Saturday, 9 June 2012

HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU

                                       PENGHUJUNG USIA

Di penghujung usiaku ini, selalu aku menoleh kebelakang, aku dapat melihat kembali dengan jelas liku-liku kehidupan yang aku lalui. kadang-kadang kepalaku menggeleng-geleng tanpa kusedari. betapa kuatnya aku betapa aku dapat melalui kehidupanku yang keras dan gersang itu, tidak ada sahabat, tempat mencurahkan perasaan tdak ada handai taulan yang membantu dan menolong, aku tempuh yang  demikian itu, sambil hatiku berkata sendiri, "Aku mampu menjalani hidup seperti itu ? Aku mampu menjalani hidup yang keras seperti itu ?"

Allah Yang Maha Kuasa telah menurunkan kepada setiap kaum hawa rasa kasih sayang yang tak terhingga kepada anak-anak yang dilahirkannya. Begitu jugalah aku, rasa kasih sayangku kepada anak-anakkulah menjadikan aku seorang yang tegar pantang menyerah, seperti kata pribahasa patah kaki bertongkat paruh, walaupun tak terdaya, aku kuatkan juga dengan tenaga apa yang ada demi membesarkan anak-anakku tercinta.

"Bu ....! kenapa rumah orang tu, rumah orang yang kita pergi tadi tu cantik, cantik sangat, kenapa rumah kita buruk ?
Lina tak nak rumah buruk tu, Lina nak rumah cantik macam tadi tu, macam mana bu ?" anakku Lina bertanya kepadaku ketika kami balik dari rumah kakak sepupuku untuk meminjam wang.
Aku termenung sebentar mencari jawaban yang tepat dan baik bagi anakku. Aku dahului dengan senyuman sebelum menjawab pertanyaannya itu.
"Lina suka rumah cantik macam tu ? Ibupun suka juga", jawabku
"Kita beli lah bu rumah macamtu Lina suka", anakku meneruskan lagi permintaanya.
"Lina sekarang baru umur 3 tahun setengah, umur 6 tahun nanti Lina sekolah. Lina harus belajar rajin-rajin dapat nombor satu ", belum habis aku berkata tak sabar Lina memotong
"Kalau dapat nombor satu dapat rumah cantik ke bu ?"
"Kalau Lina rajin-rajin belajar dapat nombor satu selalu, nanti Lina dapat kerja bagus, gaji banyak, dapatlah beli rumah cantik, besar, macam rumah yang kita pergi tu." kataku.
Lina termangu-mangu mendengarkan, entah dia mengerti entah tidak akupun tak tahu.  Turun dari bas kupimpin anakku bejalan ke rumah. Lina diam tidak berkata sepatahpun. Aku tahu pastilah Lina masih memikirkan rumah cantik dan besar yang dinaikinya tadi. Ku lihat wajah Lina ketika masuk ke rumah kecil yang ku sewa itu, seperti wajah kecewa, kecewa seorang anak kecil terasa di  hatinya tak dapat dia kemukakan kekecewaannya sepuas hatinya.

Setiap pagi kakak Mia datang menjaga Lina, aku pergi bekerja dapt kubayangkan betapa bosannya anakku tinggal di rumah kecil, tiada hiasan dalaman yang menarik, tinggal berdua saja dengan kak Mia. Entah apa yang dibuat mereka di rumah itu akupun tak tahu.

Pada waktu Lisa adik Lina  lahir, terbayang kegembiraan di wajah Lina, tertapi kecembuaruan dihati Lina takut kasih sayang ibu tertumpah kepada adiknya Lisa menyebabkan kegembiraan Lina tidak kekal lama. Tambahan lagi mereka berdua harus ku antar kerumah tetangga ketika aku pergi bekerja. Kak Mia tak bekerja lagi.

Kehidupanku bertambah sedih, suamiku yang seharusnya memberi nafkah kami, justru minta wang dariku untuk dijadikan modal. Gajiku yang tak seberapa terpaksa kuberikan juga untuk membeli kerusi gunting rambut sebab katanya dia mau bekerja sebagai tukang gunting rambut. Tak dapat kukatakan lagi kekecewaanku belumpun sampai sebulan kerusi itu dibawanya balik dan dibiarkanya berhujan berpanas di luar rumah seperti barang tak berharga, sebab dia tidak mau lagi bekerja sebagai tukang gunting rambut. Padahal keringatku belum lagi kering untuk mencari wang pembeli kerusi itu.
Setiap hari kupandang kursi yang berhujan berpanas itu, yang wang pembelinya adalah wang belanja makan yang harus dikurangi. Aku menangis sedih dengan air mataku jatuh ke dalam. Perkelahian akan terjadi kalau aku bersuara mengenai hal itu.

