LILI PIKIR, MACAM MANA NAK TURUN
"Lili cepatlah panjat, seronok main kejar-kejaran di atas pokok ni, kamu saja yang tinggal
di bawah tu", terdengar suara kak Imah dari atas pokok besar itu.
Lili memandang ke atas, memang seronok sangat nampaknya kawan-kawannya berlari-lari dari cabang ke cabang pohon itu, cabangnya banyak semakin ke atas cabangnya semakin dekat-dekat dan banyak, sangat senang melangkah dari satu cabang ke cabang lain.
"Kamu tak takut ke Lili seorang diri dibawah pokok tu, tak ada siapa- siapa di situ", terdengar lagi teriakan kawannya dari atas pokok.
Lili memandang sekeliling, memang tidak ada orang di situ, hatinya menjadi risau, menyesal dia pergi dengan kawan-kawannya yang besar-besar itu, hanya dia seorang saja yang kecil.
Lili mencuba lagi memeluk batang pohon yang besar itu untuk memanjat, tapi tak boleh , tangannya tak sampai, Lili mula merasa takut. Sebentar-sebentar Lili memandang ke atas melihat kawan-kawannya bergembira berkejar-kejaran di atas pokok itu. Sambil berpikir-pikir Lili berjalan di bawah pohon, ternampak olehnya sebatang pohon kecil tumbuh, dekat pokok besar itu, dan batangnya berdekatan dengan salah satu cabang pokok besar itu.
Lili mendapat akal, dipanjatnya pokok kecil itu sehingga dia dapat berpijak pada dahan pertama pokok besar itu. Usaha Lili mulai mudah, dahan pertama sudah dapat dipijaknya
untuk sampai kepada dahan yang di atas Lili hanya perlu berpaut dan menggerakkan badannya sedikit ke atas, laluan sekarang sangat mudah, jarak antara dahan semakin ke atas semakin dekat. Sekarang Lili dapat bermain kejar- kejaran di atas pokok itu .
Sungguh sangat menggembirakan hati semua kawan-kawannya.
Tidak terasa waktu berlalu sangat pantas, terdengar azan magrib dari kejauhan.
"Sudah magrib, sudah magrib . Jom turun , balik rumah", terdengar suara kak Imah mengajak kawan-kawannya turun. Semuanya cepat meluru ke bawah.
Langkah Lili semakin ke bawah semakin perlahan, jarak antara dahan ke dahan semakin jauh. Akhirrnya Lili tinggal seorang di atas pokok itu.
"Cepat Lili", terdengar suara kawan-kawannya memanggil.
"Nanti kita kena marah , emak-emak kita akan risau kalau kita lambat balik", terdengar suara kawannya yang lain.
"Kaki Lili tak sampai nak pijak dahan bawah ni", suara Lili terdengar sangat risau.
"Kenapa tak sampai pula, tadi kamu naik macam mana ???" terdengar suara kak Imah agak heran. Semua mereka memandang ke atas melihat Lili.
Lili pun heran kenapa tadi dia dapat naik, kenapa tak dapat turun sekarang ini, kenapa kakinya tak sampai, padahal masih ada beberapa dahan ke bawahnya lagi, untuk sampai ke pokok kecil yang dipanjatnya tadi. Lili mencuba lagi, dia duduk diatas dahan, dijulurkannya kakinya untuk mencapai dahan di bawahnya. Terasa kakinya menyentuh dahan, dengan beraninya Lili bergayut dan turun ke dahan bawah.
Masih ada dua lagi dahan yang harus dituruninya. Dilakukannya seperti tadi, tetapi kali ini ushanya sia-sia kakinya tak dapat menyentuh dahan yang dibawah. Bekali kali di cubanya tetap tidak kesampaian.
"Cepat Lili kami nak balik, nanti kamu tinggal sendiri di atas pokok itu, kamu lambat betul nanti mak aku marah", terdengar pula suara kawannya yang lain.
Lili mula menangis, dilayangkannya pandangannya kebawah pohon, semua kawan-kawannya mendongak ke atas memandang Lili, semuanya seperti ketakutan.
"Lili pikir ....!!!! macam mana nak turun ........!!!!", terdengar suara kak Imah.
"Macam mana ni kak........... kaki Lili tak sampai kak, nanti Lili jatuh ", terdengar suara Lili dalam tangisan, sambil kakinya mencuba mencari dahan di bawah.
"Cepat Lili.........!!!!!!! Macam mana kami nak tolong .....!!!!! Tadi kamu boleh naik , heran pula kenapa kamu tak dapat turun ??????", terdengar suara kak Imah.
"Kak.............!!!!!!! Macam mana ni .............. macam mana ni............!!!!!".
Semuanya diam sambil mendongak ke atas, semua terpaku melihat Lili di atas pokok.
"Kak jangan balik kak, tunggu Lili, Lili takut kak.................!!!!!!!!!!!!" terdengar suara Lili dalam tangisannya. Semua tak berani bersuara, dan tidak berniat meninggalkan Lili diatas pokok seorang diri walaupun hari sudah agak gelap, walaupun semuanya tahu sampai di rumah masing-masing akan dimarahi.
Lili memperhatikan dahan demi dahan di dekatnya, dilihatnya pula ke bawah nampak onggokan sampah. Tanpa berpikir panjang Lili memeluk dahan tempat duduknya, perlahan-lahan digerakkannya badannya menuju ujung dahan itu. Disebabkan berat badan Lili dahan itu merunduk ke bawah. Setelah Lili sampai di ujung dahan Lili melompat ketempat onggokkan sampah dibawah pohon.
Lili selamat sampai ke bawah , hanya kaki dan tangannya calar-calar sedikit terkena ranting-ranting di bawah pokok dan sampah-sampah dan kayu-kayu di situ.
Walaupun terasa sakit Lili tersenyum memandang semua kawan-kawannya yang setia menantikannya di bawah pohon.
"Lili aku bangga dengan kamu dalam keadaan yang susah kamu masih dapat berpikir, untuk menyelamatkan diri kamu turun dari pokok yang tinggi itu", terdengar suara Mail yang dari tadi berdiam diri , sebab tak mampu berkata-kata.
Semua mereka tertawa gembira, menuju rumah masing-masing walaupun mereka semuanya tahu sesampai di rumah akan di marahi orang tua, sebab balik ke rumah
hampir-hampir azan isyak berkumandang ke udara.
Bulan purnama saat itu menaburkan cahayanya yang lembut mengiringi mereka hingga selamat sampai ke rumah masing-masing nun diperkampungan yang tenang dan damai.
No comments:
Post a Comment