HARI-HARI INDAH BERSAMA CUCU-CUCU DI QATAR
Betapa indahnya pertemuan kami nanti, tidak dapat kubayangkan. Hatiku terasa ditarik-tarik supaya cepat sampai ke tempat tujuan. Panas 39 darjah celcius menerpa wajahku tidak kuhiraukan, ingin segera bertemu dengan cucu-cucuku yang telah lama menunggu kedatanganku.
Aku sabarkan hatiku menunggu jemputan datang, kulayangkan pandanganku ke papan kenyataan di airport Doha Qatar itu, kulihat kapal terbang yang mendarat adalah dari Kuala Lumbur, heran juga aku ketika itu, tetapi barulah aku ketahui tidak ada huruf P dalam abjat Arab, ditukarkannya menjadi B . Aku tertawa dalam hati, berkuranglah kegelisahanku.
Terpegun juga aku ketika masuk 'Raudah Paradise' tempat kediaman anakku Dahlila Putri suami isteri anak beranak, pintu pagarnya besinya tinggi sekali tersergam kelihatan sangat kukuh, ada pengawal keselamatan yang menjaga, rumahnya adalah rumah mewah menurut ukuran orang asing yang bermastautin di Qatar. di samping pondok pengawal terdapat kolam renang, yang dilengkapi dengan tempat bersukan lengkap dengan peralatannya, ruangan mesyuarat atau dapat juga digunakan untuk keperluang lain.
Rumah yang kami tuju adalah rumah no.3, kunci rumah tergantung diluar, cucu-cucuku sudah balik dari sekolah.
"Ukashah !!!!!!! Yasmin !!!!!!!!!!", aku meluru masuk mencari dimana mereka berada.
"Opah .........!!!!!!!!!!!", Ukashah meluru laju memelukku kuat-kuat.
"Mama ........!!!!!!!!!!!", Yasmin pula berlari menuju anakku Dahlila, dan memeluknya. Kami semuanya tertawa riang gembira, riuh rendah suara kami kegirangan, macam-macam pertanyaan , macam-macam cerita kami kian kemari apa-apa saja mana yang dapat mengundang tertawa, temasuklah Kuala Lumbur yang tertulis di airport tadi.
Malam itu aku terasa letih tetapi terpaksa melayan mereka yang sedang keriangan. "Cerita Pah, cerita ....!!!!!", Ukashah meminta, memang dia suka sekali mendengar cerita.
"Sidarta Gautama terkejut dan hairan melihat orang tua yang duduk di pinggir jalan itu",
aku melanjutkan cerita. Mereka semuanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.
" Sebelumnya dia tak pernah melihat orang tua, dia tidak tahu apakah orang tua itu manusia, atau bukan, mengapa dia menjadi tua, siapa yang membuat dia jadi tua. Sidarta berpikir bagaimana sbenarnya alam ini siapa yang membuat ini semuanya.............
To be continue ..............!!!!!!", aku mengakhiri ceritaku.
"Opah letih opah nak tidur", aku berkata sambil memejamkan mata.
"Ala... opah ....!!!!!", terdengar suara mereka tiga orang serentak.
"Good night Opah....... besok sambung lagi ya Pah .....!!!!!!!", suara Ukashah merayu.
"dod nid Opah ", Umair yang berumur 2 tahun lebih itupun bersuara, masing-masing mencari tempat tidur masing-masing.
Malam itu aku tidur dengan Ukashah, aku peluk dia dan aku belai rambutnya, dia tahu bahwa aku sayang kepadanya dan aku juga tahu bahwa dia sangat sayang kepadaku.
"Opah petang ini kita pergi Suakif, opah boleh tengok suakif, kita belanja-belanja, jalan-jalan, seronok Opah", suara gembira Ukashah memberitahukan kami semua.
Petang itu kami berangkat dari rumah dengan senang hati, hanya beberapa menit sampai Suakif. Kulihat bangunannya bangunan tua, tidak begitu menarik, semuanya biasa-biasa saja. burung-burung merpati banyak sekali terbang dan hinggap dikawasan bangunan itu, terlihar tempat itu agak kotor dan tidak sehat.