Tidak ada lagi pekerjaan minta lagi wang untuk modal. Seperti aku memotong dagingku sendiri pedihnya ketika aku terpaksa memberikan wang untuk modal itu sebab gajiku hanya sedikit. Cukup untuk belanja makan, beli susu anak dan semua keperluan yang lain-lain. Tidak cukup sampai disitu wang modal itu habis minta lagi sebab katanya modal sedikit memang terpaksa rugi, semua orang juga begitu, itulah jawaban suamiku.
Pernah juga dia minta untuk dibelikan terompet katanya mau belajar main terompet biar ikut artis mudah dapat wang. Permintaan yang satu ini tidak kukabulkan di samping wang ku memang tidak cukup untuk belanja seharian. Dia sendiri tidak pernah kenal terompet, berapa pula lamanya harus belajar dan apakah dia memang boleh pandai dan apakah ada yang mau menerima dia untuk bekerja, terbayang pula olehku apakah terompetnya sama pula nasibnya dengan kerusi tempat gunting rambut yang masih terbaring di luar sana.

Permintaannya tidak ku kabulkan, tentulah terjadi pergaduhan, dia pergi meninggalkan kami bertiga. Aku sudah pasrah, kalau dia pergi apa boleh buat aku tak tahan lagi dengan kerenahnya. Anakku Lina merasa kesunyian, dia menangis memanggil-manggill bapanya.
Akupun termenung apakah aku akan menurutkan kesal hatiku atau aku akan menghentikan rintihan anakku yang kehilangan bapanya.
Alangkah terkejutnya aku, rupanya dia sang suami beberapa hari tidak balik ini berdiam di rumah sepupuku itu, dengan bermacam-macam crita yang dibawanya memburuk-burukkan aku. Betapa pedihnya hatiku, aku dikatakan perempuam mata duitan, aku tidak suka kepadanya sebab dia miskin dan lain-lain sebagainya. Dalam kepedihan begitu aku terpaksa menerimanya kembali, demi anakku yang merindukannya.
"Sekarang ini aku bukan hidup untuk diriku, aku hanya hidup untuk anak-anakku, Jangan banyak tingkah dan jangan banyak bersuara", begitulah aku memarahi diriku, setiap kali kesedihan melanda hatiku.
Hari demi hari berlalu, kehidupan berjalan terus, dengan berbagai-bagai permintaan tidak lupa uantuk modal, menambah modal, membeli barang-barang lebih banyak supaya harga lebih murah dan berbagai macam lagi alasan memperkuat berbagai-bagai pemintaan. Dia juga pernah menyuruhku," Pinjamkanlah aku duit kepada kawan-kawan kamu itu mereka kan kaya kaya, nanti akan ku bayar kalau jualanku laris," Aku tidak meminjamkan wang itu kepada kawanku tetapi kuberikan wangku sendiri, entah berdosa aku berbohong mengatakan wang itu kupinjam dari kawanku dan haru di angsur membayarnya setiap bulan. Sebulan dibayarnya, dua bulan, bulan ketiaga disuruhnya aku membayar sebab dia perlu wang, bulan keempat di bayar, dan seterusnya dia seolah-olah tidak berhutang apa-apa. Aku telan semuanya itu demi kebaikan anak-anakku.

Aku kesian dengan anak-anakku tidak ada kegembiraan hidup, tinggal di rumah yang sangat sederhana, tidak ada kemudahan apapun semuanya serba susah dan membosankan. Untuk menghibur anak-anakku setiap bulan kusisihkan wang gajiku untuk membawa mereka ke supermarket berbelanja apa saja yang mereka inginkankan, dan juga aku bawa merka bemain-main ketempat permainan kanak-kanak. Anak-anakku sungguh gembira, setiap hari mereka menunggu bila aku akan dapat gaji supaya mereka dapat ke  tempat yang mereka sukai itu.

