K A L U N G M U T I R A
Lili masih berpikir-pikir , dia masih belum mendapatkan jawabannya , mengapa opahnya selalu marah kepadanya. Tadi ketika Lili makan opahnya marah juga, dia membuang nasinya itu sebab pedas sangat, dia tak tahan pedas, jadi nasinya yang berkuah cili itu dibuangnya, barulah dia dapat makan. Tapi opahnya marah-marah.
Lili pergi bercermin, dilihatnya wajahnya dalam cermin itu diperhatikannya hidungnya, matanya, keningnya semuanya dilihatnya dengan teliti satu persatu.
"Mungkin opah marah padaku, sebab aku tak cantik, mataku bulat, mulutku agak besar, hidungku kembang, memanglah aku ini tak cantik, kulitku tak seputih kulit kak yong",
Lilipun tak habis pikir mengapa dia tidak secantik kak yong, supaya opahnya tak selalu marah kepadanya. Kadang- kadang Lili meradang dengan opahnya , asyik marah, tapi kak yong tak pernah kena marah.
"Kak yong baik, tak pernah marah denganku. Kak yong cantik dan rajin, tiap hari dia mandikan aku, sikatkan rambutku, selalu bermain denganku, selalu suapkan aku kalau aku malas menyuapkan nasi ke mulutku", Lili membanding-bandingkan opahnya dengan kak yongnya yaitu kakak sepupunya itu. Memanglah Lili lebih sayang kepada kak yongnya.
Opah selalu marah-marah dengan Lili, nasib baik opah mau juga membelikan kalung mutiara yang sama dengan kalung mutiara kak yong. Sekarang Lili dapat bergembira dengan memakai kalung mutiaranya setiap hari, Sekarang Lili terasa lebih cantik sebab memakai kalung mutiara yang dibelikan oleh opahnya itu. Lili sayang betul dengan kalung mutiaranya itu, setiap hari tak pernah kalung itu lepas dari lehernya.
Malam itu, mereka berempat makan bersama-sama. Lili, kak yong, opah dan atok.
"Apa yang kamu buat dengan kalung kamu Lili ?? Aku tengok kalung kamu itu sudah calar-calar. Kamu memang tak pandai berjimat, tak pandai memelihara barang, aku sudah membelikan kamu kalung mutiara itu, tapi lihatlah apa dah jadi, kalung itu sudah buruk, tentulah kamu akan memakai kalung buruk itu pada hari kenduri itu nanti", opahnya betul-betul marah kepada Lili.
Lili tunduk memandang kalung yang tersangkut dilehernya, kalung itu cantik, hanya calar-calar sedikit saja, tapi opahnya sangat marah.
"Kalung ini cantiklah opah, kenapa opah asyik nak marah Lili saja, opah ni suka marah Lili , kak yong tak pernah kena marah", Lili membantah .
" Biyah tengok kalung kamu, tunjukkan pada budak Lili ni, supaya dia tahu mana yang cantik dan mana yang dah buruk, pandai pula dia membantah cakap aku", kata opahnya dengan marah.
Kak yongpun pergi mengambil kalungnya, diberikannya kepada Lili. Memang kalung kak yong sangat cantik, mutiaranya berkilat cantik berseri-seri, tidak ada yang calar.
Tiba-tiba.................., digigit-gigitnya kalung itu, beberapa mutiara retak-retak, dan beberapa mutiara lagi calar-calar. Kalung itu dihempaskannya, cepat-cepat Lili berlari keluar rumah, menuju ke rumah emaknya. Lili tidak tahu apa yang terjadi dengan dengan opahnya dan kak yongnya. Malam itu dia tidak tidur di rumah itu, tidur di rumah maknya.
Pagi-pagi Lili mengendap-endap datang ke rumah opahnya, didengarnya kak yong menangis, terdengar suara opahnya membujuk kak yong.
"Tak apalah Biyah hanya dua yang retak dan tiga lagi itu hanya calar sedikit saja. Mutiara kalung kamu itu cantik tak nampakpun kalau dilihat dari jauh. Dari semalam kamu menangis, pagi ini kamu sambung lagi tangisan kamu, kalung itu tak akan pulih lagi.
Budak Lili itu memang sangat nakal opah betul-betul tak sangka dia akan menggigit kalung kamu itu. Memang betul-betul nakal budak itu," terdengar suara opah sangaat marah. Lili mendengar percakapan opah dan kak yong dari balik pintu, mereka berdua tidak sadar kehadiran Lili di situ.
Dari celah pintu Lili nampak wajah kak yong, sedih hati Lili, mata kak yong bengkak, wajahnya sedih. Lili rasa menyesal, sebenarnya dia marah dengan opahnya tapi tak disangkanya kak yong yang sedih.
Malam berikutnya kak yong jadi pengantin, semua orang memuji kecantikan kak yong, Lili juga menyaksikan kecantikan kak yong bepakaian pengantin, kepalanya dihiasi mahkota bertatahkan permata berkilauan ditimpa cahaya lampu. Baju pengantin kak yong kuning diraja dihiasi manik-manik dan sulaman indah, para jemputan terpesona melihat keantikan kak yong.
Kalung Mutiara menghiasi leher kak yong yang indah, semuanya terlihat sempurna, hanya beberapa mutiara retak dan beberapa lagi yang calar mengurangi sedapnya pemandangan dikala itu.
Si kecil nakal, yang dipanggil Lili juga menyedari hal itu. Dia kecewa, perbuatannya menggigit kalung kak yong mengurangi keindahan suasana di malam itu.
Lili pergi ke balik pintu menangis, menangis sedih seorang diri, tak disangkanya kakak yang disayanginya terkurang kecantikannya, disaat perlu terlihat cantik.
Lili menangis terisak-isak, dia harus minta maaf dengan kak yong, perbuatannya yang tidak disangkanya berakibat begitu, dia berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan nakal lagi, dia harus belajar memperbaiki dirinya, dia akan menjadi orang yang baik setelah dewasa nanti. Walaupun ketika itu Lili belum mengerti semua itu.
No comments:
Post a Comment