Kami berjalan kedalam , kiri kanan kedai-kedai menjual bermacam-macam barang, pengunjung, memang ramai, dapatlah kita bejumpa dan melihat orang Qatar asli.
"Disini kita beli cai dulu", anakku Dahlila memanggil kami semua, dengan senyum bermakna.
"Kalau disini harga cai 1 riyal, mari kita beli satu gelas sorang", Dahlila menjelaskan.
"Kalau kedai lain harganya 5 riyal, rasanya sama, besar gelasnya sama, orang yang menjualnyapun sama-sama orang Pakistan", Dahlila menjelaskan sambil tertawa kelakar. Kami semua tersenyum-senyum, dengan segelas cai masing-masing ditangan. Semua wajah ceria, sambil meminum sedikit-sedikit teh yang masih panas itu.
Sebenarnya bukanlah cai itu yang istimewa, sama saja rasanya dengan teh tarik mamak di Malaysia, KEBERSAMAAN KAMI , pergi berjalan bersama, pergi suakif bersama, melihat semua suasana bersama, INILAH YANG ISTIMEWA BAGI KAMI.
Senyum mengulum dibibir masing-masing cukup hanya dengan mendapat segelas cai yang tidakpun istimewa. INILAH KEINDAHAN YANG TIDAK TERLUPAKAN.
"Opah ...!! Ayah kata besok kita pergi VILAGGIO, best Pah Vilagio tu", Ukashah menyampaikan berita,sebenarnya dialah yan g mengajak ayahnya.
"Diperjalanan nanti kita beli syawirma, opah suka kan ? tanya Ukashah.
"Suka ....... ", jawabku menyenangkan hatinya .
Selesai solat zuhur, kamipun berangkat ke Vilaggio pada keesokan harinya.
Sepanjang jalan aku perhatikan pusat Bandar Doha itu. Bangunan-bangunanya beritngkat tidaklah terlalu tinggi, tidak ada yang spesifik Qatar, cuma sebagai negeri yang tidak pernah disirami hujan bentuk atasnya tidaklah sama dengan Malaysia.
Setelah kereta diparking, kami segera masuk bangunan Vilaggio, bangunan yang luas dan besar sekali tetapi tidak bertingkat, bumbung di buat tinggi sekali. Ketika aku mendongak ke atas aku terkejut melihat langit biru dan awan rendah sekali, aku juga keliru apakah bangunan ini tidak beratap. Lama kuperhatikan, baru aku sadari bahwa yang kulihat itu adalah lukisan pada bumbung, yang dilukis seperti awan dan langit biru menyerupai keadaan yang sebenarnya, sebab dia sangat tinggi. Memang ini lain dari yang lain. Aku tertawa dalam hati sebab tertipu dan terkelirukan.
Kedai-kedainya besar-besar dan mewah, terlihat tempat ini bukan hanya tempat berbelanja orang-orang kaya, tetapi juga adlah tempat rekreasi, bersantai dan menyenang-nyenangkan diri. Disinilah tempat bertumpu orang-orang Qatar, suami isteri, anak beranak dan diikuti oleh pembantu-pembantu mereka yang harus berpakaian seragam pijamas pakaian tidur, untuk membedakan antara majikan dan pembantu. Disamping berbelanja mereka bersantai duduk, minum-minum dan bersenang senang.
Kami si orang asing ini juga tidak ketinggalan untuk bersantai, kami ikut berperahu-perahu, di sungai buatan yang cukup panjang yang sengaja dibuat dalam bangunan itu.
"Opah naik dulu Pah ..!! baik-baik Pah ", terdengar suara Ukashah gembira dan di sertai rasa takut jatuh.
"Nanti dibawanya opah lari, macam mana, opah takut ni", aku naik sambil bergurau. Semua cucuku tertawa riang gembira, menjawab gurauanku itu, semuanya bersuara menyatakan pendapat masing-masing, riuh rendah tetapi menggembirakan.
"Eh....!!! eh........!!!! senget senget...!!! nanti tenggelam , senget......!!!!! senget....!!!!!!! jeritanku bercampur takut dan bergurau.