Betapa sulitnya keadaanku, aku harus menjaga martabat keluarga, aku malu dengan teman-teman sekerja, bajuku hanya tiga, empat helai untuk kupakai mencari wang sedangkan temanku mempunyai bermacam-macam jenis baju yang di belikan suaminya di London Paris dan baru-baru ini di Jepun. Aku ke tempat kerja dengan baju lusuh.
Suatu pagi aku bersiaplah dengan baju lusuh pergi bekerja, tiba-tiba sang suami datang dengan mengejek, "Pakai baju lusuh begini pergi bekerja ? Tapi kawan kamu semua pakai baju cantik-cantik, kamu tidak malu begini ? Aku sendiri malu."
"Aku ini isteri siapa, siapa yang harus membelikan aku baju ?" jawabku
"Kamu bekerja belilah baju kamu sendiri, minta dengan aku tak ada lah" , jawabnya.
"Kemana perginya wang gaji aku, kita semua tahu kan? Aku permpuan aku ingin sekali mamakai baju cantik-cantik, bersolek diwaktu muda ini seperti teman-temanku itu !" jawabku dengan sedih, bercampur marah dan terasa mau menangis, tetapi sebelum habis ayat-ayat ku dia sudah pergi meninggalkan aku. Terasa seperti dia hanya mau menyakitkan hatiku akupun tidak tahu apa yang tersembunyi di hatinya. Dan apa maunya.

Waktu terus berlalu, anakku Lina dapat masuk U M , anakku Lisa dapat ke U K, dan harus belajar 2 tahun di PPP Shah Alam, anak lelakiku, tingkatan 2 yang perempuan kecil derjah 4 dan yang bungsu lelaki belum bersekolah. Sang suami dapat kedai, tetapi kedai itu tiada pengunjung sama sekali, dibiarkan kosong hanya membayar sewa lebih dari setahun. Dia menyuruhku menunggu kedai itu sehabis jam kerjaku. Betapa tersiksanya aku duduk di kedai tanpa ada pembelinya, sedangkan anakku masih memerlukan aku duduk menungguku di rumah. Pernah sekali kudapati anakku berdua sedang menangis sebab yang kecil terjatuh masuk longkang, akupun tak dapat menahan tangisku, kupeluk anakku sambail menangis pilu menanggung kesedihan.
Besoknya ku suruh anakku yang perempuan umur belum cukup 10 tahun itu mengambil adiknya di rumah orang tempat aku metitipkan setiap hari, membawa adiknya yang berumur 3 tahun setengah itu pergi kekedaiku naik bas. betapa tersiksanya aku duduk menunggu anak-anakku dua orang masih kecil-kecil, betapa sia-sianya aku. Aku tahu pekerjaanku ini sangat berbahaya tetapi terpaksa kulakukan juga. Sejak itu setiap hari anakku yang dua orang itu datang ke kedaiku dengan bas. Sangat banyak hal-hal yang merenggut jantungku terjadi, terlalu panjang untuk diceritakan di sini.

Aku terus berpikir apa yang harus kubuat di kedai itu, dari pada menunggu jualan yang tak laku, aku beli sebuah mesin jahit, akupun belajar menjahit untuk mengisi waktu. ALLAH memberi rezeki, banyak sekali orang menempah denganku, sehinggalah aku membeli satu demi satu mesin jahit dari penghasilan kadai itu, aku membeli sepuluh mesin dengan memakai 10 orang pekerja. Barulah aku merasakan mempunyai wang dan dapatlah aku agak mewah berbelanja. tetapi anehnya setelah mempunyai wangpun tidaklah aku boros sebab telah terbiasa hidup sederhana.
Dapatlah aku membeli kereta, menyimpan wang sedikit-sedikit.
Aku masih juga tidak dapat bergembira, masih terus dikehendaki terus bersedih, dengan penghinaan yang tidak kusangka sma sekali, sebab aku dikatakan hanya selevel dengan pendatang haram, bekerja sebagai tukang jahit, inilah kata-kata yang harus aku telan dari sang suami.

walaupun hatiku pedih tetapi aku tetap juga bertahan, sebab banyaknya pekerjaan tidak aku hiraukan penghinaan atau ejekan atau yang lainnya. Yang terpikir olehku hanyalah bagai mana aku harus melayan pelangganku supaya tetap datang menempah denganku. Tetapi hatiku ssangat sedih hiba mengenangkan nasibku. Aku tidak tahu apalagi baktiku untuk keluarga yang belum aku tunaikan, aku kikis habis tenagaku, pikiranku, jiwaku dan ragaku tetapi aku masih lagi diperlakukan seperti orang tiada berguna.

