Friday, 25 May 2012

ADA YANG TAK TERKATAKAN ........

                                         ADA YANG TAK TERKATAKAN .............

"Abang Edi membeli kereta baru, dia hendak membeli warna hitam tetapi terpaksa tunggu dua minggu,tak sempat", anakku Nina memberitahuku.
"Tak sempat ? Kenapa, apa salahnya tunggu dua minggu dapatlah kita warna kereta yang berkenan di hati. Warna apa yang diambilnya ?" tanyaku sedikit hairan.
"Warna silver" jawab anakku Nina selamba.
"O.... warna silver", balasku sambil dalam hati masih tertanya-tanya kenapa tak sempat.
"Mak kak Cik itu akan datang dari Padang minggu ini, mereka akan menjemputnya ke KLIA, seronoklah pakai kereta baru, supaya dapat mak kak Cik dapat merasa naik kereta baru abang Edi", jawab anakku Nina.
Terasa ciut hatiku ketika itu, begitu rupanya Edi ambil berat mertuanya, sedangkan aku ibu kandungnya, jarang dia datang melawatku sekali tiga bulanpun tidak, kecuali kalau ada keperluan, atau untuk mengambil surat-suratnya yang beralamat ke rumahku.
Kepada siapa akan kukatakan apa yang terasa di hatiku ini ? Tidak pernah pula Edi mempelawaku pergi ke rumahnya atau naik kereta barunya. Rasa ini kependam seorang diri. Sejak bulan November hinggalah bulan Mei Edi tak pernah datang  ke rumahkku, ketika ada surat penting anakku Nina menaliponnya. Dia datang mengambil suratnya itu, hatiku sedih sehingga tak terkatakan apa-apa melihat wajahnya.
Dia pergi ketika aku menunaikan solat zuhur, tanpa memberitahukanku kepergiannya itu.
Salahkah aku kalau hatiku ini sangat sedih ? tetapi setiap kali aku berdoa, tetap aku doakan dia supaya Allah memberinya petunjuk. Mungkin doaku ini belum Allah kabulkan. Hatiku sedih ini kepada siapa akan ku katakan ?

Aku juga tidak tahu apakah aku terlalu berlebihan, kalau kukatakan hatiku sedih jika anak-anakku tidak ambil tahu apakah aku makan atau  tidak, apakah aku sudah makan atau belum. Adakah makanan yang akan aku makan atau tidak ada.
Aku juga tidak tahu apakah aku ini menyusahkan anak-anak atau tidak; setiap kali mereka membawa aku makan ke kedai atau ke restoran aku menolak. Memang aku tidak biasa makan di restoran itu, itu bukan budayaku, aku ini dibesarkan dalam kehidupan yang keras, jauh sekali dari bermewah-mewah. Seleraku juga tidak sesuai dengan makanan yang dihidangkan di situ. Aku makan tidak sesuai dengan seleraku, padahal nanti mereka membayar dengan harga yang sangat mahal, tak sampai hatiku membiarkan hal ini terjadi. Dan kehadiranku bersama mereka terasa pula mengganggu keselesaan mereka berkeluarga, mungkin mereka  ingin bersenang-senang suami isteri dan anak-anak tanpa ada yang mengganggunya. Inilah sebabnya aku menolak setiap kali pelawaannya. Mungkin mereka bosan, tiap kali pergi tidak lagi mempelawaku lagi. Bagiku tidak apa-apa. Tapi jauh di lubuk hatiku aku berharap pula ada sedikit perhatian dari mereka atau ambil berat tentangku. Mereka meninggalkan aku sendirian di rumah adakah makanan yang akan aku makan, apa yang dapat untuk pengisi perutku, ataukah aku sehat, ataukah aku sakit. Mungkin mereka lupa untuk bertanya, tetapi itulah yang aku harapkan, sebagai tanda bahwa mereka mengambil berat tentang diriku. Tidak ada seorangpun yang bertanya atau jarang sekali pertanyaan itu keluar dari mulut mereka. Pernah sekali aku berpuasa, mereka pergi meninggalkan aku waktu berbuka telah hampir tiba, tidak ada apa-apa yang layak dimakan untuk aku berbuka, tidak ada pula bahan mentah untuk dimasak. Aku termenung, aku cari dalam peti sejuk kalau-kalau ada untuk dimakan. Aku temuilah sedikit udang goreng entah sudah berapa lama usianya. Aku panaskan, berbukalah aku sendirian, selesai berbuka terasa perutku sakit, aku tahan sendiri tidak siapa yang tahu, aku malu, malu sendiri seperti aku ini tiada harga sama sekali. Aku tetap tegar aku tidak berkata sepatahpun, tiada siapa yang tahu apa yang terjadi pada diriku. Hatiku sangat sedih, sebab tidak ada satu patah katapun yang menunjukkan bahwa ada sedikit ambil berat tentang diriku. Tidak ada pertanyaan yang kuharapkan, tidak ada basa basi sedikitpun, apakah aku sudah berbuka atau belum. Inilah sahaja yang kuharapkan tak lebih dari itu. Tapi ini jarang sekali kudapatkan. Mungkin mereka lupa atau banyak masaalah. Semua kupendam sendiri, semua kisah kutelan sendiri, biarlah menjadi rahasia diriku menjdi rahasia hidupku.
 Sebagai ibu aku maa'afkan semua kesalahan mereka tanpa diminta, aku tidak mahu tersebab aku anakku susah di akhirat nanti.

Ramai anak berbagai ragam pula tingkah lakunya, bagaimana perasaan sekiranya anak kita yang kita ajar supaya jujur, terus terang, berkata benar rupanya secara diam-diam telah mengadakan hubungan dan telah berbaik-baik dengan keluarga laki-laki yang diinginkannya. Aku betul-betul rasa terpukul terasa anakku yang aku asuh, kudidik, kubelai dengan penuh kasih sayang, tempat aku menggantungkan harapan untuk dijadikan contoh dan teladan, tanpa kusadari, telah memperbodohkan aku, telah membelakangiku.
Diam-diam aku menangis seorang diri, kubiarkan air mataku bercucuran, setelah reda aku hapus pula air mata yang tersisa seorang diri, kepada siapa akan kukatakan ?
Sebagai ibu tidak aku biarkan anakku berdosa, aku maafkan kesalahannya tanpa diminta.
Kehidupanku yang keras menolong aku untuk melupakan segalanya, seperti tidak ada kepedihan yang bergelora dalam diriku. Ini telah lama sekali berlalu ...................

Sayangnya aku kepada anak-anakku tidak terhingga, mungkin aku membesarkannya dengan jerih payah dan segala tanggung jawab dipikulkan ke pundakku. Setiap kali anak-anakku menjangkau usia berumah tangga aku telah mulai berdoa supaya dapat jodoh yang sesuai yang sebaik-baiknya. Dan terselip juga harapan di hatiku supaya menantu-menantuku nanti juga akan melimpahkan sedikit kasih sayangnya kepadaku. Aku tahu aku akan hidup sendiri di hari tuaku, walaupun sebelumnya akupun memang telah lama sendiri.
Harapanku yang tidak menasabah adalah supaya anak-anakku tidak berpisah denganku, tetap tinggal di rumahku.
"Bu..... saya nak pindah", kata anakku.
Rasa terbang darahku, menggigil tubuhku.Aku tak dapat menjawabnya, seperti ada sesuatu tersekat di kerongkonganku, aku tinggalkan dia, tak berani aku menatap wajahnya. Akupun lari menyembunyikan tangisku..................
Ini telah lama berlalu  .........................

Inilah aku, ada yang tak terkatakan goresan hatiku ini kepada siapapun ....................
Aku tumpahkan di sini, bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa .................
Ini hanya sejarah hidupku supaya ada yang mengetahuinya jika terbaca ...................
Jika terbaca katakanlah ia hanya sebuah mimpi yang tak akan berulang lagi, sebuah mimpi buruk supaya cepat-cepat dilupakan ..............................

TIADA GADING YANG TIDAK RETAK
Semua ini aku lupakan, anak-anakku dan menantu-menantuku begitu baik dan sayang padaku di hari tuaku ini, aku selalu berdoa supaya kami semua mendapat petunjuk dari ALLAH  SWT.
Anak-anakku tidak kuberi berdosa padaku, aku telah ampunkan dan aku telah ma'afkan walaupun tanpa diminta. Sekali lagi kukatakan aku tidak mahu anak-anakku susah di akhirat nanti tersebab aku ...........................................


No comments:

Post a Comment