"Tak apa Pah, sekejap je, dia berpusing, janganlah opah takut sangat.........tak apa ", Ukashah cuba menenangkanku. Perahu itu oleng, miring ke kiri miring ke kanan, sebab membelok mencari jalan keluar dari tempat perhentiannya itu.
"Oooooooooooo !!!!! goyang rasa nak jatuh Ooooooooooooooo !!!!!!!!!!!".
"Jatuuuuuuuuuhhhhh............. jatuh jatuh.........!!!!!!!!! jatuuuuuuuh !!!!!!!!!"
"Ha..hah...ha......ha... tak ada apa-apa pun....... selamat .....!!!!!! selamat ...... !!!!!!!"
"Ha..ha....ha....ha..... , Acah je sorang yang tak takut, ha ....ha .....ha.... semua penakut ",
Bermacam-macam suara terdengar dari mulut-mulut cucuku, riuh rendah, penuh gelak dan tertawa keriangan. Orang-orang yang memperhatikan kami disekitarnya tidak kami perhatikan. Yang penting gelak dan tertawa keriangan bersama-sama.
Setiap wajah mengulum senyum, bersamaan dengan perahu kami yang meluncur laju menyusur sungai, yang membelok ke kanan dan ke kiri mengikut lenggok sungai itu. Alangkah bahagianya kami semua ketika itu, kami saling pandang memandang menduga-duga apa yang tersimpan dalam hati masing-masing, dan berdoa kebahagiaan
ini janganlah berakhir.
Selesai berperahu-perahu, kami melihat-lihat barang-barang yang akan dibeli, hanya 2 atau 3 barang saja yang terbawa, sebab memang tujuan kami hanya untuk bersantai semata, bukan untuk berbelanja. Penat juga kami berjalan, tidak terjalani semua komplek yang besar itu, kami semua bersetuju meninggalkan tempat itu. Tujuan kami sekarang adalah mencari retoran tempat makan. Kami cari juga yang lain dari yang lain yaitu restoran bersila, dalam bilik-bilik beralaskan tikar tempat duduk. Lain dari yang lain.
Makanan yang dihidangkan rasanya tidak seberapa, mungkin istimewa bagi lidah orang Qatar, itulah sebabnya harganya melangit.
Malam itu tak banyak yang bersuara semua keletihan, dan kami tidur sebelum waktunya.
"Berapa hari lagi Opah disini Ukashah ?", aku bertanya.
"Opah jangan tanya-tanya", jawab Ukashah.
"Ya Pah , elok diam-diam saja kita belum pergi tengok unta, Yasmin teringin naik unta", jawab Yasmin membenarkan pendapat abangnya, mengalihkan pembicaraan.
"Bila kita tengok unta Yah ?" Tasnim pula menyela.
"Hari Kamis ayah cuti lah kita pergi", jawab ayahnya.
Perjalanan kami, jauh juga, kiri kanan jalan hanya padang pasir sejauh-jauh mata memandang, tetapi pikiran terasa lapang sebab mata dapat melihat jauh dan rata, tidak ada bukit-bukit yang menghalangi pandangan mata.
Unta-unta disitu memang disediakan untuk ditunggangi para pelancong, semuanya dihiasi dengan kain berwarna warni, dan ada yang disulam. Semua mereka menunggangi unta, seperti gembira bercampur takut. Setiap unta yang ditunggangi harus membayar 20riyal.
Kami semua terpaksa tertawa sebab sebenarnya harganya hanya 10 riyal setiap ekor yang ditunggangi.
Waktu perjalanan balik kami singgah dulu di tepi laut, disitu kami solat, kemudian duduk-duduk memperhatikan kerenah pengunjung disitu; ada yang memancing ada yang mandi-mandi ada yang membuka bekal dan ada yang menungga kuda dalam laut itu, kami gembira memperhatikan semuanya itu, kami juga membuka bekal yang hanya tinggal kerupuk. Begitu matahari tenggelam kami berangkat .
"Kita ke Al Khor besok mera'ikan Hanan dan Din. Mereka akan naik haji", terdengar suara anakku Dahlila.
"Ye ....... ye ..... besok kita pergi", terdengar sorak riang gembira Ukashah, Yasmin dan Tasnim. Kami tersenyum melihat keriangan mereka bertiga.
