HATI-HATI ROBEAH
Main roundes ala kampung, sangat menyeronokkan kanak- kanak pekan kecil Tapah Road.
"Lili, cepat tangkap bola itu, cepat Lili cepat !!!!!!!!!! Tangkap bola tu Lili !!!!!!!!!!!!", terdengar suara- suara anak-anak yang bermain bersama Lili.
Lili berlari mundur ke belakang menangkap bola itu dan berjaya, bola bersarang di tangan Lili yang tidak seberapa besar itu.
"Kita menang Lili !!!!!!!!! Kita menang !!!!!!!!!!!", terdengar suara-suara bergembira.
"Memanglah kome menang, kome masuk kumpulan Lili, besok kalau main aku nak masuk kumpulan Lili supaya menang," terdengar seorang kawan Lili tak puas hati.
"Kita main sama-sama, kita berusaha sama-sama, barulah kita boleh menang," terdengar suara Lili memberikan penjelasan.
"Kamipun berusaha juga tapi kenapa kami kalah ?" jawab kawan Lili tadi.
"Beginilah, hari ini kita rehat dulu, besok atau lusa kalau ada masa kita berlatih dulu sebelun bermain supaya adil dalam pemilihan kumpulan". terdengar suara Lili menenangkan hati kawannya yang tak puas hati itu.
Permainan hari itu selesai Lili tak sedap hati, sebab ada kawannya yang tak puas hati dia tak mau terjadi perselisihan diantara kawan-kawanya, takut terjadi pergaduhan.
"Sementara waktu ini lebih baik tidak bermain roundes dulu", pikir Lili.
"Lili jom kita pergi ke stesen keretapi, kita main-main disana. Tadi kamu main dengan
budak-budak kecil, kamu lebih sesuai main dengan kita-kita ini", terdengar ajakan kak Imah
Lilipun bersemangat diajak kak Imah main ke stesen keretapi.
"Siapa yang ikut kak ?"Lili bertanya ingin tahu.
"Ramai yang pergi kalau kamu tak pergi , kamu rugi tentu disana kita seronok", kak Imah menjekaskan.
Lili terasa ragu-ragu, maknya tidak akan membenarkan dia pergi, tetapi hatinya ingin sekali pergi. Banyak kawan-kawan yang besar-besar ikut serta pasti mereka akan membuat suasana jadi meriah.
"Jom lah Lili, kita sekejap je sebelum magrib kita sudah sampai di rumah", kak Imah menjelaskan.
Lili ingin sekali pergi, jarang sekali dia dapat pergi ke stesen itu, suasana di situ lain dari suasana tempat dia biasa bermain. Disana dia dapat melihat ramai orang, keretapi yang lalu lalang disitu menimbulkan minat Lili untuk pergi kesuatu tempat yang lain suatu hari nanti. Dia juga berharap suatu ketika nanti dapat melihat tempat-tempat yang belum pernah dilihatnya.Tentulah tempat itu tempat yang luar biasa. Bermacam-macam khayalan Lili ketika itu.
"Jom Lili kita pergi, kita berlari-lari kesana supaya cepat sampai, mungkin orang lain sudah sampai ke sana kita saja yang lambat", kak Imah meggesa Lili.
Dengan berlari-lari kecil merekapun sampai kestesen itu, memang betul sudah ramai kawan-kawan lainnya berkumpul di stesen itu, semuanya tertawa riang gembira melihat kedatangan mereka.
"Mari kita main kejar-kejaran melintasi jembatan ini", ajak Oneh penuh semangat .
" Jom !!!!! jom, jom!!!!!! Jom, jom, jom !!!!!!!!" teriak kawan-kawan yang lain.
Lili berpikir-pikir, kalau dia ikut serta pastilah dia kalah saja, tentulah dari awal hingga akhir dialah yang jadi tukang kejar. Kawan-kawan yang lain akan mentertawakan dia.
Tetapi kalau tidak ikut serta tentulah tidak dapat ikut bergembira, semua orang tertawa riang , apakah dia hanya akan tersengih saja tanpa rasa seronok ?
Tanpa berpikir panjang Lili menerima tawaran untuk ikut serta, dia akan berusaha lari sekencang-kencangnya, dia harus berlatih lari kencang, Lili yakin pasti boleh.
Memang betul sekarang giliran Lili yang harus mengejar kawan-kawannya, Lili dimain-
mainkan oleh teman-temannya itu.
"Tangkap aku Lili, aku hanya berjalan, takkan tak dapat tangkap aku", terdengar suara temannya mempermainkan Lili. Lili berlari mengejar kawan-kawannya itu, dengan pantas kawan-kawannya itu berlari turun tangga , dan cepat pula naik tangga jembatan itu
Sekarang Lili berazam untuk mendapatkan salah seorang dari mereka, dia tidak mau hanya jadi tukang kejar, dia ingin pula jadi orang yang dikejar dan dapat pula mempermain-mainkan orang lain.
"Tangkap aku Lili", terdengar suara Robeah. Lili berlari sekuat-kuat tenaganya mengejar Ro , sehingga sampailah Ro dekat tangga , dan harus menuruni tangga itu.
"Hati-hati Robeah, Lili sudah dekat ", terdengar suara memperingatkan Ro .
Ro terpaksa perlahan untuk menuruni tangga, dengan kencangnya Lilipun sampai ketempat itu digeselnya badan Ro, tanpa disadari tangan Lili terlalu kuat menggesel badan Ro, sebab dia berlari terlalu kencang, badan Ro tertolak dengan kuat, Ro tak dapat mengawal dirinya dan Ro terjatuh dua anak tangga.
Lili terpaku melihat Ro, mukanya pucat tidak tahu apa yang akan dibuatnya. Dilihatnya kepala Ro berdarah. Tiba-tiba kak Imah datang memanggil Lili.
"Lili cepat lari, mari kita lari nanti kita kena tangkap, cepat lari !!!!!!!!!!!! ", Lili cepat lari mengikut kak Imah.
Kak Imah membawa Lili bersembunyi dalam polongan air di bawah jalan.
"Macam mana Ro kak ?" Lili bertanya hampir menangis.
"Akakpun tak tahu, kamu yang menolak Ro akak takut kamu kena tangkap, itu sebab akak bawa kamu lari", kak Imah memberi penjelasan.
Bermacam-macam berlega-lega dalam pikiran Lili, dia kasian dengan Ro, tak tahu pula nasib Ro macam mana dan tak dapat menolong Ro, takut pula dia kena tangkap kalau
orang tahu dia yang menolak Ro.
Tambah lagi ketakutan Lili, waktu pergi tidak minta izin dengan emaknya, pastilah dia akan dimarahi emaknya dirumah nanti.
"Kak tadi kita tidak minta izin dengan emak, itulah sebabnya Lili ditimpa sial hari ini",
Lili menyesali dirinya hampir menangis ketakutan.
"Lain kali kita tidak buat lagi seperti ini ya Lili ?" kak Imah membujuk Lili.
"Macam mana ni kak, Lili takut, hari sudah mulai gelap", Lili sangat ketakutan.
"Mari kita keluar, kita balik rumah, sampai di rumah cepat mandi, pakai baju cantik-cantik, tolong mak sapu rumah, bersihkan cempeni lampu dan pasang, kalau kamu rajin, tentulah mak kamu tak marah. Mari kita berlari balik supaya cepat sampai", Kak Imah mengajar Lili apa yang harus dilakukan sesampai dirumah.
Dengan terengah-engah mereka sampai di rumah, Lili mengikuti semua nasehat kak Imah
Hari bertambah gelap, lampu sudah dinyalakan, Lili duduk diam-diam menunggu apa yang akan terjadi. Dipasangnya telinganya terdengar suara riuh di luar sana.
"Mana dia budak Azmah dan budak Laili dua orang tu, tengoklah anak aku berbalut kepalanya, ditolak oleh budak berdua tu di stesen keretapi. Nasib baik ada jaga distesen tu kalau tidak anak aku terbiar kat situ. Mana dia budak berdua tu", terdengar suara mak Robeah marah-marah di luar sana.
"Mana ada kak, depa dua orang tu ada di rumah, tak ada kemana-mana , entah siapa yang jahat dengan anak akak, kita di rumah mana tahu ?", suara emak Lili mebelamereka berdua.
"Lili apa yang engkau buat degan Robeah, tadi emaknya datang menyerang betulkah kamu yang menolak anaknya ", tanya emak Lili agak marah.
"Betul mak Lili yang menolak Ro, Lili tak sengaja, Lili mintak maaf dengan mak , tak minta izin pergi bemain-main dekat stesen siang tadi", jawab Lili jujur.
"Lain kali jangan buat lagi, jadikanlah ini pengajaran , kalau tak minta izin dengan mak tentu akan dapat bahaya", mak Lili mengajar anaknya.
Besoknya Lili pergi melihat Ro , balut kepalanya masih berbekas darah, Lili sangat sedih dia minta maaf dengan Ro dan juga emaknya. Walaupun mak Ro marah besar , Lili terpaksa menahan semuanya. Peristiwa ini dijadikan oleh Lili sebuah pengajaran.
Sunday, 26 February 2012
Thursday, 23 February 2012
SIAPAKAH KANAK-KANAK ITU ??? ( 1 )
Kanak-kanak adalah kanak-kanak bukan orang dewasa yang size badannya kecil.
cara mereka bergerak, cara mereka berpikir, apa yang mereka suka, keadaan fizikal mereka jauh berbeda dari orang dewasa.
Disebabakan perbedaan inilah orang dewasa tidak dapat memaksakan kehendak hati kepada anak-anak mereka. Para ibu bapa selalu memaksa anak-anak mereka belajar, tetapi anak tidak mahu, pekara sebegini adalah perkara biasa. Kita orang dewasa tidak dapat memaksa kan kehendak hati kepada kanak-kanak. Lebih-lebih lagi kalau masa peka kanak-kanak itu belum tiba. Orang dewasa meleter, kanak-kanak taidak mengerti mengapa orang-orang dewasa ini suka meleter. Walaupun ada diantara kanak-kanak itu mengerti apa maksud leter ibu bapanya tetapi mereka hairan mengapa harus maleter, walaupun kita jelaskan tetap mereka tidak mengikutnya . Mengapa ?
Kanak-kanak itu ada dunia sendiri, mereka hidup dalam dunia mereka, mereka yang menentukan apa kehendak hati mereka . Alam semula jadi kanak-kanak adalah bermain, mereka mencari kehendak hati mereka, mereka ingin mengetahui alam ini dengan cara mereka sendiri, kadang-kadang mereka merusakkan barang-barang, kadang- kadang mereka sengaja membuang dan menghempaskan, sebab mereka ingin tahu apa jadinya barang tersebut sesudah dihempaskan itu.
Kanak-kanak suka berlari-lari dan melompat-lompat, orang dewasa selalu marah-marah, lebih-lebih lagi kalau melompat-lompat di kursi atau di tempat tidur. Biasanya orang tua marah dan memukul anak-anak mereka. Kanak kanak itu disuruh duduk diam-diam. tentulah ini tidak boleh, sebab fizikal mereka menghendaki supaya mereka bergerak, berlari, melompat, memanjat dan lain sebagainya. Mereka tidak menghiraukan berbahaya atau tidak, yang penting harus bergerak sebab begitulah kehendak semula jadi tubuh kecil mereka itu. Selalunya orang tua melarang, meleter dan kadang-kadang memukul anak itu.
Apakah betul tindakan orang itu seperti itu ? Tentunya kurang betul. Bagaimana yang betul ? Orang tua harus mencarikan tempat yang sesuai, harus menjaga dari bahaya.
Biarkan mereka menggerakkan badan mereka sesuai dengan kehendak alam mereka. Leter orang dewasa hanya akan menimbulkan dendam di hati kanak-kanak.
Ada juga kanak-kanak suka berbohong, kadang-kadang dia mengatakan melihat seekor ular padahal yang dilihatnya itu hanyalah seekor cacing dan berbohong yang lain yang seumpamanya. Orang dewasa meleter, marah-marah sedangkan kanak-kanak itu hairan mengapa kita marah-marah.
Kadang-kadang kanak kanak suka berkhayal, bercakap-cakap seorang diri tanpa teman, suka memakai baju superman, main pistol tembak-tembak, ingin jadi askar. Banyak lagi keinginan mereka. Ini juga adalah salah satu dunia mereka.
Orang tua yang tidak mahu memahami dunia kanak-kanak ini hanya pandai marah-marah,
Apa yang terjadi kalau selalu marah marah ?
Dalam hati kanak-kanak timbul dendam, jiwanya jadi keras, tidak ada kasih sayang dalam dirinya. Dia jadi orang yang kasar hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah berpikir, tentang orang lain, jadi orang yang pemarah sebagaimana dia dimarahi dulu.
Kita tidak mahu anak kita jadi begini kan ? Didiklah anak-anak dengan penuh kasih sayang, dia akan jadi seorang yang penyayang, selalu memikirkan orang lain akan menjadi orang yang ikhlas , jujur dan periang, dan menggembirakan orang lain.
***********
cara mereka bergerak, cara mereka berpikir, apa yang mereka suka, keadaan fizikal mereka jauh berbeda dari orang dewasa.
Disebabakan perbedaan inilah orang dewasa tidak dapat memaksakan kehendak hati kepada anak-anak mereka. Para ibu bapa selalu memaksa anak-anak mereka belajar, tetapi anak tidak mahu, pekara sebegini adalah perkara biasa. Kita orang dewasa tidak dapat memaksa kan kehendak hati kepada kanak-kanak. Lebih-lebih lagi kalau masa peka kanak-kanak itu belum tiba. Orang dewasa meleter, kanak-kanak taidak mengerti mengapa orang-orang dewasa ini suka meleter. Walaupun ada diantara kanak-kanak itu mengerti apa maksud leter ibu bapanya tetapi mereka hairan mengapa harus maleter, walaupun kita jelaskan tetap mereka tidak mengikutnya . Mengapa ?
Kanak-kanak itu ada dunia sendiri, mereka hidup dalam dunia mereka, mereka yang menentukan apa kehendak hati mereka . Alam semula jadi kanak-kanak adalah bermain, mereka mencari kehendak hati mereka, mereka ingin mengetahui alam ini dengan cara mereka sendiri, kadang-kadang mereka merusakkan barang-barang, kadang- kadang mereka sengaja membuang dan menghempaskan, sebab mereka ingin tahu apa jadinya barang tersebut sesudah dihempaskan itu.
Kanak-kanak suka berlari-lari dan melompat-lompat, orang dewasa selalu marah-marah, lebih-lebih lagi kalau melompat-lompat di kursi atau di tempat tidur. Biasanya orang tua marah dan memukul anak-anak mereka. Kanak kanak itu disuruh duduk diam-diam. tentulah ini tidak boleh, sebab fizikal mereka menghendaki supaya mereka bergerak, berlari, melompat, memanjat dan lain sebagainya. Mereka tidak menghiraukan berbahaya atau tidak, yang penting harus bergerak sebab begitulah kehendak semula jadi tubuh kecil mereka itu. Selalunya orang tua melarang, meleter dan kadang-kadang memukul anak itu.
Apakah betul tindakan orang itu seperti itu ? Tentunya kurang betul. Bagaimana yang betul ? Orang tua harus mencarikan tempat yang sesuai, harus menjaga dari bahaya.
Biarkan mereka menggerakkan badan mereka sesuai dengan kehendak alam mereka. Leter orang dewasa hanya akan menimbulkan dendam di hati kanak-kanak.
Ada juga kanak-kanak suka berbohong, kadang-kadang dia mengatakan melihat seekor ular padahal yang dilihatnya itu hanyalah seekor cacing dan berbohong yang lain yang seumpamanya. Orang dewasa meleter, marah-marah sedangkan kanak-kanak itu hairan mengapa kita marah-marah.
Kadang-kadang kanak kanak suka berkhayal, bercakap-cakap seorang diri tanpa teman, suka memakai baju superman, main pistol tembak-tembak, ingin jadi askar. Banyak lagi keinginan mereka. Ini juga adalah salah satu dunia mereka.
Orang tua yang tidak mahu memahami dunia kanak-kanak ini hanya pandai marah-marah,
Apa yang terjadi kalau selalu marah marah ?
Dalam hati kanak-kanak timbul dendam, jiwanya jadi keras, tidak ada kasih sayang dalam dirinya. Dia jadi orang yang kasar hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah berpikir, tentang orang lain, jadi orang yang pemarah sebagaimana dia dimarahi dulu.
Kita tidak mahu anak kita jadi begini kan ? Didiklah anak-anak dengan penuh kasih sayang, dia akan jadi seorang yang penyayang, selalu memikirkan orang lain akan menjadi orang yang ikhlas , jujur dan periang, dan menggembirakan orang lain.
***********
Tuesday, 21 February 2012
BASA BASI SESETENGAH MELAYU SUATU....
Memakai baju baru, memang kegembiraan yang luar biasa bagi kanak-kanak. Setengah kanak-kanak memakai baju baru hanya dirasakan sekali setahun.
Kak Imah dan Lili hari itu juga memakai baju baru. Mereka akan pergi menggayakan baru baru mereka mengunjungi guru-guru dan bertemu dengan kawan-kawan serta bermaaf-maafan di hari raya yang mulia ini.
Rumah guru besar itu, kelihatan bersih, semua tersusun rapi. Ketika Lili masuk keruang tamu bersama kak Imah, mereka agak malu-malu. Kanak-kanak lain sudah ramai duduk di ruangan itu . Ada sedikit tempat kosong, duduklah mereka di situ.
Beberapa orang perempuan menghidangkan kueh-kue dan minuman untuk para tamu.
Sebab terlalu ramai, kueh-kueh itu diletakkan terpencar-pencar mengikut jumlah tetamunya. Setelah hidangan selesai, guru besarpun datang menjemput para tetamunya menikmati hidangan yang disediakan.
Lili dan kak Imah mengambil gelas masing-masing dan minum sedikit-sedikit. Tangan Lili menjangkau kueh yang dihidangkan didepannya.
"Sedap betul kueh ini ", Lili berkata dalam hatinya. epat-cepat kueh itu dihabiskannya, tangannya mulai menjangkau kueh itu sekali lagi. Tiba- tiba kak Imah mencubit tangannya. "Kak Lili nak ambil kueh itu", kata Lili.
"Kan tadi sudah kamu ambil sebiji, apa lagi", Jawab kak Imah.
"Lili nak lagi", Lili menjelaskan.
"Tak boleh Lili, nanti orang akan mengata kita. Nanti orang kata kita rakus, tak malu, dan tak tahu budi bahasa bertamu ke rumah orang", kak Imah menjelaskan panjang lebar.
"Kak Lili bertul-betul teringin makan kueh tu kak", Lili merayu kepada kakaknya supaya dia diizinkan mengambil kueh itu sebiji lagi.
Lili menghulurkan tangannya untuk mengambil kueh itu, tetapi tiba-tiba tangannya di tepis oleh kak Imah. Lili sangat sedih dipandangnya kueh-kueh itu, berbagai macam rupanya, baru satu kueh yang dimakannya. Untuk mengambil satu lagipun tak dapat apalagi untuk mengambil yang lain-lain yang jauh dari tempat mereka duduk mereka.
"Kak satu saja lagi kak, Lili teringin sangat ", Lili merayu sekali lagi.
"Tak boleh, tak paham ke ? nanti aku cubit sekali lagi", kak Imah memarahinya.
Lili memandang kawan-kawannya yang lain ada juga, mengambil kueh sekali lagi, dipandangnya kawannya itu memasukkan kueh itu ke mulutnya dan mengunyahnya, terlalu nikmat rupanya.
"Kak budak itu mengambil satu lagi kueh itu, tak apa pun, kenapa Lili tak boleh ?" Lili bertanya tak puas hati.
"Budak itu tak reti basa basi, tak malu, nampak rakus di depan orang ramai, kita tak mau macam tu, kita harus jaga sopan santun di depan orang ramai apalagi di rumah guru kita".
Kak Imah menjelaskan dengan panjang lebar.
Air mata Lili tergenang di pelupuk matanya mendengarkan penjelasan kakak sepupunya itu. Sampailah waktu bersurai Lili tak dapat berkata-kata menahan sedihnya.
Begitulah basa basi sesetengah orang Melayu suatu ketika dulu.
Kak Imah dan Lili hari itu juga memakai baju baru. Mereka akan pergi menggayakan baru baru mereka mengunjungi guru-guru dan bertemu dengan kawan-kawan serta bermaaf-maafan di hari raya yang mulia ini.
Rumah guru besar itu, kelihatan bersih, semua tersusun rapi. Ketika Lili masuk keruang tamu bersama kak Imah, mereka agak malu-malu. Kanak-kanak lain sudah ramai duduk di ruangan itu . Ada sedikit tempat kosong, duduklah mereka di situ.
Beberapa orang perempuan menghidangkan kueh-kue dan minuman untuk para tamu.
Sebab terlalu ramai, kueh-kueh itu diletakkan terpencar-pencar mengikut jumlah tetamunya. Setelah hidangan selesai, guru besarpun datang menjemput para tetamunya menikmati hidangan yang disediakan.
Lili dan kak Imah mengambil gelas masing-masing dan minum sedikit-sedikit. Tangan Lili menjangkau kueh yang dihidangkan didepannya.
"Sedap betul kueh ini ", Lili berkata dalam hatinya. epat-cepat kueh itu dihabiskannya, tangannya mulai menjangkau kueh itu sekali lagi. Tiba- tiba kak Imah mencubit tangannya. "Kak Lili nak ambil kueh itu", kata Lili.
"Kan tadi sudah kamu ambil sebiji, apa lagi", Jawab kak Imah.
"Lili nak lagi", Lili menjelaskan.
"Tak boleh Lili, nanti orang akan mengata kita. Nanti orang kata kita rakus, tak malu, dan tak tahu budi bahasa bertamu ke rumah orang", kak Imah menjelaskan panjang lebar.
"Kak Lili bertul-betul teringin makan kueh tu kak", Lili merayu kepada kakaknya supaya dia diizinkan mengambil kueh itu sebiji lagi.
Lili menghulurkan tangannya untuk mengambil kueh itu, tetapi tiba-tiba tangannya di tepis oleh kak Imah. Lili sangat sedih dipandangnya kueh-kueh itu, berbagai macam rupanya, baru satu kueh yang dimakannya. Untuk mengambil satu lagipun tak dapat apalagi untuk mengambil yang lain-lain yang jauh dari tempat mereka duduk mereka.
"Kak satu saja lagi kak, Lili teringin sangat ", Lili merayu sekali lagi.
"Tak boleh, tak paham ke ? nanti aku cubit sekali lagi", kak Imah memarahinya.
Lili memandang kawan-kawannya yang lain ada juga, mengambil kueh sekali lagi, dipandangnya kawannya itu memasukkan kueh itu ke mulutnya dan mengunyahnya, terlalu nikmat rupanya.
"Kak budak itu mengambil satu lagi kueh itu, tak apa pun, kenapa Lili tak boleh ?" Lili bertanya tak puas hati.
"Budak itu tak reti basa basi, tak malu, nampak rakus di depan orang ramai, kita tak mau macam tu, kita harus jaga sopan santun di depan orang ramai apalagi di rumah guru kita".
Kak Imah menjelaskan dengan panjang lebar.
Air mata Lili tergenang di pelupuk matanya mendengarkan penjelasan kakak sepupunya itu. Sampailah waktu bersurai Lili tak dapat berkata-kata menahan sedihnya.
Begitulah basa basi sesetengah orang Melayu suatu ketika dulu.
Monday, 20 February 2012
L I L I P I K I R ,MACAM MANA NAK TURUN
LILI PIKIR, MACAM MANA NAK TURUN
"Lili cepatlah panjat, seronok main kejar-kejaran di atas pokok ni, kamu saja yang tinggal
di bawah tu", terdengar suara kak Imah dari atas pokok besar itu.
Lili memandang ke atas, memang seronok sangat nampaknya kawan-kawannya berlari-lari dari cabang ke cabang pohon itu, cabangnya banyak semakin ke atas cabangnya semakin dekat-dekat dan banyak, sangat senang melangkah dari satu cabang ke cabang lain.
"Kamu tak takut ke Lili seorang diri dibawah pokok tu, tak ada siapa- siapa di situ", terdengar lagi teriakan kawannya dari atas pokok.
Lili memandang sekeliling, memang tidak ada orang di situ, hatinya menjadi risau, menyesal dia pergi dengan kawan-kawannya yang besar-besar itu, hanya dia seorang saja yang kecil.
Lili mencuba lagi memeluk batang pohon yang besar itu untuk memanjat, tapi tak boleh , tangannya tak sampai, Lili mula merasa takut. Sebentar-sebentar Lili memandang ke atas melihat kawan-kawannya bergembira berkejar-kejaran di atas pokok itu. Sambil berpikir-pikir Lili berjalan di bawah pohon, ternampak olehnya sebatang pohon kecil tumbuh, dekat pokok besar itu, dan batangnya berdekatan dengan salah satu cabang pokok besar itu.
Lili mendapat akal, dipanjatnya pokok kecil itu sehingga dia dapat berpijak pada dahan pertama pokok besar itu. Usaha Lili mulai mudah, dahan pertama sudah dapat dipijaknya
untuk sampai kepada dahan yang di atas Lili hanya perlu berpaut dan menggerakkan badannya sedikit ke atas, laluan sekarang sangat mudah, jarak antara dahan semakin ke atas semakin dekat. Sekarang Lili dapat bermain kejar- kejaran di atas pokok itu .
Sungguh sangat menggembirakan hati semua kawan-kawannya.
Tidak terasa waktu berlalu sangat pantas, terdengar azan magrib dari kejauhan.
"Sudah magrib, sudah magrib . Jom turun , balik rumah", terdengar suara kak Imah mengajak kawan-kawannya turun. Semuanya cepat meluru ke bawah.
Langkah Lili semakin ke bawah semakin perlahan, jarak antara dahan ke dahan semakin jauh. Akhirrnya Lili tinggal seorang di atas pokok itu.
"Cepat Lili", terdengar suara kawan-kawannya memanggil.
"Nanti kita kena marah , emak-emak kita akan risau kalau kita lambat balik", terdengar suara kawannya yang lain.
"Kaki Lili tak sampai nak pijak dahan bawah ni", suara Lili terdengar sangat risau.
"Kenapa tak sampai pula, tadi kamu naik macam mana ???" terdengar suara kak Imah agak heran. Semua mereka memandang ke atas melihat Lili.
Lili pun heran kenapa tadi dia dapat naik, kenapa tak dapat turun sekarang ini, kenapa kakinya tak sampai, padahal masih ada beberapa dahan ke bawahnya lagi, untuk sampai ke pokok kecil yang dipanjatnya tadi. Lili mencuba lagi, dia duduk diatas dahan, dijulurkannya kakinya untuk mencapai dahan di bawahnya. Terasa kakinya menyentuh dahan, dengan beraninya Lili bergayut dan turun ke dahan bawah.
Masih ada dua lagi dahan yang harus dituruninya. Dilakukannya seperti tadi, tetapi kali ini ushanya sia-sia kakinya tak dapat menyentuh dahan yang dibawah. Bekali kali di cubanya tetap tidak kesampaian.
"Cepat Lili kami nak balik, nanti kamu tinggal sendiri di atas pokok itu, kamu lambat betul nanti mak aku marah", terdengar pula suara kawannya yang lain.
Lili mula menangis, dilayangkannya pandangannya kebawah pohon, semua kawan-kawannya mendongak ke atas memandang Lili, semuanya seperti ketakutan.
"Lili pikir ....!!!! macam mana nak turun ........!!!!", terdengar suara kak Imah.
"Macam mana ni kak........... kaki Lili tak sampai kak, nanti Lili jatuh ", terdengar suara Lili dalam tangisan, sambil kakinya mencuba mencari dahan di bawah.
"Cepat Lili.........!!!!!!! Macam mana kami nak tolong .....!!!!! Tadi kamu boleh naik , heran pula kenapa kamu tak dapat turun ??????", terdengar suara kak Imah.
"Kak.............!!!!!!! Macam mana ni .............. macam mana ni............!!!!!".
Semuanya diam sambil mendongak ke atas, semua terpaku melihat Lili di atas pokok.
"Kak jangan balik kak, tunggu Lili, Lili takut kak.................!!!!!!!!!!!!" terdengar suara Lili dalam tangisannya. Semua tak berani bersuara, dan tidak berniat meninggalkan Lili diatas pokok seorang diri walaupun hari sudah agak gelap, walaupun semuanya tahu sampai di rumah masing-masing akan dimarahi.
Lili memperhatikan dahan demi dahan di dekatnya, dilihatnya pula ke bawah nampak onggokan sampah. Tanpa berpikir panjang Lili memeluk dahan tempat duduknya, perlahan-lahan digerakkannya badannya menuju ujung dahan itu. Disebabkan berat badan Lili dahan itu merunduk ke bawah. Setelah Lili sampai di ujung dahan Lili melompat ketempat onggokkan sampah dibawah pohon.
Lili selamat sampai ke bawah , hanya kaki dan tangannya calar-calar sedikit terkena ranting-ranting di bawah pokok dan sampah-sampah dan kayu-kayu di situ.
Walaupun terasa sakit Lili tersenyum memandang semua kawan-kawannya yang setia menantikannya di bawah pohon.
"Lili aku bangga dengan kamu dalam keadaan yang susah kamu masih dapat berpikir, untuk menyelamatkan diri kamu turun dari pokok yang tinggi itu", terdengar suara Mail yang dari tadi berdiam diri , sebab tak mampu berkata-kata.
Semua mereka tertawa gembira, menuju rumah masing-masing walaupun mereka semuanya tahu sesampai di rumah akan di marahi orang tua, sebab balik ke rumah
hampir-hampir azan isyak berkumandang ke udara.
Bulan purnama saat itu menaburkan cahayanya yang lembut mengiringi mereka hingga selamat sampai ke rumah masing-masing nun diperkampungan yang tenang dan damai.
"Lili cepatlah panjat, seronok main kejar-kejaran di atas pokok ni, kamu saja yang tinggal
di bawah tu", terdengar suara kak Imah dari atas pokok besar itu.
Lili memandang ke atas, memang seronok sangat nampaknya kawan-kawannya berlari-lari dari cabang ke cabang pohon itu, cabangnya banyak semakin ke atas cabangnya semakin dekat-dekat dan banyak, sangat senang melangkah dari satu cabang ke cabang lain.
"Kamu tak takut ke Lili seorang diri dibawah pokok tu, tak ada siapa- siapa di situ", terdengar lagi teriakan kawannya dari atas pokok.
Lili memandang sekeliling, memang tidak ada orang di situ, hatinya menjadi risau, menyesal dia pergi dengan kawan-kawannya yang besar-besar itu, hanya dia seorang saja yang kecil.
Lili mencuba lagi memeluk batang pohon yang besar itu untuk memanjat, tapi tak boleh , tangannya tak sampai, Lili mula merasa takut. Sebentar-sebentar Lili memandang ke atas melihat kawan-kawannya bergembira berkejar-kejaran di atas pokok itu. Sambil berpikir-pikir Lili berjalan di bawah pohon, ternampak olehnya sebatang pohon kecil tumbuh, dekat pokok besar itu, dan batangnya berdekatan dengan salah satu cabang pokok besar itu.
Lili mendapat akal, dipanjatnya pokok kecil itu sehingga dia dapat berpijak pada dahan pertama pokok besar itu. Usaha Lili mulai mudah, dahan pertama sudah dapat dipijaknya
untuk sampai kepada dahan yang di atas Lili hanya perlu berpaut dan menggerakkan badannya sedikit ke atas, laluan sekarang sangat mudah, jarak antara dahan semakin ke atas semakin dekat. Sekarang Lili dapat bermain kejar- kejaran di atas pokok itu .
Sungguh sangat menggembirakan hati semua kawan-kawannya.
Tidak terasa waktu berlalu sangat pantas, terdengar azan magrib dari kejauhan.
"Sudah magrib, sudah magrib . Jom turun , balik rumah", terdengar suara kak Imah mengajak kawan-kawannya turun. Semuanya cepat meluru ke bawah.
Langkah Lili semakin ke bawah semakin perlahan, jarak antara dahan ke dahan semakin jauh. Akhirrnya Lili tinggal seorang di atas pokok itu.
"Cepat Lili", terdengar suara kawan-kawannya memanggil.
"Nanti kita kena marah , emak-emak kita akan risau kalau kita lambat balik", terdengar suara kawannya yang lain.
"Kaki Lili tak sampai nak pijak dahan bawah ni", suara Lili terdengar sangat risau.
"Kenapa tak sampai pula, tadi kamu naik macam mana ???" terdengar suara kak Imah agak heran. Semua mereka memandang ke atas melihat Lili.
Lili pun heran kenapa tadi dia dapat naik, kenapa tak dapat turun sekarang ini, kenapa kakinya tak sampai, padahal masih ada beberapa dahan ke bawahnya lagi, untuk sampai ke pokok kecil yang dipanjatnya tadi. Lili mencuba lagi, dia duduk diatas dahan, dijulurkannya kakinya untuk mencapai dahan di bawahnya. Terasa kakinya menyentuh dahan, dengan beraninya Lili bergayut dan turun ke dahan bawah.
Masih ada dua lagi dahan yang harus dituruninya. Dilakukannya seperti tadi, tetapi kali ini ushanya sia-sia kakinya tak dapat menyentuh dahan yang dibawah. Bekali kali di cubanya tetap tidak kesampaian.
"Cepat Lili kami nak balik, nanti kamu tinggal sendiri di atas pokok itu, kamu lambat betul nanti mak aku marah", terdengar pula suara kawannya yang lain.
Lili mula menangis, dilayangkannya pandangannya kebawah pohon, semua kawan-kawannya mendongak ke atas memandang Lili, semuanya seperti ketakutan.
"Lili pikir ....!!!! macam mana nak turun ........!!!!", terdengar suara kak Imah.
"Macam mana ni kak........... kaki Lili tak sampai kak, nanti Lili jatuh ", terdengar suara Lili dalam tangisan, sambil kakinya mencuba mencari dahan di bawah.
"Cepat Lili.........!!!!!!! Macam mana kami nak tolong .....!!!!! Tadi kamu boleh naik , heran pula kenapa kamu tak dapat turun ??????", terdengar suara kak Imah.
"Kak.............!!!!!!! Macam mana ni .............. macam mana ni............!!!!!".
Semuanya diam sambil mendongak ke atas, semua terpaku melihat Lili di atas pokok.
"Kak jangan balik kak, tunggu Lili, Lili takut kak.................!!!!!!!!!!!!" terdengar suara Lili dalam tangisannya. Semua tak berani bersuara, dan tidak berniat meninggalkan Lili diatas pokok seorang diri walaupun hari sudah agak gelap, walaupun semuanya tahu sampai di rumah masing-masing akan dimarahi.
Lili memperhatikan dahan demi dahan di dekatnya, dilihatnya pula ke bawah nampak onggokan sampah. Tanpa berpikir panjang Lili memeluk dahan tempat duduknya, perlahan-lahan digerakkannya badannya menuju ujung dahan itu. Disebabkan berat badan Lili dahan itu merunduk ke bawah. Setelah Lili sampai di ujung dahan Lili melompat ketempat onggokkan sampah dibawah pohon.
Lili selamat sampai ke bawah , hanya kaki dan tangannya calar-calar sedikit terkena ranting-ranting di bawah pokok dan sampah-sampah dan kayu-kayu di situ.
Walaupun terasa sakit Lili tersenyum memandang semua kawan-kawannya yang setia menantikannya di bawah pohon.
"Lili aku bangga dengan kamu dalam keadaan yang susah kamu masih dapat berpikir, untuk menyelamatkan diri kamu turun dari pokok yang tinggi itu", terdengar suara Mail yang dari tadi berdiam diri , sebab tak mampu berkata-kata.
Semua mereka tertawa gembira, menuju rumah masing-masing walaupun mereka semuanya tahu sesampai di rumah akan di marahi orang tua, sebab balik ke rumah
hampir-hampir azan isyak berkumandang ke udara.
Bulan purnama saat itu menaburkan cahayanya yang lembut mengiringi mereka hingga selamat sampai ke rumah masing-masing nun diperkampungan yang tenang dan damai.
MAMAAA ......SAYA NAK SEKOLAH.............
MAMAA.......... SAYA NAK SEKOLAH .........
"Mak !!!!! Bidin nak sekolah !!!!!!", Bidin mrengek kepada emaknya.
"Bidin umur kamu belum enam tahun lagi, kalau umur Bidin sudah enam tahun barulah emak masukkan Bidin ke tadika tu ", emaknya menjelaskan.
"Ada juga budak sebesar Bidin dah bersekolah mak, kenapa Bidin belum boleh lagi ?" Bidin bertanya sebab tak puas hati.
"Belanja sekolah tu mahal nak, terlalu berat abang kamu nanti ", jawab emaknya.
"Kan abang tu banyak duit mak ?" tanya Bidin.
Emak Bidin tidak menjawab, dia diam saja sambil merenung wajah Bidin yang penuh harap. Dia tahu sejak anaknya yang sulung itu bekerja dialah yang menanggung perbelanjaan mereka sehari-hari. Tak sampai hati dia meminta lagi untuk belanja persekolahan Bidin.
Sebaliknya Bidin pula sangat sedih sejak abangnya bekerja. Dia hanya tinggal berdua dengan emaknya di rumah itu. Kehidupan sunyi yang dilaluinya setiap hari menambah lagi keinginannya untuk bersekolah. Ditambah lagi sejak abangnya bekerja , setiap bulan mendapat wang untuk belanja, menambahkan lagi keinginan Bidin untuk sekolah. Lebih-lebih lagi emaknya selalu mengatakan bahwa abangnya itu rajin belajar pandai di sekolah, itulah yang menyebabkan abangnya itu dapat pekerjaan yang baik. Sekarang Bidin hanya tinggal berdua . Tidak ada teman yang yang tinggal berdekatan dengan rumahnya itu. Sekeliling sunyi sepi, maklumlah suasana kampung rumah- rumah berjauhan.
Hari demi hari dilaluinya dengan merindukan abangnya yang tidak lagi tinggal bersama mereka. Hari-hari dia menunggu kepulangan abangnya. Dari pagi sampai petang terlalu panjang dirasakannya, alangkah lamanya waktu sebulan yang dilaluinya, untuk menantikan kepulangan abangnya. Satu-satunya harapannya yaitu bersekolah.
"Mak !!! Bidin nak sekolah !!!", Bidin mengulangi permintaannya setiap kali dia duduk berdua dengan emaknya. "Bidin nak sekolah pandai-pandai macam abang, Bidin nak kerja macam abang, Bidin nak bagi mak duit macam abang", Bidin mengemukakan Khayalannya kepada emaknya.
Tergenang air mata emaknya mendengarkan perkataan anaknya itu, tidak ada daya untuk memenuhi permintaan anaknya itu. Setiap hari dia berdoa untuk kebaikan anaknya itu.
"Mak !!!! Bidin nak sekolah !!!!!! ", terdengar suara Bidin penuh keriangan pada hari itu. Hari itu adalah hari pertama Bidin akan memulai pendidikannya di Tadika.
Pagi-pagi Bidin sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Emak Bidinpun bersiap untuk pergi mengantarkan Bidin pada hari pertama persekolahannya itu. dengan penuh semangat dan keriangan yang tak terkira Bidinpun berangkat ke sekolah bersama emaknya.
Suasana riuh rendah di sekolah itu, membuat Bidin terpinga-pinga. Ramai orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah itu memakai baju cantik-cantik . Kebanyakan mereka memakai baju baru, kasut baru datang ke tadika itu. Bidin memandang emaknya hanya memakai baju lama yang sudah agak lusuh. Bidin merasakan betapa berbedanya keadaan emaknya dengan emak bapak murid yang lain.
Setelah selesai urusan pada hari itu, merekapun balik ke rumah.
"Mak !! , besok Bidin sekolah, Bidin nak belajar pandai-pandai, kalau Bidin dah kerja nanti Bidin nak belikan mak baju cantik dan kasut cantik", terdengar suara Bidin meluahkan perasaanya yang dipendamnya dari tadi.
"Ya lah nak , kalau Bidin sekolah nanti belajarlah pandai-pandai, jangan Bidin warisi kesusahan emak ni. Emak tak pandai ", jawab emaknya.
"Kenapa mak dulu tak sekolah ?" , tanya Bidin tak mengerti .
"Orang dulu-dulu, tak ambil berar sangat, emakpun tak tahu", jawab emaknya selamba.
"Kesian mak ! tak apa lah mak, nanti Bidin yang sekolah pandai-pandai, Bidin yang bagi mak duit banyak-banyak, doakan Bidin ya mak !!!!!!", Bidin menghibur maknya dan terlalu kesian dia melihat maknya itu.
Keesokan harinya dengan baju seragam tadikanya Bidin melangkahkan kakinya dengan penuh semangat menuju sekolahnya. Maknya mengiringinya .
"Tak apa mak, sampai saja di pagar sekolah tu, mak boleh balik, tak payah susah-susah nanti mak penat sangat, kerja mak banyak di rumah. Bidin boleh sorang-sorang masuk ke sekolah tu Bidin boleh mak", Bidin menyakinkan emaknya.
"Ya lah , mak balik dulu ye ?" kata emaknya.
Tanpa ragu-ragu Bidin masuk ke pekarangan sekolah itu. Di cubanya bertegur sapa dengan kawan-kawan barunya disitu, tak seorangpun mau berteman dengannya.
Ada yang sombong, ada yang diam saja dan ada juga yang menangis . Semua ini tidak mengendurkan semangat Bidin. Yang penting baginya sekarang dia sudah mulai sekolah.
Setiap hari Bidin pergi ke sekolah seorang diri, dia tidak peduli kawannya mau berkawan dengannya atau tidak. Bidin memperhatikan setiap pelajaran yang diajarkan cik gu nya.
Lama-lama Bidin semakin tak paham apa yang diajarkan gurunya.
"Rukun Iman enam perkara", terdengar suara gurunya menerangkan.
"Cik gu ? rukun tu apa cikgu ? perkara pun Bidin tak tahu." Bidin memberanikan diri bertanya kepada cik gunya.
Gurunya terdiam, tak tahu apa yang hendak dijelaskannya, selama ini tak ada murid yang bertanya seperti itu, semuanya diam menbisu, mendengarkan sambil tak faham.
"Kamu ni banyak soal, dengarkan saja apa yang cik gu kata dan ingat, harus tahu kalau cik gu soal nanti ", gurunya menjawab agak meradang.
Bidinpun diam, apakah begini susahnya sekolah, dia tak faham bagaimana dia boleh jadi pandai,dapatkah nanti dia akan memberi emaknya duit, membelikan baju dan kasut emaknya. Bidin sangat sedih, dia tidak lagi ceria. Balik sekolah dia bermenung. tetapi kesedihannya itu tidak diceritakannya kepada emaknya.
Semangat Bidin tidak kendur, dia tetap rajin pergi ke sekolah dengan harapan suatu hari nanti dia pasti dapat memahami apa yang diajarkan oleh gurunya.
"Kerja rumah kamu semua sudah siap ?" tanya guru di depan kelas.
"Siap cik gu !", jawab sebagian murid-murid.
"Kamu Bidin, siap kerja kamu ?" tanya guru kepada Bidin.
"Ada yang tak siap cik gu ", jawab Bidin tergagap-gagap.
"Kenapa tak siap ? Itulah kalau banyak cakap, kerja di rumahpun tak siap ", gurunya melepaskan geramnya kepada Bidin.
"Saya tak tahu nak buat",jawab Bidin terus terang.
"Semua orang tahu kenapa kamu tak tahu ?" gurunya bertambah marah.
"Emak saya pun tak tahu, macam mana cikgu, mak saya tak sekolah", jawab Bidin hampir menangis, sedih mengingatkan emaknya.
"Eh !!! banyak cakap budak ni, dah lah tak tahu, nanti aku pukul kamu dengan rotan ni", gurunya bertambah geram. Murid-murid yang lain riuh rendah mentertawakan Bidin.
Bidin tekejut dengan suasana di kelas itu, tidak ada kekerasan dalam keluarganya. Meskipun mereka hidup boleh dikatakan kekurangn tapi mereka hidup berkasih sayang, emaknya, abangnya dan Bidin. Mereka saling tolong menolong, bergembira besama-sama dan bergurau menambahkan kemesraan. Bidin rasa terpukul.
Pulang dari sekolah badan Bidin terasa lesu, tidak ada selera makannya hari itu. Kerisauannya membuatkan suhu badannya jadi jadi tingi. Bidin demam.
"Hari ini tak usahlah kesekolah Bidin kamu demam", kata emaknya pada keesokan harinya, ketika Bidin bersiap-siap hendak kesekolah.
"Mak, Bidin hendak ke sekolah, macam mana nak pandai kalau tak pergi sekolah", Bidin membantah cakap emaknya. Hatinya sangat takut kalau dia tak pandai nanti.
Mak Bidin terpaksa melepas anaknya pergi, melihat kesungguhan hatinya. Dia berdoa supaya anaknya cepat sembuh dan menjadi oarang yang bijak pandai kelak.
Dengan suhu badan yang tinggi, Bidin sampai juga ke sekolahnya itu. Dilihatnya kawan-kawannya menunjuk-nunjuk ke arah dia dari jauh.
"Cik gu itu dia dah datang!!!!!, dia yang mengambil duit saya semalam", terdengar suara seorang kawannya. Bidin terkejut mendengar tuduhan itu. Dia tak pernah mencuri, apalagi mengambil duit di sekolah. Sekolah adalah tempat belajar supaya dia pandai.
"Cik gu ! itu dia cik gu ! cepat cikgu!!!!!!!!!!! cepat !!!!!! duit saya !!!!!!! , terdengar lagi jeritan kawannya. Bidin terpaku berdiri tegak. Tak tahu apa nak dikatakannya.
"Bidin !!!!! pulangkan duit Razak !!!!! Jangan mencuri pula kerja kamu disini !!!!", terdengar teriakan gurunya menghardik Bidin.
"Saya tidak ada mengambil duit Razak cikgu", suara Bidin gemetar ketakutan.
"Kalau tidak kamu siapa lagi yang mengambil duit itu, mesti kamu yang mengambilnya semua kawan-kawan kamu nampak kamu yang mengambilnya", tuduh gurunya.
"Saya tidak mengambilnya cik gu, betul cik gu saya tidak mengambilnya", Bidin mulai menangis. "Saya tak pernah mencuri, Cik gu !! Saya tak pernah mencuri !!!!".
"Pandainya kamu berlakun, tak per aku lihat budak kecil padai berlakun macam kamu", Gurunya mengejek Bidin. "Hentikan tangisan kamu itu , pulangkan duit Razak !!!!!!".
"Percayalah cik gu saya tidak mengambilnya", Bidin tetap menafikannya.
"Jangan banyak cakap lagi, pulang duit Razak !!!!!!", cik gu nya berkeras.
Bidin menangis tersedu-sedu, bagaimana dia harus belajar kalau gurunya marah kepadanya, dapatkah dia menjadi pandai, gurunya asyik marah-marah dan tidak mengajar dengan baik. Bagaimana dia memberi ibunya duit, membelikan baju dan kasut.
Tangisan Bidin semakin menjadi-jadi. Kawan-kawannya mentertawakan Bidin pula.
"Sudahlah Bidin, jangan menangis pergi balik !!! aku benci melihat muka kamu", terdengar suara guru memarahi Bidin yang memang sejak semula tidak disukainya.
"Saya tak mau balikcik gu, saya nak belajar", pinta Bidin sesunguh hati.
Emak Bidin tiba-tiba datang ke sekolah itu sebab kawatir anaknya demam waktu ke sekolah tadi. Terdengar olehnya Bidin dimarahi dan dihalau oleh gurunya. Alangkah terkejutnya dia, terdengar juga olehnyanya Bidin menangis berhiba-hiba.
"Cikgu anak saya tidak mencuri, jangan dia dimarahi dan dituduh seperti itu", emak Bidin meluru masuk kelas itu.
"Mak cik, jangan banyak cakap, bawa anak mak cik balik saya tak mau melihat mukanya di sekolah ini lagi", terdengar suara guru itu kasar.
"Emak !!! Bidin nak sekolah mak, Bidin nak sekolah !!!!!! Bidin nak jadi pandai mak !!!"
Bidin merayu kepada emaknya, menangis tersedu-sedu berlari memeluk emaknya, memohon kepada emaknya supaya dipertahan supaya dapat bersekolah disitu.
"Mari kita balik nak, kamu tidak diizinkan sekolah disini lagi", emaknya menjelaskan sambil memeluk anaknya dengan hati tersangat sedih dan hiba.
"Bukan disitu tempat yang sesuai bagimu adikku, abang akan carikan sekolah lain yang betul-betul mengajar dan mendidik kanak-kanak. Bukan sekolah yang hanya dibuat untuk mencari wang semata-mata, dengan guru yang tidak tahu ilmu mendidik, hanya mengikut kehendak hati menuduh tanpa usul periksa", abang Bidin memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang berjanji kepada Bidin untuk memasukkannya ke sekolah yang menepati pengajaran di Tadika yang sesuai dengan jiwa kanak-kanak, mengajar dan mendidik kanak-kanak dengan gembira dan penuh kasih sayang.
"Mak !!!!! Bidin nak sekolah !!!!!!", Bidin mrengek kepada emaknya.
"Bidin umur kamu belum enam tahun lagi, kalau umur Bidin sudah enam tahun barulah emak masukkan Bidin ke tadika tu ", emaknya menjelaskan.
"Ada juga budak sebesar Bidin dah bersekolah mak, kenapa Bidin belum boleh lagi ?" Bidin bertanya sebab tak puas hati.
"Belanja sekolah tu mahal nak, terlalu berat abang kamu nanti ", jawab emaknya.
"Kan abang tu banyak duit mak ?" tanya Bidin.
Emak Bidin tidak menjawab, dia diam saja sambil merenung wajah Bidin yang penuh harap. Dia tahu sejak anaknya yang sulung itu bekerja dialah yang menanggung perbelanjaan mereka sehari-hari. Tak sampai hati dia meminta lagi untuk belanja persekolahan Bidin.
Sebaliknya Bidin pula sangat sedih sejak abangnya bekerja. Dia hanya tinggal berdua dengan emaknya di rumah itu. Kehidupan sunyi yang dilaluinya setiap hari menambah lagi keinginannya untuk bersekolah. Ditambah lagi sejak abangnya bekerja , setiap bulan mendapat wang untuk belanja, menambahkan lagi keinginan Bidin untuk sekolah. Lebih-lebih lagi emaknya selalu mengatakan bahwa abangnya itu rajin belajar pandai di sekolah, itulah yang menyebabkan abangnya itu dapat pekerjaan yang baik. Sekarang Bidin hanya tinggal berdua . Tidak ada teman yang yang tinggal berdekatan dengan rumahnya itu. Sekeliling sunyi sepi, maklumlah suasana kampung rumah- rumah berjauhan.
Hari demi hari dilaluinya dengan merindukan abangnya yang tidak lagi tinggal bersama mereka. Hari-hari dia menunggu kepulangan abangnya. Dari pagi sampai petang terlalu panjang dirasakannya, alangkah lamanya waktu sebulan yang dilaluinya, untuk menantikan kepulangan abangnya. Satu-satunya harapannya yaitu bersekolah.
"Mak !!! Bidin nak sekolah !!!", Bidin mengulangi permintaannya setiap kali dia duduk berdua dengan emaknya. "Bidin nak sekolah pandai-pandai macam abang, Bidin nak kerja macam abang, Bidin nak bagi mak duit macam abang", Bidin mengemukakan Khayalannya kepada emaknya.
Tergenang air mata emaknya mendengarkan perkataan anaknya itu, tidak ada daya untuk memenuhi permintaan anaknya itu. Setiap hari dia berdoa untuk kebaikan anaknya itu.
"Mak !!!! Bidin nak sekolah !!!!!! ", terdengar suara Bidin penuh keriangan pada hari itu. Hari itu adalah hari pertama Bidin akan memulai pendidikannya di Tadika.
Pagi-pagi Bidin sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Emak Bidinpun bersiap untuk pergi mengantarkan Bidin pada hari pertama persekolahannya itu. dengan penuh semangat dan keriangan yang tak terkira Bidinpun berangkat ke sekolah bersama emaknya.
Suasana riuh rendah di sekolah itu, membuat Bidin terpinga-pinga. Ramai orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah itu memakai baju cantik-cantik . Kebanyakan mereka memakai baju baru, kasut baru datang ke tadika itu. Bidin memandang emaknya hanya memakai baju lama yang sudah agak lusuh. Bidin merasakan betapa berbedanya keadaan emaknya dengan emak bapak murid yang lain.
Setelah selesai urusan pada hari itu, merekapun balik ke rumah.
"Mak !! , besok Bidin sekolah, Bidin nak belajar pandai-pandai, kalau Bidin dah kerja nanti Bidin nak belikan mak baju cantik dan kasut cantik", terdengar suara Bidin meluahkan perasaanya yang dipendamnya dari tadi.
"Ya lah nak , kalau Bidin sekolah nanti belajarlah pandai-pandai, jangan Bidin warisi kesusahan emak ni. Emak tak pandai ", jawab emaknya.
"Kenapa mak dulu tak sekolah ?" , tanya Bidin tak mengerti .
"Orang dulu-dulu, tak ambil berar sangat, emakpun tak tahu", jawab emaknya selamba.
"Kesian mak ! tak apa lah mak, nanti Bidin yang sekolah pandai-pandai, Bidin yang bagi mak duit banyak-banyak, doakan Bidin ya mak !!!!!!", Bidin menghibur maknya dan terlalu kesian dia melihat maknya itu.
Keesokan harinya dengan baju seragam tadikanya Bidin melangkahkan kakinya dengan penuh semangat menuju sekolahnya. Maknya mengiringinya .
"Tak apa mak, sampai saja di pagar sekolah tu, mak boleh balik, tak payah susah-susah nanti mak penat sangat, kerja mak banyak di rumah. Bidin boleh sorang-sorang masuk ke sekolah tu Bidin boleh mak", Bidin menyakinkan emaknya.
"Ya lah , mak balik dulu ye ?" kata emaknya.
Tanpa ragu-ragu Bidin masuk ke pekarangan sekolah itu. Di cubanya bertegur sapa dengan kawan-kawan barunya disitu, tak seorangpun mau berteman dengannya.
Ada yang sombong, ada yang diam saja dan ada juga yang menangis . Semua ini tidak mengendurkan semangat Bidin. Yang penting baginya sekarang dia sudah mulai sekolah.
Setiap hari Bidin pergi ke sekolah seorang diri, dia tidak peduli kawannya mau berkawan dengannya atau tidak. Bidin memperhatikan setiap pelajaran yang diajarkan cik gu nya.
Lama-lama Bidin semakin tak paham apa yang diajarkan gurunya.
"Rukun Iman enam perkara", terdengar suara gurunya menerangkan.
"Cik gu ? rukun tu apa cikgu ? perkara pun Bidin tak tahu." Bidin memberanikan diri bertanya kepada cik gunya.
Gurunya terdiam, tak tahu apa yang hendak dijelaskannya, selama ini tak ada murid yang bertanya seperti itu, semuanya diam menbisu, mendengarkan sambil tak faham.
"Kamu ni banyak soal, dengarkan saja apa yang cik gu kata dan ingat, harus tahu kalau cik gu soal nanti ", gurunya menjawab agak meradang.
Bidinpun diam, apakah begini susahnya sekolah, dia tak faham bagaimana dia boleh jadi pandai,dapatkah nanti dia akan memberi emaknya duit, membelikan baju dan kasut emaknya. Bidin sangat sedih, dia tidak lagi ceria. Balik sekolah dia bermenung. tetapi kesedihannya itu tidak diceritakannya kepada emaknya.
Semangat Bidin tidak kendur, dia tetap rajin pergi ke sekolah dengan harapan suatu hari nanti dia pasti dapat memahami apa yang diajarkan oleh gurunya.
"Kerja rumah kamu semua sudah siap ?" tanya guru di depan kelas.
"Siap cik gu !", jawab sebagian murid-murid.
"Kamu Bidin, siap kerja kamu ?" tanya guru kepada Bidin.
"Ada yang tak siap cik gu ", jawab Bidin tergagap-gagap.
"Kenapa tak siap ? Itulah kalau banyak cakap, kerja di rumahpun tak siap ", gurunya melepaskan geramnya kepada Bidin.
"Saya tak tahu nak buat",jawab Bidin terus terang.
"Semua orang tahu kenapa kamu tak tahu ?" gurunya bertambah marah.
"Emak saya pun tak tahu, macam mana cikgu, mak saya tak sekolah", jawab Bidin hampir menangis, sedih mengingatkan emaknya.
"Eh !!! banyak cakap budak ni, dah lah tak tahu, nanti aku pukul kamu dengan rotan ni", gurunya bertambah geram. Murid-murid yang lain riuh rendah mentertawakan Bidin.
Bidin tekejut dengan suasana di kelas itu, tidak ada kekerasan dalam keluarganya. Meskipun mereka hidup boleh dikatakan kekurangn tapi mereka hidup berkasih sayang, emaknya, abangnya dan Bidin. Mereka saling tolong menolong, bergembira besama-sama dan bergurau menambahkan kemesraan. Bidin rasa terpukul.
Pulang dari sekolah badan Bidin terasa lesu, tidak ada selera makannya hari itu. Kerisauannya membuatkan suhu badannya jadi jadi tingi. Bidin demam.
"Hari ini tak usahlah kesekolah Bidin kamu demam", kata emaknya pada keesokan harinya, ketika Bidin bersiap-siap hendak kesekolah.
"Mak, Bidin hendak ke sekolah, macam mana nak pandai kalau tak pergi sekolah", Bidin membantah cakap emaknya. Hatinya sangat takut kalau dia tak pandai nanti.
Mak Bidin terpaksa melepas anaknya pergi, melihat kesungguhan hatinya. Dia berdoa supaya anaknya cepat sembuh dan menjadi oarang yang bijak pandai kelak.
Dengan suhu badan yang tinggi, Bidin sampai juga ke sekolahnya itu. Dilihatnya kawan-kawannya menunjuk-nunjuk ke arah dia dari jauh.
"Cik gu itu dia dah datang!!!!!, dia yang mengambil duit saya semalam", terdengar suara seorang kawannya. Bidin terkejut mendengar tuduhan itu. Dia tak pernah mencuri, apalagi mengambil duit di sekolah. Sekolah adalah tempat belajar supaya dia pandai.
"Cik gu ! itu dia cik gu ! cepat cikgu!!!!!!!!!!! cepat !!!!!! duit saya !!!!!!! , terdengar lagi jeritan kawannya. Bidin terpaku berdiri tegak. Tak tahu apa nak dikatakannya.
"Bidin !!!!! pulangkan duit Razak !!!!! Jangan mencuri pula kerja kamu disini !!!!", terdengar teriakan gurunya menghardik Bidin.
"Saya tidak ada mengambil duit Razak cikgu", suara Bidin gemetar ketakutan.
"Kalau tidak kamu siapa lagi yang mengambil duit itu, mesti kamu yang mengambilnya semua kawan-kawan kamu nampak kamu yang mengambilnya", tuduh gurunya.
"Saya tidak mengambilnya cik gu, betul cik gu saya tidak mengambilnya", Bidin mulai menangis. "Saya tak pernah mencuri, Cik gu !! Saya tak pernah mencuri !!!!".
"Pandainya kamu berlakun, tak per aku lihat budak kecil padai berlakun macam kamu", Gurunya mengejek Bidin. "Hentikan tangisan kamu itu , pulangkan duit Razak !!!!!!".
"Percayalah cik gu saya tidak mengambilnya", Bidin tetap menafikannya.
"Jangan banyak cakap lagi, pulang duit Razak !!!!!!", cik gu nya berkeras.
Bidin menangis tersedu-sedu, bagaimana dia harus belajar kalau gurunya marah kepadanya, dapatkah dia menjadi pandai, gurunya asyik marah-marah dan tidak mengajar dengan baik. Bagaimana dia memberi ibunya duit, membelikan baju dan kasut.
Tangisan Bidin semakin menjadi-jadi. Kawan-kawannya mentertawakan Bidin pula.
"Sudahlah Bidin, jangan menangis pergi balik !!! aku benci melihat muka kamu", terdengar suara guru memarahi Bidin yang memang sejak semula tidak disukainya.
"Saya tak mau balikcik gu, saya nak belajar", pinta Bidin sesunguh hati.
Emak Bidin tiba-tiba datang ke sekolah itu sebab kawatir anaknya demam waktu ke sekolah tadi. Terdengar olehnya Bidin dimarahi dan dihalau oleh gurunya. Alangkah terkejutnya dia, terdengar juga olehnyanya Bidin menangis berhiba-hiba.
"Cikgu anak saya tidak mencuri, jangan dia dimarahi dan dituduh seperti itu", emak Bidin meluru masuk kelas itu.
"Mak cik, jangan banyak cakap, bawa anak mak cik balik saya tak mau melihat mukanya di sekolah ini lagi", terdengar suara guru itu kasar.
"Emak !!! Bidin nak sekolah mak, Bidin nak sekolah !!!!!! Bidin nak jadi pandai mak !!!"
Bidin merayu kepada emaknya, menangis tersedu-sedu berlari memeluk emaknya, memohon kepada emaknya supaya dipertahan supaya dapat bersekolah disitu.
"Mari kita balik nak, kamu tidak diizinkan sekolah disini lagi", emaknya menjelaskan sambil memeluk anaknya dengan hati tersangat sedih dan hiba.
"Bukan disitu tempat yang sesuai bagimu adikku, abang akan carikan sekolah lain yang betul-betul mengajar dan mendidik kanak-kanak. Bukan sekolah yang hanya dibuat untuk mencari wang semata-mata, dengan guru yang tidak tahu ilmu mendidik, hanya mengikut kehendak hati menuduh tanpa usul periksa", abang Bidin memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang berjanji kepada Bidin untuk memasukkannya ke sekolah yang menepati pengajaran di Tadika yang sesuai dengan jiwa kanak-kanak, mengajar dan mendidik kanak-kanak dengan gembira dan penuh kasih sayang.
Sunday, 19 February 2012
K A L U N G M U T I A R A
K A L U N G M U T I R A
Lili masih berpikir-pikir , dia masih belum mendapatkan jawabannya , mengapa opahnya selalu marah kepadanya. Tadi ketika Lili makan opahnya marah juga, dia membuang nasinya itu sebab pedas sangat, dia tak tahan pedas, jadi nasinya yang berkuah cili itu dibuangnya, barulah dia dapat makan. Tapi opahnya marah-marah.
Lili pergi bercermin, dilihatnya wajahnya dalam cermin itu diperhatikannya hidungnya, matanya, keningnya semuanya dilihatnya dengan teliti satu persatu.
"Mungkin opah marah padaku, sebab aku tak cantik, mataku bulat, mulutku agak besar, hidungku kembang, memanglah aku ini tak cantik, kulitku tak seputih kulit kak yong",
Lilipun tak habis pikir mengapa dia tidak secantik kak yong, supaya opahnya tak selalu marah kepadanya. Kadang- kadang Lili meradang dengan opahnya , asyik marah, tapi kak yong tak pernah kena marah.
"Kak yong baik, tak pernah marah denganku. Kak yong cantik dan rajin, tiap hari dia mandikan aku, sikatkan rambutku, selalu bermain denganku, selalu suapkan aku kalau aku malas menyuapkan nasi ke mulutku", Lili membanding-bandingkan opahnya dengan kak yongnya yaitu kakak sepupunya itu. Memanglah Lili lebih sayang kepada kak yongnya.
Opah selalu marah-marah dengan Lili, nasib baik opah mau juga membelikan kalung mutiara yang sama dengan kalung mutiara kak yong. Sekarang Lili dapat bergembira dengan memakai kalung mutiaranya setiap hari, Sekarang Lili terasa lebih cantik sebab memakai kalung mutiara yang dibelikan oleh opahnya itu. Lili sayang betul dengan kalung mutiaranya itu, setiap hari tak pernah kalung itu lepas dari lehernya.
Malam itu, mereka berempat makan bersama-sama. Lili, kak yong, opah dan atok.
"Apa yang kamu buat dengan kalung kamu Lili ?? Aku tengok kalung kamu itu sudah calar-calar. Kamu memang tak pandai berjimat, tak pandai memelihara barang, aku sudah membelikan kamu kalung mutiara itu, tapi lihatlah apa dah jadi, kalung itu sudah buruk, tentulah kamu akan memakai kalung buruk itu pada hari kenduri itu nanti", opahnya betul-betul marah kepada Lili.
Lili tunduk memandang kalung yang tersangkut dilehernya, kalung itu cantik, hanya calar-calar sedikit saja, tapi opahnya sangat marah.
"Kalung ini cantiklah opah, kenapa opah asyik nak marah Lili saja, opah ni suka marah Lili , kak yong tak pernah kena marah", Lili membantah .
" Biyah tengok kalung kamu, tunjukkan pada budak Lili ni, supaya dia tahu mana yang cantik dan mana yang dah buruk, pandai pula dia membantah cakap aku", kata opahnya dengan marah.
Kak yongpun pergi mengambil kalungnya, diberikannya kepada Lili. Memang kalung kak yong sangat cantik, mutiaranya berkilat cantik berseri-seri, tidak ada yang calar.
Tiba-tiba.................., digigit-gigitnya kalung itu, beberapa mutiara retak-retak, dan beberapa mutiara lagi calar-calar. Kalung itu dihempaskannya, cepat-cepat Lili berlari keluar rumah, menuju ke rumah emaknya. Lili tidak tahu apa yang terjadi dengan dengan opahnya dan kak yongnya. Malam itu dia tidak tidur di rumah itu, tidur di rumah maknya.
Pagi-pagi Lili mengendap-endap datang ke rumah opahnya, didengarnya kak yong menangis, terdengar suara opahnya membujuk kak yong.
"Tak apalah Biyah hanya dua yang retak dan tiga lagi itu hanya calar sedikit saja. Mutiara kalung kamu itu cantik tak nampakpun kalau dilihat dari jauh. Dari semalam kamu menangis, pagi ini kamu sambung lagi tangisan kamu, kalung itu tak akan pulih lagi.
Budak Lili itu memang sangat nakal opah betul-betul tak sangka dia akan menggigit kalung kamu itu. Memang betul-betul nakal budak itu," terdengar suara opah sangaat marah. Lili mendengar percakapan opah dan kak yong dari balik pintu, mereka berdua tidak sadar kehadiran Lili di situ.
Dari celah pintu Lili nampak wajah kak yong, sedih hati Lili, mata kak yong bengkak, wajahnya sedih. Lili rasa menyesal, sebenarnya dia marah dengan opahnya tapi tak disangkanya kak yong yang sedih.
Malam berikutnya kak yong jadi pengantin, semua orang memuji kecantikan kak yong, Lili juga menyaksikan kecantikan kak yong bepakaian pengantin, kepalanya dihiasi mahkota bertatahkan permata berkilauan ditimpa cahaya lampu. Baju pengantin kak yong kuning diraja dihiasi manik-manik dan sulaman indah, para jemputan terpesona melihat keantikan kak yong.
Kalung Mutiara menghiasi leher kak yong yang indah, semuanya terlihat sempurna, hanya beberapa mutiara retak dan beberapa lagi yang calar mengurangi sedapnya pemandangan dikala itu.
Si kecil nakal, yang dipanggil Lili juga menyedari hal itu. Dia kecewa, perbuatannya menggigit kalung kak yong mengurangi keindahan suasana di malam itu.
Lili pergi ke balik pintu menangis, menangis sedih seorang diri, tak disangkanya kakak yang disayanginya terkurang kecantikannya, disaat perlu terlihat cantik.
Lili menangis terisak-isak, dia harus minta maaf dengan kak yong, perbuatannya yang tidak disangkanya berakibat begitu, dia berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan nakal lagi, dia harus belajar memperbaiki dirinya, dia akan menjadi orang yang baik setelah dewasa nanti. Walaupun ketika itu Lili belum mengerti semua itu.
Lili masih berpikir-pikir , dia masih belum mendapatkan jawabannya , mengapa opahnya selalu marah kepadanya. Tadi ketika Lili makan opahnya marah juga, dia membuang nasinya itu sebab pedas sangat, dia tak tahan pedas, jadi nasinya yang berkuah cili itu dibuangnya, barulah dia dapat makan. Tapi opahnya marah-marah.
Lili pergi bercermin, dilihatnya wajahnya dalam cermin itu diperhatikannya hidungnya, matanya, keningnya semuanya dilihatnya dengan teliti satu persatu.
"Mungkin opah marah padaku, sebab aku tak cantik, mataku bulat, mulutku agak besar, hidungku kembang, memanglah aku ini tak cantik, kulitku tak seputih kulit kak yong",
Lilipun tak habis pikir mengapa dia tidak secantik kak yong, supaya opahnya tak selalu marah kepadanya. Kadang- kadang Lili meradang dengan opahnya , asyik marah, tapi kak yong tak pernah kena marah.
"Kak yong baik, tak pernah marah denganku. Kak yong cantik dan rajin, tiap hari dia mandikan aku, sikatkan rambutku, selalu bermain denganku, selalu suapkan aku kalau aku malas menyuapkan nasi ke mulutku", Lili membanding-bandingkan opahnya dengan kak yongnya yaitu kakak sepupunya itu. Memanglah Lili lebih sayang kepada kak yongnya.
Opah selalu marah-marah dengan Lili, nasib baik opah mau juga membelikan kalung mutiara yang sama dengan kalung mutiara kak yong. Sekarang Lili dapat bergembira dengan memakai kalung mutiaranya setiap hari, Sekarang Lili terasa lebih cantik sebab memakai kalung mutiara yang dibelikan oleh opahnya itu. Lili sayang betul dengan kalung mutiaranya itu, setiap hari tak pernah kalung itu lepas dari lehernya.
Malam itu, mereka berempat makan bersama-sama. Lili, kak yong, opah dan atok.
"Apa yang kamu buat dengan kalung kamu Lili ?? Aku tengok kalung kamu itu sudah calar-calar. Kamu memang tak pandai berjimat, tak pandai memelihara barang, aku sudah membelikan kamu kalung mutiara itu, tapi lihatlah apa dah jadi, kalung itu sudah buruk, tentulah kamu akan memakai kalung buruk itu pada hari kenduri itu nanti", opahnya betul-betul marah kepada Lili.
Lili tunduk memandang kalung yang tersangkut dilehernya, kalung itu cantik, hanya calar-calar sedikit saja, tapi opahnya sangat marah.
"Kalung ini cantiklah opah, kenapa opah asyik nak marah Lili saja, opah ni suka marah Lili , kak yong tak pernah kena marah", Lili membantah .
" Biyah tengok kalung kamu, tunjukkan pada budak Lili ni, supaya dia tahu mana yang cantik dan mana yang dah buruk, pandai pula dia membantah cakap aku", kata opahnya dengan marah.
Kak yongpun pergi mengambil kalungnya, diberikannya kepada Lili. Memang kalung kak yong sangat cantik, mutiaranya berkilat cantik berseri-seri, tidak ada yang calar.
Tiba-tiba.................., digigit-gigitnya kalung itu, beberapa mutiara retak-retak, dan beberapa mutiara lagi calar-calar. Kalung itu dihempaskannya, cepat-cepat Lili berlari keluar rumah, menuju ke rumah emaknya. Lili tidak tahu apa yang terjadi dengan dengan opahnya dan kak yongnya. Malam itu dia tidak tidur di rumah itu, tidur di rumah maknya.
Pagi-pagi Lili mengendap-endap datang ke rumah opahnya, didengarnya kak yong menangis, terdengar suara opahnya membujuk kak yong.
"Tak apalah Biyah hanya dua yang retak dan tiga lagi itu hanya calar sedikit saja. Mutiara kalung kamu itu cantik tak nampakpun kalau dilihat dari jauh. Dari semalam kamu menangis, pagi ini kamu sambung lagi tangisan kamu, kalung itu tak akan pulih lagi.
Budak Lili itu memang sangat nakal opah betul-betul tak sangka dia akan menggigit kalung kamu itu. Memang betul-betul nakal budak itu," terdengar suara opah sangaat marah. Lili mendengar percakapan opah dan kak yong dari balik pintu, mereka berdua tidak sadar kehadiran Lili di situ.
Dari celah pintu Lili nampak wajah kak yong, sedih hati Lili, mata kak yong bengkak, wajahnya sedih. Lili rasa menyesal, sebenarnya dia marah dengan opahnya tapi tak disangkanya kak yong yang sedih.
Malam berikutnya kak yong jadi pengantin, semua orang memuji kecantikan kak yong, Lili juga menyaksikan kecantikan kak yong bepakaian pengantin, kepalanya dihiasi mahkota bertatahkan permata berkilauan ditimpa cahaya lampu. Baju pengantin kak yong kuning diraja dihiasi manik-manik dan sulaman indah, para jemputan terpesona melihat keantikan kak yong.
Kalung Mutiara menghiasi leher kak yong yang indah, semuanya terlihat sempurna, hanya beberapa mutiara retak dan beberapa lagi yang calar mengurangi sedapnya pemandangan dikala itu.
Si kecil nakal, yang dipanggil Lili juga menyedari hal itu. Dia kecewa, perbuatannya menggigit kalung kak yong mengurangi keindahan suasana di malam itu.
Lili pergi ke balik pintu menangis, menangis sedih seorang diri, tak disangkanya kakak yang disayanginya terkurang kecantikannya, disaat perlu terlihat cantik.
Lili menangis terisak-isak, dia harus minta maaf dengan kak yong, perbuatannya yang tidak disangkanya berakibat begitu, dia berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan nakal lagi, dia harus belajar memperbaiki dirinya, dia akan menjadi orang yang baik setelah dewasa nanti. Walaupun ketika itu Lili belum mengerti semua itu.
Wednesday, 8 February 2012
MENANAMKAN KEPERCAYAAN DIRI (3)
Menanamkan kepercayaan diri , dapat dilakukan dengan berbagai-bagai cara.
Yang penting kita harus tahu penyebab kenapa tiada kepercayaan diri. Kadang-kadang seorang itu pemalu tidak bertempat, tentu ada penyebabnya.
Orang tua dapat memegang peranan untuk menolong anak-anak yang kurang kepercayaan diri ini. Carilah penyebab-penyebabnya.
- Apakah anak kita kurang pandai menyebabakan dia malu dengan teman-temannya ?
Jika ini penyebabnya ada beberapa langkah yang dapat anda gunakan:
Jangan sekali-kali anda katakan dia kurang pandai, apalagi kata-kata bodoh jangan sekali-kali anda ucapkan untuknya, anak anda akan hancur kalau kata-kata ini anda gunakan untuk memarahinya. Jangan marahi dia kalau mendapat markah yang kurang sebaliknya berilah semangat supaya lain kali mendapatkan markah yang tinggi.
"Oh... hari ini dapat 50/100 saja, tak mengapalah ini belum peperiksaan penentuan masih ada masa untuk memperbaiki markah ini, ibu harap peperiksaan lain kali dapat markah lebih baik. Sekarang kita buat jadwal yang baru, untuk membuat kerja-kerja sekolah kita gunakan satu jam, selesai makan tengah hari. Pada waktu malam kita gunakan untuk ulang kaji. Setiap pelajaran baru kita ulang lagi di rumah sampai kita betul-betul faham supaya kita tidak lupa lagi sampai bila-bila. Anak ibu pasti akan jadi orang yang bijak pandai suatu hari nanti ibu sangat yakin." Kira-kira begitulah ucapan seorang ibu yang kecewa dengan markah anaknya , tapi harus nampak tidak kecewa dan memimpin mereka selalu, tunjukkan kita penuh perhatian dengan pelajaran mereka .
-Penyebab kedua kemungkinan orang tua kurang berada.
Orang tua yang kurang berada, jangan sekali-kali mau kalah dalam mendidik dan membimbing anak-anak untuk berlumba mencapai kejayaan. Peranan kita adalah menanamkan sebangat bahwa kita tidak kurang dari mereka yang berada.
Kita tidak ada kereta, katakan kepada anak," Kita suatu hari nanti kita akan punya kereta.
kita kumpulkan wang, kita belajar pandai-pandai, dapat gaji besar kita beli kereta yang lagi besar dan cantik. Amin nak kereta besar dan cantik kan ? belajarlah rajin-rajin dan pandai, senang saja kita nak beli kereta.
Jangan sekali-kali kita mengatakan kepada anak kita bahwa kita orang miskin tak mampu untuk beli kereta, jiwa anak kita akan jadi kecil ciut rasa kurang harga diri, rasa malu, takut dan segan, tak mampu bersaing dengan orang lain dalam hal apapun. Anak kita sudah kalah sekalah-kalahnya, walaupun dia pandai dia tidak merani mengemukan buah pikirannya, tak berani berhadapan dengan orang ramai, walaupun dia boleh sebenarnya.
Penyebab yang ketiga, mungkin anak kita mempunyai kekurangan pisik, badan lemah, kurang lawa, atau kaki tempang atau lain-lain kekurangan.
Tanpa disedari anak-anak yang bergini telah tertanam dengan sendirinya rasa rendah diri, dan tidak ada kepercayaan kepada diri sendiri, mereka merasa malu dan segan.
Ibu terutamanya harus selalu dekat dengan anak begini. Jangan ibu menunjukkan kekurangan atau kecacatan anak itu sesuatu yang memalukan. Ibu dan ayah bersikap seolah-olah kecacatan itu adalah perkara biasa. Dan kita boleh bersaing atau melakukan sesuatu sebagaimanan orang lain buat, tanpa ada rasa rendah diri.
Seorang anak kaki tempang, tentu akan kalah berlumba lari dengan temannya.
"Tak apa Min, kalah lumba lari tu, nanti Amin kalahkan pula kawan-kawan Amin tu dalam pelajaran matematik, Amin belajar pandai-pandai matematik, kalau dapat nombor satu dalam kelas semua orang puji Amin, tak ada yang beerani mengejek Amin."
Selalu lah orang tua tanamkan pikiran yang positf dan membangun dalam diri anak itu. JANGAN SEKALI-KALI ORANG TUA MEMBESAR-BESARKAN KECACATAN ANAK ITU. APALAGI MENGHINA ANAK ITU DENGAN KECACATANNYA KETIKA MEMARAHINYA.
Penyebab yang kempat adalah, tanpa disadari adalah datangnya dari orang tua sendiri yang selalu memarahi anaknya, selalu menyalahkan si anak dalam sesuatu perkara. Si anak bermain ini salah, si anak membuat itu salah, si anak tertwa keras-keras salah, si anak makan juga salah, dalam segala hal si anak selalu di marah. Namanya kanak-kanak yang belum tahu, mestilah mereka berbuat salah tetapi harus bijaksana membetulkan kesalahan itu jangan dimarah, diberi pengertian, sehingga si anak tahu kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya. kadang-kadang si anak tidak tahu kenapa dia kena marah, atas kesalahan yang mana dia kena marah. semuanya ini menyebabkan di anak kurang kepercayaan pada dirinya sendiri, selalu merasa diri serba tidak tahu.
Contoh seorang ibu yang bijaksana. Setelah selesai membuatkan kopi untuk si bapa, si ibu sengaja menyuruh anaknya menghidangkan kopi tersebut ke meja bapak, untuk menanamkan kepercayaan pada diri si anak bahwa mereka telah mampu membuat sesuatu. Tetapi tiba-tiba si anak jatuh dengan kopi di tangan, siibu sedikitpun tidak marah, sebaliknya dia sekali lagi membuat kopi dan sekali lagi menyruh anaknya menghidangkan kopi tersebut kepada bapanya dengan berkata," Tak apa, Ani kan baru belajar membawa kopi untuk ayah, sekali lagi cuba bawa kopi ini baik-baik, hati-hati berjalan, pasti tidak jatuh".
Nampaknya hal ini kecil saja tetapi impaknya pada diri si anak sangat besar, mereka yakin mereka dapat membuat sesuatu dengan baik dan sempurna tidak pernah ragu-ragu akan kemampuan diri, mereka akan belajar dan bekerja lebih rajin dan gigih, mereka yakin setiap yang mereka kerjakan akan berhasil dengan sempurna, jika terbentur mereka akan lebih berusaha mengatasi setiap masalah, Hidup mereka penuh semangat.
Bagaimana selalunya si ibu ? Pasti marah-marah dengan anaknya bukan ?
Yang penting kita harus tahu penyebab kenapa tiada kepercayaan diri. Kadang-kadang seorang itu pemalu tidak bertempat, tentu ada penyebabnya.
Orang tua dapat memegang peranan untuk menolong anak-anak yang kurang kepercayaan diri ini. Carilah penyebab-penyebabnya.
- Apakah anak kita kurang pandai menyebabakan dia malu dengan teman-temannya ?
Jika ini penyebabnya ada beberapa langkah yang dapat anda gunakan:
Jangan sekali-kali anda katakan dia kurang pandai, apalagi kata-kata bodoh jangan sekali-kali anda ucapkan untuknya, anak anda akan hancur kalau kata-kata ini anda gunakan untuk memarahinya. Jangan marahi dia kalau mendapat markah yang kurang sebaliknya berilah semangat supaya lain kali mendapatkan markah yang tinggi.
"Oh... hari ini dapat 50/100 saja, tak mengapalah ini belum peperiksaan penentuan masih ada masa untuk memperbaiki markah ini, ibu harap peperiksaan lain kali dapat markah lebih baik. Sekarang kita buat jadwal yang baru, untuk membuat kerja-kerja sekolah kita gunakan satu jam, selesai makan tengah hari. Pada waktu malam kita gunakan untuk ulang kaji. Setiap pelajaran baru kita ulang lagi di rumah sampai kita betul-betul faham supaya kita tidak lupa lagi sampai bila-bila. Anak ibu pasti akan jadi orang yang bijak pandai suatu hari nanti ibu sangat yakin." Kira-kira begitulah ucapan seorang ibu yang kecewa dengan markah anaknya , tapi harus nampak tidak kecewa dan memimpin mereka selalu, tunjukkan kita penuh perhatian dengan pelajaran mereka .
-Penyebab kedua kemungkinan orang tua kurang berada.
Orang tua yang kurang berada, jangan sekali-kali mau kalah dalam mendidik dan membimbing anak-anak untuk berlumba mencapai kejayaan. Peranan kita adalah menanamkan sebangat bahwa kita tidak kurang dari mereka yang berada.
Kita tidak ada kereta, katakan kepada anak," Kita suatu hari nanti kita akan punya kereta.
kita kumpulkan wang, kita belajar pandai-pandai, dapat gaji besar kita beli kereta yang lagi besar dan cantik. Amin nak kereta besar dan cantik kan ? belajarlah rajin-rajin dan pandai, senang saja kita nak beli kereta.
Jangan sekali-kali kita mengatakan kepada anak kita bahwa kita orang miskin tak mampu untuk beli kereta, jiwa anak kita akan jadi kecil ciut rasa kurang harga diri, rasa malu, takut dan segan, tak mampu bersaing dengan orang lain dalam hal apapun. Anak kita sudah kalah sekalah-kalahnya, walaupun dia pandai dia tidak merani mengemukan buah pikirannya, tak berani berhadapan dengan orang ramai, walaupun dia boleh sebenarnya.
Penyebab yang ketiga, mungkin anak kita mempunyai kekurangan pisik, badan lemah, kurang lawa, atau kaki tempang atau lain-lain kekurangan.
Tanpa disedari anak-anak yang bergini telah tertanam dengan sendirinya rasa rendah diri, dan tidak ada kepercayaan kepada diri sendiri, mereka merasa malu dan segan.
Ibu terutamanya harus selalu dekat dengan anak begini. Jangan ibu menunjukkan kekurangan atau kecacatan anak itu sesuatu yang memalukan. Ibu dan ayah bersikap seolah-olah kecacatan itu adalah perkara biasa. Dan kita boleh bersaing atau melakukan sesuatu sebagaimanan orang lain buat, tanpa ada rasa rendah diri.
Seorang anak kaki tempang, tentu akan kalah berlumba lari dengan temannya.
"Tak apa Min, kalah lumba lari tu, nanti Amin kalahkan pula kawan-kawan Amin tu dalam pelajaran matematik, Amin belajar pandai-pandai matematik, kalau dapat nombor satu dalam kelas semua orang puji Amin, tak ada yang beerani mengejek Amin."
Selalu lah orang tua tanamkan pikiran yang positf dan membangun dalam diri anak itu. JANGAN SEKALI-KALI ORANG TUA MEMBESAR-BESARKAN KECACATAN ANAK ITU. APALAGI MENGHINA ANAK ITU DENGAN KECACATANNYA KETIKA MEMARAHINYA.
Penyebab yang kempat adalah, tanpa disadari adalah datangnya dari orang tua sendiri yang selalu memarahi anaknya, selalu menyalahkan si anak dalam sesuatu perkara. Si anak bermain ini salah, si anak membuat itu salah, si anak tertwa keras-keras salah, si anak makan juga salah, dalam segala hal si anak selalu di marah. Namanya kanak-kanak yang belum tahu, mestilah mereka berbuat salah tetapi harus bijaksana membetulkan kesalahan itu jangan dimarah, diberi pengertian, sehingga si anak tahu kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya. kadang-kadang si anak tidak tahu kenapa dia kena marah, atas kesalahan yang mana dia kena marah. semuanya ini menyebabkan di anak kurang kepercayaan pada dirinya sendiri, selalu merasa diri serba tidak tahu.
Contoh seorang ibu yang bijaksana. Setelah selesai membuatkan kopi untuk si bapa, si ibu sengaja menyuruh anaknya menghidangkan kopi tersebut ke meja bapak, untuk menanamkan kepercayaan pada diri si anak bahwa mereka telah mampu membuat sesuatu. Tetapi tiba-tiba si anak jatuh dengan kopi di tangan, siibu sedikitpun tidak marah, sebaliknya dia sekali lagi membuat kopi dan sekali lagi menyruh anaknya menghidangkan kopi tersebut kepada bapanya dengan berkata," Tak apa, Ani kan baru belajar membawa kopi untuk ayah, sekali lagi cuba bawa kopi ini baik-baik, hati-hati berjalan, pasti tidak jatuh".
Nampaknya hal ini kecil saja tetapi impaknya pada diri si anak sangat besar, mereka yakin mereka dapat membuat sesuatu dengan baik dan sempurna tidak pernah ragu-ragu akan kemampuan diri, mereka akan belajar dan bekerja lebih rajin dan gigih, mereka yakin setiap yang mereka kerjakan akan berhasil dengan sempurna, jika terbentur mereka akan lebih berusaha mengatasi setiap masalah, Hidup mereka penuh semangat.
Bagaimana selalunya si ibu ? Pasti marah-marah dengan anaknya bukan ?
Tuesday, 7 February 2012
MENANAMKAN KEPERCAYAAN DIRI (2)
Pulang dari sekolah Lila sangat gembira, guru mengikutsertakan dia dalam pertunjukan yang akan diadakan disekolahnya nanti.
"Sebaiknya waktu pertunjukkan nanti Lila memakai baju yang cantik supaya penampilan lebih menarik", Lila memberikan penjelasan kepada ibunya. Tetapi Lila tahu, dia tidak dapat minta kepada ibunya, sebab dia memahami keadaan.
"Kalau tak ada, cikgu cakap boleh memakai baju seragam sekolah untuk pertunjukan itu", Lila memberi penjelasan kepada ibunya, supaya dia tidak memberatkan pikiran ibunya.
Ibu Lila mengerti maksud anaknya, tentulah anaknya mahu sesuatu yang berlaianan pada pertunjukan itu nanti, tetapi anaknya itu memahami keadaan mereka, dia tidak akan menyusahkan ibunya dengan berbagai-bagai permintaan. Sedih hati si ibu memikirkan hal ini, menunaikan permintaan ini memang terasa berat, tetapi ini harus ditunaikan demi anaknya yang masih mencari jati diri dan membentuk kepercayaan dirinya, supaya tidak terasa ketinggalan atau kekurangan dari kawan-kawan di sekolah. Si ibu sangat mengerti inilah saatnya siibu dapat menolong anaknya menanamkan kepercayaan pada diri sendiri.
Si ibu mulai berpikir dia harus berbuat sesuatu demi anaknya, tidak mungkin potensi yang ada pada anaknya tidak dipupuk dan dikembangkan, hanya dia harus mendapatkan cara bagaimana supaya setiap permintaan itu termampu untuk dilaksanakan.
Si ibu pergi ke toko kain sepulangnya dari kerja pada keesokan harinya. Dia memilih kain yang harganya tidak mahal tetapi kelihatan cantik. Sampai di rumah kain itu digunting dan dijahitnya diberi renda disusunnya renda itu dengan sebaik-baiknya, di ujung tangan di bagian dada dan dibagian kaki baju. Terciptalah sehelai baju yang cantik yang patut di tampilkan di atas pentas dengan rasa bangga.
Baju itu diperlihatkan si ibu kepada Lila anaknya, bayangkan betapa kepuasan dan kegembiraan hati seorang anak mendapatkan sesuatu yang memang sangat-sangat diharapkannya. Inilah yang membentuk jiwa seorang anak untuk dia menjadi seseorang di masa depan. Anak jadi berani dan percaya diri merasa dirinya sangat berharga dan dapat menunjukkan segala kemampuan diri di atas pentas di depan orang ramai. Si anak merasa yakin dengan kemampuan dirinya dan selalu berusaha untuk memajukan diri. Berusaha dan berjuang yang tertanam dalam diri si anak adalah modal yang sangat besar untuk mencapai cita-cita tanpa rasa letih dan lelah . Peranan orang tua sangat penting dalam hal ini untuk mendorong si anak sampai ke puncak lebih tinggi dari puncak menara gading yang diimpikan oleh setiap orang.
"Sebaiknya waktu pertunjukkan nanti Lila memakai baju yang cantik supaya penampilan lebih menarik", Lila memberikan penjelasan kepada ibunya. Tetapi Lila tahu, dia tidak dapat minta kepada ibunya, sebab dia memahami keadaan.
"Kalau tak ada, cikgu cakap boleh memakai baju seragam sekolah untuk pertunjukan itu", Lila memberi penjelasan kepada ibunya, supaya dia tidak memberatkan pikiran ibunya.
Ibu Lila mengerti maksud anaknya, tentulah anaknya mahu sesuatu yang berlaianan pada pertunjukan itu nanti, tetapi anaknya itu memahami keadaan mereka, dia tidak akan menyusahkan ibunya dengan berbagai-bagai permintaan. Sedih hati si ibu memikirkan hal ini, menunaikan permintaan ini memang terasa berat, tetapi ini harus ditunaikan demi anaknya yang masih mencari jati diri dan membentuk kepercayaan dirinya, supaya tidak terasa ketinggalan atau kekurangan dari kawan-kawan di sekolah. Si ibu sangat mengerti inilah saatnya siibu dapat menolong anaknya menanamkan kepercayaan pada diri sendiri.
Si ibu mulai berpikir dia harus berbuat sesuatu demi anaknya, tidak mungkin potensi yang ada pada anaknya tidak dipupuk dan dikembangkan, hanya dia harus mendapatkan cara bagaimana supaya setiap permintaan itu termampu untuk dilaksanakan.
Si ibu pergi ke toko kain sepulangnya dari kerja pada keesokan harinya. Dia memilih kain yang harganya tidak mahal tetapi kelihatan cantik. Sampai di rumah kain itu digunting dan dijahitnya diberi renda disusunnya renda itu dengan sebaik-baiknya, di ujung tangan di bagian dada dan dibagian kaki baju. Terciptalah sehelai baju yang cantik yang patut di tampilkan di atas pentas dengan rasa bangga.
Baju itu diperlihatkan si ibu kepada Lila anaknya, bayangkan betapa kepuasan dan kegembiraan hati seorang anak mendapatkan sesuatu yang memang sangat-sangat diharapkannya. Inilah yang membentuk jiwa seorang anak untuk dia menjadi seseorang di masa depan. Anak jadi berani dan percaya diri merasa dirinya sangat berharga dan dapat menunjukkan segala kemampuan diri di atas pentas di depan orang ramai. Si anak merasa yakin dengan kemampuan dirinya dan selalu berusaha untuk memajukan diri. Berusaha dan berjuang yang tertanam dalam diri si anak adalah modal yang sangat besar untuk mencapai cita-cita tanpa rasa letih dan lelah . Peranan orang tua sangat penting dalam hal ini untuk mendorong si anak sampai ke puncak lebih tinggi dari puncak menara gading yang diimpikan oleh setiap orang.
Monday, 6 February 2012
KACANG PUTIH LIMA SEN
KACANG PUTIH LIMA SEN
"Kacang putih, kacccccccaaaaaaaaaaaaaaagg puuuuuuuuuuuttiiiiiiiiiiiiiiiih !!!!!!!!!!!!!" terdengar suara penjual kacang putih berteriak menjualkan barang dagangannya. Lili sudah lama teringin makan kacang putih, selalu tak dapat, minta wang dengan emak tak dapat, mintak wang dengan opah tak dapat mintak wang dengan atuk pun tak dapat. Sekali ini Lili berazam untuk mintak wang dengan opah, sebab berkali-kali tak dapat mungkin kali ini dapat.
Lili berlari lari mendapatkan opahnya, dilihatnya opahnya sedang menggunting kain hendak membuat baju agaknya.
"Opah Lili nak kacang putih,nak mintak duit opah, " Lili mulai bersuara."
"Kamu selalu mintak duit saja, mana aku ada duit", jawab opahnya.
Lili hairan , sebab selalu mintak duit tak dapat mana ada selalu. Tetapi Lili tidak mempersoalkan asalkan sekali ini dia dapat duit, dia teringin sangat makan kacang putih.
"Opah, kasilah duit, nanti kacang putih itu jauh Lili sudah lam teringin makan kacang putih", Lili merayu tanpa putus asa.
Opahnya diam saja, tidak ada tanda-tanda akan memberi dia wang.
"Opah , kasilah Lili duit, Lili teringin sangat makan kacang putih", suara Lili merayu
Lama Lili menunggu reaksi opahnya,tapi tak ada suara apa pun.
"Opah kasilah Lili duit kacang putih tu nanti jauh, kasilah opah", terdengar suara Lili mendayu. Hati Lili terasa sedih seperti mahu menangis.
Opah Lili meraba uncang duitnya diberinya Lili duit lima sen.
Tanpa suara Lili mengambil duit itu terus berlari ke luar. Dilihatnya penjual kacang putih itu sudah sangat jauh, sudah kecil nampaknya.
"Kacang putih !!!!!!!!!!!!!!!", Lili menjerit sekuat-kuatnya. Lili berlari sekuat tenaga mengejar penjual kacang putih itu. Penjual kacang putih itu terus saja berjalan , tidak terdengar pun olehnya jeritan Lili.
"Kacaaaaaaaaaaaaang putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih ", Lili terus memanggil-manggil sambil terus berlari sekencang-kencangnya.
Penjual kakcang putih itupun menoleh dan berhenti ketika dilihatnya Lili mengejarnya.
"Kasi kacang putih lima sen ," Lili membeli kacang putih itu.
Penjual kacang putih itu membungkuskan kacangnya sambil memandang Lili terengah-engah untuk membeli hanya lima sen kacang putih.
Setelah kacang putih diterima Lili , diapun segera berjalan pulang ke rumahnya. Lili tak sabar dibukanya bungkus kacang putih itu, dan dia pun mulai memakan kacangnya.
Satu-satu masuk kemulutnya , alangkah sedapnya hingga tak terkata, memang sudah lama dia tidak makan kacang putih.
Lili berjalan gontai tak ada apa yang dipikirnya hanya keenakkan kacang putih yang sedang dimakanya.
Belum pun setengah jalan kacang putih Lili telah habis, Lili macam tak percaya , dikerobeknya kertas bungkus kacang itu kalau-kalau ada kacang yang terselit disitu.
Belum pun lepas keinginannya makan kacang putih, kacang itu sudah habis, kecewa Lili ketika itu apakah mungkin dia akan meminta wang lagi kepada opahnya ?
Lili lupakan saja terdengar suara hatinya. Sampai di rumah opah berkata:" Mana kacang putih kamu berilah opah sedikit."
Tidak ada jawapan Lili ketika itu, dipandangnya opahnya dengan rasa sedih.
"Kacang putih, kacccccccaaaaaaaaaaaaaaagg puuuuuuuuuuuttiiiiiiiiiiiiiiiih !!!!!!!!!!!!!" terdengar suara penjual kacang putih berteriak menjualkan barang dagangannya. Lili sudah lama teringin makan kacang putih, selalu tak dapat, minta wang dengan emak tak dapat, mintak wang dengan opah tak dapat mintak wang dengan atuk pun tak dapat. Sekali ini Lili berazam untuk mintak wang dengan opah, sebab berkali-kali tak dapat mungkin kali ini dapat.
Lili berlari lari mendapatkan opahnya, dilihatnya opahnya sedang menggunting kain hendak membuat baju agaknya.
"Opah Lili nak kacang putih,nak mintak duit opah, " Lili mulai bersuara."
"Kamu selalu mintak duit saja, mana aku ada duit", jawab opahnya.
Lili hairan , sebab selalu mintak duit tak dapat mana ada selalu. Tetapi Lili tidak mempersoalkan asalkan sekali ini dia dapat duit, dia teringin sangat makan kacang putih.
"Opah, kasilah duit, nanti kacang putih itu jauh Lili sudah lam teringin makan kacang putih", Lili merayu tanpa putus asa.
Opahnya diam saja, tidak ada tanda-tanda akan memberi dia wang.
"Opah , kasilah Lili duit, Lili teringin sangat makan kacang putih", suara Lili merayu
Lama Lili menunggu reaksi opahnya,tapi tak ada suara apa pun.
"Opah kasilah Lili duit kacang putih tu nanti jauh, kasilah opah", terdengar suara Lili mendayu. Hati Lili terasa sedih seperti mahu menangis.
Opah Lili meraba uncang duitnya diberinya Lili duit lima sen.
Tanpa suara Lili mengambil duit itu terus berlari ke luar. Dilihatnya penjual kacang putih itu sudah sangat jauh, sudah kecil nampaknya.
"Kacang putih !!!!!!!!!!!!!!!", Lili menjerit sekuat-kuatnya. Lili berlari sekuat tenaga mengejar penjual kacang putih itu. Penjual kacang putih itu terus saja berjalan , tidak terdengar pun olehnya jeritan Lili.
"Kacaaaaaaaaaaaaang putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih ", Lili terus memanggil-manggil sambil terus berlari sekencang-kencangnya.
Penjual kakcang putih itupun menoleh dan berhenti ketika dilihatnya Lili mengejarnya.
"Kasi kacang putih lima sen ," Lili membeli kacang putih itu.
Penjual kacang putih itu membungkuskan kacangnya sambil memandang Lili terengah-engah untuk membeli hanya lima sen kacang putih.
Setelah kacang putih diterima Lili , diapun segera berjalan pulang ke rumahnya. Lili tak sabar dibukanya bungkus kacang putih itu, dan dia pun mulai memakan kacangnya.
Satu-satu masuk kemulutnya , alangkah sedapnya hingga tak terkata, memang sudah lama dia tidak makan kacang putih.
Lili berjalan gontai tak ada apa yang dipikirnya hanya keenakkan kacang putih yang sedang dimakanya.
Belum pun setengah jalan kacang putih Lili telah habis, Lili macam tak percaya , dikerobeknya kertas bungkus kacang itu kalau-kalau ada kacang yang terselit disitu.
Belum pun lepas keinginannya makan kacang putih, kacang itu sudah habis, kecewa Lili ketika itu apakah mungkin dia akan meminta wang lagi kepada opahnya ?
Lili lupakan saja terdengar suara hatinya. Sampai di rumah opah berkata:" Mana kacang putih kamu berilah opah sedikit."
Tidak ada jawapan Lili ketika itu, dipandangnya opahnya dengan rasa sedih.
Sunday, 5 February 2012
ATU TAK ANDAI (BERUSAHA MEMBUAHKAN KEJAYAANL
ATU TAK ANDAI (BERUSAHA MEMBUAHKAN KEJAYAA)
Sebuah " true story" disampaikan secara narative.
no. 12 Pekan Kecil Tapah Road Perak".Tahun 1951.
Lili hilir mudik di depan kedai itu, dia tak habis pikir tentang Mat. Mengapa Mat menyebut "lotok" ketika membeli rokok untuk bapanya. Bahasa apa yang digunakan oleh Mat? kata Lili.
Tetapi pakcik kedai itu pun memahami bahasa Mat, hanya dia saja yang tak tahu.
Sambil mundar mandir di depan kedai itu, Lili melayangkan pandangannya ke hujung jalan sambil menunggu kedatangan Mat datang ke kedai itu. Hatinya berdebar-debar kalau-kalau Mat tidak datang. Lili ingin sekali bertanya kepada Mat . Lili tersentak ketika dia melihat Mat di hujung jalan.
Pandangan Lili tak lepas memperhatikan gerak dan langkah Mat menuju ke kedai itu. Dari kejauhan Mat sudah melemparkan senyumannya untuk Lili. Mat heran Lili mahu tersenyum kepadanya, padahal Lili tak pernah mahu berkawan dengannya.
Mat terus meluru masuk kedai itu, diperhatikan oleh Lili dengan penuh minat.
"Pak cik, beli lotok tembak sebuntus", Lili ternganga, memang tidak salah lagi pendengarannya. Bahasa Mat lain , tidak sama dengan percakapannya sehari-hari.
Belum habis Lili berpikir, pak cik kedai itu memberikan sebungkus rokok kepada Mat.
Pak cik kedai itupun tahu bahasa yang digunakan Mat, Lili tercengang memandang pak cik kedai itu, ada bahasa rahsia antara Mat dan Pak cik kedai.
Sambil melayangkan pandangan dan mengharapkan balasan senyuman dari Lili, Mat keluar dari kedai itu.
"Mat tunggu sekejap" Lili memanggil Mat. " Mari kita ke belakang kedai ini sekejap , Mat", dengan gembira Mat meluru mengikuti Lili ke belakang kedai. "Kamu beli apa tadi Mat", Lili pura-pura bertanya. "Atu beli lotok untuk bapak atu", jawab Mat selamba. "Apa Mat ? Beli apa?", Lili mulai tak percaya, dengan apa yang didengarnya. "Beli lotok ... untuk bapak atu", Mat berusaha menjelaskan. "Mat ! itu bukan lotok, itu rokok", jawab Lili tak puas hati. Mat terpaku mendengarkan penjelasan Lili, tidak ada sesiapapun mempersoalkan sebelum ini, bagaimanapun cara dia menyebutkannya semua orang akan faham maksud Mat. "Mat cuba kau sebut sekali lagi, r r r o o o k k k o o o k k k", Lili cuba mengajar Mat. "L L L O O O t t t o o o k k k", Mat cuba mengulanginya. "Mat! dengar baik-baik bukan lotok, r r r o o o k k k o o o k k k ", Lili mulai marah dicubitnya pipi Mat, agak kuat juga cubitannya. Mat tidak menyangka Lili akan mencubitnya. "Mat cepat cakap, r r r o o ok k k o o o k k k " perintah Lili lebih kuat lagi "Tak Andai", jawab Mat agak ketakutan, dilihatnya Lili sangat marah dan meradang. "Kenapa engkau tak pandai? semua orang pandai!, r r r o o o k k k o o ok k k !!!!! , cepat cakap", Lili semakin marah tangannya mencubit pipi, tangan dan ponggong Mat dengan kuat. Mat mulai menangis, cubitan Lili sangat menyakitkannya. "Diam !!!!! jangan menangis, nanti aku cubit lagi, cepat cakap betul-betul.. r r r o o o k k k o o o k k k ! ! ! ! ! ! ! ". Lili semakin meradang. Mat tak dapat berkata-kata, sebab tersedu menangis menahan sakit. Mat berharap Lili mahu berkawan dengannya tetapi Lili malah mencubitnya, sungguh sedih hati Mat. Dia memandang Lili dengan sedih, sedih dan sedih sekali.
" Mat cepat cakap, r r r o o o k k k o o o k k k !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!", Lili mengajarkan Mat , sambil menjerit."Aku cubit lagi , kau naaaakkkkk?????????"
"Mat tak andai catap, macam mana ni...................???"
"R R Ro o ok k k o o ok k k !!!!!!!!!!! rokok !!!!!!!! r r r o o o k k k o o o k k k ..!!!!!!!!!!!!! ,senang sangat itupun tak tahu ke ???????? tangan Lili mencubit Mat lagi.
"Kamu boleh balik, tapi jangan kamu ceritaka semua ini kepada kakak kamu Yah, jangan cerita kepada mak dan bapak kamu dengar tak ?"
"Dengar ", jawab Mat ketakutan. Tanpa menoleh Mat pergi meninggalkan Lili.
Beberapa hari Lili tak nampak Mat, setiap hari Yah yang pergi kekedai. Sempat Lili bertanya kepada Yah ,kenapa Mat tidak ke kedai, tanpa rasa curiga Yah mengatakan bahwa Mat letih tidak mau disuruh ke kedai. Lili gembira Mat tidak mengadu apa-apa.
Lili tidak berputus asa, tiap hari Lili menunggu Mat di depan kedai itu. Dia tahu bahwa dia bersalah dengan Mat dia telah mencubit Mat dan menyakiti Mat, dia telah jahat dengan Mat, dia menyesal dan mahu minta maaf dengan Mat.
Pada hari keenam dari penantian Lili, dia melihat Mat di kejauhan. Lili bertanya dalam hati bagaimana cara untuk menegur Mat untuk minta maaf, dia tahu Mat mesti sangat marah kepadanya. Dari jauh Lili melemparkan senyum ke pada Mat, terasa sejuk hati Lili,
Mat membalas senyumnya.
"Kamu mahu ke kedai Mat ???? ", Lili menegur Mat baik sekali.
"Ya, saya mahu membeli rokok untuk bapak aku ", jawab Mat sambil terus mengulum senyuman.
"Maaaaaaatttttttt !!!!!!!!!!!!!! , kamu sudah pandai menyebut r r r o o o k k k o o ok k k?"
Llili menjerit keriangan mendengarkan kemajuan Mat.
" Ya !!! Lili !! aku sudah pandai menyebut rokok aku berterima kasih kepada kamu".
"Beberapa hari aku menunggu kamu Mat, aku mahu minta maaf dengan kamu , aku budak jahat, aku cubit kamu kuat-kuat aku geram", Lili mengemukakan penyesalannya kepada Mat.
"Lili kamu tak bersalah, sebab kamu cubit aku, setiap hari aku berlatih menyebut r r r r
menyebut k k k k dan menyebutkan yang lain-lainnya. Aku berjaya Lili, aku dapat menyebutkan semua tanpa salah." jawab Mat dengan bangga .
"Aku sangat gembira Mat, aku bangga dengan kamu lebih-lebih lagi kamu tak marah dengan aku. Maaf kan aku ya Mat, aku betul-betul minta maaf, aku mahu berkawan dengan kamu sampai bila- bila, ya Mat kita bekawan". Lili gembira Mat tidak marah, dalam hatinya tertanam niat untuk berteman dengan Mat.
Akan tetapi tidak berapa lama selepas itu, Lili meninggalkan Mat mengikut orang tuanya berpindah ke tempat lain. Sampai saat ini mereka tak pernah bertemu lagi.
"Mat !!!! sekiranya kamu masih ada di dunia ini ketahuilah bahwa aku , Lili menunggu kamu sekali lagi, hubungi aku ya Mat kalau kamu dapat membaca naskahku ini , aku menunggu kamu Mat, kita ceritakan lagi kisah kita enampuluh satu tahun lima bulan
yang lalu."
";Berapa usia kamu waktu itu Mat ?. mungkin lebih kurang empat tahun; aku kagum dengan kamu Mat, dalam usia semuda itu kamu ssudah tahu makna berusaha dan berjuang untuk mendapatkan sesuatu, dan kamu memperoleh buah, hasil dari perjuangan kamu. Buahnya tersangat manis kan Mat ?? Umur aku waktu itu lima tahun setengah. Sudah terlalu lama ya Mat ???? Waktu sudah begitu jauh meninggalkan kita.......... Biarlah waktu berlalu,tetapi kisah kita tidak luput ditelan waktu....................".
Sebuah " true story" disampaikan secara narative.
no. 12 Pekan Kecil Tapah Road Perak".Tahun 1951.
Lili hilir mudik di depan kedai itu, dia tak habis pikir tentang Mat. Mengapa Mat menyebut "lotok" ketika membeli rokok untuk bapanya. Bahasa apa yang digunakan oleh Mat? kata Lili.
Tetapi pakcik kedai itu pun memahami bahasa Mat, hanya dia saja yang tak tahu.
Sambil mundar mandir di depan kedai itu, Lili melayangkan pandangannya ke hujung jalan sambil menunggu kedatangan Mat datang ke kedai itu. Hatinya berdebar-debar kalau-kalau Mat tidak datang. Lili ingin sekali bertanya kepada Mat . Lili tersentak ketika dia melihat Mat di hujung jalan.
Pandangan Lili tak lepas memperhatikan gerak dan langkah Mat menuju ke kedai itu. Dari kejauhan Mat sudah melemparkan senyumannya untuk Lili. Mat heran Lili mahu tersenyum kepadanya, padahal Lili tak pernah mahu berkawan dengannya.
Mat terus meluru masuk kedai itu, diperhatikan oleh Lili dengan penuh minat.
"Pak cik, beli lotok tembak sebuntus", Lili ternganga, memang tidak salah lagi pendengarannya. Bahasa Mat lain , tidak sama dengan percakapannya sehari-hari.
Belum habis Lili berpikir, pak cik kedai itu memberikan sebungkus rokok kepada Mat.
Pak cik kedai itupun tahu bahasa yang digunakan Mat, Lili tercengang memandang pak cik kedai itu, ada bahasa rahsia antara Mat dan Pak cik kedai.
Sambil melayangkan pandangan dan mengharapkan balasan senyuman dari Lili, Mat keluar dari kedai itu.
"Mat tunggu sekejap" Lili memanggil Mat. " Mari kita ke belakang kedai ini sekejap , Mat", dengan gembira Mat meluru mengikuti Lili ke belakang kedai. "Kamu beli apa tadi Mat", Lili pura-pura bertanya. "Atu beli lotok untuk bapak atu", jawab Mat selamba. "Apa Mat ? Beli apa?", Lili mulai tak percaya, dengan apa yang didengarnya. "Beli lotok ... untuk bapak atu", Mat berusaha menjelaskan. "Mat ! itu bukan lotok, itu rokok", jawab Lili tak puas hati. Mat terpaku mendengarkan penjelasan Lili, tidak ada sesiapapun mempersoalkan sebelum ini, bagaimanapun cara dia menyebutkannya semua orang akan faham maksud Mat. "Mat cuba kau sebut sekali lagi, r r r o o o k k k o o o k k k", Lili cuba mengajar Mat. "L L L O O O t t t o o o k k k", Mat cuba mengulanginya. "Mat! dengar baik-baik bukan lotok, r r r o o o k k k o o o k k k ", Lili mulai marah dicubitnya pipi Mat, agak kuat juga cubitannya. Mat tidak menyangka Lili akan mencubitnya. "Mat cepat cakap, r r r o o ok k k o o o k k k " perintah Lili lebih kuat lagi "Tak Andai", jawab Mat agak ketakutan, dilihatnya Lili sangat marah dan meradang. "Kenapa engkau tak pandai? semua orang pandai!, r r r o o o k k k o o ok k k !!!!! , cepat cakap", Lili semakin marah tangannya mencubit pipi, tangan dan ponggong Mat dengan kuat. Mat mulai menangis, cubitan Lili sangat menyakitkannya. "Diam !!!!! jangan menangis, nanti aku cubit lagi, cepat cakap betul-betul.. r r r o o o k k k o o o k k k ! ! ! ! ! ! ! ". Lili semakin meradang. Mat tak dapat berkata-kata, sebab tersedu menangis menahan sakit. Mat berharap Lili mahu berkawan dengannya tetapi Lili malah mencubitnya, sungguh sedih hati Mat. Dia memandang Lili dengan sedih, sedih dan sedih sekali.
" Mat cepat cakap, r r r o o o k k k o o o k k k !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!", Lili mengajarkan Mat , sambil menjerit."Aku cubit lagi , kau naaaakkkkk?????????"
"Mat tak andai catap, macam mana ni...................???"
"R R Ro o ok k k o o ok k k !!!!!!!!!!! rokok !!!!!!!! r r r o o o k k k o o o k k k ..!!!!!!!!!!!!! ,senang sangat itupun tak tahu ke ???????? tangan Lili mencubit Mat lagi.
"Kamu boleh balik, tapi jangan kamu ceritaka semua ini kepada kakak kamu Yah, jangan cerita kepada mak dan bapak kamu dengar tak ?"
"Dengar ", jawab Mat ketakutan. Tanpa menoleh Mat pergi meninggalkan Lili.
Beberapa hari Lili tak nampak Mat, setiap hari Yah yang pergi kekedai. Sempat Lili bertanya kepada Yah ,kenapa Mat tidak ke kedai, tanpa rasa curiga Yah mengatakan bahwa Mat letih tidak mau disuruh ke kedai. Lili gembira Mat tidak mengadu apa-apa.
Lili tidak berputus asa, tiap hari Lili menunggu Mat di depan kedai itu. Dia tahu bahwa dia bersalah dengan Mat dia telah mencubit Mat dan menyakiti Mat, dia telah jahat dengan Mat, dia menyesal dan mahu minta maaf dengan Mat.
Pada hari keenam dari penantian Lili, dia melihat Mat di kejauhan. Lili bertanya dalam hati bagaimana cara untuk menegur Mat untuk minta maaf, dia tahu Mat mesti sangat marah kepadanya. Dari jauh Lili melemparkan senyum ke pada Mat, terasa sejuk hati Lili,
Mat membalas senyumnya.
"Kamu mahu ke kedai Mat ???? ", Lili menegur Mat baik sekali.
"Ya, saya mahu membeli rokok untuk bapak aku ", jawab Mat sambil terus mengulum senyuman.
"Maaaaaaatttttttt !!!!!!!!!!!!!! , kamu sudah pandai menyebut r r r o o o k k k o o ok k k?"
Llili menjerit keriangan mendengarkan kemajuan Mat.
" Ya !!! Lili !! aku sudah pandai menyebut rokok aku berterima kasih kepada kamu".
"Beberapa hari aku menunggu kamu Mat, aku mahu minta maaf dengan kamu , aku budak jahat, aku cubit kamu kuat-kuat aku geram", Lili mengemukakan penyesalannya kepada Mat.
"Lili kamu tak bersalah, sebab kamu cubit aku, setiap hari aku berlatih menyebut r r r r
menyebut k k k k dan menyebutkan yang lain-lainnya. Aku berjaya Lili, aku dapat menyebutkan semua tanpa salah." jawab Mat dengan bangga .
"Aku sangat gembira Mat, aku bangga dengan kamu lebih-lebih lagi kamu tak marah dengan aku. Maaf kan aku ya Mat, aku betul-betul minta maaf, aku mahu berkawan dengan kamu sampai bila- bila, ya Mat kita bekawan". Lili gembira Mat tidak marah, dalam hatinya tertanam niat untuk berteman dengan Mat.
Akan tetapi tidak berapa lama selepas itu, Lili meninggalkan Mat mengikut orang tuanya berpindah ke tempat lain. Sampai saat ini mereka tak pernah bertemu lagi.
"Mat !!!! sekiranya kamu masih ada di dunia ini ketahuilah bahwa aku , Lili menunggu kamu sekali lagi, hubungi aku ya Mat kalau kamu dapat membaca naskahku ini , aku menunggu kamu Mat, kita ceritakan lagi kisah kita enampuluh satu tahun lima bulan
yang lalu."
";Berapa usia kamu waktu itu Mat ?. mungkin lebih kurang empat tahun; aku kagum dengan kamu Mat, dalam usia semuda itu kamu ssudah tahu makna berusaha dan berjuang untuk mendapatkan sesuatu, dan kamu memperoleh buah, hasil dari perjuangan kamu. Buahnya tersangat manis kan Mat ?? Umur aku waktu itu lima tahun setengah. Sudah terlalu lama ya Mat ???? Waktu sudah begitu jauh meninggalkan kita.......... Biarlah waktu berlalu,tetapi kisah kita tidak luput ditelan waktu....................".
Saturday, 4 February 2012
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI ......... (3)
Sekarang kita pergi kepada persoalan asal Tadika yang bagaimana sesuai untuk anak kesayangan anda. Kita sudah tahu serba sedikit tentang alam kanak-kanak, apa keperluannya, apa pula yang sesuai dengan dunia kanak- kanak itu, supaya mereka tidak merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereka.
Yang perlu kita tanamkan dalam hati dan pikiran kanak-kanak itu ialah :
- Sekolah itu MENYERONOKKAN,menyeronokkan, disana ada teman-teman yang sebaya dapat BERMAIN-MAIN DAN BERGEMBIRA.
- Disekolah itu ada guru yang SAMA DENGAN IBU BAPA DIRUMAH, dan mereka akan dapat ilmu pengetahuan dari guru, yang dianggap sebagai TOKOH, YANG DAPAT DIIKUTI SEGALA GERAK GERIKNYA dan percakapannya dan tingkah lakunya.
- Dengan bersekolah mereka merasa sudah besar MEREKA MERASA BANGGA DENGAN DIRINYA tertanam dalam hatinya RASA PERCAYA DIRI, bahwa mereka SUATU HARI NANTI, akan menjadi SESEORANG yang menjadi IDOLANYA .
Banyak lagi sebenarnya yang kita harapkan. Persoalannya sekarang bagaimana peranan guru-guru TADIKA dalam hal ini ? APAKAH MEREKA YANG BERANI MENEMPATKAN DIRI SEBAGAI GURU TADIKA SUDAH MEMILIKI MODAL YANG CUKUP untuk memikul tugas ini ?
GURU-GURU MEMBIMBING DAN MENDIDIK, harus tahu TUJUAN yang akan DICAPAINYA, HARUS MENYIAPKAN TARGET YANG HARUS dicapai.
Guru-guru TADIKA harus berusaha supaya penampilannya menarik, sebab menjadi pusat perhatian murid-muridnya. Guru-guru HARUS PANDAI BERCERITA dengan penuh perasaan; perasaan gembira , perasaan sedih dan duka perasaan kecewa, perasaan mengharap, dan lain-lain sebagainya.
Murid-murid harus dilatih supaya berani dan percaya diri; disuruh mereka bercerita, disuruh menyanyi dan beraksi ke depan kelas, untuk menghilangkan perasaan malu yang tidak pada tempatnya. Supaya suatu hari nanti murid-murid tidak canggung di depan orang ramai, tatkala mereka sudah jadi pemimpin atau ada keperluan berbuat begitu.
Sambil bermain-main seperti inilah guru harus menyelitkan pelajaran supaya murid-murid pandai membaca dan menulis. GURU-GURU TADIKA HARUS BIJAK bukan ?
Kanak-kanak pada umur Tadika ini, PELAJARAN HARUS DIBERIKAN SAMBIL BERMAIN . Ini akan lebih berkesan dibandingkan dengan belajar dengan "serius". JUGA TIDAK BOLEH TERLALU SUNGGUH-SUNGGUH SEPERTI DIPAKSAKAN.
Pilihlah Tadika yang mempunyai ciri-ciri seperti ini. Inilah yang sesuai untuk anak kesayangan anda. Jangan sekali-kali memilih Tadika yang pengajarannya diberikan seperti MENGAJAR untuk "anak-anak" UNIVERSITY. Atau untuk anak-anak sekolah menengah yang bertimbun dengan home work yang terpaksa dibuat sehingga MERENGGUT DAN MENGENYAHKAN, semua kegembiraan kanak-kanak secara drastik. AKAN SIRNA SEMUA KEINDAHAN ZAMAN KANAK-KANAK. Jauh di lubuk hati kanak-kanak itu tersimpan suatu kesedihan yang tak dapat mereka katakan.
Hal ini membuat mereka benci dengan sekolah; sekolah itu menyiksakan mereka , sekolah itu membosankan apalagi kalau guru-guru selalu marah-marah sebab tidak membuat home work apalagi kalau kata-kata guru itu kasar-kasar yang tidak ada perbendaharaan kata yang kasar itu di rumahnya.
Perlu dipertanyakan lagi apakah sudah perlu home work yang berat-berat itu untuk anak-anak Tadika ? Sehingga mereka perlu pula dimarahi di sekolah ?
Fungsi Tadika adalah PRA SEKOLAH bukan sekolah dalam arti yang sebenaranya.
Membiasakan mereka berpisah dengan ibu, jauh dari rumah, belajar bergaul dengan teman sebaya, pandai menyesuaikan diri dimana mereka berada.
BARULAH SEDIKIT-SEDIKIT DIPERKENALKAN DENGAN HURUF DAN ANGKA-ANGKA. Ibu bapa jangan terlalu banyak berharap, upaya anak-anak mereka segera pandai membaca dan menulis.
IBU BAPA JANGAN BIARKAN GURU-GURU DERJAH SATU SEKOLAH RENDAH MENGANGGUR, kepandaian membaca dan menulis serta mengira untuk kanak-kanak adalah pada umur mereka memasuki Sekolah Rendah derjah satu. Inilah tugas guru tersebut. Ibu bapa jangan terlalu ambisi, biarkan kanak-kanak berkembang sesuai dengan alam semula jadi mereka. Jangan dipaksakan pada peringkat awal, bagi mereka waktu terlalu panjang untuk dapat menguasai ilmu apalagi hanya untuk membaca, menulis dan mengira. Yakinlah ini tidak akan terlambat.
Tidak dapat dinafikan memang ada kanak-kanak umur tiga atau empat tahun sudah pandai membaca, tetapi jumlahnya tidak seberapa. Jangan dipaksakan anak kita supaya masuk dalam golongan ini. ALLAH memberikan Hidayah dan petunjuknya kepada siapa yang di kehendaki NYA.
Jika anak-anak anda sudah mulai memasuki Sekolah Rendah barulah boleh disuruh belajar walaupun dengan sedikit paksaan.
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI ............ (2)
Sebelum anda menetapkan kategori Tadika yang akan anda pilih, anda harus ketahui dulu apa tujuan anak-anak masuk Tadika. Bukanlah seperti yang disangkakan oleh kebanyakan ibu bapa, anak-anak harus dibekalkan dengan kepandaian membaca dan menulis sebelum masuk sekolah rendah. Pemikiran seperti itu sudah berurat berakar dalam kepala setiap ibu bapa. Apakah pemikiran itu betul ? Mari kita teruskan uraian ini.
Dunia kanak-kanak adalah dunia yang sangat indah, penuh gelak- tertawa, bermanja-manja
dan selalu dekat dengan ibu bapa, bermain-main dan bergembira ria.
Ketika kanak-kanak mulai bersekolah, masuk Tadika, dunianya akan berubah, mereka terkejut dengan perubahan ini, mereka kehilangan keriangan setiap hari, selalu berdekatan dengan orang tua, mereka kehilangan sebagian besar masa bermain, yang sebenarnya secara semula jadi inilah dunia kanak-kanak. Inilah yang kita renggutkan tanpa kita sadari.
Oleh sebab itu ketika masuk Tadika,anak-anak kita, harus kita antarkan mereka ke dunia mereka yang baru dan guru-guru Tadika menyambut mereka mengambil alih peranan ibu bapa. Peranan guru-guru Tadika sebenarnya pada mulanya adalah menggantikan peranan ibu bapa. Lebih banyak mendidik bukan mengajar. Apakah guru-guru Tadika sudah tahu perbedaan antara mengajar dan mendidik ? Jika anda seorang guru tentulah anda sudah tahu bukan ? Jika anda tidak tahu , anda harus belajar supaya anda tidak tersalah memikul tugas yang sangat mulia ini. TUGAS GURU TADIKA YANG DISANGKA MUDAH OLEH SETENGAH SETENGAH PIHAK SEBENARNYA TIDAK MUDAH , DAN JANGAN DIPERMUDAH-MUDAHKAN.
Dunia kanak-kanak adalah dunia yang sangat indah, penuh gelak- tertawa, bermanja-manja
dan selalu dekat dengan ibu bapa, bermain-main dan bergembira ria.
Ketika kanak-kanak mulai bersekolah, masuk Tadika, dunianya akan berubah, mereka terkejut dengan perubahan ini, mereka kehilangan keriangan setiap hari, selalu berdekatan dengan orang tua, mereka kehilangan sebagian besar masa bermain, yang sebenarnya secara semula jadi inilah dunia kanak-kanak. Inilah yang kita renggutkan tanpa kita sadari.
Oleh sebab itu ketika masuk Tadika,anak-anak kita, harus kita antarkan mereka ke dunia mereka yang baru dan guru-guru Tadika menyambut mereka mengambil alih peranan ibu bapa. Peranan guru-guru Tadika sebenarnya pada mulanya adalah menggantikan peranan ibu bapa. Lebih banyak mendidik bukan mengajar. Apakah guru-guru Tadika sudah tahu perbedaan antara mengajar dan mendidik ? Jika anda seorang guru tentulah anda sudah tahu bukan ? Jika anda tidak tahu , anda harus belajar supaya anda tidak tersalah memikul tugas yang sangat mulia ini. TUGAS GURU TADIKA YANG DISANGKA MUDAH OLEH SETENGAH SETENGAH PIHAK SEBENARNYA TIDAK MUDAH , DAN JANGAN DIPERMUDAH-MUDAHKAN.
Thursday, 2 February 2012
TADIKA YANG BAGAIMANA SESUAI ............ (1)
Hampir seluruh Sekolah Rendah sekarang ini telah menetapkan syarat, kanak-kanak yang akan di terima di sekolah itu haruslah pandai membaca dan menulis, atau sekurang-kurangnya mempunyai sijil Tadika. Oleh sebab itu ibu bapa mengantarkan anaknya ke Tadika sebelum dimasukkan kesekolah rendah. Sudahkah anda pilih Tadika yang sesuai untuk anak anak anda sesuai dengan keperluan umurnya, sesuai tingkat perkembangan jasmani dan rohaninya, sesuai dengan tujuan mengapa anak-anak anda perlu masuk Tadika ?
Diserata pelosok kita lihat ada Tadika, betulkah semua Tadika itu sudah memenuhi persyaratan untuk anak-anak, sebagai persiapan untuk memasuki bangku sekolah ?
Apakah kementerian pendidika megawasi berdirinya Tadika tersebut ? Adakah kementerian memberikan garis panduan yang sama yang harus dilaksanakan oleh setiapTadika diseluruh negara ?
Ataukah kementerian pelajaran membiarkan Tadika sebagai arena mencari wang , bagi memupuk kekayaan orang-orang kaya ? Tanpa mengira dampak negatif generasi yang akan datang ? Alangkah malangnya ibu bapa yang tidak mengambil kira hal ini,memasukkan anaknya ke Tadika yang hanya memikirkan keuntungan.
Ataukah sekarang sudah ada perhatian kementerian pendidikan untuk mengawasi Tadika beroperasi ?
Ada sebuah perumpamaan akan saya paparkan di bawah ini :
Semua orang tahu makanan yang berkhasiat ; protien, dari ayam, daging, ikan , susu dan banyak lagi yang lainnya.
Bayi anda perlukan protien itu, apakah akan memberi rendang daging, kari ayam, goreng ikan, atau susu rendah lemak dan lain sebagainya untuk bayi anda yang masih berusia 2 bulan ? Tentunya tidak . Mengapa ? Anda lebih bijaksana untuk menjawabnya .
Mari kita lihat pula tentang pembelajaran. Pelajaran dan pengetahuan itu adalah juga makanan. Yaitu makanan ROHANI .
Sama dengan makanan yang kita ceritakan di atas tadi, tentulah makanan yang kita berikan sesuai dengan umur , kita harus tahu jenis pelajaran yang bagaimana sesuai dengan umur anak-anak anda . Kita harus tahu apakah mental anak anda sudah bersedia menerima sesuatu pelajaran , bagaimana cara untuk " menghidangkan " pelajaran itu kapada anak anda. Cara menghidangkan ini juga sangatlah penting .Guru-guru sangat memegang peranan penting.
Diserata pelosok kita lihat ada Tadika, betulkah semua Tadika itu sudah memenuhi persyaratan untuk anak-anak, sebagai persiapan untuk memasuki bangku sekolah ?
Apakah kementerian pendidika megawasi berdirinya Tadika tersebut ? Adakah kementerian memberikan garis panduan yang sama yang harus dilaksanakan oleh setiapTadika diseluruh negara ?
Ataukah kementerian pelajaran membiarkan Tadika sebagai arena mencari wang , bagi memupuk kekayaan orang-orang kaya ? Tanpa mengira dampak negatif generasi yang akan datang ? Alangkah malangnya ibu bapa yang tidak mengambil kira hal ini,memasukkan anaknya ke Tadika yang hanya memikirkan keuntungan.
Ataukah sekarang sudah ada perhatian kementerian pendidikan untuk mengawasi Tadika beroperasi ?
Ada sebuah perumpamaan akan saya paparkan di bawah ini :
Semua orang tahu makanan yang berkhasiat ; protien, dari ayam, daging, ikan , susu dan banyak lagi yang lainnya.
Bayi anda perlukan protien itu, apakah akan memberi rendang daging, kari ayam, goreng ikan, atau susu rendah lemak dan lain sebagainya untuk bayi anda yang masih berusia 2 bulan ? Tentunya tidak . Mengapa ? Anda lebih bijaksana untuk menjawabnya .
Mari kita lihat pula tentang pembelajaran. Pelajaran dan pengetahuan itu adalah juga makanan. Yaitu makanan ROHANI .
Sama dengan makanan yang kita ceritakan di atas tadi, tentulah makanan yang kita berikan sesuai dengan umur , kita harus tahu jenis pelajaran yang bagaimana sesuai dengan umur anak-anak anda . Kita harus tahu apakah mental anak anda sudah bersedia menerima sesuatu pelajaran , bagaimana cara untuk " menghidangkan " pelajaran itu kapada anak anda. Cara menghidangkan ini juga sangatlah penting .Guru-guru sangat memegang peranan penting.
MENANAMKAN KEPERCAYAAN DIRI ( 1 )
Ramai kita temui pelajar-pelajar yang cemerlang di Malaysia ini , tidak terlihat kecemerlangannya dan sikap dan penampilannya di depan khalayak ramai.
Apakah pendidikan di Malaysia ini tidah ambil berat hal ini, sehingga banyak cerdik pandai tidak menyerlah padahal ilmu yang dimilikinya cukup luas.
Sebagai orang tua, kita merasa khawatir dengan hal ini. Bagaimana kita dapat menanamkan pada anak kita supaya dia percaya diri dan berani tampil ke depan.
Saya memulai langkah ini sedini mungkin, ketika mulai bersekolah, saya sudah melatih dia untuk berani, walaupun kelihatannya remeh temeh tetapi memberi makna yang sangat besar.
"Nanti di sekolah kalau cik gu suruh menyanyi Iya mesti angkat tangan dan menyanyi ke depan", walaupun dengan rasa berat Iya menurut perintah ibunya. Dia menyanyi ke depan .
Disinilah bermulanya timbul kepercayaan pada diri sendiri, berdiri di depan ramai melakukan sesuatu.
"Dua hari lagi kak Lila akan menyambut hari jadi nanti harus Iwan yang jadi juru acaranya,
Iwan mesti boleh, sebab Iwan laki-laki ", saya membujuk anak laki-laki saya supaya berani tampil ke depan.
" Tak mau lah bu , ibu ni ada-ada je, mengapa pula Iwan , Iwan tak kenal kawan-kawan kak Lila tu ," Iwan mengemukakan berbagai-bagai alasan, dia memang betul-betul tak mau.
"Bukan kawan-kawan kak saja yang di jemput , semua jiran-jiran kita juga di jemput , mereka semua kenal Iwan.", bermacam-macam alasan saya kemukakan.
"Iwan tak nak, orang tak adapun buat macam tu, ambil makanan terus makan dan sudahtu balik, tak payah-payahpun" , Iwan terus membantah dengan bebagai-bagai alasan.
Saya terus berpikir alasan apa lagi yang harus saya kemukakan kepada Iwan , untung saya teringat, semalam Iwan meminta wang untuk beli sesuatu tapi tidak saya beri.
"Iwan kalau Iwan mau jadi juru acara hari jadi kak Lila ni ibu beri Iwan wang RM 10,--
nanti ibu akan tuliskan apa ucapan Iwan, dan dapat Iwan hafalkan dalam masa tiga hari ini. " inilah senjata terakhir aku , mudah-mudahan anakku mau melatih dirinya.
Majelis hari jadi anakku Lila berlangsung , Iwan murid baru naik derjah tiga
jadi juru acaranya.
"Iwan pandai jadi macamtu !! Eh tak sangka Iwan pandai macamtu ", bermacam-macam komen kawan-kawan yang sebaya dengannya. Sekarang Iwan dikenal sebagai orang yang berani di kalangan kawan-kawannya. Timbul sesuatu yang baru dalam kehidupan Iwan , setiap kali ada apa-apa disekolahnya Iwanlah yang tampil ke depan , tiada rasa malu, tiada rasa takut, dan tiada rasa canggung .
Mungkin sekarang anda mengenal Mohd Irwan Dahnil , seorang yang penuh kepercayaan pada dirinya dan.................... mungkin anda tahu tanpa saya paparkan disini.
Masih ada dua cerita lagi , kalau anda sudi mendengarnya untuk anak-anak anda jua.
Apakah pendidikan di Malaysia ini tidah ambil berat hal ini, sehingga banyak cerdik pandai tidak menyerlah padahal ilmu yang dimilikinya cukup luas.
Sebagai orang tua, kita merasa khawatir dengan hal ini. Bagaimana kita dapat menanamkan pada anak kita supaya dia percaya diri dan berani tampil ke depan.
Saya memulai langkah ini sedini mungkin, ketika mulai bersekolah, saya sudah melatih dia untuk berani, walaupun kelihatannya remeh temeh tetapi memberi makna yang sangat besar.
"Nanti di sekolah kalau cik gu suruh menyanyi Iya mesti angkat tangan dan menyanyi ke depan", walaupun dengan rasa berat Iya menurut perintah ibunya. Dia menyanyi ke depan .
Disinilah bermulanya timbul kepercayaan pada diri sendiri, berdiri di depan ramai melakukan sesuatu.
"Dua hari lagi kak Lila akan menyambut hari jadi nanti harus Iwan yang jadi juru acaranya,
Iwan mesti boleh, sebab Iwan laki-laki ", saya membujuk anak laki-laki saya supaya berani tampil ke depan.
" Tak mau lah bu , ibu ni ada-ada je, mengapa pula Iwan , Iwan tak kenal kawan-kawan kak Lila tu ," Iwan mengemukakan berbagai-bagai alasan, dia memang betul-betul tak mau.
"Bukan kawan-kawan kak saja yang di jemput , semua jiran-jiran kita juga di jemput , mereka semua kenal Iwan.", bermacam-macam alasan saya kemukakan.
"Iwan tak nak, orang tak adapun buat macam tu, ambil makanan terus makan dan sudahtu balik, tak payah-payahpun" , Iwan terus membantah dengan bebagai-bagai alasan.
Saya terus berpikir alasan apa lagi yang harus saya kemukakan kepada Iwan , untung saya teringat, semalam Iwan meminta wang untuk beli sesuatu tapi tidak saya beri.
"Iwan kalau Iwan mau jadi juru acara hari jadi kak Lila ni ibu beri Iwan wang RM 10,--
nanti ibu akan tuliskan apa ucapan Iwan, dan dapat Iwan hafalkan dalam masa tiga hari ini. " inilah senjata terakhir aku , mudah-mudahan anakku mau melatih dirinya.
Majelis hari jadi anakku Lila berlangsung , Iwan murid baru naik derjah tiga
jadi juru acaranya.
"Iwan pandai jadi macamtu !! Eh tak sangka Iwan pandai macamtu ", bermacam-macam komen kawan-kawan yang sebaya dengannya. Sekarang Iwan dikenal sebagai orang yang berani di kalangan kawan-kawannya. Timbul sesuatu yang baru dalam kehidupan Iwan , setiap kali ada apa-apa disekolahnya Iwanlah yang tampil ke depan , tiada rasa malu, tiada rasa takut, dan tiada rasa canggung .
Mungkin sekarang anda mengenal Mohd Irwan Dahnil , seorang yang penuh kepercayaan pada dirinya dan.................... mungkin anda tahu tanpa saya paparkan disini.
Masih ada dua cerita lagi , kalau anda sudi mendengarnya untuk anak-anak anda jua.
TERCABUT JANTUNG KU .....................
TERCABUT JANTUNG KU ..............
" Ibu besok Iya ada ujian, tapi Iya ..........", terdengar tangisan yang ditahan dari gagasan telefon Ku.
" Tapi kenapa Iya ?", Aku bertanya dengan suara yang diusahakan supaya terdengar tenang .
" Tapi Iya tidak tahu apa-apa , tidak tahu apa yang akan dijawab dalam ujian besok", Iya betul-betul menangis tersedu-sedu mencurahkan semua rasa duka di hatinya.
" Iya !!!! dengarkan Ibu, Iya jangan menangis, tenangkan hati Iya ", Aku menjawab dengan tenang walaupun dalam hati kerisauan telah memuncak . Besok anakku akan ujian tetapi malam ini dia mengaku tidak tahu apa-apa. Terasa jantung tercabut dari tempatnya.
"Macam mana ni bu, tolonglah Iya , ibu jangan kecewa dengan Iya bu ", terdengar lagi suara anak Ku menangis kecewa .
"Iya, sekali lagi dengar cakap ibu, ibu tahu buku-buku Iya berselerak terbuka di lantai, Iya tutup semua buku-buku itu susun baik-baik , tenangkan hati Iya . Sebenarnya kalau Iya merasa tidak tahu apa-apa tandanya pengetahuan Iya sudah lengkap untuk menghadapi ujian besok, Iya rehat sebentar lagi ibu datang ", Aku menenangkan hati anak kesayangan yang menjadi harapan.
Tanpa berpikir panjang Aku pun bersiap-siap untuk pergi menemui Iya , nasib baik sahaja jarak Universiti dengan rumah Ku tidak begitu jauh. Jam waktu itu sudah menunjukkan pukul l2 lewat 17 minit . Aku membawa nasi dan lauk pauk, Aku bangunkan anak Ku Nini dan Iman. Sambil mengantuk keduanya masuk kereta.
Sampai di jalan Bangsar kelihatan kenderaan bergerak perlahan disebabkan kerja-kerja membaik pulih dijalankan. Ketika tiba di lampu merah, Aku terus mengikut rapat kereta di hadapan. Alangkah terkejutnya kami suasana menjadi terang benderang disekeliling kami , semua lampu nyala menyorot kereta kami. Rupanya kami terkena " traficlight trap ", dengan perasaan kecut dan risau Aku teruskan pemanduan.
Sampai di Universiti, Aku berusaha supaya dapat bertemu anak Aku.
Aku dapati Iya sedang berbaring dan tidak ada sebuah bukupun ditangannya, dengan gembira dan rasa kelakar kami bercerita kepada Iya mengenai kejadian di jalan raya tadi ketika kereta kami menjadi tumpuan padangan orang di jalan yang disorot seterang-terangnya.
Aku rasa bersyukur ketika itu.Aku lihat anakku Iya masih dapat tertawa dan ikut serta dalam perbualan kami. Aku buka bekalan yang dibawa dan kami makan bersama-sama
sambil bercerita hal-hal yang menggembirakan.
Setelah selesai Aku melihat Iya tenang tidak menunjukan hal-hal yang merisaukan .Aku pun berkata:" Iya sekarang Iya tidur , tidur dengan tenang besok Iya akan merasa segar semua pengetahuan sudah ada di kepala untuk menjawab semua soalan-soalan ujian. Percayalah besok Iya akan dapat menjawab semua soalan- soalan yang dikemukakan dengan betul." Aku berkata penuh yakin supaya Iya yakin akan dirinya meskipun hati Aku teramat risau tidak terkata. Rasa sangat berat hati untuk meninggalkan Iya di asramanya itu.
"Sekarang Iya tidur" , Ibu, Nini dan Iman akan balik ke rumah, besok mereka akan ke sekolah. Percaya pada ibu, yakinkan diri besok Iya akan bergelar seorang Dokter".
Suara Aku sangat meyakinkan, ayat-ayat Aku sungguh tegas dan bersemangat , walaupun keluar dari hati yang kecut, dan perasaan takut luar biasa. Kami pun balik kerumah, hati Ku memang sangat-sangat tidak tenteram ketika itu, tidak satu saat pun Aku lupa untuk berdoa , mulut komat kamit dengan bermacam-macam doa . Malam itu Aku tak dapat tidur , dapatlah Aku bertahajjut dan solat hajat supaya dimudahkan Allah untuk anak Ku menghadapi ujiannya. Ahamdulillah doa Ku terkabul .
Aku semakin yakin ALLAH yang MAHA KUASA mendengarkan dan mengabulkan permintaan hamba-hambaNya kalau hambaNya itu benar-benar memohon dengan sungguh-sungguh DAN TULUS IKHLAS kepadaNya .
Lebih-lebih lagi doa seorang ibu untuk anaknya.
Aku bersyukur lagi kepada ALLAH YANG MAHA KUASA , anakku Iya tidak pernah melupakan semua usahaku untuk kejayaannya . Iya tetap sebagai anak kepadaku walaupun dia sudah menjadi seorang ibu, dengan kerjayanya yang gemilang.
Aku mengucapkan terima kasih kepada anakku Mohd Irwan Dahnil yang selalu mendorongku dan memberi motivasi kepadaku untuk menuliskan setiap pengalamanku dimasa silam, dimana aku harus menjadi tonggak, padahal kekuatanku tak seberapa, aku harus tetap kukuh , untuk anak-anakku , supaya mereka dapat meraih masa depan mereka yang yang gemilang.
Jika kuingat semua kisah silamku , tanpa kusadari air mataku mengambang dipelupuk mataku, betapa aku harus melalui saat-saat yang getir yang sangat berat, dengan berbagai masalah yang harus aku selesaikan, sebenarnya hatiku rapuh dihempap beban yang tak tertanggungkan, kadang-kadang aku rebah , dengan kekuatan yang masih tersisa, hatiku menyuruh aku bangun , supaya anak-anakku tidak mewarisi keperitan hidup yang aku rasa sepanjang hidupku.
ALHAMDULILLAH sekarang ini ALLAH TELAH MEMBERI AKU KESEMPATAN MEMETIK BUAH , SEBAGI HASIL DARI APA YANG AKU TANAM SELAMA INI. SYUKUR YA ALLAH , SYUKUR YA RAHMAN, SYUKUR YA RAHIM
AMIN YA ALLAH AMIN YA RABBULALAMIN, ALHAMDULILLAHHIRAMBULALAMIN.
" Ibu besok Iya ada ujian, tapi Iya ..........", terdengar tangisan yang ditahan dari gagasan telefon Ku.
" Tapi kenapa Iya ?", Aku bertanya dengan suara yang diusahakan supaya terdengar tenang .
" Tapi Iya tidak tahu apa-apa , tidak tahu apa yang akan dijawab dalam ujian besok", Iya betul-betul menangis tersedu-sedu mencurahkan semua rasa duka di hatinya.
" Iya !!!! dengarkan Ibu, Iya jangan menangis, tenangkan hati Iya ", Aku menjawab dengan tenang walaupun dalam hati kerisauan telah memuncak . Besok anakku akan ujian tetapi malam ini dia mengaku tidak tahu apa-apa. Terasa jantung tercabut dari tempatnya.
"Macam mana ni bu, tolonglah Iya , ibu jangan kecewa dengan Iya bu ", terdengar lagi suara anak Ku menangis kecewa .
"Iya, sekali lagi dengar cakap ibu, ibu tahu buku-buku Iya berselerak terbuka di lantai, Iya tutup semua buku-buku itu susun baik-baik , tenangkan hati Iya . Sebenarnya kalau Iya merasa tidak tahu apa-apa tandanya pengetahuan Iya sudah lengkap untuk menghadapi ujian besok, Iya rehat sebentar lagi ibu datang ", Aku menenangkan hati anak kesayangan yang menjadi harapan.
Tanpa berpikir panjang Aku pun bersiap-siap untuk pergi menemui Iya , nasib baik sahaja jarak Universiti dengan rumah Ku tidak begitu jauh. Jam waktu itu sudah menunjukkan pukul l2 lewat 17 minit . Aku membawa nasi dan lauk pauk, Aku bangunkan anak Ku Nini dan Iman. Sambil mengantuk keduanya masuk kereta.
Sampai di jalan Bangsar kelihatan kenderaan bergerak perlahan disebabkan kerja-kerja membaik pulih dijalankan. Ketika tiba di lampu merah, Aku terus mengikut rapat kereta di hadapan. Alangkah terkejutnya kami suasana menjadi terang benderang disekeliling kami , semua lampu nyala menyorot kereta kami. Rupanya kami terkena " traficlight trap ", dengan perasaan kecut dan risau Aku teruskan pemanduan.
Sampai di Universiti, Aku berusaha supaya dapat bertemu anak Aku.
Aku dapati Iya sedang berbaring dan tidak ada sebuah bukupun ditangannya, dengan gembira dan rasa kelakar kami bercerita kepada Iya mengenai kejadian di jalan raya tadi ketika kereta kami menjadi tumpuan padangan orang di jalan yang disorot seterang-terangnya.
Aku rasa bersyukur ketika itu.Aku lihat anakku Iya masih dapat tertawa dan ikut serta dalam perbualan kami. Aku buka bekalan yang dibawa dan kami makan bersama-sama
sambil bercerita hal-hal yang menggembirakan.
Setelah selesai Aku melihat Iya tenang tidak menunjukan hal-hal yang merisaukan .Aku pun berkata:" Iya sekarang Iya tidur , tidur dengan tenang besok Iya akan merasa segar semua pengetahuan sudah ada di kepala untuk menjawab semua soalan-soalan ujian. Percayalah besok Iya akan dapat menjawab semua soalan- soalan yang dikemukakan dengan betul." Aku berkata penuh yakin supaya Iya yakin akan dirinya meskipun hati Aku teramat risau tidak terkata. Rasa sangat berat hati untuk meninggalkan Iya di asramanya itu.
"Sekarang Iya tidur" , Ibu, Nini dan Iman akan balik ke rumah, besok mereka akan ke sekolah. Percaya pada ibu, yakinkan diri besok Iya akan bergelar seorang Dokter".
Suara Aku sangat meyakinkan, ayat-ayat Aku sungguh tegas dan bersemangat , walaupun keluar dari hati yang kecut, dan perasaan takut luar biasa. Kami pun balik kerumah, hati Ku memang sangat-sangat tidak tenteram ketika itu, tidak satu saat pun Aku lupa untuk berdoa , mulut komat kamit dengan bermacam-macam doa . Malam itu Aku tak dapat tidur , dapatlah Aku bertahajjut dan solat hajat supaya dimudahkan Allah untuk anak Ku menghadapi ujiannya. Ahamdulillah doa Ku terkabul .
Aku semakin yakin ALLAH yang MAHA KUASA mendengarkan dan mengabulkan permintaan hamba-hambaNya kalau hambaNya itu benar-benar memohon dengan sungguh-sungguh DAN TULUS IKHLAS kepadaNya .
Lebih-lebih lagi doa seorang ibu untuk anaknya.
Aku bersyukur lagi kepada ALLAH YANG MAHA KUASA , anakku Iya tidak pernah melupakan semua usahaku untuk kejayaannya . Iya tetap sebagai anak kepadaku walaupun dia sudah menjadi seorang ibu, dengan kerjayanya yang gemilang.
Aku mengucapkan terima kasih kepada anakku Mohd Irwan Dahnil yang selalu mendorongku dan memberi motivasi kepadaku untuk menuliskan setiap pengalamanku dimasa silam, dimana aku harus menjadi tonggak, padahal kekuatanku tak seberapa, aku harus tetap kukuh , untuk anak-anakku , supaya mereka dapat meraih masa depan mereka yang yang gemilang.
Jika kuingat semua kisah silamku , tanpa kusadari air mataku mengambang dipelupuk mataku, betapa aku harus melalui saat-saat yang getir yang sangat berat, dengan berbagai masalah yang harus aku selesaikan, sebenarnya hatiku rapuh dihempap beban yang tak tertanggungkan, kadang-kadang aku rebah , dengan kekuatan yang masih tersisa, hatiku menyuruh aku bangun , supaya anak-anakku tidak mewarisi keperitan hidup yang aku rasa sepanjang hidupku.
ALHAMDULILLAH sekarang ini ALLAH TELAH MEMBERI AKU KESEMPATAN MEMETIK BUAH , SEBAGI HASIL DARI APA YANG AKU TANAM SELAMA INI. SYUKUR YA ALLAH , SYUKUR YA RAHMAN, SYUKUR YA RAHIM
AMIN YA ALLAH AMIN YA RABBULALAMIN, ALHAMDULILLAHHIRAMBULALAMIN.
SIAPAKAH KANAK-KANAK ITU ??? ( 2 )
Seorang pakar dalam ilmu pendidikan yang bernama John Lokemengatakan bahwa kanak-kanak itu seumpama sehelai kertas putih yang bersih, orang dewasalah yang akan mencorakkan kertas itu, apakah akan ditulis sesuatu atau akan dilukis diwarnaikan dengan berbagai macam warna yang menarik, atau diconteng-conteng tak tentu hala, seperti itulah hasil pendidikan yang diberikan kepada kanak-kanak itu.
Kalau cantik lukisan pada kertas itu, bermaksa hasil pendidikan yang diberikan itu berjaya, kalau cantik tulisan pada kertas itu, ada hasil yang dapat dibaca, bermakna ada manfaat dari pendidikan yang diberikan.
Kalau kertas itu diconteng-conteng tak tentu hala bermakna pendidikan yang diberikan orang tua tidak mendatangkan sesuatu hasil yang menguntungkan.
WILLIAM STERN mengatakan bahwa kanak-kanak yang dilahirka itu telah membawa bakat sendiri yang akan berkembang sesuai dengan perkembangannya menuju peringkat dewasa, dan orang tua harus membimbing dan mendorong supaya bakat kanak-kanak itu berkembang danmenjadikan kanak-kanak itu seorang yang berjaya dalam kehidupannya sesuai dengan anugerah yang diberikan oleh SANG PENCIPTA.
Bagaimana kalau orang tua tidak membimbing kanak-kanak tersebut ? Bakat yang ada pada kanak-kanak itu akan tenggelam hailang begitu saja seperti Allah swt, tidak memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada kanak-kanak itu. Teramatlah sayang bukan ?
Kanak-kanak yang terbiar seperti nampak bodoh tidak tahu apa-apa, sebenarnya mereka tidak mendapatkan bimbingan dan didikan yang sempurna.
ALLAH swt. menciptakan manusia itu lebih kurang sama, tergantung kepada pendidikan yang diberikan kepadanya dan pendidikan yang diterimanya.
Seorang lagi pakar dalam bidang ilmu pendidikan yaitu MARIA MONTESSORI.
Beliau mengatakan bahwa kanak-kanak itu akan berkembang sesuai dengan bakat yang dibawanya biarkan mereka mengetahui sendiri dengan pengalaman mereka sendiri. Mereka akan mengetahui pisau itu tajam adalah berdasarkan pengalaman sendiri kemungkinan terkena atau terluka oleh pisau itu. Orang dewasa harus mengawasi kanak-kanak supaya tidak membahayakan mereka.
Kesimpulannya, biarkan kanak-kanak itu bergerak sesuai dengan kehendak alam semula jadi kanak-kanak, jangan selalu dimarah dan dipukul .
Dalam pandangan mata orang dewasa kanak-kanak itu nakal, sebenarnya mereka sedang mengembangkan dirinya mencari dan mendapatkan apa yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.
Sayangi kanak-kanak, fahami mereka, bantu mereka mencari sendiri apa yang ada dalam diri mereka. Jangan dirusak dan dicemari kemampuan yang ada dalam diri-kanak-kanak, sebab ketidaktahuan orang dewasa hal ini memang terjadi. Betapa ruginya .
Berapa orang guru TADIKA yang mengetahui hal ini yang kononnya merekalah yang memberikan pendidikan awal kepada kanak-kanak ???
Takutnya nanti berapa dosa yang harus dipikul kalau kita sudah merusak anugerah ALLAH swt, yang tersembunyi dalam diri kanak-kanak, yang tidak pernah diketahui, tanpa kita sedari. Lebih takut lagi wang yangkita dapat dari merusak kanak-kanak itu adalah sebagai mata pencaharian kita, sebagai sumber rezeki untuk keluarga.
Saya mohon maaf, terkasar bahasa dan tersilap kata, tugas saya mengingatkan saja.
ALLAH swt lah yang MAHA MENGETAHUI SEGALANYA.
********
Kalau cantik lukisan pada kertas itu, bermaksa hasil pendidikan yang diberikan itu berjaya, kalau cantik tulisan pada kertas itu, ada hasil yang dapat dibaca, bermakna ada manfaat dari pendidikan yang diberikan.
Kalau kertas itu diconteng-conteng tak tentu hala bermakna pendidikan yang diberikan orang tua tidak mendatangkan sesuatu hasil yang menguntungkan.
WILLIAM STERN mengatakan bahwa kanak-kanak yang dilahirka itu telah membawa bakat sendiri yang akan berkembang sesuai dengan perkembangannya menuju peringkat dewasa, dan orang tua harus membimbing dan mendorong supaya bakat kanak-kanak itu berkembang danmenjadikan kanak-kanak itu seorang yang berjaya dalam kehidupannya sesuai dengan anugerah yang diberikan oleh SANG PENCIPTA.
Bagaimana kalau orang tua tidak membimbing kanak-kanak tersebut ? Bakat yang ada pada kanak-kanak itu akan tenggelam hailang begitu saja seperti Allah swt, tidak memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada kanak-kanak itu. Teramatlah sayang bukan ?
Kanak-kanak yang terbiar seperti nampak bodoh tidak tahu apa-apa, sebenarnya mereka tidak mendapatkan bimbingan dan didikan yang sempurna.
ALLAH swt. menciptakan manusia itu lebih kurang sama, tergantung kepada pendidikan yang diberikan kepadanya dan pendidikan yang diterimanya.
Seorang lagi pakar dalam bidang ilmu pendidikan yaitu MARIA MONTESSORI.
Beliau mengatakan bahwa kanak-kanak itu akan berkembang sesuai dengan bakat yang dibawanya biarkan mereka mengetahui sendiri dengan pengalaman mereka sendiri. Mereka akan mengetahui pisau itu tajam adalah berdasarkan pengalaman sendiri kemungkinan terkena atau terluka oleh pisau itu. Orang dewasa harus mengawasi kanak-kanak supaya tidak membahayakan mereka.
Kesimpulannya, biarkan kanak-kanak itu bergerak sesuai dengan kehendak alam semula jadi kanak-kanak, jangan selalu dimarah dan dipukul .
Dalam pandangan mata orang dewasa kanak-kanak itu nakal, sebenarnya mereka sedang mengembangkan dirinya mencari dan mendapatkan apa yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.
Sayangi kanak-kanak, fahami mereka, bantu mereka mencari sendiri apa yang ada dalam diri mereka. Jangan dirusak dan dicemari kemampuan yang ada dalam diri-kanak-kanak, sebab ketidaktahuan orang dewasa hal ini memang terjadi. Betapa ruginya .
Berapa orang guru TADIKA yang mengetahui hal ini yang kononnya merekalah yang memberikan pendidikan awal kepada kanak-kanak ???
Takutnya nanti berapa dosa yang harus dipikul kalau kita sudah merusak anugerah ALLAH swt, yang tersembunyi dalam diri kanak-kanak, yang tidak pernah diketahui, tanpa kita sedari. Lebih takut lagi wang yangkita dapat dari merusak kanak-kanak itu adalah sebagai mata pencaharian kita, sebagai sumber rezeki untuk keluarga.
Saya mohon maaf, terkasar bahasa dan tersilap kata, tugas saya mengingatkan saja.
ALLAH swt lah yang MAHA MENGETAHUI SEGALANYA.
********
YANG HALAL SUDAH HABIS ..................
Yang halal sudah habis , yang haram tinggal sedikit ????????????????
Motto apa itu , siapa yang menggunakan motto itu ? Apa maksud sebenarnya ?
disini kita dapat melihat betapa pandainya seseorang itu memanipulasikan sesuatu itu untuk menutup perbuatan buruknya, menutup perbuatan salahnya supaya terlihat baik dan betul .
Seseorang korupsi , terima wang suap atau apapun yang lain yang sama dengan itu, untu memaniskannya , supaya terasa perbuatan itu tidsk terasa salahnya , dibuatlah supaya situasi waktu itu membolehkan perbuatan itu dilakukan.
Yang halal sudah habis maknanya kita tidak akan pernah dapat sesuatu yang halal lagi, kemana akan dicari kalau dia memang sudah habis.
Yang haram tinggal sedikit , bagaimana kalau kita bertemu dengan keadaan seperti ini , yang kita sangat memerlukan bendanya hanya tinggal sedikit dan haram pula . Dalam keadaan hidup atau mati seseorang itu dibenarkan makan yang haram untuk mempertahankan hidupnya. Terpaksalah mengambil yang haram itu.
Apakah orang yang korupsi itu , bertemu dalam situasi seperti itu ?