Ketika anakku Lina menikah, aku berpakatlah dengan sang suami, bagaimana pernikahan itu akan diadakan nanti. Apa jawabnya ?
"Buat apa diadakan kenduri, menghabiskan wang, lebih baik digunakan untuk modal, cukuplah dipanggil seorang kadhi dan beberapa orang saksi, hanya itu yang perlu menurut Islam." Ucapannya itu betul tetapi aku ketika itu sudah ada sedikit wang tak sampai hatiku untuk tidak menghargai anakku Lina yang telah mendapatkan ijazah DR menikah sesederhana begitu.

Begitulah sekelumit kisah dari kehidupan berpuluh tahun, sebenarnya terlalu banyak untuk diceritakan, semua cerita membosankan tidak sedap untuk dipaparkan lebih lanjut. Biarlah selebihnya kusimpam sebagai penbendaharaan di lubuk hatiku, untuk kutangisi seorang diri, sebagai rahasia kusimpan ia jauh-jauh di lubuk hati.

Segala sesuatu itu ada batasnya, kesabaranku, ketabahanku, kecekalan hatiku, kekuatanku untuk bertahan akhirnya rapuh jua bersama usiaku yang meningkat tua. Do'aku puluhan tahun yang mengharapkan mudah-mudahan suami akan sadar dan akan berubah menjadi baik tidak terkabul.  Aku tidak rela lagi diperlakukan sewenang wenang, walaupun pada mulamya aku berjanji hidupku bukan untuk diriku tetapi untuk anak-anakku, akhirnya janjiku itu ku ungkai semula. Aku mengatakan kepada anak-anakku bahwa aku tidak mau lagi, tidak tahan lagi hidup seperti itu. Anak-anakku terdiam, ada yang melelehkan air mata, sebab mereka belum mempunyai pasangan hidup masing-masing. Walaupun begitu mereka merelakannya. Ada yang berkata, " Tak apalah bu kalau ibu sudah tak tahan lagi macam mana, kami ikut saja mana yang ibu rasa baik, kami juga tidak mau ibu menderita lebih lama ".
Akhirnya perpisahan itu terjadi, tiada siapa yang tahu, jiran-jiran semuanya ternganga-nganga sebab mereka tidak pernah mendengar kami bertengkar apalagi berkelahi.

Anakku Lina yang ingin sekali mempunyai rumah cantik, besar dan indah kini telah terkabul. Dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya sejak dari kecil, bukan hasil dari jerih payahku tetapi adalah usahanya suami isteri, aku sangat gembira.

Walau berapa banyak kesusahan yang kutanggung, betapa banyak keringat yang tercurah, berapa banyak air mata yang tertumpah,
Aku halalkan semuanya, untuk anak-anakku, aku redo dengan semua yang berlaku, aku sadar, semua itu takdir ALLAH untukku, sekali lagi aku redo menjalani hidup yang Allah tentukan untukku. Alhamdulillah selama aku menjalani hidupku tak pernah aku menyeleweng dan tak pernah teringatpun olehku. Yang teringat adalah 'HIDUPKU UNTUK ANAK-ANAKKU, BUKAN UNTUK DIRIKU'. Aku ampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, semoga juga mereka mengampunkan aku, banyak silap dan salahku waktu membesarkan mereka, banyak kekurangan-kekuranganku sebagai ibu, aku sering memarahi mereka, terlebih waktu aku terdesak dengan kerja-kerja, yang aku hanya pentingkan kerja, siang malam, pernah juga aku pergi dubing alih bahasa, menjual suara untuk cerita-cerita, dengan membawa dua orang anak umur tiga tahun dan sepuluh tahun diwaktu malam hari menambahkan lagi pendapatan. Adakah sang suami melarangku atau kesian denganku, satu hari tiga kerja yang dibuat oleh isteri ? Tidak pernah, jangan mengharap.

Aku tulis kisahku ini supaya mereka dapat melihat aku, siapa aku yang sebenarnya, supaya mereka tidak salah menilai aku, jika ada kesalahanku, tersebab kekangan hidup, bukanlah kusengajakan untuk berbuat salah. mudah-mudahan anak-anakku memaafkanya.

Kini aku sangat gembira semua anak-anakku berjaya dalam hidup, tidaklah mereka mewarisi kesusahanku. Terlebih lagi kegembiraanku anak-anakku semuanya mengingatiku sebagai ibunya walaupun mereka telah mendapatkan kedudukan tinggi tetapi aku adalah tetap masih ibu mereka.

1 comment: