MAHA KUASA, MAHA BIJAKSANA dan MAHA MENGETAHUI SEGALA-GALANYA.
Aku merenung sangat jauh sekali pelaku yang aku maksudkan itu pernah magatakan;
"Aku ini titipan Allah .............dan seterusnya ". Dia masih ingat Allah, kenapa dia ketika mendurhakai bapaknya dia tidak ingat larangan Allah ?
Bagaimana dengan mulutnya bukankah titipan Allah ?
INILAH ANUGERAH YANG TERLUPAKAN, mulut adalah anugerah Allah, peliharalah baik-baik dengan cara makan makanan halal yang baik-baik, berbicara juga haruslah baik-baik, pilih kata-kata yang baik-baik, ayat -ayat yang baik-baik, usahakan yang menyenangkan hati orang yang mendengarnya, mungkin dapat menghibur di kala duka, apalagi untuk orang tua dan untuk orang yang tua-tua. Ini adalah perintah Allah yang tertera dalam kitab sucinya. BACALAH ! PELIHARALAH !!! DAN AMALKANLAH !!!!!!!! KITA SEMUA INSYAALLAH SELAMAT .
Sayangi mulut kita, jika kita berbicara yang keji, mesum dan busuk, apakah tidak sama maknanya kita makan makanan yang busuk yang berulat dan yang kotor-kotor seperti pembicaraan kita yang kotor pula. Apa jadinya pada diri anda ?
Perut kitapun hanya berisi yang kotor-kotor pula, itulah gambaran diri kita sangat kotor.
Bermula semuanya dari mulut, peliharalah mulut, mulut adalah annugerah Allah peliharalah ia baik-baik, berikanlah haknya makan dan bicara yang baik-baik.
Bayangkan kalau kita tidak ada MULUT, ALLAH TIDAK MENGANUGERAHKANNYA KEPADA KITA, MASIH DAPATKAH KITA DINAMAKAN MANUSIA ? Bertapa besarnya anugerah yang ALLAH berikan kepada kita, jangan dilupakan. PELIHARALAH BAIK-BAIK.
Bayangkan sejenak !!!!!!!!! anda tidak dikaruniai mulut, bayangkan bagaimana anda ?
Tiada sedikitpun ku menyangka niatku yang tulus, tersimpan hajat untuk membetulkan keadaan terbalik menjadi bomerang bagiku, hampir aku jadi setengah lumpuh menghadapi serangan yang bertubi-tubi dari berbagai arah, musuh yang tidak kukenal, entah dari mana datangnya, tidak tahu lagi aku mana yang lawan dan mana yang kawan.
"Siapa orang yang kamu maksudkan itu? pembantu, atau tukang kebun kamu ?" aku bertanya terus terang tanpa berselindung.
"Ya Allah bapak kamu yang kamu maksudkan? Kenapa dengan bapakmu apakah dia tidak membiayai hidup kamu ?" tambahku lagu. Aku tersangat heran, bapaknya membiayai keluarga mereka sangat berkecukupan bahkan aku tahu hidup mereka jauh di atas, melebihi orang-orang biasa. Dapat dikatakan sangat mewah.
Nuraniku terasa sangat tertekan melihat tulisannya yang mengandung penghinaan kepada bapaknya itu. Bergejolak dalamanku ingin membela bapaknya. Memang tidak patut perlakuannya terhadap bapaknya itu. Aku kenal sekali bapaknya itu, menafkahi mereka dengan tulus ikhlas menyediakan kemewahan untuk anak-anaknya dan isterinya yang tidak bekerja , semua keperluan tinggal meminta.
"Apakah kamu tidak takut dengan hukum karma, ? kamu sedang hamil, bagaimana kalau anak dalam kandungan kamu itu memperlakukan kamu, sebagaimana kamu memperlakukan bapakmu itu ?" aku bertanya sedikit marah, bermaksud untuk menyedarkan dia supaya berhenti menghina bapaknya itu. Memang dalam pikiranku aku bermaksud untuk mengingatkan dia kalau-kalau dia terlupa.
"Heh kenapa bawa-bawa anak saya dalam kandungan, kamu sudah tua ka;lau tidak dapat menasehatkan lebih baik diam. Aku dengan bapa aku, aku punya suka mengapa kamu ikut campur ?" jawabnya dengan bengis.
banyak lagi kata-katanya tak sampai hati aku untuk mengucapkannya, tidak dapat aku menirunya sangat dahsyat, sedang dalam perbendaharaanku hanya ada kata-kata indah dan baik-baik, memang hanya itu yang aku miliki.
Datang lagi beberapa orang lain dengan sekeranjang kata-kata dahsyat yang mengerikan menyerangku, datang lagi yang lain, datang lagi yang lain, datang lagi yang lain, semua level yang sama dan sejenis.
Betul-betul aku hancur lumat dikerjakan mereka yang memiliki sekawah gunung berapi kata-kata dahsyat yang menjijikkan dan mengerikan itu. Sedangkan aku tidak memiliki kata-kata yang bejat seperti itu dalam perbendaharaanku.
Aku kalah, K O, tetapi aku tersenyum, aku dapat melihat hati mereka, hati sanubari mereka betapa kotornya yang setiap hari mereka tutupi dengan pakian indah mewah mengelabui mata.
Sekali lagi aku tersenyum aku katakan kepada mereka,"Aku tidak akan menjawab 'ayat-ayat indah' dan 'kata-kata manis' kalian ini, aku kembalikan dan aku serahkan kepada Allah untuk menjawabnya, DIALAH YANG MAHA KUASA, MAHA BIJAKSANA dan MAHA MENGETAHUI SEGALA-GALANYA.
Aku merenung sangat jauh sekali pelaku yang aku maksudkan itu pernah magatakan;
"Aku ini titipan Allah .............dan seterusnya ". Dia masih ingat Allah, kenapa dia ketika mendurhakai bapaknya dia tidak ingat larangan Allah ?
Bagaimana dengan mulutnya bukankah titipan Allah ?
INILAH ANUGERAH YANG TERLUPAKAN, mulut adalah anugerah Allah, peliharalah baik-baik dengan cara makan makanan halal yang baik-baik, berbicara juga haruslah baik-baik, pilih kata-kata yang baik-baik, ayat -ayat yang baik-baik, usahakan yang menyenangkan hati orang yang mendengarnya, mungkin dapat menghibur di kala duka, apalagi untuk orang tua dan untuk orang yang tua-tua. Ini adalah perintah Allah yang tertera dalam kitab sucinya. BACALAH ! PELIHARALAH !!! DAN AMALKANLAH !!!!!!!! KITA SEMUA INSYAALLAH SELAMAT .
Sayangi mulut kita, jika kita berbicara yang keji, mesum dan busuk, apakah tidak sama maknanya kita makan makanan yang busuk yang berulat dan yang kotor-kotor seperti pembicaraan kita yang kotor pula. Apa jadinya pada diri anda ?
Perut kitapun hanya berisi yang kotor-kotor pula, itulah gambaran diri kita sangat kotor.
Bermula semuanya dari mulut, peliharalah mulut, mulut adalah annugerah Allah peliharalah ia baik-baik, berikanlah haknya makan dan bicara yang baik-baik.
Bayangkan kalau kita tidak ada MULUT, ALLAH TIDAK MENGANUGERAHKANNYA KEPADA KITA, MASIH DAPATKAH KITA DINAMAKAN MANUSIA ? Bertapa besarnya anugerah yang ALLAH berikan kepada kita, jangan dilupakan. PELIHARALAH BAIK-BAIK.
Bayangkan sejenak !!!!!!!!! anda tidak dikaruniai mulut, bayangkan bagaimana anda ?
Saturday, 5 May 2012
SATU JENIS MANUSIA YANG MENGERIKAN
SATU JENIS MANUSIA YANG MENGERIKAN
Ketika aku terbaca dalam facebook, tulisan seorang anak berusia duapuluhan menghina dan mengejek bapanya, aku sangat-sangat terkejut. Aku tahu bapaknya itu orang yang berpangkat, mempunyai gaji yang lumayan besar. Sebab cinta dan kasih sayang pada anak dan isteri, dan ingin menyenangkan isteri, dia mengizinkan supaya isteri hanya menjadi suri rumah sepenuh masa.
Ketika tulisan itu terbaca olehku hatiku rasa kecewa, penulisnya kecil molek, cantik, senyumnya manis, pandangan matanya sayu, memelas memikat hati setiap orang yang memandangnya. Betul-betul aku kecewa, dari lubuk hatiku aku mengharapkan perempuan secantik dia mestilah mempunya pribadi yang luar biasa pula cantiknya.
Secara ironi aku jawab secara bertanya siapa orang yang diejeknya itu, apakah tukang kebunnya, atau pembantunya, sebab kata-katanya itu hanya memang layak untuk mereka. Bukan kata-kata untuk seorang bapa. Pertanyaan ku itu dijawabnya. Wah bukan main kasarnya, dalam kepalaku tidak ada perbendarahan kata sebegitu kasar. Aku masih dengan kalimat-kalimat indah yang memang hanya itu yang aku miliki.
Terjadilah perang tanding di facebook itu, keluarlah semua perbendaharaannya yang kasar-kasar itu, wah !!! wah !!! wah !!! aku dibuatnya seperti tepung, dihancur dan dilumatkannya, seperti mau dimakannya hidup-hidup dengan berbagai-bagai kata-kata yang menjijikkan keluar dalam tulisannya.
Seperti dia mau menghancurkan mau melumatkan, tidak diberinya bernafas, supaya aku tidak dapat lagi kata-kata untuk membela bapaknya.
Sepertinya dia puas dapat menghancur lumatkan orang yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Habislah aku sehabis-habisnya dikata-katai bermacam-macam dengan hal-hal yang tidak aku mengerti dan kata-kata yang tidak dapat aku fahami.
Akhirnya aku tersenyum, tersenyum puas, aku berhasil memancing, aku dapat membuka kulit dan menampak isi. Aku berhasil menelanjanginya, tidak ada lagi sehelai benangpun untuk menutupi kemaluannya. Keluarlah semua perbendaharaan busuk, perbendaharaan yang menjijikkan dari dalam dirinya, melalui kata-katanya. terbayang di benakku cerita kuntil anak, yang terlihat seperti perempuan yang sangat cantik mempesona, tetapi sebenarnya adalah hantu yang menakutkan, dan mengerikan. Betul-betul aku terpana ada jenis manusia yang dalam dirinya itu hanya ada keburukan, kebusukan, kekejaman, kezaliman luar biasa, kedurhakaan kepada orang tua. Tak pernah ada dalam hatinya, rasa hormat pada orang tua, rasa persaudaraan dengan orang lain, dan juga tidak ada rasa hiba kasian kepada orang tua sendiri yang telah membesarkan dan memberi pelajaran sehingga ke peringkat sarjana apatah lagi rasa ingin menolong, memang tidak ada secuilpun di hatinya. Rupanya pakaian di luar yang dibaluti dengan tudung indah baju yang menutup aurat dengan berbagai-bagai warna menarik, dengan model-model terkini, adalah pakaian di luar saja, tidak lain tujuannya hanya untuk memikat, sama sekali tidak melambangkan isi hati si pemakainya. Sungguh berhasil penipuannya.
Inilah jenis manusia yang sangat mengerikan, menakutkan.
Dengan penampilan luar yang indah memikat, ditambah lagi dengan senyum manis menawan dan pandangan mata sayu mempesonakan, ditambahkan lagi dengan tutur kata yang lemah lembut merdu tak terkatakan, suara berbicara antara terdengar dengan tiada,
adalah modal untuk kebanggaan diri dan untuk memikat semata.
Wahai kesiannya sang priya, tergoda, dan terpesona dengan kecantikan palsu luaran. dengan susah payah mendapatkan putri idaman, kadang-kadang nyawa menjadi taruhan, tetapi rupanya, adalah sebuah perangkap, terikat terjerat dalam kehidupan yang lain dari yang lain. Kehidupan yang jauh dari kasih sayang, kehidupan yang keras. Tiada lagi kemanisan hidup tiada lagi gelak tawa dan gurau senda, sirna, semuanya sirna, mimpi-mimpi indah yang didambakan, hari-hari indah yang dinanti-nantikan sirna semuanya sirna bersamaan tibanya hari pesta yang kononnya adalah hari yang tersangat bahagia. Hilanglah seri wajah yang ceria berganti dengan wajah keliru seperti tak percaya. Hari-hari yang menggelegar dipendengaran hanyalah WANG ......WANG ........ WANG .......dan WANG ........!!!! HARTA !!! HARTA !!!!! HARTA !!!!!!!!
Aku jauh-jauh datang menghadiri sebuah pesta, maklumlah yang mengadakannya orang berpangkat, undangannya terbatas hanya untuk orang-orang yang berpangkat pula termasuk juga menteri-menteri menjadi tetamu istimewa pula. Gembira hatiku dapat menyaksikannya. kuperhatikan persiapan-persiapan yang diadakan, semuanya meriah semuanya serbaa istimewa. Kuperhatikan rumah pengantin, kelihatan seperti rumah yang baru dibeli dan diperbaiki, adalah disediakan oleh si bapak untuk hadiah kepada putri tercinta. hadiah perkawinan. Betapa bahagianya sang putri mendapat perhatian penuh dari si bapak. Sedangkan ibu tidak bekerja si bapak sendirilah yang menyiapkan segala-galanya. hadiah untuk putri tunggal kesayangan bapaknya. Kuperhatikan lagi satu persatu hiasan-hiasanya semuanya serba mahal belaka, perabot-perabot yang tinggi mutunya. Kuperhatikan lagi baju untuk bersanding adalah baju adat yang mewah untuk dipakai pengantinnya, pelaminannya pelaminan adat yang klasik. Para tetamu yang termasuk saudara disediakan pula baju kot yang menjadikan pemakainya nampak istimewa, gagah dan menawan. Betul-betul pesta itu mendekati sempurna. Kalaulah aku sang putri itu, akan kusanjung bapaku setinggi langit, tidak banyak jumlah bapak yang bertanggung jawab begitu sempurna. Apakah sang putri juga menyanjung bapanya ???????????????
Di luar dugaan.
Sehari sebelum pesta berlangsung aku ternganga, terdengar jerit pekik yang memekakkan telinga , kami yang datang dari jauh ini ternganga-nganga dan terpinga-pinga. "ada apa, ada apa ?" Panjang leher beberapa orang dari rombongan kami ingin tahu keadaan yang sebenarnya.
Adalah juga yang ini jenis manusia yang mengerikan agaknya ?. Dia menangis, menjerit-jerit menghentakkan kakinya meraung bermadah,meratap minta wang dari suaminya. Jeritan hilang setelah wang berada di tangannya. Hidupnya selalu sedap tanpa berkerja hanya mengurus rumah tangga, wang tinggal terima, berapa yang diminta.
Bagaimana kami para tetamu ? kami hanya dapat saling memandang, rupanya dia tidak malu dengan perbuatannya. Setelah dapat yang dimintanya dia hanya memandang kami dengan selamba seperti tidak terjadi apa-apa.
Cukup tangguh dan tahan suaminya bukan ? dapat bertahan puluhan tahun dengan kerenah isteri yang demikan memalukan. Di depan orang ramai dia sanggup berkelakuan seperti itu, kira-kira bagaimanakah tingkah lakunya seandainya tiada siapa yang memperhatikannya?
Kalau sekiranya di hari tuanya sang suami ingin ke luar dari suasana yang begitu, suasana yang mencekam, dan menekan dan mengharu birukan perasaan, ingin mencari ketenangan, ingin menikmati suasana yang berlainan suasana yang tenang dan damai, pengisi hari-hari yang tinggal, sebab hari-hari yang dikorbannya telah terlalu banyak jumlahnya demi kasih sayang kepada anak-anaknya. Apakah salah tindakan sang suami yang ingin mencari ketenangan di luar sana menghilangkan kerunsingan yang tidak tertahankan ? Salahkah ? salahkah ? salahkah ?
Kalau dapat kita mendengarkan jeritan hati sang suami, air mata kita mungkin turut jatuh ke bumi, saat demi saat yang dilalui sungguh mencekam , ingin lari tapi tak dapat lari. terpaut dengan kasih sayang dan tanggung jawab terhadap anak-anak dan isteri . Pada waktu tanggung jawab telah selesai anak-anak sudah bekerja dan yang perempuan sudah bersuami, usiapun sudah tinggi, inilah saatnya untuk pergi.
Adakah kita akan menyalahkan suami ? menuduh suami begitu dan begini dan bermacam-macam lagi ? ? ? ? ? ? ?
Semenjak kejadian itu aku diam, kegembiraanku menghadiri pesta itu rasa tercalar, kenapa ada jenis manusia yang begitu. Kita tidak tahu pendidikan jenis apa yang diperolehnya dari kecil , sehingga hatinya lebih keras dari batu. Tidak pernah memikirkan dan bertimbang rasa dengan orang lain, hanya diri sendiri yang penting.
Biar orang lain merana, menderita asalkan diri sendiri senang dan bahagia.
YA ALLAH YA TUHANKU aku berdoa dan meminta kepadamu, berilah aku PETUNJUK DAN HIDAYAHMU, LINDUNGI AKU DAN ANAK-ANAKKU SERTA CUCU CICITKU dari menjadi orang yang mengerikan seperti itu.
AMIN YA RABBALALAMIN. Perkenankan ya ALLAH.
Ketika aku terbaca dalam facebook, tulisan seorang anak berusia duapuluhan menghina dan mengejek bapanya, aku sangat-sangat terkejut. Aku tahu bapaknya itu orang yang berpangkat, mempunyai gaji yang lumayan besar. Sebab cinta dan kasih sayang pada anak dan isteri, dan ingin menyenangkan isteri, dia mengizinkan supaya isteri hanya menjadi suri rumah sepenuh masa.
Ketika tulisan itu terbaca olehku hatiku rasa kecewa, penulisnya kecil molek, cantik, senyumnya manis, pandangan matanya sayu, memelas memikat hati setiap orang yang memandangnya. Betul-betul aku kecewa, dari lubuk hatiku aku mengharapkan perempuan secantik dia mestilah mempunya pribadi yang luar biasa pula cantiknya.
Secara ironi aku jawab secara bertanya siapa orang yang diejeknya itu, apakah tukang kebunnya, atau pembantunya, sebab kata-katanya itu hanya memang layak untuk mereka. Bukan kata-kata untuk seorang bapa. Pertanyaan ku itu dijawabnya. Wah bukan main kasarnya, dalam kepalaku tidak ada perbendarahan kata sebegitu kasar. Aku masih dengan kalimat-kalimat indah yang memang hanya itu yang aku miliki.
Terjadilah perang tanding di facebook itu, keluarlah semua perbendaharaannya yang kasar-kasar itu, wah !!! wah !!! wah !!! aku dibuatnya seperti tepung, dihancur dan dilumatkannya, seperti mau dimakannya hidup-hidup dengan berbagai-bagai kata-kata yang menjijikkan keluar dalam tulisannya.
Seperti dia mau menghancurkan mau melumatkan, tidak diberinya bernafas, supaya aku tidak dapat lagi kata-kata untuk membela bapaknya.
Sepertinya dia puas dapat menghancur lumatkan orang yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Habislah aku sehabis-habisnya dikata-katai bermacam-macam dengan hal-hal yang tidak aku mengerti dan kata-kata yang tidak dapat aku fahami.
Akhirnya aku tersenyum, tersenyum puas, aku berhasil memancing, aku dapat membuka kulit dan menampak isi. Aku berhasil menelanjanginya, tidak ada lagi sehelai benangpun untuk menutupi kemaluannya. Keluarlah semua perbendaharaan busuk, perbendaharaan yang menjijikkan dari dalam dirinya, melalui kata-katanya. terbayang di benakku cerita kuntil anak, yang terlihat seperti perempuan yang sangat cantik mempesona, tetapi sebenarnya adalah hantu yang menakutkan, dan mengerikan. Betul-betul aku terpana ada jenis manusia yang dalam dirinya itu hanya ada keburukan, kebusukan, kekejaman, kezaliman luar biasa, kedurhakaan kepada orang tua. Tak pernah ada dalam hatinya, rasa hormat pada orang tua, rasa persaudaraan dengan orang lain, dan juga tidak ada rasa hiba kasian kepada orang tua sendiri yang telah membesarkan dan memberi pelajaran sehingga ke peringkat sarjana apatah lagi rasa ingin menolong, memang tidak ada secuilpun di hatinya. Rupanya pakaian di luar yang dibaluti dengan tudung indah baju yang menutup aurat dengan berbagai-bagai warna menarik, dengan model-model terkini, adalah pakaian di luar saja, tidak lain tujuannya hanya untuk memikat, sama sekali tidak melambangkan isi hati si pemakainya. Sungguh berhasil penipuannya.
Inilah jenis manusia yang sangat mengerikan, menakutkan.
Dengan penampilan luar yang indah memikat, ditambah lagi dengan senyum manis menawan dan pandangan mata sayu mempesonakan, ditambahkan lagi dengan tutur kata yang lemah lembut merdu tak terkatakan, suara berbicara antara terdengar dengan tiada,
adalah modal untuk kebanggaan diri dan untuk memikat semata.
Wahai kesiannya sang priya, tergoda, dan terpesona dengan kecantikan palsu luaran. dengan susah payah mendapatkan putri idaman, kadang-kadang nyawa menjadi taruhan, tetapi rupanya, adalah sebuah perangkap, terikat terjerat dalam kehidupan yang lain dari yang lain. Kehidupan yang jauh dari kasih sayang, kehidupan yang keras. Tiada lagi kemanisan hidup tiada lagi gelak tawa dan gurau senda, sirna, semuanya sirna, mimpi-mimpi indah yang didambakan, hari-hari indah yang dinanti-nantikan sirna semuanya sirna bersamaan tibanya hari pesta yang kononnya adalah hari yang tersangat bahagia. Hilanglah seri wajah yang ceria berganti dengan wajah keliru seperti tak percaya. Hari-hari yang menggelegar dipendengaran hanyalah WANG ......WANG ........ WANG .......dan WANG ........!!!! HARTA !!! HARTA !!!!! HARTA !!!!!!!!
Aku jauh-jauh datang menghadiri sebuah pesta, maklumlah yang mengadakannya orang berpangkat, undangannya terbatas hanya untuk orang-orang yang berpangkat pula termasuk juga menteri-menteri menjadi tetamu istimewa pula. Gembira hatiku dapat menyaksikannya. kuperhatikan persiapan-persiapan yang diadakan, semuanya meriah semuanya serbaa istimewa. Kuperhatikan rumah pengantin, kelihatan seperti rumah yang baru dibeli dan diperbaiki, adalah disediakan oleh si bapak untuk hadiah kepada putri tercinta. hadiah perkawinan. Betapa bahagianya sang putri mendapat perhatian penuh dari si bapak. Sedangkan ibu tidak bekerja si bapak sendirilah yang menyiapkan segala-galanya. hadiah untuk putri tunggal kesayangan bapaknya. Kuperhatikan lagi satu persatu hiasan-hiasanya semuanya serba mahal belaka, perabot-perabot yang tinggi mutunya. Kuperhatikan lagi baju untuk bersanding adalah baju adat yang mewah untuk dipakai pengantinnya, pelaminannya pelaminan adat yang klasik. Para tetamu yang termasuk saudara disediakan pula baju kot yang menjadikan pemakainya nampak istimewa, gagah dan menawan. Betul-betul pesta itu mendekati sempurna. Kalaulah aku sang putri itu, akan kusanjung bapaku setinggi langit, tidak banyak jumlah bapak yang bertanggung jawab begitu sempurna. Apakah sang putri juga menyanjung bapanya ???????????????
Di luar dugaan.
Sehari sebelum pesta berlangsung aku ternganga, terdengar jerit pekik yang memekakkan telinga , kami yang datang dari jauh ini ternganga-nganga dan terpinga-pinga. "ada apa, ada apa ?" Panjang leher beberapa orang dari rombongan kami ingin tahu keadaan yang sebenarnya.
Adalah juga yang ini jenis manusia yang mengerikan agaknya ?. Dia menangis, menjerit-jerit menghentakkan kakinya meraung bermadah,meratap minta wang dari suaminya. Jeritan hilang setelah wang berada di tangannya. Hidupnya selalu sedap tanpa berkerja hanya mengurus rumah tangga, wang tinggal terima, berapa yang diminta.
Bagaimana kami para tetamu ? kami hanya dapat saling memandang, rupanya dia tidak malu dengan perbuatannya. Setelah dapat yang dimintanya dia hanya memandang kami dengan selamba seperti tidak terjadi apa-apa.
Cukup tangguh dan tahan suaminya bukan ? dapat bertahan puluhan tahun dengan kerenah isteri yang demikan memalukan. Di depan orang ramai dia sanggup berkelakuan seperti itu, kira-kira bagaimanakah tingkah lakunya seandainya tiada siapa yang memperhatikannya?
Kalau sekiranya di hari tuanya sang suami ingin ke luar dari suasana yang begitu, suasana yang mencekam, dan menekan dan mengharu birukan perasaan, ingin mencari ketenangan, ingin menikmati suasana yang berlainan suasana yang tenang dan damai, pengisi hari-hari yang tinggal, sebab hari-hari yang dikorbannya telah terlalu banyak jumlahnya demi kasih sayang kepada anak-anaknya. Apakah salah tindakan sang suami yang ingin mencari ketenangan di luar sana menghilangkan kerunsingan yang tidak tertahankan ? Salahkah ? salahkah ? salahkah ?
Kalau dapat kita mendengarkan jeritan hati sang suami, air mata kita mungkin turut jatuh ke bumi, saat demi saat yang dilalui sungguh mencekam , ingin lari tapi tak dapat lari. terpaut dengan kasih sayang dan tanggung jawab terhadap anak-anak dan isteri . Pada waktu tanggung jawab telah selesai anak-anak sudah bekerja dan yang perempuan sudah bersuami, usiapun sudah tinggi, inilah saatnya untuk pergi.
Adakah kita akan menyalahkan suami ? menuduh suami begitu dan begini dan bermacam-macam lagi ? ? ? ? ? ? ?
Semenjak kejadian itu aku diam, kegembiraanku menghadiri pesta itu rasa tercalar, kenapa ada jenis manusia yang begitu. Kita tidak tahu pendidikan jenis apa yang diperolehnya dari kecil , sehingga hatinya lebih keras dari batu. Tidak pernah memikirkan dan bertimbang rasa dengan orang lain, hanya diri sendiri yang penting.
Biar orang lain merana, menderita asalkan diri sendiri senang dan bahagia.
YA ALLAH YA TUHANKU aku berdoa dan meminta kepadamu, berilah aku PETUNJUK DAN HIDAYAHMU, LINDUNGI AKU DAN ANAK-ANAKKU SERTA CUCU CICITKU dari menjadi orang yang mengerikan seperti itu.
AMIN YA RABBALALAMIN. Perkenankan ya ALLAH.
Sunday, 22 April 2012
TERISTIMEWA CUCUKU AQIF ZACHQRY RAHMAN
TERISTIMEWA CUCUKU AQIF ZACHQRY RAHMAN
Seharusnya opah menulis untukmu sayang, disa'at matamu terbuka untuk pertama kalinya melihat dunia ini, untuk mengucapakan selamat datang kepadamu, setahun yang lalu, tetapi lidah opah kelu, badan opah lesu, tiada daya opah, untuk menuliskan sesuatu untukmu. Ironi nya sayangku, semua itu adalah sebab opah terlalu sayang padamu. Tidak terkatakan betapa senaknya dada opah, betapa kerisauan dihati ini tiada siapa yang tahu apa yang tersembunyi di hati opah sampai ke relung hati yang paling dalam. Betapa opah sehingga hari ini telah 360 hari opah menyimpan ucapan selamat datang itu untukmu, selamat melihat dunia yang fana ini, selamat berjuang untuk kehidupan yang akan datang dalam dunia yang penuh liku-liku ini.
Berminggu sebelum kelahiranmu kerisauan opah sudah bermula, kerisauan yang opah tanggung seorang diri, tidak dapat pula opah katakan, sebab takut memindahkan kerisauan itu kepada kedua ibu bapamu, sebab opah tahu tentulah mereka yang lebih risau dibanding dengan kerisauan opah. Hanya Allah yang Maha mengetahui, kepadaNYA lah tempat opah mengadu kepadaNYA tempat opah meminta. Dimalam yang hening sepi, opah menyungkur, sujud dengan sebak di dada yang tak tertahankan, disertai deraian air mata, opah mengadu dan meminta kepadaNYA semoga diselamatkan semuanya ibu dan anak. Kelahiranmu bukan kelahiran yang biasa, kelahiran yang istimewa sayangku.
Betapa derita ibumu melahirkanmu sayangku, hanya Allah yang tahu. Bagaimana pula para dokter menggeleng-gelengkan kepala, semua mereka berdoa memohan keselamatanmu dan ibumu. Opah yakin cucuku Aqif akan menjadi orang yang soleh, orang yang cerdik pandai, orang yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama Islam dan berguna bagi masyarakat dan bangsa. Beginilah juga sehingga ke hari ini doa itu selalu bergema di hati opah, mulut opah berkomat kamit diwaktu opah duduk bersimpuh diatas sajadah menadahkan tangan dengan penuh harapan semoga diperkenankan Allah.
Aqif sayangku, ketika Aqif di masukkan ke tempat rawatan kecemasan, terbang rasanya darah opah, hati opah menjerit kuat sekali, menggema ke seluruh tubuh opah membuat badan opah jadi menggigil, terasa ada yang menyumbat kerongkongan opah, opah terpaksa mencuba menenangkan hati opah, tidak mau opah menambah kerisauan, sebab terlihat oleh opah linangan air mata ibumu. Opah hanya dapat menyungkur sujud, sambil berdoa, ke hadhirat ILLAHI semoga semuanya selamat. Opah sangat bersyukur dikaruniai rahmat sebagai seorang Islam, dapat opah sujud, meminta, menadahkan kedua telapak tangan meminta kepadaNYA, dengan sebenar-benaar meminta.
Opah dibenarkan masuk melihatmu ketika itu, badan opah menggigil, opah keraskan hati, opah berjalan lesu sampai ke tempatmu dirawat sayangku. Pertama kali opah memandang wajahmu, opah terasa sangat sayang kepadamu, opah perhatikan matamu yang ketika itu memandang, opah perhatikan mulutmu seperti bergerak menangis tetapi tiada suara, betapa hati opah sedih tak terkira, opah melelehkan air mata. Opah coba menyentuhmu, opah elus tanganmu yang halus mulus, opah komat kamit memberikan semangat kepadamu sambil berdoa tak putus-putus dari mulut opah. Opah perhatikan hidungmu, pipimu, dahimu kepalamu, rambutmu, dadamu, perutmu, tanganmu dan kakimu, semuanya ALLAH berikan dalam bentuk yang indah seindah-indahnya, dan sempurna. betapa PENCIPTA NYA adalah tersangat Indah dan Tersangat Sempurna. Komat kamit mulut opah kian menjadi-jadi sambil mengelus-elus wajahmu, tanganmu dan kakimu, sehinggalah dokter Kancana datang untuk merawatmu, tersenyum kepada opah sebagai isyarat supaya opah segera beredar dari situ.
Aqif sayangku semua orang sayang kepadamu, setiap hari mami datang melihatmu, memberi semangat kepadamu, berdoa untukmu, sehingga kehari ini ketika opah menulis untukmu ini dia masih berdoa untukmu, bersamaan doa untuk anak-anaknya, sama dengan opah setiap kali opah berdoa nama Aqif tidak luput, selalu ada. Sayangku tahukah kamu betapa letih lesunya badan opah waktu meninggalkan kamu ditempat rawatan itu, terasa sangat berat kaki opah untuk dilangkahkan, air mata senantiasa menggelinding, berderai jatuh tidak tertahan. opah terhenyak duduk sesampai di luar. Dengan tenaga yang masih tersisa, opah pergi ke mussolla, sujud merayu, memohan , meminta, dengan segala pinta dan berdoa dengan berbagai-bagai doa. Hanya Allah Yang Maha Mengtahui.
Hari berikutnya ketika mami datang untuk melihatmu, mami mengajak opah pergi melihatmu, sampai di pintu masuk tak terdaya opah melangkahkan kaki, untung ada kerusi disitu, opah duduk, dada opah sangat sebak menahan tangis, dan mami terus pergi melihatmu ke dalam ruangan itu.
Alangkah gembiranya opah, ketika mendapat tahu Aqif cucu opah telah dipindahkan ketempat biasa dan telah di benarkan balik ke rumah.
Rasa tidak sabar opah menunggu selesai urusan administerasi, opah teringin sangat memelukmu, mendukungmu, membelai kulitmu yang halus mulus, dan terus membawa naik kereta. Opah akan membisikkan ke telingamu:
"SELAMAT DATANG CUCUKU TERSAYANG, hari ini kita berkumpul di rumah kita, INSYAALLAH dengan izinNYA kita tidak akan berpisah lagi."
Lot 238, Kg Selayang Indah, Rabu 25 April 2012, OPAH.
Seharusnya opah menulis untukmu sayang, disa'at matamu terbuka untuk pertama kalinya melihat dunia ini, untuk mengucapakan selamat datang kepadamu, setahun yang lalu, tetapi lidah opah kelu, badan opah lesu, tiada daya opah, untuk menuliskan sesuatu untukmu. Ironi nya sayangku, semua itu adalah sebab opah terlalu sayang padamu. Tidak terkatakan betapa senaknya dada opah, betapa kerisauan dihati ini tiada siapa yang tahu apa yang tersembunyi di hati opah sampai ke relung hati yang paling dalam. Betapa opah sehingga hari ini telah 360 hari opah menyimpan ucapan selamat datang itu untukmu, selamat melihat dunia yang fana ini, selamat berjuang untuk kehidupan yang akan datang dalam dunia yang penuh liku-liku ini.
Berminggu sebelum kelahiranmu kerisauan opah sudah bermula, kerisauan yang opah tanggung seorang diri, tidak dapat pula opah katakan, sebab takut memindahkan kerisauan itu kepada kedua ibu bapamu, sebab opah tahu tentulah mereka yang lebih risau dibanding dengan kerisauan opah. Hanya Allah yang Maha mengetahui, kepadaNYA lah tempat opah mengadu kepadaNYA tempat opah meminta. Dimalam yang hening sepi, opah menyungkur, sujud dengan sebak di dada yang tak tertahankan, disertai deraian air mata, opah mengadu dan meminta kepadaNYA semoga diselamatkan semuanya ibu dan anak. Kelahiranmu bukan kelahiran yang biasa, kelahiran yang istimewa sayangku.
Betapa derita ibumu melahirkanmu sayangku, hanya Allah yang tahu. Bagaimana pula para dokter menggeleng-gelengkan kepala, semua mereka berdoa memohan keselamatanmu dan ibumu. Opah yakin cucuku Aqif akan menjadi orang yang soleh, orang yang cerdik pandai, orang yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama Islam dan berguna bagi masyarakat dan bangsa. Beginilah juga sehingga ke hari ini doa itu selalu bergema di hati opah, mulut opah berkomat kamit diwaktu opah duduk bersimpuh diatas sajadah menadahkan tangan dengan penuh harapan semoga diperkenankan Allah.
Aqif sayangku, ketika Aqif di masukkan ke tempat rawatan kecemasan, terbang rasanya darah opah, hati opah menjerit kuat sekali, menggema ke seluruh tubuh opah membuat badan opah jadi menggigil, terasa ada yang menyumbat kerongkongan opah, opah terpaksa mencuba menenangkan hati opah, tidak mau opah menambah kerisauan, sebab terlihat oleh opah linangan air mata ibumu. Opah hanya dapat menyungkur sujud, sambil berdoa, ke hadhirat ILLAHI semoga semuanya selamat. Opah sangat bersyukur dikaruniai rahmat sebagai seorang Islam, dapat opah sujud, meminta, menadahkan kedua telapak tangan meminta kepadaNYA, dengan sebenar-benaar meminta.
Opah dibenarkan masuk melihatmu ketika itu, badan opah menggigil, opah keraskan hati, opah berjalan lesu sampai ke tempatmu dirawat sayangku. Pertama kali opah memandang wajahmu, opah terasa sangat sayang kepadamu, opah perhatikan matamu yang ketika itu memandang, opah perhatikan mulutmu seperti bergerak menangis tetapi tiada suara, betapa hati opah sedih tak terkira, opah melelehkan air mata. Opah coba menyentuhmu, opah elus tanganmu yang halus mulus, opah komat kamit memberikan semangat kepadamu sambil berdoa tak putus-putus dari mulut opah. Opah perhatikan hidungmu, pipimu, dahimu kepalamu, rambutmu, dadamu, perutmu, tanganmu dan kakimu, semuanya ALLAH berikan dalam bentuk yang indah seindah-indahnya, dan sempurna. betapa PENCIPTA NYA adalah tersangat Indah dan Tersangat Sempurna. Komat kamit mulut opah kian menjadi-jadi sambil mengelus-elus wajahmu, tanganmu dan kakimu, sehinggalah dokter Kancana datang untuk merawatmu, tersenyum kepada opah sebagai isyarat supaya opah segera beredar dari situ.
Aqif sayangku semua orang sayang kepadamu, setiap hari mami datang melihatmu, memberi semangat kepadamu, berdoa untukmu, sehingga kehari ini ketika opah menulis untukmu ini dia masih berdoa untukmu, bersamaan doa untuk anak-anaknya, sama dengan opah setiap kali opah berdoa nama Aqif tidak luput, selalu ada. Sayangku tahukah kamu betapa letih lesunya badan opah waktu meninggalkan kamu ditempat rawatan itu, terasa sangat berat kaki opah untuk dilangkahkan, air mata senantiasa menggelinding, berderai jatuh tidak tertahan. opah terhenyak duduk sesampai di luar. Dengan tenaga yang masih tersisa, opah pergi ke mussolla, sujud merayu, memohan , meminta, dengan segala pinta dan berdoa dengan berbagai-bagai doa. Hanya Allah Yang Maha Mengtahui.
Hari berikutnya ketika mami datang untuk melihatmu, mami mengajak opah pergi melihatmu, sampai di pintu masuk tak terdaya opah melangkahkan kaki, untung ada kerusi disitu, opah duduk, dada opah sangat sebak menahan tangis, dan mami terus pergi melihatmu ke dalam ruangan itu.
Alangkah gembiranya opah, ketika mendapat tahu Aqif cucu opah telah dipindahkan ketempat biasa dan telah di benarkan balik ke rumah.
Rasa tidak sabar opah menunggu selesai urusan administerasi, opah teringin sangat memelukmu, mendukungmu, membelai kulitmu yang halus mulus, dan terus membawa naik kereta. Opah akan membisikkan ke telingamu:
"SELAMAT DATANG CUCUKU TERSAYANG, hari ini kita berkumpul di rumah kita, INSYAALLAH dengan izinNYA kita tidak akan berpisah lagi."
Lot 238, Kg Selayang Indah, Rabu 25 April 2012, OPAH.
Tuesday, 6 March 2012
HARI-HARI INDAH BERSAMA CUCU-CUCU DI QATAR
HARI-HARI INDAH BERSAMA CUCU-CUCU DI QATAR
Betapa indahnya pertemuan kami nanti, tidak dapat kubayangkan. Hatiku terasa ditarik-tarik supaya cepat sampai ke tempat tujuan. Panas 39 darjah celcius menerpa wajahku tidak kuhiraukan, ingin segera bertemu dengan cucu-cucuku yang telah lama menunggu kedatanganku.
Aku sabarkan hatiku menunggu jemputan datang, kulayangkan pandanganku ke papan kenyataan di airport Doha Qatar itu, kulihat kapal terbang yang mendarat adalah dari Kuala Lumbur, heran juga aku ketika itu, tetapi barulah aku ketahui tidak ada huruf P dalam abjat Arab, ditukarkannya menjadi B . Aku tertawa dalam hati, berkuranglah kegelisahanku.
Terpegun juga aku ketika masuk 'Raudah Paradise' tempat kediaman anakku Dahlila Putri suami isteri anak beranak, pintu pagarnya besinya tinggi sekali tersergam kelihatan sangat kukuh, ada pengawal keselamatan yang menjaga, rumahnya adalah rumah mewah menurut ukuran orang asing yang bermastautin di Qatar. di samping pondok pengawal terdapat kolam renang, yang dilengkapi dengan tempat bersukan lengkap dengan peralatannya, ruangan mesyuarat atau dapat juga digunakan untuk keperluang lain.
Rumah yang kami tuju adalah rumah no.3, kunci rumah tergantung diluar, cucu-cucuku sudah balik dari sekolah.
"Ukashah !!!!!!! Yasmin !!!!!!!!!!", aku meluru masuk mencari dimana mereka berada.
"Opah .........!!!!!!!!!!!", Ukashah meluru laju memelukku kuat-kuat.
"Mama ........!!!!!!!!!!!", Yasmin pula berlari menuju anakku Dahlila, dan memeluknya. Kami semuanya tertawa riang gembira, riuh rendah suara kami kegirangan, macam-macam pertanyaan , macam-macam cerita kami kian kemari apa-apa saja mana yang dapat mengundang tertawa, temasuklah Kuala Lumbur yang tertulis di airport tadi.
Malam itu aku terasa letih tetapi terpaksa melayan mereka yang sedang keriangan. "Cerita Pah, cerita ....!!!!!", Ukashah meminta, memang dia suka sekali mendengar cerita.
"Sidarta Gautama terkejut dan hairan melihat orang tua yang duduk di pinggir jalan itu",
aku melanjutkan cerita. Mereka semuanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.
" Sebelumnya dia tak pernah melihat orang tua, dia tidak tahu apakah orang tua itu manusia, atau bukan, mengapa dia menjadi tua, siapa yang membuat dia jadi tua. Sidarta berpikir bagaimana sbenarnya alam ini siapa yang membuat ini semuanya.............
To be continue ..............!!!!!!", aku mengakhiri ceritaku.
"Opah letih opah nak tidur", aku berkata sambil memejamkan mata.
"Ala... opah ....!!!!!", terdengar suara mereka tiga orang serentak.
"Good night Opah....... besok sambung lagi ya Pah .....!!!!!!!", suara Ukashah merayu.
"dod nid Opah ", Umair yang berumur 2 tahun lebih itupun bersuara, masing-masing mencari tempat tidur masing-masing.
Malam itu aku tidur dengan Ukashah, aku peluk dia dan aku belai rambutnya, dia tahu bahwa aku sayang kepadanya dan aku juga tahu bahwa dia sangat sayang kepadaku.
"Opah petang ini kita pergi Suakif, opah boleh tengok suakif, kita belanja-belanja, jalan-jalan, seronok Opah", suara gembira Ukashah memberitahukan kami semua.
Petang itu kami berangkat dari rumah dengan senang hati, hanya beberapa menit sampai Suakif. Kulihat bangunannya bangunan tua, tidak begitu menarik, semuanya biasa-biasa saja. burung-burung merpati banyak sekali terbang dan hinggap dikawasan bangunan itu, terlihar tempat itu agak kotor dan tidak sehat.
Kami berjalan kedalam , kiri kanan kedai-kedai menjual bermacam-macam barang, pengunjung, memang ramai, dapatlah kita bejumpa dan melihat orang Qatar asli.
"Disini kita beli cai dulu", anakku Dahlila memanggil kami semua, dengan senyum bermakna.
"Kalau disini harga cai 1 riyal, mari kita beli satu gelas sorang", Dahlila menjelaskan.
"Kalau kedai lain harganya 5 riyal, rasanya sama, besar gelasnya sama, orang yang menjualnyapun sama-sama orang Pakistan", Dahlila menjelaskan sambil tertawa kelakar. Kami semua tersenyum-senyum, dengan segelas cai masing-masing ditangan. Semua wajah ceria, sambil meminum sedikit-sedikit teh yang masih panas itu.
Sebenarnya bukanlah cai itu yang istimewa, sama saja rasanya dengan teh tarik mamak di Malaysia, KEBERSAMAAN KAMI , pergi berjalan bersama, pergi suakif bersama, melihat semua suasana bersama, INILAH YANG ISTIMEWA BAGI KAMI.
Senyum mengulum dibibir masing-masing cukup hanya dengan mendapat segelas cai yang tidakpun istimewa. INILAH KEINDAHAN YANG TIDAK TERLUPAKAN.
"Opah ...!! Ayah kata besok kita pergi VILAGGIO, best Pah Vilagio tu", Ukashah menyampaikan berita,sebenarnya dialah yan g mengajak ayahnya.
"Diperjalanan nanti kita beli syawirma, opah suka kan ? tanya Ukashah.
"Suka ....... ", jawabku menyenangkan hatinya .
Selesai solat zuhur, kamipun berangkat ke Vilaggio pada keesokan harinya.
Sepanjang jalan aku perhatikan pusat Bandar Doha itu. Bangunan-bangunanya beritngkat tidaklah terlalu tinggi, tidak ada yang spesifik Qatar, cuma sebagai negeri yang tidak pernah disirami hujan bentuk atasnya tidaklah sama dengan Malaysia.
Setelah kereta diparking, kami segera masuk bangunan Vilaggio, bangunan yang luas dan besar sekali tetapi tidak bertingkat, bumbung di buat tinggi sekali. Ketika aku mendongak ke atas aku terkejut melihat langit biru dan awan rendah sekali, aku juga keliru apakah bangunan ini tidak beratap. Lama kuperhatikan, baru aku sadari bahwa yang kulihat itu adalah lukisan pada bumbung, yang dilukis seperti awan dan langit biru menyerupai keadaan yang sebenarnya, sebab dia sangat tinggi. Memang ini lain dari yang lain. Aku tertawa dalam hati sebab tertipu dan terkelirukan.
Kedai-kedainya besar-besar dan mewah, terlihat tempat ini bukan hanya tempat berbelanja orang-orang kaya, tetapi juga adlah tempat rekreasi, bersantai dan menyenang-nyenangkan diri. Disinilah tempat bertumpu orang-orang Qatar, suami isteri, anak beranak dan diikuti oleh pembantu-pembantu mereka yang harus berpakaian seragam pijamas pakaian tidur, untuk membedakan antara majikan dan pembantu. Disamping berbelanja mereka bersantai duduk, minum-minum dan bersenang senang.
Kami si orang asing ini juga tidak ketinggalan untuk bersantai, kami ikut berperahu-perahu, di sungai buatan yang cukup panjang yang sengaja dibuat dalam bangunan itu.
"Opah naik dulu Pah ..!! baik-baik Pah ", terdengar suara Ukashah gembira dan di sertai rasa takut jatuh.
"Nanti dibawanya opah lari, macam mana, opah takut ni", aku naik sambil bergurau. Semua cucuku tertawa riang gembira, menjawab gurauanku itu, semuanya bersuara menyatakan pendapat masing-masing, riuh rendah tetapi menggembirakan.
"Eh....!!! eh........!!!! senget senget...!!! nanti tenggelam , senget......!!!!! senget....!!!!!!! jeritanku bercampur takut dan bergurau.
"Tak apa Pah, sekejap je, dia berpusing, janganlah opah takut sangat.........tak apa ", Ukashah cuba menenangkanku. Perahu itu oleng, miring ke kiri miring ke kanan, sebab membelok mencari jalan keluar dari tempat perhentiannya itu.
"Oooooooooooo !!!!! goyang rasa nak jatuh Ooooooooooooooo !!!!!!!!!!!".
"Jatuuuuuuuuuhhhhh............. jatuh jatuh.........!!!!!!!!! jatuuuuuuuh !!!!!!!!!"
"Ha..hah...ha......ha... tak ada apa-apa pun....... selamat .....!!!!!! selamat ...... !!!!!!!"
"Ha..ha....ha....ha..... , Acah je sorang yang tak takut, ha ....ha .....ha.... semua penakut ",
Bermacam-macam suara terdengar dari mulut-mulut cucuku, riuh rendah, penuh gelak dan tertawa keriangan. Orang-orang yang memperhatikan kami disekitarnya tidak kami perhatikan. Yang penting gelak dan tertawa keriangan bersama-sama.
Setiap wajah mengulum senyum, bersamaan dengan perahu kami yang meluncur laju menyusur sungai, yang membelok ke kanan dan ke kiri mengikut lenggok sungai itu. Alangkah bahagianya kami semua ketika itu, kami saling pandang memandang menduga-duga apa yang tersimpan dalam hati masing-masing, dan berdoa kebahagiaan
ini janganlah berakhir.
Selesai berperahu-perahu, kami melihat-lihat barang-barang yang akan dibeli, hanya 2 atau 3 barang saja yang terbawa, sebab memang tujuan kami hanya untuk bersantai semata, bukan untuk berbelanja. Penat juga kami berjalan, tidak terjalani semua komplek yang besar itu, kami semua bersetuju meninggalkan tempat itu. Tujuan kami sekarang adalah mencari retoran tempat makan. Kami cari juga yang lain dari yang lain yaitu restoran bersila, dalam bilik-bilik beralaskan tikar tempat duduk. Lain dari yang lain.
Makanan yang dihidangkan rasanya tidak seberapa, mungkin istimewa bagi lidah orang Qatar, itulah sebabnya harganya melangit.
Malam itu tak banyak yang bersuara semua keletihan, dan kami tidur sebelum waktunya.
"Berapa hari lagi Opah disini Ukashah ?", aku bertanya.
"Opah jangan tanya-tanya", jawab Ukashah.
"Ya Pah , elok diam-diam saja kita belum pergi tengok unta, Yasmin teringin naik unta", jawab Yasmin membenarkan pendapat abangnya, mengalihkan pembicaraan.
"Bila kita tengok unta Yah ?" Tasnim pula menyela.
"Hari Kamis ayah cuti lah kita pergi", jawab ayahnya.
Perjalanan kami, jauh juga, kiri kanan jalan hanya padang pasir sejauh-jauh mata memandang, tetapi pikiran terasa lapang sebab mata dapat melihat jauh dan rata, tidak ada bukit-bukit yang menghalangi pandangan mata.
Unta-unta disitu memang disediakan untuk ditunggangi para pelancong, semuanya dihiasi dengan kain berwarna warni, dan ada yang disulam. Semua mereka menunggangi unta, seperti gembira bercampur takut. Setiap unta yang ditunggangi harus membayar 20riyal.
Kami semua terpaksa tertawa sebab sebenarnya harganya hanya 10 riyal setiap ekor yang ditunggangi.
Waktu perjalanan balik kami singgah dulu di tepi laut, disitu kami solat, kemudian duduk-duduk memperhatikan kerenah pengunjung disitu; ada yang memancing ada yang mandi-mandi ada yang membuka bekal dan ada yang menungga kuda dalam laut itu, kami gembira memperhatikan semuanya itu, kami juga membuka bekal yang hanya tinggal kerupuk. Begitu matahari tenggelam kami berangkat .
"Kita ke Al Khor besok mera'ikan Hanan dan Din. Mereka akan naik haji", terdengar suara anakku Dahlila.
"Ye ....... ye ..... besok kita pergi", terdengar sorak riang gembira Ukashah, Yasmin dan Tasnim. Kami tersenyum melihat keriangan mereka bertiga.
"Cepat bangun, mandi dan berkemas, supaya kita cepat sampai disana perjalanan kita agak jauh, kita belum pernah sampai kesana", anakku Dahlila menasehatkan anak-anaknya.
"Ya......ma......., tapi Cerita Opah belum finish lagi", jawab Ukashah.
"Malam ini tak ada cerita, semuanya cepat tidur", perintah ibunya.
"Mesti Opah suka hati, malam ini tak payah cerita, kan Pah ?" tanya Ukashah.
"Mestilah suka hati, opah tak payah pikir-pikir , sebab cerita opah dah habis, ha......ha....
ha........., seronoknya ", jawabku kelakar. Semua mereka tertawa.
Al Khor adalah tempah orang-orang Malaysia bekerja di Qatar, pada umumnya mereka sudah menganggap mereka akan tinggal di situ sampai tua, sepertinya mereka betah tinggal disitu dan tidak pernah merncanakan untuk balik ke Malaysia.
Hari itu mereka mengadakan acara mera'ikan orang-orang Malaysia di Qatar untuk pergi ke Mekah, sebab mereka dapat quota orang Qatar yang masih tersisa.
Selesai aturcara majlis, disediakan makanan, dapatlah kami menikmati hidangan masakan Malaysia, dapatlah kami merasakan makanan yang telah lama tidak kami rasakan.
Perjalanan kami hari itu tidak ada apa-apa yang istimewa, semuanya biasa-biasa saja.
Selesai pertemuan hari itu kami pun balik ke Doha. Kami melalui jalan yang kiri kanannya padang pasir, kadang kadang nampak juga sekelompok pohon-pohon yang menunjukkan bahwa disitu ada beberapa rumah, kami tidak tahu bagaimana caranya mereka mendapatkan bekalan air. Tiba-tiba Yasmin bersuara:
"Yasmin ni selalu tak lucky, tadi dah pilih duduk sebelah sini tetap juga kena panas, opah juga yang untung, sekarang opah juga yang untung duduk sebelah sana", Yasmin merengut sebab tempat duduknya dalam kereta itu selalu kepanasan.
"Ha...ha.....ha..... Opah selalu untung, sebab opah ni cantik ........... ha...ha......ha.......ha.. matahari tak bagi opah kepanasan takut opah jadi hatam, jadi matahari selalu mengenakan Yasmin", jawabku kelakar, cepat-cepat aku diam melihat Yasmin sedih.
"Marilah kita tukar tempat duduk, mari Yasmin duduk di tempat Opah ni ", kataku membujuk Yasmin.
"Tak apa lah Pah ", jawab Yasmin perlahan.
"Opah tak apa lah Pah, matahari tu kesian Opah sebenarnya sebab Opah dah ........",
tak sampai hati Ukashah melanjutkan ayatnya.
Kereta kami terus memacu laju, merentas padang pasir yang luas terbentang. warna kuning kemerahan di ufuk sana , mulai menghiasi langit senja, kami semua berniat solat jamak, tiada tempat persinggahan, hanya padang pasir semata, suatu pemandangan yang indah bagi setiap orang yang melihat untuk pertama kalinya. Kita seperti berada di tepi laut dikala senja, menyaksikan lautan pasir dikala matahari terbenam.
Semuanya keletihan, semuanya mengisi perut ala kadarnya, sebelum pergi ke tempat pembaringan. Tiada suara menyuruh bercerita, tiada tertawa, cepatnya mata terpejam. barulah mata terbuka kembali ketika azan subuh bersahut-sahutan.
"Yang , besok Opah balik Malaysia", kataku memecah kesunyian, ketika sarapan pagi.
Semuanya memandangku tanpa dapat bersuara, lidah kelu, seperti ada yang menyumbat kerongkongan. Masing-masing seperti bergerak kaku, sirna semua keriangan di wajah cucu-cucuku, keriangan di hatiku sebenarnya telah sirna lebih dahulu.
"Kan Opah dah lama kat sini", suaraku membujuk mereka.
"Lama lagi lah Pah ", Tasnim berusia hampir 4 tahun itu meluahkan kehendaknya.
"Opah memang nak lama kat sini tapi tak boleh, orang Qatar kasi opah sebulan saja", jawabku menjelaskan. Tasnim tak dapat memahaminya. Yang lain dapat mengerti sehingga mereka tak dapat bersuara. Suasana hari itu berubah, tidak ada keceriaan seperti biasa. Tidak banyak suara tidak ada gelak dan tawa, hanya Umair berusia satu setengah tahun itulah yang memecah kesunyian di hari itu.
Masing-masing cucuku membuat kesibukan sendiri-sendiri sepertinya mereka tidak mau bertegur sapa, tidak terjadi percakapan diantara mereka. Aku hanya memperhatikan gelagat masing-masing dengan sudut mata.
"Kenapa gosok-gosok mata Yang", aku menegur Ukashah, yang dari tadi sebentar-sebentar menggosok mata.
"Mata kena habuk," jawab Ukashah. Aku dekati dia, air matanya meleleh tak henti-henti.
"Air mata ni tak mau berhenti, sebab kena habuk tadi", Ukasha cuba melindungi sesuatu.
"Mari Opah tengok", aku mendekati Ukashah. Aku tahu, Ukashah sebenarnya menangis, air matanya meleleh tak mahu berhenti, sedu-sedannya ditahannya supaya tiada siapa yang tahu, sedih hatinya tak dapat ditahannya. Air mataku juga mengambang di pelupuk mata. Perpisahan itu sebentar lagi akan terjadi. Aku elus wajah Ukashah yang sayu, aku pura-pura tak tahu apa yang bergejolak dalam dirinya.
Sebelum berangkat ke airport, aku perhatikan setiap sudut rumah itu, aku perhatikan sekelilingnya supaya gambarannya tetap terpatri dalam ingatanku bersama cucu-cucuku. Aku juga tertanya-tanya apakah aku akan pernah lagi berada di tempat itu.
"Nanti yah belikan Syawirma untuk opah, jangan lupa ya Yah ?" terdengar suara Ukashah "Ya.... nanti kita beli SYawirma untuk opah", jawab ayahnya.
Alangkah terharunya aku, betapa cucuku selalu mengingatku dan selalu ingin menggembirakan aku, mereka selalu ingat apa yang aku sukai dan berusaha untuk memberikannya kepadaku. Aku peluk cucu-cucuku di atas kereta dalam perjalanan ke airport itu aku gunakan setiap kesempatan untuk mendakap mereka, kesempatan yang tinggal sangat sedikit. Sementara mataku yang sebak aku layangkan keluar memperhatikan bangunan-bangunan di pusat kota Doha yang sebentar lagi akan aku tinggalkan.
Tidak semudah airport KLIA, Airport Doha tidak membenarkan semua orang masuk, hanya penumpang pesawat yang boleh. Seperti orang yang tak pernah tahu aturan, keinginan untuk bersama opah, entah bagaimana mereka semuanya dapat masuk dan duduk ditempat check in. Dalam kesedihan itu aku masih dapat tertawa.
Cucu-cucuku berdoa semoga hari itu kapal terbang penuh, opah tak dapat berangkat, mereka tahu tiketku waiting list. Sedangkan aku kerisauan mengingat visa terbatas.
Akhirnya namaku dipanggil, dengan sifatku yang selalu gopoh ini aku cepat-cepat pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Aku terburu-buru mengikut arus orang ramai untuk pemeriksaan imiggresen. Setelah jauh baru aku tersedar cucu-cucu yang aku tinggalkan, dari celah-celah orang ramai dapat kulihat mereka semuanya terpaku tidak bergerak memperhatikan gelagatku yang gegabah itu. Ingin aku menjerit memanggil mereka, tetapi kulihat mereka dengan kecewa bergerak perlahan menjauh dari situ.
Di atas kapal terbang aku tumpahkan kesedihanku yang sejak tadi tertahan, aku menangis, air mataku tak mahu berhenti, terbayang olehku wajah-wajah cucu-cucuku yang kecewa dengan sikapku. Betapa mereka mengharapkan lambaian dari opah yang akan meninggalkan mereka di kota Doha. Kota yang sangat sepi bagi mereka yang jauh dari sanak saudara dan handai taulan.
Permulaan November 2011. O P A H
Betapa indahnya pertemuan kami nanti, tidak dapat kubayangkan. Hatiku terasa ditarik-tarik supaya cepat sampai ke tempat tujuan. Panas 39 darjah celcius menerpa wajahku tidak kuhiraukan, ingin segera bertemu dengan cucu-cucuku yang telah lama menunggu kedatanganku.
Aku sabarkan hatiku menunggu jemputan datang, kulayangkan pandanganku ke papan kenyataan di airport Doha Qatar itu, kulihat kapal terbang yang mendarat adalah dari Kuala Lumbur, heran juga aku ketika itu, tetapi barulah aku ketahui tidak ada huruf P dalam abjat Arab, ditukarkannya menjadi B . Aku tertawa dalam hati, berkuranglah kegelisahanku.
Terpegun juga aku ketika masuk 'Raudah Paradise' tempat kediaman anakku Dahlila Putri suami isteri anak beranak, pintu pagarnya besinya tinggi sekali tersergam kelihatan sangat kukuh, ada pengawal keselamatan yang menjaga, rumahnya adalah rumah mewah menurut ukuran orang asing yang bermastautin di Qatar. di samping pondok pengawal terdapat kolam renang, yang dilengkapi dengan tempat bersukan lengkap dengan peralatannya, ruangan mesyuarat atau dapat juga digunakan untuk keperluang lain.
Rumah yang kami tuju adalah rumah no.3, kunci rumah tergantung diluar, cucu-cucuku sudah balik dari sekolah.
"Ukashah !!!!!!! Yasmin !!!!!!!!!!", aku meluru masuk mencari dimana mereka berada.
"Opah .........!!!!!!!!!!!", Ukashah meluru laju memelukku kuat-kuat.
"Mama ........!!!!!!!!!!!", Yasmin pula berlari menuju anakku Dahlila, dan memeluknya. Kami semuanya tertawa riang gembira, riuh rendah suara kami kegirangan, macam-macam pertanyaan , macam-macam cerita kami kian kemari apa-apa saja mana yang dapat mengundang tertawa, temasuklah Kuala Lumbur yang tertulis di airport tadi.
Malam itu aku terasa letih tetapi terpaksa melayan mereka yang sedang keriangan. "Cerita Pah, cerita ....!!!!!", Ukashah meminta, memang dia suka sekali mendengar cerita.
"Sidarta Gautama terkejut dan hairan melihat orang tua yang duduk di pinggir jalan itu",
aku melanjutkan cerita. Mereka semuanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.
" Sebelumnya dia tak pernah melihat orang tua, dia tidak tahu apakah orang tua itu manusia, atau bukan, mengapa dia menjadi tua, siapa yang membuat dia jadi tua. Sidarta berpikir bagaimana sbenarnya alam ini siapa yang membuat ini semuanya.............
To be continue ..............!!!!!!", aku mengakhiri ceritaku.
"Opah letih opah nak tidur", aku berkata sambil memejamkan mata.
"Ala... opah ....!!!!!", terdengar suara mereka tiga orang serentak.
"Good night Opah....... besok sambung lagi ya Pah .....!!!!!!!", suara Ukashah merayu.
"dod nid Opah ", Umair yang berumur 2 tahun lebih itupun bersuara, masing-masing mencari tempat tidur masing-masing.
Malam itu aku tidur dengan Ukashah, aku peluk dia dan aku belai rambutnya, dia tahu bahwa aku sayang kepadanya dan aku juga tahu bahwa dia sangat sayang kepadaku.
"Opah petang ini kita pergi Suakif, opah boleh tengok suakif, kita belanja-belanja, jalan-jalan, seronok Opah", suara gembira Ukashah memberitahukan kami semua.
Petang itu kami berangkat dari rumah dengan senang hati, hanya beberapa menit sampai Suakif. Kulihat bangunannya bangunan tua, tidak begitu menarik, semuanya biasa-biasa saja. burung-burung merpati banyak sekali terbang dan hinggap dikawasan bangunan itu, terlihar tempat itu agak kotor dan tidak sehat.
Kami berjalan kedalam , kiri kanan kedai-kedai menjual bermacam-macam barang, pengunjung, memang ramai, dapatlah kita bejumpa dan melihat orang Qatar asli.
"Disini kita beli cai dulu", anakku Dahlila memanggil kami semua, dengan senyum bermakna.
"Kalau disini harga cai 1 riyal, mari kita beli satu gelas sorang", Dahlila menjelaskan.
"Kalau kedai lain harganya 5 riyal, rasanya sama, besar gelasnya sama, orang yang menjualnyapun sama-sama orang Pakistan", Dahlila menjelaskan sambil tertawa kelakar. Kami semua tersenyum-senyum, dengan segelas cai masing-masing ditangan. Semua wajah ceria, sambil meminum sedikit-sedikit teh yang masih panas itu.
Sebenarnya bukanlah cai itu yang istimewa, sama saja rasanya dengan teh tarik mamak di Malaysia, KEBERSAMAAN KAMI , pergi berjalan bersama, pergi suakif bersama, melihat semua suasana bersama, INILAH YANG ISTIMEWA BAGI KAMI.
Senyum mengulum dibibir masing-masing cukup hanya dengan mendapat segelas cai yang tidakpun istimewa. INILAH KEINDAHAN YANG TIDAK TERLUPAKAN.
"Opah ...!! Ayah kata besok kita pergi VILAGGIO, best Pah Vilagio tu", Ukashah menyampaikan berita,sebenarnya dialah yan g mengajak ayahnya.
"Diperjalanan nanti kita beli syawirma, opah suka kan ? tanya Ukashah.
"Suka ....... ", jawabku menyenangkan hatinya .
Selesai solat zuhur, kamipun berangkat ke Vilaggio pada keesokan harinya.
Sepanjang jalan aku perhatikan pusat Bandar Doha itu. Bangunan-bangunanya beritngkat tidaklah terlalu tinggi, tidak ada yang spesifik Qatar, cuma sebagai negeri yang tidak pernah disirami hujan bentuk atasnya tidaklah sama dengan Malaysia.
Setelah kereta diparking, kami segera masuk bangunan Vilaggio, bangunan yang luas dan besar sekali tetapi tidak bertingkat, bumbung di buat tinggi sekali. Ketika aku mendongak ke atas aku terkejut melihat langit biru dan awan rendah sekali, aku juga keliru apakah bangunan ini tidak beratap. Lama kuperhatikan, baru aku sadari bahwa yang kulihat itu adalah lukisan pada bumbung, yang dilukis seperti awan dan langit biru menyerupai keadaan yang sebenarnya, sebab dia sangat tinggi. Memang ini lain dari yang lain. Aku tertawa dalam hati sebab tertipu dan terkelirukan.
Kedai-kedainya besar-besar dan mewah, terlihat tempat ini bukan hanya tempat berbelanja orang-orang kaya, tetapi juga adlah tempat rekreasi, bersantai dan menyenang-nyenangkan diri. Disinilah tempat bertumpu orang-orang Qatar, suami isteri, anak beranak dan diikuti oleh pembantu-pembantu mereka yang harus berpakaian seragam pijamas pakaian tidur, untuk membedakan antara majikan dan pembantu. Disamping berbelanja mereka bersantai duduk, minum-minum dan bersenang senang.
Kami si orang asing ini juga tidak ketinggalan untuk bersantai, kami ikut berperahu-perahu, di sungai buatan yang cukup panjang yang sengaja dibuat dalam bangunan itu.
"Opah naik dulu Pah ..!! baik-baik Pah ", terdengar suara Ukashah gembira dan di sertai rasa takut jatuh.
"Nanti dibawanya opah lari, macam mana, opah takut ni", aku naik sambil bergurau. Semua cucuku tertawa riang gembira, menjawab gurauanku itu, semuanya bersuara menyatakan pendapat masing-masing, riuh rendah tetapi menggembirakan.
"Eh....!!! eh........!!!! senget senget...!!! nanti tenggelam , senget......!!!!! senget....!!!!!!! jeritanku bercampur takut dan bergurau.
"Tak apa Pah, sekejap je, dia berpusing, janganlah opah takut sangat.........tak apa ", Ukashah cuba menenangkanku. Perahu itu oleng, miring ke kiri miring ke kanan, sebab membelok mencari jalan keluar dari tempat perhentiannya itu.
"Oooooooooooo !!!!! goyang rasa nak jatuh Ooooooooooooooo !!!!!!!!!!!".
"Jatuuuuuuuuuhhhhh............. jatuh jatuh.........!!!!!!!!! jatuuuuuuuh !!!!!!!!!"
"Ha..hah...ha......ha... tak ada apa-apa pun....... selamat .....!!!!!! selamat ...... !!!!!!!"
"Ha..ha....ha....ha..... , Acah je sorang yang tak takut, ha ....ha .....ha.... semua penakut ",
Bermacam-macam suara terdengar dari mulut-mulut cucuku, riuh rendah, penuh gelak dan tertawa keriangan. Orang-orang yang memperhatikan kami disekitarnya tidak kami perhatikan. Yang penting gelak dan tertawa keriangan bersama-sama.
Setiap wajah mengulum senyum, bersamaan dengan perahu kami yang meluncur laju menyusur sungai, yang membelok ke kanan dan ke kiri mengikut lenggok sungai itu. Alangkah bahagianya kami semua ketika itu, kami saling pandang memandang menduga-duga apa yang tersimpan dalam hati masing-masing, dan berdoa kebahagiaan
ini janganlah berakhir.
Selesai berperahu-perahu, kami melihat-lihat barang-barang yang akan dibeli, hanya 2 atau 3 barang saja yang terbawa, sebab memang tujuan kami hanya untuk bersantai semata, bukan untuk berbelanja. Penat juga kami berjalan, tidak terjalani semua komplek yang besar itu, kami semua bersetuju meninggalkan tempat itu. Tujuan kami sekarang adalah mencari retoran tempat makan. Kami cari juga yang lain dari yang lain yaitu restoran bersila, dalam bilik-bilik beralaskan tikar tempat duduk. Lain dari yang lain.
Makanan yang dihidangkan rasanya tidak seberapa, mungkin istimewa bagi lidah orang Qatar, itulah sebabnya harganya melangit.
Malam itu tak banyak yang bersuara semua keletihan, dan kami tidur sebelum waktunya.
"Berapa hari lagi Opah disini Ukashah ?", aku bertanya.
"Opah jangan tanya-tanya", jawab Ukashah.
"Ya Pah , elok diam-diam saja kita belum pergi tengok unta, Yasmin teringin naik unta", jawab Yasmin membenarkan pendapat abangnya, mengalihkan pembicaraan.
"Bila kita tengok unta Yah ?" Tasnim pula menyela.
"Hari Kamis ayah cuti lah kita pergi", jawab ayahnya.
Perjalanan kami, jauh juga, kiri kanan jalan hanya padang pasir sejauh-jauh mata memandang, tetapi pikiran terasa lapang sebab mata dapat melihat jauh dan rata, tidak ada bukit-bukit yang menghalangi pandangan mata.
Unta-unta disitu memang disediakan untuk ditunggangi para pelancong, semuanya dihiasi dengan kain berwarna warni, dan ada yang disulam. Semua mereka menunggangi unta, seperti gembira bercampur takut. Setiap unta yang ditunggangi harus membayar 20riyal.
Kami semua terpaksa tertawa sebab sebenarnya harganya hanya 10 riyal setiap ekor yang ditunggangi.
Waktu perjalanan balik kami singgah dulu di tepi laut, disitu kami solat, kemudian duduk-duduk memperhatikan kerenah pengunjung disitu; ada yang memancing ada yang mandi-mandi ada yang membuka bekal dan ada yang menungga kuda dalam laut itu, kami gembira memperhatikan semuanya itu, kami juga membuka bekal yang hanya tinggal kerupuk. Begitu matahari tenggelam kami berangkat .
"Kita ke Al Khor besok mera'ikan Hanan dan Din. Mereka akan naik haji", terdengar suara anakku Dahlila.
"Ye ....... ye ..... besok kita pergi", terdengar sorak riang gembira Ukashah, Yasmin dan Tasnim. Kami tersenyum melihat keriangan mereka bertiga.
"Cepat bangun, mandi dan berkemas, supaya kita cepat sampai disana perjalanan kita agak jauh, kita belum pernah sampai kesana", anakku Dahlila menasehatkan anak-anaknya.
"Ya......ma......., tapi Cerita Opah belum finish lagi", jawab Ukashah.
"Malam ini tak ada cerita, semuanya cepat tidur", perintah ibunya.
"Mesti Opah suka hati, malam ini tak payah cerita, kan Pah ?" tanya Ukashah.
"Mestilah suka hati, opah tak payah pikir-pikir , sebab cerita opah dah habis, ha......ha....
ha........., seronoknya ", jawabku kelakar. Semua mereka tertawa.
Al Khor adalah tempah orang-orang Malaysia bekerja di Qatar, pada umumnya mereka sudah menganggap mereka akan tinggal di situ sampai tua, sepertinya mereka betah tinggal disitu dan tidak pernah merncanakan untuk balik ke Malaysia.
Hari itu mereka mengadakan acara mera'ikan orang-orang Malaysia di Qatar untuk pergi ke Mekah, sebab mereka dapat quota orang Qatar yang masih tersisa.
Selesai aturcara majlis, disediakan makanan, dapatlah kami menikmati hidangan masakan Malaysia, dapatlah kami merasakan makanan yang telah lama tidak kami rasakan.
Perjalanan kami hari itu tidak ada apa-apa yang istimewa, semuanya biasa-biasa saja.
Selesai pertemuan hari itu kami pun balik ke Doha. Kami melalui jalan yang kiri kanannya padang pasir, kadang kadang nampak juga sekelompok pohon-pohon yang menunjukkan bahwa disitu ada beberapa rumah, kami tidak tahu bagaimana caranya mereka mendapatkan bekalan air. Tiba-tiba Yasmin bersuara:
"Yasmin ni selalu tak lucky, tadi dah pilih duduk sebelah sini tetap juga kena panas, opah juga yang untung, sekarang opah juga yang untung duduk sebelah sana", Yasmin merengut sebab tempat duduknya dalam kereta itu selalu kepanasan.
"Ha...ha.....ha..... Opah selalu untung, sebab opah ni cantik ........... ha...ha......ha.......ha.. matahari tak bagi opah kepanasan takut opah jadi hatam, jadi matahari selalu mengenakan Yasmin", jawabku kelakar, cepat-cepat aku diam melihat Yasmin sedih.
"Marilah kita tukar tempat duduk, mari Yasmin duduk di tempat Opah ni ", kataku membujuk Yasmin.
"Tak apa lah Pah ", jawab Yasmin perlahan.
"Opah tak apa lah Pah, matahari tu kesian Opah sebenarnya sebab Opah dah ........",
tak sampai hati Ukashah melanjutkan ayatnya.
Kereta kami terus memacu laju, merentas padang pasir yang luas terbentang. warna kuning kemerahan di ufuk sana , mulai menghiasi langit senja, kami semua berniat solat jamak, tiada tempat persinggahan, hanya padang pasir semata, suatu pemandangan yang indah bagi setiap orang yang melihat untuk pertama kalinya. Kita seperti berada di tepi laut dikala senja, menyaksikan lautan pasir dikala matahari terbenam.
Semuanya keletihan, semuanya mengisi perut ala kadarnya, sebelum pergi ke tempat pembaringan. Tiada suara menyuruh bercerita, tiada tertawa, cepatnya mata terpejam. barulah mata terbuka kembali ketika azan subuh bersahut-sahutan.
"Yang , besok Opah balik Malaysia", kataku memecah kesunyian, ketika sarapan pagi.
Semuanya memandangku tanpa dapat bersuara, lidah kelu, seperti ada yang menyumbat kerongkongan. Masing-masing seperti bergerak kaku, sirna semua keriangan di wajah cucu-cucuku, keriangan di hatiku sebenarnya telah sirna lebih dahulu.
"Kan Opah dah lama kat sini", suaraku membujuk mereka.
"Lama lagi lah Pah ", Tasnim berusia hampir 4 tahun itu meluahkan kehendaknya.
"Opah memang nak lama kat sini tapi tak boleh, orang Qatar kasi opah sebulan saja", jawabku menjelaskan. Tasnim tak dapat memahaminya. Yang lain dapat mengerti sehingga mereka tak dapat bersuara. Suasana hari itu berubah, tidak ada keceriaan seperti biasa. Tidak banyak suara tidak ada gelak dan tawa, hanya Umair berusia satu setengah tahun itulah yang memecah kesunyian di hari itu.
Masing-masing cucuku membuat kesibukan sendiri-sendiri sepertinya mereka tidak mau bertegur sapa, tidak terjadi percakapan diantara mereka. Aku hanya memperhatikan gelagat masing-masing dengan sudut mata.
"Kenapa gosok-gosok mata Yang", aku menegur Ukashah, yang dari tadi sebentar-sebentar menggosok mata.
"Mata kena habuk," jawab Ukashah. Aku dekati dia, air matanya meleleh tak henti-henti.
"Air mata ni tak mau berhenti, sebab kena habuk tadi", Ukasha cuba melindungi sesuatu.
"Mari Opah tengok", aku mendekati Ukashah. Aku tahu, Ukashah sebenarnya menangis, air matanya meleleh tak mahu berhenti, sedu-sedannya ditahannya supaya tiada siapa yang tahu, sedih hatinya tak dapat ditahannya. Air mataku juga mengambang di pelupuk mata. Perpisahan itu sebentar lagi akan terjadi. Aku elus wajah Ukashah yang sayu, aku pura-pura tak tahu apa yang bergejolak dalam dirinya.
Sebelum berangkat ke airport, aku perhatikan setiap sudut rumah itu, aku perhatikan sekelilingnya supaya gambarannya tetap terpatri dalam ingatanku bersama cucu-cucuku. Aku juga tertanya-tanya apakah aku akan pernah lagi berada di tempat itu.
"Nanti yah belikan Syawirma untuk opah, jangan lupa ya Yah ?" terdengar suara Ukashah "Ya.... nanti kita beli SYawirma untuk opah", jawab ayahnya.
Alangkah terharunya aku, betapa cucuku selalu mengingatku dan selalu ingin menggembirakan aku, mereka selalu ingat apa yang aku sukai dan berusaha untuk memberikannya kepadaku. Aku peluk cucu-cucuku di atas kereta dalam perjalanan ke airport itu aku gunakan setiap kesempatan untuk mendakap mereka, kesempatan yang tinggal sangat sedikit. Sementara mataku yang sebak aku layangkan keluar memperhatikan bangunan-bangunan di pusat kota Doha yang sebentar lagi akan aku tinggalkan.
Tidak semudah airport KLIA, Airport Doha tidak membenarkan semua orang masuk, hanya penumpang pesawat yang boleh. Seperti orang yang tak pernah tahu aturan, keinginan untuk bersama opah, entah bagaimana mereka semuanya dapat masuk dan duduk ditempat check in. Dalam kesedihan itu aku masih dapat tertawa.
Cucu-cucuku berdoa semoga hari itu kapal terbang penuh, opah tak dapat berangkat, mereka tahu tiketku waiting list. Sedangkan aku kerisauan mengingat visa terbatas.
Akhirnya namaku dipanggil, dengan sifatku yang selalu gopoh ini aku cepat-cepat pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Aku terburu-buru mengikut arus orang ramai untuk pemeriksaan imiggresen. Setelah jauh baru aku tersedar cucu-cucu yang aku tinggalkan, dari celah-celah orang ramai dapat kulihat mereka semuanya terpaku tidak bergerak memperhatikan gelagatku yang gegabah itu. Ingin aku menjerit memanggil mereka, tetapi kulihat mereka dengan kecewa bergerak perlahan menjauh dari situ.
Di atas kapal terbang aku tumpahkan kesedihanku yang sejak tadi tertahan, aku menangis, air mataku tak mahu berhenti, terbayang olehku wajah-wajah cucu-cucuku yang kecewa dengan sikapku. Betapa mereka mengharapkan lambaian dari opah yang akan meninggalkan mereka di kota Doha. Kota yang sangat sepi bagi mereka yang jauh dari sanak saudara dan handai taulan.
Permulaan November 2011. O P A H
Sunday, 26 February 2012
HATI-HATI ROBEAH
HATI-HATI ROBEAH
Main roundes ala kampung, sangat menyeronokkan kanak- kanak pekan kecil Tapah Road.
"Lili, cepat tangkap bola itu, cepat Lili cepat !!!!!!!!!! Tangkap bola tu Lili !!!!!!!!!!!!", terdengar suara- suara anak-anak yang bermain bersama Lili.
Lili berlari mundur ke belakang menangkap bola itu dan berjaya, bola bersarang di tangan Lili yang tidak seberapa besar itu.
"Kita menang Lili !!!!!!!!! Kita menang !!!!!!!!!!!", terdengar suara-suara bergembira.
"Memanglah kome menang, kome masuk kumpulan Lili, besok kalau main aku nak masuk kumpulan Lili supaya menang," terdengar seorang kawan Lili tak puas hati.
"Kita main sama-sama, kita berusaha sama-sama, barulah kita boleh menang," terdengar suara Lili memberikan penjelasan.
"Kamipun berusaha juga tapi kenapa kami kalah ?" jawab kawan Lili tadi.
"Beginilah, hari ini kita rehat dulu, besok atau lusa kalau ada masa kita berlatih dulu sebelun bermain supaya adil dalam pemilihan kumpulan". terdengar suara Lili menenangkan hati kawannya yang tak puas hati itu.
Permainan hari itu selesai Lili tak sedap hati, sebab ada kawannya yang tak puas hati dia tak mau terjadi perselisihan diantara kawan-kawanya, takut terjadi pergaduhan.
"Sementara waktu ini lebih baik tidak bermain roundes dulu", pikir Lili.
"Lili jom kita pergi ke stesen keretapi, kita main-main disana. Tadi kamu main dengan
budak-budak kecil, kamu lebih sesuai main dengan kita-kita ini", terdengar ajakan kak Imah
Lilipun bersemangat diajak kak Imah main ke stesen keretapi.
"Siapa yang ikut kak ?"Lili bertanya ingin tahu.
"Ramai yang pergi kalau kamu tak pergi , kamu rugi tentu disana kita seronok", kak Imah menjekaskan.
Lili terasa ragu-ragu, maknya tidak akan membenarkan dia pergi, tetapi hatinya ingin sekali pergi. Banyak kawan-kawan yang besar-besar ikut serta pasti mereka akan membuat suasana jadi meriah.
"Jom lah Lili, kita sekejap je sebelum magrib kita sudah sampai di rumah", kak Imah menjelaskan.
Lili ingin sekali pergi, jarang sekali dia dapat pergi ke stesen itu, suasana di situ lain dari suasana tempat dia biasa bermain. Disana dia dapat melihat ramai orang, keretapi yang lalu lalang disitu menimbulkan minat Lili untuk pergi kesuatu tempat yang lain suatu hari nanti. Dia juga berharap suatu ketika nanti dapat melihat tempat-tempat yang belum pernah dilihatnya.Tentulah tempat itu tempat yang luar biasa. Bermacam-macam khayalan Lili ketika itu.
"Jom Lili kita pergi, kita berlari-lari kesana supaya cepat sampai, mungkin orang lain sudah sampai ke sana kita saja yang lambat", kak Imah meggesa Lili.
Dengan berlari-lari kecil merekapun sampai kestesen itu, memang betul sudah ramai kawan-kawan lainnya berkumpul di stesen itu, semuanya tertawa riang gembira melihat kedatangan mereka.
"Mari kita main kejar-kejaran melintasi jembatan ini", ajak Oneh penuh semangat .
" Jom !!!!! jom, jom!!!!!! Jom, jom, jom !!!!!!!!" teriak kawan-kawan yang lain.
Lili berpikir-pikir, kalau dia ikut serta pastilah dia kalah saja, tentulah dari awal hingga akhir dialah yang jadi tukang kejar. Kawan-kawan yang lain akan mentertawakan dia.
Tetapi kalau tidak ikut serta tentulah tidak dapat ikut bergembira, semua orang tertawa riang , apakah dia hanya akan tersengih saja tanpa rasa seronok ?
Tanpa berpikir panjang Lili menerima tawaran untuk ikut serta, dia akan berusaha lari sekencang-kencangnya, dia harus berlatih lari kencang, Lili yakin pasti boleh.
Memang betul sekarang giliran Lili yang harus mengejar kawan-kawannya, Lili dimain-
mainkan oleh teman-temannya itu.
"Tangkap aku Lili, aku hanya berjalan, takkan tak dapat tangkap aku", terdengar suara temannya mempermainkan Lili. Lili berlari mengejar kawan-kawannya itu, dengan pantas kawan-kawannya itu berlari turun tangga , dan cepat pula naik tangga jembatan itu
Sekarang Lili berazam untuk mendapatkan salah seorang dari mereka, dia tidak mau hanya jadi tukang kejar, dia ingin pula jadi orang yang dikejar dan dapat pula mempermain-mainkan orang lain.
"Tangkap aku Lili", terdengar suara Robeah. Lili berlari sekuat-kuat tenaganya mengejar Ro , sehingga sampailah Ro dekat tangga , dan harus menuruni tangga itu.
"Hati-hati Robeah, Lili sudah dekat ", terdengar suara memperingatkan Ro .
Ro terpaksa perlahan untuk menuruni tangga, dengan kencangnya Lilipun sampai ketempat itu digeselnya badan Ro, tanpa disadari tangan Lili terlalu kuat menggesel badan Ro, sebab dia berlari terlalu kencang, badan Ro tertolak dengan kuat, Ro tak dapat mengawal dirinya dan Ro terjatuh dua anak tangga.
Lili terpaku melihat Ro, mukanya pucat tidak tahu apa yang akan dibuatnya. Dilihatnya kepala Ro berdarah. Tiba-tiba kak Imah datang memanggil Lili.
"Lili cepat lari, mari kita lari nanti kita kena tangkap, cepat lari !!!!!!!!!!!! ", Lili cepat lari mengikut kak Imah.
Kak Imah membawa Lili bersembunyi dalam polongan air di bawah jalan.
"Macam mana Ro kak ?" Lili bertanya hampir menangis.
"Akakpun tak tahu, kamu yang menolak Ro akak takut kamu kena tangkap, itu sebab akak bawa kamu lari", kak Imah memberi penjelasan.
Bermacam-macam berlega-lega dalam pikiran Lili, dia kasian dengan Ro, tak tahu pula nasib Ro macam mana dan tak dapat menolong Ro, takut pula dia kena tangkap kalau
orang tahu dia yang menolak Ro.
Tambah lagi ketakutan Lili, waktu pergi tidak minta izin dengan emaknya, pastilah dia akan dimarahi emaknya dirumah nanti.
"Kak tadi kita tidak minta izin dengan emak, itulah sebabnya Lili ditimpa sial hari ini",
Lili menyesali dirinya hampir menangis ketakutan.
"Lain kali kita tidak buat lagi seperti ini ya Lili ?" kak Imah membujuk Lili.
"Macam mana ni kak, Lili takut, hari sudah mulai gelap", Lili sangat ketakutan.
"Mari kita keluar, kita balik rumah, sampai di rumah cepat mandi, pakai baju cantik-cantik, tolong mak sapu rumah, bersihkan cempeni lampu dan pasang, kalau kamu rajin, tentulah mak kamu tak marah. Mari kita berlari balik supaya cepat sampai", Kak Imah mengajar Lili apa yang harus dilakukan sesampai dirumah.
Dengan terengah-engah mereka sampai di rumah, Lili mengikuti semua nasehat kak Imah
Hari bertambah gelap, lampu sudah dinyalakan, Lili duduk diam-diam menunggu apa yang akan terjadi. Dipasangnya telinganya terdengar suara riuh di luar sana.
"Mana dia budak Azmah dan budak Laili dua orang tu, tengoklah anak aku berbalut kepalanya, ditolak oleh budak berdua tu di stesen keretapi. Nasib baik ada jaga distesen tu kalau tidak anak aku terbiar kat situ. Mana dia budak berdua tu", terdengar suara mak Robeah marah-marah di luar sana.
"Mana ada kak, depa dua orang tu ada di rumah, tak ada kemana-mana , entah siapa yang jahat dengan anak akak, kita di rumah mana tahu ?", suara emak Lili mebelamereka berdua.
"Lili apa yang engkau buat degan Robeah, tadi emaknya datang menyerang betulkah kamu yang menolak anaknya ", tanya emak Lili agak marah.
"Betul mak Lili yang menolak Ro, Lili tak sengaja, Lili mintak maaf dengan mak , tak minta izin pergi bemain-main dekat stesen siang tadi", jawab Lili jujur.
"Lain kali jangan buat lagi, jadikanlah ini pengajaran , kalau tak minta izin dengan mak tentu akan dapat bahaya", mak Lili mengajar anaknya.
Besoknya Lili pergi melihat Ro , balut kepalanya masih berbekas darah, Lili sangat sedih dia minta maaf dengan Ro dan juga emaknya. Walaupun mak Ro marah besar , Lili terpaksa menahan semuanya. Peristiwa ini dijadikan oleh Lili sebuah pengajaran.
Main roundes ala kampung, sangat menyeronokkan kanak- kanak pekan kecil Tapah Road.
"Lili, cepat tangkap bola itu, cepat Lili cepat !!!!!!!!!! Tangkap bola tu Lili !!!!!!!!!!!!", terdengar suara- suara anak-anak yang bermain bersama Lili.
Lili berlari mundur ke belakang menangkap bola itu dan berjaya, bola bersarang di tangan Lili yang tidak seberapa besar itu.
"Kita menang Lili !!!!!!!!! Kita menang !!!!!!!!!!!", terdengar suara-suara bergembira.
"Memanglah kome menang, kome masuk kumpulan Lili, besok kalau main aku nak masuk kumpulan Lili supaya menang," terdengar seorang kawan Lili tak puas hati.
"Kita main sama-sama, kita berusaha sama-sama, barulah kita boleh menang," terdengar suara Lili memberikan penjelasan.
"Kamipun berusaha juga tapi kenapa kami kalah ?" jawab kawan Lili tadi.
"Beginilah, hari ini kita rehat dulu, besok atau lusa kalau ada masa kita berlatih dulu sebelun bermain supaya adil dalam pemilihan kumpulan". terdengar suara Lili menenangkan hati kawannya yang tak puas hati itu.
Permainan hari itu selesai Lili tak sedap hati, sebab ada kawannya yang tak puas hati dia tak mau terjadi perselisihan diantara kawan-kawanya, takut terjadi pergaduhan.
"Sementara waktu ini lebih baik tidak bermain roundes dulu", pikir Lili.
"Lili jom kita pergi ke stesen keretapi, kita main-main disana. Tadi kamu main dengan
budak-budak kecil, kamu lebih sesuai main dengan kita-kita ini", terdengar ajakan kak Imah
Lilipun bersemangat diajak kak Imah main ke stesen keretapi.
"Siapa yang ikut kak ?"Lili bertanya ingin tahu.
"Ramai yang pergi kalau kamu tak pergi , kamu rugi tentu disana kita seronok", kak Imah menjekaskan.
Lili terasa ragu-ragu, maknya tidak akan membenarkan dia pergi, tetapi hatinya ingin sekali pergi. Banyak kawan-kawan yang besar-besar ikut serta pasti mereka akan membuat suasana jadi meriah.
"Jom lah Lili, kita sekejap je sebelum magrib kita sudah sampai di rumah", kak Imah menjelaskan.
Lili ingin sekali pergi, jarang sekali dia dapat pergi ke stesen itu, suasana di situ lain dari suasana tempat dia biasa bermain. Disana dia dapat melihat ramai orang, keretapi yang lalu lalang disitu menimbulkan minat Lili untuk pergi kesuatu tempat yang lain suatu hari nanti. Dia juga berharap suatu ketika nanti dapat melihat tempat-tempat yang belum pernah dilihatnya.Tentulah tempat itu tempat yang luar biasa. Bermacam-macam khayalan Lili ketika itu.
"Jom Lili kita pergi, kita berlari-lari kesana supaya cepat sampai, mungkin orang lain sudah sampai ke sana kita saja yang lambat", kak Imah meggesa Lili.
Dengan berlari-lari kecil merekapun sampai kestesen itu, memang betul sudah ramai kawan-kawan lainnya berkumpul di stesen itu, semuanya tertawa riang gembira melihat kedatangan mereka.
"Mari kita main kejar-kejaran melintasi jembatan ini", ajak Oneh penuh semangat .
" Jom !!!!! jom, jom!!!!!! Jom, jom, jom !!!!!!!!" teriak kawan-kawan yang lain.
Lili berpikir-pikir, kalau dia ikut serta pastilah dia kalah saja, tentulah dari awal hingga akhir dialah yang jadi tukang kejar. Kawan-kawan yang lain akan mentertawakan dia.
Tetapi kalau tidak ikut serta tentulah tidak dapat ikut bergembira, semua orang tertawa riang , apakah dia hanya akan tersengih saja tanpa rasa seronok ?
Tanpa berpikir panjang Lili menerima tawaran untuk ikut serta, dia akan berusaha lari sekencang-kencangnya, dia harus berlatih lari kencang, Lili yakin pasti boleh.
Memang betul sekarang giliran Lili yang harus mengejar kawan-kawannya, Lili dimain-
mainkan oleh teman-temannya itu.
"Tangkap aku Lili, aku hanya berjalan, takkan tak dapat tangkap aku", terdengar suara temannya mempermainkan Lili. Lili berlari mengejar kawan-kawannya itu, dengan pantas kawan-kawannya itu berlari turun tangga , dan cepat pula naik tangga jembatan itu
Sekarang Lili berazam untuk mendapatkan salah seorang dari mereka, dia tidak mau hanya jadi tukang kejar, dia ingin pula jadi orang yang dikejar dan dapat pula mempermain-mainkan orang lain.
"Tangkap aku Lili", terdengar suara Robeah. Lili berlari sekuat-kuat tenaganya mengejar Ro , sehingga sampailah Ro dekat tangga , dan harus menuruni tangga itu.
"Hati-hati Robeah, Lili sudah dekat ", terdengar suara memperingatkan Ro .
Ro terpaksa perlahan untuk menuruni tangga, dengan kencangnya Lilipun sampai ketempat itu digeselnya badan Ro, tanpa disadari tangan Lili terlalu kuat menggesel badan Ro, sebab dia berlari terlalu kencang, badan Ro tertolak dengan kuat, Ro tak dapat mengawal dirinya dan Ro terjatuh dua anak tangga.
Lili terpaku melihat Ro, mukanya pucat tidak tahu apa yang akan dibuatnya. Dilihatnya kepala Ro berdarah. Tiba-tiba kak Imah datang memanggil Lili.
"Lili cepat lari, mari kita lari nanti kita kena tangkap, cepat lari !!!!!!!!!!!! ", Lili cepat lari mengikut kak Imah.
Kak Imah membawa Lili bersembunyi dalam polongan air di bawah jalan.
"Macam mana Ro kak ?" Lili bertanya hampir menangis.
"Akakpun tak tahu, kamu yang menolak Ro akak takut kamu kena tangkap, itu sebab akak bawa kamu lari", kak Imah memberi penjelasan.
Bermacam-macam berlega-lega dalam pikiran Lili, dia kasian dengan Ro, tak tahu pula nasib Ro macam mana dan tak dapat menolong Ro, takut pula dia kena tangkap kalau
orang tahu dia yang menolak Ro.
Tambah lagi ketakutan Lili, waktu pergi tidak minta izin dengan emaknya, pastilah dia akan dimarahi emaknya dirumah nanti.
"Kak tadi kita tidak minta izin dengan emak, itulah sebabnya Lili ditimpa sial hari ini",
Lili menyesali dirinya hampir menangis ketakutan.
"Lain kali kita tidak buat lagi seperti ini ya Lili ?" kak Imah membujuk Lili.
"Macam mana ni kak, Lili takut, hari sudah mulai gelap", Lili sangat ketakutan.
"Mari kita keluar, kita balik rumah, sampai di rumah cepat mandi, pakai baju cantik-cantik, tolong mak sapu rumah, bersihkan cempeni lampu dan pasang, kalau kamu rajin, tentulah mak kamu tak marah. Mari kita berlari balik supaya cepat sampai", Kak Imah mengajar Lili apa yang harus dilakukan sesampai dirumah.
Dengan terengah-engah mereka sampai di rumah, Lili mengikuti semua nasehat kak Imah
Hari bertambah gelap, lampu sudah dinyalakan, Lili duduk diam-diam menunggu apa yang akan terjadi. Dipasangnya telinganya terdengar suara riuh di luar sana.
"Mana dia budak Azmah dan budak Laili dua orang tu, tengoklah anak aku berbalut kepalanya, ditolak oleh budak berdua tu di stesen keretapi. Nasib baik ada jaga distesen tu kalau tidak anak aku terbiar kat situ. Mana dia budak berdua tu", terdengar suara mak Robeah marah-marah di luar sana.
"Mana ada kak, depa dua orang tu ada di rumah, tak ada kemana-mana , entah siapa yang jahat dengan anak akak, kita di rumah mana tahu ?", suara emak Lili mebelamereka berdua.
"Lili apa yang engkau buat degan Robeah, tadi emaknya datang menyerang betulkah kamu yang menolak anaknya ", tanya emak Lili agak marah.
"Betul mak Lili yang menolak Ro, Lili tak sengaja, Lili mintak maaf dengan mak , tak minta izin pergi bemain-main dekat stesen siang tadi", jawab Lili jujur.
"Lain kali jangan buat lagi, jadikanlah ini pengajaran , kalau tak minta izin dengan mak tentu akan dapat bahaya", mak Lili mengajar anaknya.
Besoknya Lili pergi melihat Ro , balut kepalanya masih berbekas darah, Lili sangat sedih dia minta maaf dengan Ro dan juga emaknya. Walaupun mak Ro marah besar , Lili terpaksa menahan semuanya. Peristiwa ini dijadikan oleh Lili sebuah pengajaran.
Thursday, 23 February 2012
SIAPAKAH KANAK-KANAK ITU ??? ( 1 )
Kanak-kanak adalah kanak-kanak bukan orang dewasa yang size badannya kecil.
cara mereka bergerak, cara mereka berpikir, apa yang mereka suka, keadaan fizikal mereka jauh berbeda dari orang dewasa.
Disebabakan perbedaan inilah orang dewasa tidak dapat memaksakan kehendak hati kepada anak-anak mereka. Para ibu bapa selalu memaksa anak-anak mereka belajar, tetapi anak tidak mahu, pekara sebegini adalah perkara biasa. Kita orang dewasa tidak dapat memaksa kan kehendak hati kepada kanak-kanak. Lebih-lebih lagi kalau masa peka kanak-kanak itu belum tiba. Orang dewasa meleter, kanak-kanak taidak mengerti mengapa orang-orang dewasa ini suka meleter. Walaupun ada diantara kanak-kanak itu mengerti apa maksud leter ibu bapanya tetapi mereka hairan mengapa harus maleter, walaupun kita jelaskan tetap mereka tidak mengikutnya . Mengapa ?
Kanak-kanak itu ada dunia sendiri, mereka hidup dalam dunia mereka, mereka yang menentukan apa kehendak hati mereka . Alam semula jadi kanak-kanak adalah bermain, mereka mencari kehendak hati mereka, mereka ingin mengetahui alam ini dengan cara mereka sendiri, kadang-kadang mereka merusakkan barang-barang, kadang- kadang mereka sengaja membuang dan menghempaskan, sebab mereka ingin tahu apa jadinya barang tersebut sesudah dihempaskan itu.
Kanak-kanak suka berlari-lari dan melompat-lompat, orang dewasa selalu marah-marah, lebih-lebih lagi kalau melompat-lompat di kursi atau di tempat tidur. Biasanya orang tua marah dan memukul anak-anak mereka. Kanak kanak itu disuruh duduk diam-diam. tentulah ini tidak boleh, sebab fizikal mereka menghendaki supaya mereka bergerak, berlari, melompat, memanjat dan lain sebagainya. Mereka tidak menghiraukan berbahaya atau tidak, yang penting harus bergerak sebab begitulah kehendak semula jadi tubuh kecil mereka itu. Selalunya orang tua melarang, meleter dan kadang-kadang memukul anak itu.
Apakah betul tindakan orang itu seperti itu ? Tentunya kurang betul. Bagaimana yang betul ? Orang tua harus mencarikan tempat yang sesuai, harus menjaga dari bahaya.
Biarkan mereka menggerakkan badan mereka sesuai dengan kehendak alam mereka. Leter orang dewasa hanya akan menimbulkan dendam di hati kanak-kanak.
Ada juga kanak-kanak suka berbohong, kadang-kadang dia mengatakan melihat seekor ular padahal yang dilihatnya itu hanyalah seekor cacing dan berbohong yang lain yang seumpamanya. Orang dewasa meleter, marah-marah sedangkan kanak-kanak itu hairan mengapa kita marah-marah.
Kadang-kadang kanak kanak suka berkhayal, bercakap-cakap seorang diri tanpa teman, suka memakai baju superman, main pistol tembak-tembak, ingin jadi askar. Banyak lagi keinginan mereka. Ini juga adalah salah satu dunia mereka.
Orang tua yang tidak mahu memahami dunia kanak-kanak ini hanya pandai marah-marah,
Apa yang terjadi kalau selalu marah marah ?
Dalam hati kanak-kanak timbul dendam, jiwanya jadi keras, tidak ada kasih sayang dalam dirinya. Dia jadi orang yang kasar hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah berpikir, tentang orang lain, jadi orang yang pemarah sebagaimana dia dimarahi dulu.
Kita tidak mahu anak kita jadi begini kan ? Didiklah anak-anak dengan penuh kasih sayang, dia akan jadi seorang yang penyayang, selalu memikirkan orang lain akan menjadi orang yang ikhlas , jujur dan periang, dan menggembirakan orang lain.
***********
cara mereka bergerak, cara mereka berpikir, apa yang mereka suka, keadaan fizikal mereka jauh berbeda dari orang dewasa.
Disebabakan perbedaan inilah orang dewasa tidak dapat memaksakan kehendak hati kepada anak-anak mereka. Para ibu bapa selalu memaksa anak-anak mereka belajar, tetapi anak tidak mahu, pekara sebegini adalah perkara biasa. Kita orang dewasa tidak dapat memaksa kan kehendak hati kepada kanak-kanak. Lebih-lebih lagi kalau masa peka kanak-kanak itu belum tiba. Orang dewasa meleter, kanak-kanak taidak mengerti mengapa orang-orang dewasa ini suka meleter. Walaupun ada diantara kanak-kanak itu mengerti apa maksud leter ibu bapanya tetapi mereka hairan mengapa harus maleter, walaupun kita jelaskan tetap mereka tidak mengikutnya . Mengapa ?
Kanak-kanak itu ada dunia sendiri, mereka hidup dalam dunia mereka, mereka yang menentukan apa kehendak hati mereka . Alam semula jadi kanak-kanak adalah bermain, mereka mencari kehendak hati mereka, mereka ingin mengetahui alam ini dengan cara mereka sendiri, kadang-kadang mereka merusakkan barang-barang, kadang- kadang mereka sengaja membuang dan menghempaskan, sebab mereka ingin tahu apa jadinya barang tersebut sesudah dihempaskan itu.
Kanak-kanak suka berlari-lari dan melompat-lompat, orang dewasa selalu marah-marah, lebih-lebih lagi kalau melompat-lompat di kursi atau di tempat tidur. Biasanya orang tua marah dan memukul anak-anak mereka. Kanak kanak itu disuruh duduk diam-diam. tentulah ini tidak boleh, sebab fizikal mereka menghendaki supaya mereka bergerak, berlari, melompat, memanjat dan lain sebagainya. Mereka tidak menghiraukan berbahaya atau tidak, yang penting harus bergerak sebab begitulah kehendak semula jadi tubuh kecil mereka itu. Selalunya orang tua melarang, meleter dan kadang-kadang memukul anak itu.
Apakah betul tindakan orang itu seperti itu ? Tentunya kurang betul. Bagaimana yang betul ? Orang tua harus mencarikan tempat yang sesuai, harus menjaga dari bahaya.
Biarkan mereka menggerakkan badan mereka sesuai dengan kehendak alam mereka. Leter orang dewasa hanya akan menimbulkan dendam di hati kanak-kanak.
Ada juga kanak-kanak suka berbohong, kadang-kadang dia mengatakan melihat seekor ular padahal yang dilihatnya itu hanyalah seekor cacing dan berbohong yang lain yang seumpamanya. Orang dewasa meleter, marah-marah sedangkan kanak-kanak itu hairan mengapa kita marah-marah.
Kadang-kadang kanak kanak suka berkhayal, bercakap-cakap seorang diri tanpa teman, suka memakai baju superman, main pistol tembak-tembak, ingin jadi askar. Banyak lagi keinginan mereka. Ini juga adalah salah satu dunia mereka.
Orang tua yang tidak mahu memahami dunia kanak-kanak ini hanya pandai marah-marah,
Apa yang terjadi kalau selalu marah marah ?
Dalam hati kanak-kanak timbul dendam, jiwanya jadi keras, tidak ada kasih sayang dalam dirinya. Dia jadi orang yang kasar hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah berpikir, tentang orang lain, jadi orang yang pemarah sebagaimana dia dimarahi dulu.
Kita tidak mahu anak kita jadi begini kan ? Didiklah anak-anak dengan penuh kasih sayang, dia akan jadi seorang yang penyayang, selalu memikirkan orang lain akan menjadi orang yang ikhlas , jujur dan periang, dan menggembirakan orang lain.
***********
Tuesday, 21 February 2012
BASA BASI SESETENGAH MELAYU SUATU....
Memakai baju baru, memang kegembiraan yang luar biasa bagi kanak-kanak. Setengah kanak-kanak memakai baju baru hanya dirasakan sekali setahun.
Kak Imah dan Lili hari itu juga memakai baju baru. Mereka akan pergi menggayakan baru baru mereka mengunjungi guru-guru dan bertemu dengan kawan-kawan serta bermaaf-maafan di hari raya yang mulia ini.
Rumah guru besar itu, kelihatan bersih, semua tersusun rapi. Ketika Lili masuk keruang tamu bersama kak Imah, mereka agak malu-malu. Kanak-kanak lain sudah ramai duduk di ruangan itu . Ada sedikit tempat kosong, duduklah mereka di situ.
Beberapa orang perempuan menghidangkan kueh-kue dan minuman untuk para tamu.
Sebab terlalu ramai, kueh-kueh itu diletakkan terpencar-pencar mengikut jumlah tetamunya. Setelah hidangan selesai, guru besarpun datang menjemput para tetamunya menikmati hidangan yang disediakan.
Lili dan kak Imah mengambil gelas masing-masing dan minum sedikit-sedikit. Tangan Lili menjangkau kueh yang dihidangkan didepannya.
"Sedap betul kueh ini ", Lili berkata dalam hatinya. epat-cepat kueh itu dihabiskannya, tangannya mulai menjangkau kueh itu sekali lagi. Tiba- tiba kak Imah mencubit tangannya. "Kak Lili nak ambil kueh itu", kata Lili.
"Kan tadi sudah kamu ambil sebiji, apa lagi", Jawab kak Imah.
"Lili nak lagi", Lili menjelaskan.
"Tak boleh Lili, nanti orang akan mengata kita. Nanti orang kata kita rakus, tak malu, dan tak tahu budi bahasa bertamu ke rumah orang", kak Imah menjelaskan panjang lebar.
"Kak Lili bertul-betul teringin makan kueh tu kak", Lili merayu kepada kakaknya supaya dia diizinkan mengambil kueh itu sebiji lagi.
Lili menghulurkan tangannya untuk mengambil kueh itu, tetapi tiba-tiba tangannya di tepis oleh kak Imah. Lili sangat sedih dipandangnya kueh-kueh itu, berbagai macam rupanya, baru satu kueh yang dimakannya. Untuk mengambil satu lagipun tak dapat apalagi untuk mengambil yang lain-lain yang jauh dari tempat mereka duduk mereka.
"Kak satu saja lagi kak, Lili teringin sangat ", Lili merayu sekali lagi.
"Tak boleh, tak paham ke ? nanti aku cubit sekali lagi", kak Imah memarahinya.
Lili memandang kawan-kawannya yang lain ada juga, mengambil kueh sekali lagi, dipandangnya kawannya itu memasukkan kueh itu ke mulutnya dan mengunyahnya, terlalu nikmat rupanya.
"Kak budak itu mengambil satu lagi kueh itu, tak apa pun, kenapa Lili tak boleh ?" Lili bertanya tak puas hati.
"Budak itu tak reti basa basi, tak malu, nampak rakus di depan orang ramai, kita tak mau macam tu, kita harus jaga sopan santun di depan orang ramai apalagi di rumah guru kita".
Kak Imah menjelaskan dengan panjang lebar.
Air mata Lili tergenang di pelupuk matanya mendengarkan penjelasan kakak sepupunya itu. Sampailah waktu bersurai Lili tak dapat berkata-kata menahan sedihnya.
Begitulah basa basi sesetengah orang Melayu suatu ketika dulu.
Kak Imah dan Lili hari itu juga memakai baju baru. Mereka akan pergi menggayakan baru baru mereka mengunjungi guru-guru dan bertemu dengan kawan-kawan serta bermaaf-maafan di hari raya yang mulia ini.
Rumah guru besar itu, kelihatan bersih, semua tersusun rapi. Ketika Lili masuk keruang tamu bersama kak Imah, mereka agak malu-malu. Kanak-kanak lain sudah ramai duduk di ruangan itu . Ada sedikit tempat kosong, duduklah mereka di situ.
Beberapa orang perempuan menghidangkan kueh-kue dan minuman untuk para tamu.
Sebab terlalu ramai, kueh-kueh itu diletakkan terpencar-pencar mengikut jumlah tetamunya. Setelah hidangan selesai, guru besarpun datang menjemput para tetamunya menikmati hidangan yang disediakan.
Lili dan kak Imah mengambil gelas masing-masing dan minum sedikit-sedikit. Tangan Lili menjangkau kueh yang dihidangkan didepannya.
"Sedap betul kueh ini ", Lili berkata dalam hatinya. epat-cepat kueh itu dihabiskannya, tangannya mulai menjangkau kueh itu sekali lagi. Tiba- tiba kak Imah mencubit tangannya. "Kak Lili nak ambil kueh itu", kata Lili.
"Kan tadi sudah kamu ambil sebiji, apa lagi", Jawab kak Imah.
"Lili nak lagi", Lili menjelaskan.
"Tak boleh Lili, nanti orang akan mengata kita. Nanti orang kata kita rakus, tak malu, dan tak tahu budi bahasa bertamu ke rumah orang", kak Imah menjelaskan panjang lebar.
"Kak Lili bertul-betul teringin makan kueh tu kak", Lili merayu kepada kakaknya supaya dia diizinkan mengambil kueh itu sebiji lagi.
Lili menghulurkan tangannya untuk mengambil kueh itu, tetapi tiba-tiba tangannya di tepis oleh kak Imah. Lili sangat sedih dipandangnya kueh-kueh itu, berbagai macam rupanya, baru satu kueh yang dimakannya. Untuk mengambil satu lagipun tak dapat apalagi untuk mengambil yang lain-lain yang jauh dari tempat mereka duduk mereka.
"Kak satu saja lagi kak, Lili teringin sangat ", Lili merayu sekali lagi.
"Tak boleh, tak paham ke ? nanti aku cubit sekali lagi", kak Imah memarahinya.
Lili memandang kawan-kawannya yang lain ada juga, mengambil kueh sekali lagi, dipandangnya kawannya itu memasukkan kueh itu ke mulutnya dan mengunyahnya, terlalu nikmat rupanya.
"Kak budak itu mengambil satu lagi kueh itu, tak apa pun, kenapa Lili tak boleh ?" Lili bertanya tak puas hati.
"Budak itu tak reti basa basi, tak malu, nampak rakus di depan orang ramai, kita tak mau macam tu, kita harus jaga sopan santun di depan orang ramai apalagi di rumah guru kita".
Kak Imah menjelaskan dengan panjang lebar.
Air mata Lili tergenang di pelupuk matanya mendengarkan penjelasan kakak sepupunya itu. Sampailah waktu bersurai Lili tak dapat berkata-kata menahan sedihnya.
Begitulah basa basi sesetengah orang Melayu suatu ketika dulu.
Monday, 20 February 2012
L I L I P I K I R ,MACAM MANA NAK TURUN
LILI PIKIR, MACAM MANA NAK TURUN
"Lili cepatlah panjat, seronok main kejar-kejaran di atas pokok ni, kamu saja yang tinggal
di bawah tu", terdengar suara kak Imah dari atas pokok besar itu.
Lili memandang ke atas, memang seronok sangat nampaknya kawan-kawannya berlari-lari dari cabang ke cabang pohon itu, cabangnya banyak semakin ke atas cabangnya semakin dekat-dekat dan banyak, sangat senang melangkah dari satu cabang ke cabang lain.
"Kamu tak takut ke Lili seorang diri dibawah pokok tu, tak ada siapa- siapa di situ", terdengar lagi teriakan kawannya dari atas pokok.
Lili memandang sekeliling, memang tidak ada orang di situ, hatinya menjadi risau, menyesal dia pergi dengan kawan-kawannya yang besar-besar itu, hanya dia seorang saja yang kecil.
Lili mencuba lagi memeluk batang pohon yang besar itu untuk memanjat, tapi tak boleh , tangannya tak sampai, Lili mula merasa takut. Sebentar-sebentar Lili memandang ke atas melihat kawan-kawannya bergembira berkejar-kejaran di atas pokok itu. Sambil berpikir-pikir Lili berjalan di bawah pohon, ternampak olehnya sebatang pohon kecil tumbuh, dekat pokok besar itu, dan batangnya berdekatan dengan salah satu cabang pokok besar itu.
Lili mendapat akal, dipanjatnya pokok kecil itu sehingga dia dapat berpijak pada dahan pertama pokok besar itu. Usaha Lili mulai mudah, dahan pertama sudah dapat dipijaknya
untuk sampai kepada dahan yang di atas Lili hanya perlu berpaut dan menggerakkan badannya sedikit ke atas, laluan sekarang sangat mudah, jarak antara dahan semakin ke atas semakin dekat. Sekarang Lili dapat bermain kejar- kejaran di atas pokok itu .
Sungguh sangat menggembirakan hati semua kawan-kawannya.
Tidak terasa waktu berlalu sangat pantas, terdengar azan magrib dari kejauhan.
"Sudah magrib, sudah magrib . Jom turun , balik rumah", terdengar suara kak Imah mengajak kawan-kawannya turun. Semuanya cepat meluru ke bawah.
Langkah Lili semakin ke bawah semakin perlahan, jarak antara dahan ke dahan semakin jauh. Akhirrnya Lili tinggal seorang di atas pokok itu.
"Cepat Lili", terdengar suara kawan-kawannya memanggil.
"Nanti kita kena marah , emak-emak kita akan risau kalau kita lambat balik", terdengar suara kawannya yang lain.
"Kaki Lili tak sampai nak pijak dahan bawah ni", suara Lili terdengar sangat risau.
"Kenapa tak sampai pula, tadi kamu naik macam mana ???" terdengar suara kak Imah agak heran. Semua mereka memandang ke atas melihat Lili.
Lili pun heran kenapa tadi dia dapat naik, kenapa tak dapat turun sekarang ini, kenapa kakinya tak sampai, padahal masih ada beberapa dahan ke bawahnya lagi, untuk sampai ke pokok kecil yang dipanjatnya tadi. Lili mencuba lagi, dia duduk diatas dahan, dijulurkannya kakinya untuk mencapai dahan di bawahnya. Terasa kakinya menyentuh dahan, dengan beraninya Lili bergayut dan turun ke dahan bawah.
Masih ada dua lagi dahan yang harus dituruninya. Dilakukannya seperti tadi, tetapi kali ini ushanya sia-sia kakinya tak dapat menyentuh dahan yang dibawah. Bekali kali di cubanya tetap tidak kesampaian.
"Cepat Lili kami nak balik, nanti kamu tinggal sendiri di atas pokok itu, kamu lambat betul nanti mak aku marah", terdengar pula suara kawannya yang lain.
Lili mula menangis, dilayangkannya pandangannya kebawah pohon, semua kawan-kawannya mendongak ke atas memandang Lili, semuanya seperti ketakutan.
"Lili pikir ....!!!! macam mana nak turun ........!!!!", terdengar suara kak Imah.
"Macam mana ni kak........... kaki Lili tak sampai kak, nanti Lili jatuh ", terdengar suara Lili dalam tangisan, sambil kakinya mencuba mencari dahan di bawah.
"Cepat Lili.........!!!!!!! Macam mana kami nak tolong .....!!!!! Tadi kamu boleh naik , heran pula kenapa kamu tak dapat turun ??????", terdengar suara kak Imah.
"Kak.............!!!!!!! Macam mana ni .............. macam mana ni............!!!!!".
Semuanya diam sambil mendongak ke atas, semua terpaku melihat Lili di atas pokok.
"Kak jangan balik kak, tunggu Lili, Lili takut kak.................!!!!!!!!!!!!" terdengar suara Lili dalam tangisannya. Semua tak berani bersuara, dan tidak berniat meninggalkan Lili diatas pokok seorang diri walaupun hari sudah agak gelap, walaupun semuanya tahu sampai di rumah masing-masing akan dimarahi.
Lili memperhatikan dahan demi dahan di dekatnya, dilihatnya pula ke bawah nampak onggokan sampah. Tanpa berpikir panjang Lili memeluk dahan tempat duduknya, perlahan-lahan digerakkannya badannya menuju ujung dahan itu. Disebabkan berat badan Lili dahan itu merunduk ke bawah. Setelah Lili sampai di ujung dahan Lili melompat ketempat onggokkan sampah dibawah pohon.
Lili selamat sampai ke bawah , hanya kaki dan tangannya calar-calar sedikit terkena ranting-ranting di bawah pokok dan sampah-sampah dan kayu-kayu di situ.
Walaupun terasa sakit Lili tersenyum memandang semua kawan-kawannya yang setia menantikannya di bawah pohon.
"Lili aku bangga dengan kamu dalam keadaan yang susah kamu masih dapat berpikir, untuk menyelamatkan diri kamu turun dari pokok yang tinggi itu", terdengar suara Mail yang dari tadi berdiam diri , sebab tak mampu berkata-kata.
Semua mereka tertawa gembira, menuju rumah masing-masing walaupun mereka semuanya tahu sesampai di rumah akan di marahi orang tua, sebab balik ke rumah
hampir-hampir azan isyak berkumandang ke udara.
Bulan purnama saat itu menaburkan cahayanya yang lembut mengiringi mereka hingga selamat sampai ke rumah masing-masing nun diperkampungan yang tenang dan damai.
"Lili cepatlah panjat, seronok main kejar-kejaran di atas pokok ni, kamu saja yang tinggal
di bawah tu", terdengar suara kak Imah dari atas pokok besar itu.
Lili memandang ke atas, memang seronok sangat nampaknya kawan-kawannya berlari-lari dari cabang ke cabang pohon itu, cabangnya banyak semakin ke atas cabangnya semakin dekat-dekat dan banyak, sangat senang melangkah dari satu cabang ke cabang lain.
"Kamu tak takut ke Lili seorang diri dibawah pokok tu, tak ada siapa- siapa di situ", terdengar lagi teriakan kawannya dari atas pokok.
Lili memandang sekeliling, memang tidak ada orang di situ, hatinya menjadi risau, menyesal dia pergi dengan kawan-kawannya yang besar-besar itu, hanya dia seorang saja yang kecil.
Lili mencuba lagi memeluk batang pohon yang besar itu untuk memanjat, tapi tak boleh , tangannya tak sampai, Lili mula merasa takut. Sebentar-sebentar Lili memandang ke atas melihat kawan-kawannya bergembira berkejar-kejaran di atas pokok itu. Sambil berpikir-pikir Lili berjalan di bawah pohon, ternampak olehnya sebatang pohon kecil tumbuh, dekat pokok besar itu, dan batangnya berdekatan dengan salah satu cabang pokok besar itu.
Lili mendapat akal, dipanjatnya pokok kecil itu sehingga dia dapat berpijak pada dahan pertama pokok besar itu. Usaha Lili mulai mudah, dahan pertama sudah dapat dipijaknya
untuk sampai kepada dahan yang di atas Lili hanya perlu berpaut dan menggerakkan badannya sedikit ke atas, laluan sekarang sangat mudah, jarak antara dahan semakin ke atas semakin dekat. Sekarang Lili dapat bermain kejar- kejaran di atas pokok itu .
Sungguh sangat menggembirakan hati semua kawan-kawannya.
Tidak terasa waktu berlalu sangat pantas, terdengar azan magrib dari kejauhan.
"Sudah magrib, sudah magrib . Jom turun , balik rumah", terdengar suara kak Imah mengajak kawan-kawannya turun. Semuanya cepat meluru ke bawah.
Langkah Lili semakin ke bawah semakin perlahan, jarak antara dahan ke dahan semakin jauh. Akhirrnya Lili tinggal seorang di atas pokok itu.
"Cepat Lili", terdengar suara kawan-kawannya memanggil.
"Nanti kita kena marah , emak-emak kita akan risau kalau kita lambat balik", terdengar suara kawannya yang lain.
"Kaki Lili tak sampai nak pijak dahan bawah ni", suara Lili terdengar sangat risau.
"Kenapa tak sampai pula, tadi kamu naik macam mana ???" terdengar suara kak Imah agak heran. Semua mereka memandang ke atas melihat Lili.
Lili pun heran kenapa tadi dia dapat naik, kenapa tak dapat turun sekarang ini, kenapa kakinya tak sampai, padahal masih ada beberapa dahan ke bawahnya lagi, untuk sampai ke pokok kecil yang dipanjatnya tadi. Lili mencuba lagi, dia duduk diatas dahan, dijulurkannya kakinya untuk mencapai dahan di bawahnya. Terasa kakinya menyentuh dahan, dengan beraninya Lili bergayut dan turun ke dahan bawah.
Masih ada dua lagi dahan yang harus dituruninya. Dilakukannya seperti tadi, tetapi kali ini ushanya sia-sia kakinya tak dapat menyentuh dahan yang dibawah. Bekali kali di cubanya tetap tidak kesampaian.
"Cepat Lili kami nak balik, nanti kamu tinggal sendiri di atas pokok itu, kamu lambat betul nanti mak aku marah", terdengar pula suara kawannya yang lain.
Lili mula menangis, dilayangkannya pandangannya kebawah pohon, semua kawan-kawannya mendongak ke atas memandang Lili, semuanya seperti ketakutan.
"Lili pikir ....!!!! macam mana nak turun ........!!!!", terdengar suara kak Imah.
"Macam mana ni kak........... kaki Lili tak sampai kak, nanti Lili jatuh ", terdengar suara Lili dalam tangisan, sambil kakinya mencuba mencari dahan di bawah.
"Cepat Lili.........!!!!!!! Macam mana kami nak tolong .....!!!!! Tadi kamu boleh naik , heran pula kenapa kamu tak dapat turun ??????", terdengar suara kak Imah.
"Kak.............!!!!!!! Macam mana ni .............. macam mana ni............!!!!!".
Semuanya diam sambil mendongak ke atas, semua terpaku melihat Lili di atas pokok.
"Kak jangan balik kak, tunggu Lili, Lili takut kak.................!!!!!!!!!!!!" terdengar suara Lili dalam tangisannya. Semua tak berani bersuara, dan tidak berniat meninggalkan Lili diatas pokok seorang diri walaupun hari sudah agak gelap, walaupun semuanya tahu sampai di rumah masing-masing akan dimarahi.
Lili memperhatikan dahan demi dahan di dekatnya, dilihatnya pula ke bawah nampak onggokan sampah. Tanpa berpikir panjang Lili memeluk dahan tempat duduknya, perlahan-lahan digerakkannya badannya menuju ujung dahan itu. Disebabkan berat badan Lili dahan itu merunduk ke bawah. Setelah Lili sampai di ujung dahan Lili melompat ketempat onggokkan sampah dibawah pohon.
Lili selamat sampai ke bawah , hanya kaki dan tangannya calar-calar sedikit terkena ranting-ranting di bawah pokok dan sampah-sampah dan kayu-kayu di situ.
Walaupun terasa sakit Lili tersenyum memandang semua kawan-kawannya yang setia menantikannya di bawah pohon.
"Lili aku bangga dengan kamu dalam keadaan yang susah kamu masih dapat berpikir, untuk menyelamatkan diri kamu turun dari pokok yang tinggi itu", terdengar suara Mail yang dari tadi berdiam diri , sebab tak mampu berkata-kata.
Semua mereka tertawa gembira, menuju rumah masing-masing walaupun mereka semuanya tahu sesampai di rumah akan di marahi orang tua, sebab balik ke rumah
hampir-hampir azan isyak berkumandang ke udara.
Bulan purnama saat itu menaburkan cahayanya yang lembut mengiringi mereka hingga selamat sampai ke rumah masing-masing nun diperkampungan yang tenang dan damai.
Subscribe to:
Posts (Atom)