Jawabnyaa tidak , Siapakah yang selalunya korupsi yang anda selalu dengar ? ORANG KAYA ATAU ORANG MISKIN ? ORANG BERPANGKAT ATAU BAWAHAN? ORANG BERKUASA ATAU ORANG YANG DIKUASAI ? Jawabannya ada dalam hati masing-masing, Jika anda tahu beberapa hari lagi anda akan mati apakah anda akan mengambil yang haram yang telah tinggal sedikit itu ?
Motto apa itu , siapa yang menggunakan motto itu ? Apa maksud sebenarnya ?
disini kita dapat melihat betapa pandainya seseorang itu memanipulasikan sesuatu itu untuk menutup perbuatan buruknya, menutup perbuatan salahnya supaya terlihat baik dan betul .
Seseorang korupsi , terima wang suap atau apapun yang lain yang sama dengan itu, untu memaniskannya , supaya terasa perbuatan itu tidsk terasa salahnya , dibuatlah supaya situasi waktu itu membolehkan perbuatan itu dilakukan.
Yang halal sudah habis maknanya kita tidak akan pernah dapat sesuatu yang halal lagi, kemana akan dicari kalau dia memang sudah habis.
Yang haram tinggal sedikit , bagaimana kalau kita bertemu dengan keadaan seperti ini , yang kita sangat memerlukan bendanya hanya tinggal sedikit dan haram pula . Dalam keadaan hidup atau mati seseorang itu dibenarkan makan yang haram untuk mempertahankan hidupnya. Terpaksalah mengambil yang haram itu.
Apakah orang yang korupsi itu , bertemu dalam situasi seperti itu ?
Jawabnyaa tidak , Siapakah yang selalunya korupsi yang anda selalu dengar ? ORANG KAYA ATAU ORANG MISKIN ? ORANG BERPANGKAT ATAU BAWAHAN? ORANG BERKUASA ATAU ORANG YANG DIKUASAI ? Jawabannya ada dalam hati masing-masing, Jika anda tahu beberapa hari lagi anda akan mati apakah anda akan mengambil yang haram yang telah tinggal sedikit itu ?
MENUNGKAH ARUS MENDIDIK KANAK-KANAK
MENUNGKAH ARUS MENDIDIK KANAK-KANAK
Di sini saya akan menulis sekelumit perkembangan jiwa kanak-kanak pada umur Pra Sekolah. Dan bagaimana harapan ibu bapa terhadap anak-anak mereka ketika mereka menghantarkan anaknya ke Tadika .
Sebagian besar masyarakat negara ini meletakkan harapan yang terlalu tinggi terhadap anak-anak mereka yang baru saja melangkahkan kakinya ke sekolah. Mereka mengharapkan anak-anak mereka itu segera dapat membaca, menulis dan mengira, begitu mereka bersekolah. Bahkan ada yang sanggup mengajar anak-anak mereka dan memaksanya belajar sebelum mereka diantar ke Tadika. Harapan yang begini jauh dari tujuan sebenar.Bukan ini tujuan sebenar mengantar anak ke tadika.
Sebelum meletakkan harapan yang tinggi kita harus tahu perkembangan jiwa kanak-kanak pada umur-umur tertentu, apa yang diperlukan kanak-kanak, bagaimana cara mendidik kana-kanak, bagaimana memberikan motivasi kepada kanak-kanak, dan bagaimana caranya supaya potensi yang ada dalam diri kanak-kanak berkembang dengan sempurna.
Pada umur ini kanak-kanak perlu bermain, mereka melatih pisikalnya, menguatkan otot-ototnya, supaya dapat bergerak lebih cergas, lebih trampil, lebih indah dalam setiap pergerakan. Kanak-kanak bercerita , melatih daya berfikir, berimajinasi, supaya dalam minda kanak-kanak ada sesuatu yang dipikirkannya, walaupun pada peringkat awal hanya berbentuk khayalan. Khayalan inilah nanti yang akan berkembang menjadi suatu pikiran yang matang. Pada waktu pertama kali kapal terbang dicipta, adalah berdasarkan dongeng, orang yang dapat terbang mengganakan baju terbang dan sebagainya. Banyak ciptaan lain yang tadinya hanya dianggap suatu khayalan yang tidak wujud. Lihatlah bagaimana Computer yang wujud sekarang ini yang suatu masa dulu dianggap hanya suatu khayalan, ingat kembali dengan dongeng sirih tanya-tanya yang diletakkan dibawah bantal, orang yang tidur dapat menjawab semua pertanyaan yang di ajukan kepadanya.
Jangan takut kalau ada anak-anak kita yang suka berkhayal dan suka merapu, mereka sedang mengembangkan daya berpikirnya.
Pada waktu masuk tadika guru-guru tadika harus menenpatkan dirinya sebagai pengganti ibu bapa kanak-kanak, harus dapat menggembirakan kanak-kanak, dapat membimbing kanak-kanak supaya tidak takut, dapat bercerita meluahkan perasaannya, dapat bergembira, bergaul, bermain-main dengan teman-teman sebaya.
Guru-guru harus pandai bercerita, cerita yang dapat menarik perhatian kanak-kanak, cerita yang penuh emosi, sedih, gembira, takut, berani, simpati, antipati, bersemangat dan dapat memberikan teladan kepada kanak-kanak tadika. Guru-guru tadika harus bijaksana menyelipkan pengajaran berguna kepada kanak-kanak waktu bercerita itu.
Begitu juga sebaliknya kanak-kanak disuruh pula bercerita, harus berani bercerita di depan kelas, melatih dan membentuk kepercayaan diri.
Perkara lain yang menungkah arus, yang tidak disukai oleh setengah-setengah ibu bapa adalah; kanak-kanak tadika harus diajar menyanyi dan menari, tujuannya untuk mengembangkan otak sebelah kirinya, supaya perkembangan otaknya seimbang.
Jangan sekali-kali ibu bapa melarang anak menreka menyertai suatu pertunjukan, akan membantutkan hati mereka. Biarkan mereka bergembira, siapkanlah baju cantik untuk persembahan itu, mereka akan merasa dunia mereka indah yang belum pernah mereka rasakan. Jangan ibu bapa takut, nanti sudah besar anak kita akan jadi penyanyi. Penulis sendiri tidak menginginkan anak jadi penyanyi, Alhamdulillah memang tidak ada yang jadi penyanyi, walaupun dari kecil penulis menggalakkan anak-anak mengikuti setiap persembahan yang diadakan di sekolah hinggalah ke University.
DENGAN BIMBINGAN KITA DI RUMAH ANAK-ANAK KITA TAHU JALAN YANG AKAN DIPILIHNYA.
Anak-anak kita di tadika perlu diajar menyanyi dan menari SANGATLAH BESAR faedahnya. Mereka sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi PRIMADONA di depan orang ramai, tidak ada lagi keinginan yang bergelora di hati menjdi primadona, mereka akaan bijak memilih jalan sendiri sesuai dengan kehendak dirinya.
Bagi orang yang tak pernah merasakan menjadi primadona, keinginan di hatinya bergelora tak dapat dibendung, walaupun dilarang dengan berbagai cara tidak akan mereka terima, walaupun bapanya ustad sekalipun tidak akan dapat menghalang mereka menjadi penyanyi. Mereka akan tergila-gila melihat penyanyi-penyanyi, memuja dan menyanjung yang sangat berlebihan, kadang-kadang tidak sadarkan diri tanpa menghiraukan masalah orang tua masalah lingkungan dan sebagainya.
Di sini saya akan menulis sekelumit perkembangan jiwa kanak-kanak pada umur Pra Sekolah. Dan bagaimana harapan ibu bapa terhadap anak-anak mereka ketika mereka menghantarkan anaknya ke Tadika .
Sebagian besar masyarakat negara ini meletakkan harapan yang terlalu tinggi terhadap anak-anak mereka yang baru saja melangkahkan kakinya ke sekolah. Mereka mengharapkan anak-anak mereka itu segera dapat membaca, menulis dan mengira, begitu mereka bersekolah. Bahkan ada yang sanggup mengajar anak-anak mereka dan memaksanya belajar sebelum mereka diantar ke Tadika. Harapan yang begini jauh dari tujuan sebenar.Bukan ini tujuan sebenar mengantar anak ke tadika.
Sebelum meletakkan harapan yang tinggi kita harus tahu perkembangan jiwa kanak-kanak pada umur-umur tertentu, apa yang diperlukan kanak-kanak, bagaimana cara mendidik kana-kanak, bagaimana memberikan motivasi kepada kanak-kanak, dan bagaimana caranya supaya potensi yang ada dalam diri kanak-kanak berkembang dengan sempurna.
Pada umur ini kanak-kanak perlu bermain, mereka melatih pisikalnya, menguatkan otot-ototnya, supaya dapat bergerak lebih cergas, lebih trampil, lebih indah dalam setiap pergerakan. Kanak-kanak bercerita , melatih daya berfikir, berimajinasi, supaya dalam minda kanak-kanak ada sesuatu yang dipikirkannya, walaupun pada peringkat awal hanya berbentuk khayalan. Khayalan inilah nanti yang akan berkembang menjadi suatu pikiran yang matang. Pada waktu pertama kali kapal terbang dicipta, adalah berdasarkan dongeng, orang yang dapat terbang mengganakan baju terbang dan sebagainya. Banyak ciptaan lain yang tadinya hanya dianggap suatu khayalan yang tidak wujud. Lihatlah bagaimana Computer yang wujud sekarang ini yang suatu masa dulu dianggap hanya suatu khayalan, ingat kembali dengan dongeng sirih tanya-tanya yang diletakkan dibawah bantal, orang yang tidur dapat menjawab semua pertanyaan yang di ajukan kepadanya.
Jangan takut kalau ada anak-anak kita yang suka berkhayal dan suka merapu, mereka sedang mengembangkan daya berpikirnya.
Pada waktu masuk tadika guru-guru tadika harus menenpatkan dirinya sebagai pengganti ibu bapa kanak-kanak, harus dapat menggembirakan kanak-kanak, dapat membimbing kanak-kanak supaya tidak takut, dapat bercerita meluahkan perasaannya, dapat bergembira, bergaul, bermain-main dengan teman-teman sebaya.
Guru-guru harus pandai bercerita, cerita yang dapat menarik perhatian kanak-kanak, cerita yang penuh emosi, sedih, gembira, takut, berani, simpati, antipati, bersemangat dan dapat memberikan teladan kepada kanak-kanak tadika. Guru-guru tadika harus bijaksana menyelipkan pengajaran berguna kepada kanak-kanak waktu bercerita itu.
Begitu juga sebaliknya kanak-kanak disuruh pula bercerita, harus berani bercerita di depan kelas, melatih dan membentuk kepercayaan diri.
Perkara lain yang menungkah arus, yang tidak disukai oleh setengah-setengah ibu bapa adalah; kanak-kanak tadika harus diajar menyanyi dan menari, tujuannya untuk mengembangkan otak sebelah kirinya, supaya perkembangan otaknya seimbang.
Jangan sekali-kali ibu bapa melarang anak menreka menyertai suatu pertunjukan, akan membantutkan hati mereka. Biarkan mereka bergembira, siapkanlah baju cantik untuk persembahan itu, mereka akan merasa dunia mereka indah yang belum pernah mereka rasakan. Jangan ibu bapa takut, nanti sudah besar anak kita akan jadi penyanyi. Penulis sendiri tidak menginginkan anak jadi penyanyi, Alhamdulillah memang tidak ada yang jadi penyanyi, walaupun dari kecil penulis menggalakkan anak-anak mengikuti setiap persembahan yang diadakan di sekolah hinggalah ke University.
DENGAN BIMBINGAN KITA DI RUMAH ANAK-ANAK KITA TAHU JALAN YANG AKAN DIPILIHNYA.
Anak-anak kita di tadika perlu diajar menyanyi dan menari SANGATLAH BESAR faedahnya. Mereka sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi PRIMADONA di depan orang ramai, tidak ada lagi keinginan yang bergelora di hati menjdi primadona, mereka akaan bijak memilih jalan sendiri sesuai dengan kehendak dirinya.
Bagi orang yang tak pernah merasakan menjadi primadona, keinginan di hatinya bergelora tak dapat dibendung, walaupun dilarang dengan berbagai cara tidak akan mereka terima, walaupun bapanya ustad sekalipun tidak akan dapat menghalang mereka menjadi penyanyi. Mereka akan tergila-gila melihat penyanyi-penyanyi, memuja dan menyanjung yang sangat berlebihan, kadang-kadang tidak sadarkan diri tanpa menghiraukan masalah orang tua masalah lingkungan dan sebagainya.
Wednesday, 1 February 2012
DIIKHLASKANKAH ILMUKU INI ?
Jika anda susah untuk mengingat pelajaran, jangan risau, ada jalan bagi anda supaya anda mudah menerima pelajaran.
Anda mesti menyediakan diri anda untuk menjadi orang yang pandai, tidak putus asa , jangan lupa berusaha.
Dari pengalaman saya , saya bergantung kepada bibir guru , apa saja yang dikatakan guru tidak pernah lepas dari pendengaran saya.
Tanamkan rasa kasih sayang dengan guru , dan hormat kepadanya, walaupun dari segi kedudukan atau kewangan anda lebih dari guru anda.
Ilmu yang anda dapatkan dari guru itu benar-benar diikhlaskan oleh si guru barulah ilmu itu berkat untuk anda dan dapat anda gunakan untuk membentuk masa depan anda.
Dapat saya berikan contoh ilmu yang tidak diikhlaskan . Anda dapat menyaksikan berapa banyak bangunan- bangunan besar runtuh , walaupunkita tahu banyak penyebabnya tetapi salah satu sebab tersembunyi yang tak pernah terlintas di kepala adalah sebab ilmu yang digunakan para engineer atau arkitek tidak diikhlaskan oleh guru- guru mereka . Mengapa? jawabannya ada dalam hati masing-masing hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Apakah anda menilai guru anda dari pakaiannya , bajunya, atau kasutnya yang tidak sehebat yang anda miliki ? Ini juga menyebabkan anda susah menerima pelajaran dan susah untuk mengingatnya.
Ikhlaskan hati anda siapapun guru anda itu adalah yang terbaik bagi anda.
Nilailah mereka dari sumbangan mereka kepada kehidupan anda .
Wahai para guru sayangilah murid-murid anda, tanamkanlah dalam hati anda bahwa tugas anda sangat mulia. Ditangan anda terletaknya masa depan murid-murid anda, seolah-olah anda yang mencorakkan masa mereka, dan apa yang terjadi dengan mereka ada saham anda disitu. Sekaligus anda juga ikut mencorakkan generasi yang akan datang, Bersiaplah anda untuk menjadi cermin, yang akan dicontoh, ditiru, diperhatikan, dalam setiap gerak dan langkah anda.
Tanyalah hati anda apakah anda menjadi guru sebab anda yakin dapat memikul tugas seorang guru atau sebab tidak ada pilihan lain ? Jika demikian kita masih ada kesempatan untuk belajar jadi seorang guru yang sebenar-benar seorang guru.
Salam sayang untuk semua yang berkecimpung dalam arena pendidikan, dari saya
Norlaili Yusof.
Anda mesti menyediakan diri anda untuk menjadi orang yang pandai, tidak putus asa , jangan lupa berusaha.
Dari pengalaman saya , saya bergantung kepada bibir guru , apa saja yang dikatakan guru tidak pernah lepas dari pendengaran saya.
Tanamkan rasa kasih sayang dengan guru , dan hormat kepadanya, walaupun dari segi kedudukan atau kewangan anda lebih dari guru anda.
Ilmu yang anda dapatkan dari guru itu benar-benar diikhlaskan oleh si guru barulah ilmu itu berkat untuk anda dan dapat anda gunakan untuk membentuk masa depan anda.
Dapat saya berikan contoh ilmu yang tidak diikhlaskan . Anda dapat menyaksikan berapa banyak bangunan- bangunan besar runtuh , walaupunkita tahu banyak penyebabnya tetapi salah satu sebab tersembunyi yang tak pernah terlintas di kepala adalah sebab ilmu yang digunakan para engineer atau arkitek tidak diikhlaskan oleh guru- guru mereka . Mengapa? jawabannya ada dalam hati masing-masing hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Apakah anda menilai guru anda dari pakaiannya , bajunya, atau kasutnya yang tidak sehebat yang anda miliki ? Ini juga menyebabkan anda susah menerima pelajaran dan susah untuk mengingatnya.
Ikhlaskan hati anda siapapun guru anda itu adalah yang terbaik bagi anda.
Nilailah mereka dari sumbangan mereka kepada kehidupan anda .
Wahai para guru sayangilah murid-murid anda, tanamkanlah dalam hati anda bahwa tugas anda sangat mulia. Ditangan anda terletaknya masa depan murid-murid anda, seolah-olah anda yang mencorakkan masa mereka, dan apa yang terjadi dengan mereka ada saham anda disitu. Sekaligus anda juga ikut mencorakkan generasi yang akan datang, Bersiaplah anda untuk menjadi cermin, yang akan dicontoh, ditiru, diperhatikan, dalam setiap gerak dan langkah anda.
Tanyalah hati anda apakah anda menjadi guru sebab anda yakin dapat memikul tugas seorang guru atau sebab tidak ada pilihan lain ? Jika demikian kita masih ada kesempatan untuk belajar jadi seorang guru yang sebenar-benar seorang guru.
Salam sayang untuk semua yang berkecimpung dalam arena pendidikan, dari saya
Norlaili Yusof.
DARI BIBIRMU KUPEROLEH BERBAGAI ILMU
Sekilas pengalaman di masa silam. Bagaimana setiap pengajaran yang diberikan oleh guru tidak pernah hilang dari ingatan. Selalu dapat diingat sehingga hari ini walaupun sudah berpuluh tahun yang lalu pengalaman itu terjadi.
Setiap kali sesudah berada di dalam kelas, saya duduk menunggu kedatangan guru yang akan memberikan pelajaran ketika itu. Bagaimana riuh rendah teman-teman didalam kelas itu tidak pernah saya terbawa arus pembicaraan mereka di saat itu, pikiran sudah siap sedia menanti apa yang akan saya dapat dari guru pada waktu itu.
Ketika guru melangkah masuk pintu kelas kami mata saya sudah terpaut kepadanya.
Setiap tutur katanya saya dengar dengan baik terus tersimpan dikepala. Tertanam rasa kasih sayang kepada setiap guru yang telah menambah pengetahuan saya pada hari itu.
Saya tersenyum memandang guru itu yang akan meninggalkan kelas kami ketika itu walaupun si guru tidak melayangkan pandangannya kepada saya.
KETIKA itu cikgu Yusri masuk ke kelas , saya sudah memperhatikannya sejak langkahnya yang pertama menginjak kelas kami. Saya mata bergantung pada bibir cikgu Yusri, apalagi ketika beliau memulai penceritakan TUNNEL LONDON PARIS , saya tercengang mendengarkan bahwa train itu menyeberangi lautan dengan menyusur di bawah laut dengan kelajuan tinggi. Saya seolah-olah ternganga mendengarkannya seperti tak percaya. Maklumlah saya seorang anak kampumg.
Siapa menyangka anak kampung ini, dapat menaiki train EURO STAR melalui TUNNEL LONDON PARIS ITU , yang suatu ketika dahulu disangkakan cerita cikgu Yusri itu hanya sebuah dongeng belaka.
Betapa saya terharu ketika melangkahkan kaki menaiki train EURO STAR dari London menuju Paris, teringat mata saya bergantung pada bibir cikgu Yusri, orang yang berkulit agak gelap tidak di kategorikan tinggi , memakai baju putih ketika itu dengan penuh kesederhanaan menceritakan TUNNEL yang kini tidaklah sesuatu yang khayalan bagi saya.
TERIMA KASIH CIKGU YUSRI DARI BIBIRMU KUPEROLEH PELBAGAI ILMU,muridmu ini tidak mengetahui keadaanmu apakah guruku tersayang masih ada di dunia fana ini atau sudah berpindah ke alam baqa . Maklumlah kisah bergantung dibibir cikgu ini sudah 55 tahun yang lalu.Mudah-mudahan ALLAH MENYAYANGIMU LEBIH DARI SEORANG MURID MENYAYANGIMU . AMIN ! AMIN ! YA , RABBAL ALAMIN.
Setiap kali sesudah berada di dalam kelas, saya duduk menunggu kedatangan guru yang akan memberikan pelajaran ketika itu. Bagaimana riuh rendah teman-teman didalam kelas itu tidak pernah saya terbawa arus pembicaraan mereka di saat itu, pikiran sudah siap sedia menanti apa yang akan saya dapat dari guru pada waktu itu.
Ketika guru melangkah masuk pintu kelas kami mata saya sudah terpaut kepadanya.
Setiap tutur katanya saya dengar dengan baik terus tersimpan dikepala. Tertanam rasa kasih sayang kepada setiap guru yang telah menambah pengetahuan saya pada hari itu.
Saya tersenyum memandang guru itu yang akan meninggalkan kelas kami ketika itu walaupun si guru tidak melayangkan pandangannya kepada saya.
KETIKA itu cikgu Yusri masuk ke kelas , saya sudah memperhatikannya sejak langkahnya yang pertama menginjak kelas kami. Saya mata bergantung pada bibir cikgu Yusri, apalagi ketika beliau memulai penceritakan TUNNEL LONDON PARIS , saya tercengang mendengarkan bahwa train itu menyeberangi lautan dengan menyusur di bawah laut dengan kelajuan tinggi. Saya seolah-olah ternganga mendengarkannya seperti tak percaya. Maklumlah saya seorang anak kampumg.
Siapa menyangka anak kampung ini, dapat menaiki train EURO STAR melalui TUNNEL LONDON PARIS ITU , yang suatu ketika dahulu disangkakan cerita cikgu Yusri itu hanya sebuah dongeng belaka.
Betapa saya terharu ketika melangkahkan kaki menaiki train EURO STAR dari London menuju Paris, teringat mata saya bergantung pada bibir cikgu Yusri, orang yang berkulit agak gelap tidak di kategorikan tinggi , memakai baju putih ketika itu dengan penuh kesederhanaan menceritakan TUNNEL yang kini tidaklah sesuatu yang khayalan bagi saya.
TERIMA KASIH CIKGU YUSRI DARI BIBIRMU KUPEROLEH PELBAGAI ILMU,muridmu ini tidak mengetahui keadaanmu apakah guruku tersayang masih ada di dunia fana ini atau sudah berpindah ke alam baqa . Maklumlah kisah bergantung dibibir cikgu ini sudah 55 tahun yang lalu.Mudah-mudahan ALLAH MENYAYANGIMU LEBIH DARI SEORANG MURID MENYAYANGIMU . AMIN ! AMIN ! YA , RABBAL ALAMIN.
Subscribe to:
Posts (Atom)