"Cepat bangun, mandi dan berkemas, supaya kita cepat sampai disana perjalanan kita agak jauh, kita belum pernah sampai kesana", anakku Dahlila menasehatkan anak-anaknya.
"Ya......ma......., tapi Cerita Opah belum finish lagi", jawab Ukashah.
"Malam ini tak ada cerita, semuanya cepat tidur", perintah ibunya.
"Mesti Opah suka hati, malam ini tak payah cerita, kan Pah ?" tanya Ukashah.
"Mestilah suka hati, opah tak payah pikir-pikir , sebab cerita opah dah habis, ha......ha....
ha........., seronoknya ", jawabku kelakar. Semua mereka tertawa.
Al Khor adalah tempah orang-orang Malaysia bekerja di Qatar, pada umumnya mereka sudah menganggap mereka akan tinggal di situ sampai tua, sepertinya mereka betah tinggal disitu dan tidak pernah merncanakan untuk balik ke Malaysia.
Hari itu mereka mengadakan acara mera'ikan orang-orang Malaysia di Qatar untuk pergi ke Mekah, sebab mereka dapat quota orang Qatar yang masih tersisa.
Selesai aturcara majlis, disediakan makanan, dapatlah kami menikmati hidangan masakan Malaysia, dapatlah kami merasakan makanan yang telah lama tidak kami rasakan.
Perjalanan kami hari itu tidak ada apa-apa yang istimewa, semuanya biasa-biasa saja.
Selesai pertemuan hari itu kami pun balik ke Doha. Kami melalui jalan yang kiri kanannya padang pasir, kadang kadang nampak juga sekelompok pohon-pohon yang menunjukkan bahwa disitu ada beberapa rumah, kami tidak tahu bagaimana caranya mereka mendapatkan bekalan air. Tiba-tiba Yasmin bersuara:
"Yasmin ni selalu tak lucky, tadi dah pilih duduk sebelah sini tetap juga kena panas, opah juga yang untung, sekarang opah juga yang untung duduk sebelah sana", Yasmin merengut sebab tempat duduknya dalam kereta itu selalu kepanasan.
"Ha...ha.....ha..... Opah selalu untung, sebab opah ni cantik ........... ha...ha......ha.......ha.. matahari tak bagi opah kepanasan takut opah jadi hatam, jadi matahari selalu mengenakan Yasmin", jawabku kelakar, cepat-cepat aku diam melihat Yasmin sedih.
"Marilah kita tukar tempat duduk, mari Yasmin duduk di tempat Opah ni ", kataku membujuk Yasmin.
"Tak apa lah Pah ", jawab Yasmin perlahan.
"Opah tak apa lah Pah, matahari tu kesian Opah sebenarnya sebab Opah dah ........",
tak sampai hati Ukashah melanjutkan ayatnya.
Kereta kami terus memacu laju, merentas padang pasir yang luas terbentang. warna kuning kemerahan di ufuk sana , mulai menghiasi langit senja, kami semua berniat solat jamak, tiada tempat persinggahan, hanya padang pasir semata, suatu pemandangan yang indah bagi setiap orang yang melihat untuk pertama kalinya. Kita seperti berada di tepi laut dikala senja, menyaksikan lautan pasir dikala matahari terbenam.
Semuanya keletihan, semuanya mengisi perut ala kadarnya, sebelum pergi ke tempat pembaringan. Tiada suara menyuruh bercerita, tiada tertawa, cepatnya mata terpejam. barulah mata terbuka kembali ketika azan subuh bersahut-sahutan.
"Yang , besok Opah balik Malaysia", kataku memecah kesunyian, ketika sarapan pagi.
Semuanya memandangku tanpa dapat bersuara, lidah kelu, seperti ada yang menyumbat kerongkongan. Masing-masing seperti bergerak kaku, sirna semua keriangan di wajah cucu-cucuku, keriangan di hatiku sebenarnya telah sirna lebih dahulu.
"Kan Opah dah lama kat sini", suaraku membujuk mereka.
"Lama lagi lah Pah ", Tasnim berusia hampir 4 tahun itu meluahkan kehendaknya.
"Opah memang nak lama kat sini tapi tak boleh, orang Qatar kasi opah sebulan saja", jawabku menjelaskan. Tasnim tak dapat memahaminya. Yang lain dapat mengerti sehingga mereka tak dapat bersuara. Suasana hari itu berubah, tidak ada keceriaan seperti biasa. Tidak banyak suara tidak ada gelak dan tawa, hanya Umair berusia satu setengah tahun itulah yang memecah kesunyian di hari itu.
Masing-masing cucuku membuat kesibukan sendiri-sendiri sepertinya mereka tidak mau bertegur sapa, tidak terjadi percakapan diantara mereka. Aku hanya memperhatikan gelagat masing-masing dengan sudut mata.
"Kenapa gosok-gosok mata Yang", aku menegur Ukashah, yang dari tadi sebentar-sebentar menggosok mata.
"Mata kena habuk," jawab Ukashah. Aku dekati dia, air matanya meleleh tak henti-henti.
"Air mata ni tak mau berhenti, sebab kena habuk tadi", Ukasha cuba melindungi sesuatu.
"Mari Opah tengok", aku mendekati Ukashah. Aku tahu, Ukashah sebenarnya menangis, air matanya meleleh tak mahu berhenti, sedu-sedannya ditahannya supaya tiada siapa yang tahu, sedih hatinya tak dapat ditahannya. Air mataku juga mengambang di pelupuk mata. Perpisahan itu sebentar lagi akan terjadi. Aku elus wajah Ukashah yang sayu, aku pura-pura tak tahu apa yang bergejolak dalam dirinya.
Sebelum berangkat ke airport, aku perhatikan setiap sudut rumah itu, aku perhatikan sekelilingnya supaya gambarannya tetap terpatri dalam ingatanku bersama cucu-cucuku. Aku juga tertanya-tanya apakah aku akan pernah lagi berada di tempat itu.
"Nanti yah belikan Syawirma untuk opah, jangan lupa ya Yah ?" terdengar suara Ukashah "Ya.... nanti kita beli SYawirma untuk opah", jawab ayahnya.
Alangkah terharunya aku, betapa cucuku selalu mengingatku dan selalu ingin menggembirakan aku, mereka selalu ingat apa yang aku sukai dan berusaha untuk memberikannya kepadaku. Aku peluk cucu-cucuku di atas kereta dalam perjalanan ke airport itu aku gunakan setiap kesempatan untuk mendakap mereka, kesempatan yang tinggal sangat sedikit. Sementara mataku yang sebak aku layangkan keluar memperhatikan bangunan-bangunan di pusat kota Doha yang sebentar lagi akan aku tinggalkan.
Tidak semudah airport KLIA, Airport Doha tidak membenarkan semua orang masuk, hanya penumpang pesawat yang boleh. Seperti orang yang tak pernah tahu aturan, keinginan untuk bersama opah, entah bagaimana mereka semuanya dapat masuk dan duduk ditempat check in. Dalam kesedihan itu aku masih dapat tertawa.
Cucu-cucuku berdoa semoga hari itu kapal terbang penuh, opah tak dapat berangkat, mereka tahu tiketku waiting list. Sedangkan aku kerisauan mengingat visa terbatas.
Akhirnya namaku dipanggil, dengan sifatku yang selalu gopoh ini aku cepat-cepat pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Aku terburu-buru mengikut arus orang ramai untuk pemeriksaan imiggresen. Setelah jauh baru aku tersedar cucu-cucu yang aku tinggalkan, dari celah-celah orang ramai dapat kulihat mereka semuanya terpaku tidak bergerak memperhatikan gelagatku yang gegabah itu. Ingin aku menjerit memanggil mereka, tetapi kulihat mereka dengan kecewa bergerak perlahan menjauh dari situ.
Di atas kapal terbang aku tumpahkan kesedihanku yang sejak tadi tertahan, aku menangis, air mataku tak mahu berhenti, terbayang olehku wajah-wajah cucu-cucuku yang kecewa dengan sikapku. Betapa mereka mengharapkan lambaian dari opah yang akan meninggalkan mereka di kota Doha. Kota yang sangat sepi bagi mereka yang jauh dari sanak saudara dan handai taulan.
Permulaan November 2011. O P A H
No comments:
Post a Comment