Wednesday, 10 September 2014

DISINI KAMI BERNAFAS


D I   S I N I   KA M I   B E R N A F A S

Sebuah true story disampaikan secara naratif  ……………………..

Tidak seorangpun yang menyangka ada orang sekejam itu . Kejam memang sungguh-sungguh kejam , sanggup memecahkan periuk nasi orang . Sanggup menutup sumber rezeki ramai orang.
Mereka merasa menang dan Berjaya dengan menganiaya orang lain yang tidak mengusik dan mengganggu kehidupan mereka .
“Macam mana ……………………………….???  mereka tidak tahu siapa kita ? , mereka tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan  ?”, pak Kenok berkata dengan bangganya .
“Untunglah perjuangan kita cepat Berjaya”, pak Koneng menjawab dengan gembira.
“Perjuangan yang mudah ,…………………… dia siapa ,……………… kita siapa ,………………………. kita angkat saja telepon , berlari berterbirit-biritlah pegawai tu mengikut telunjuk kita , mana boleh main-main , Tanya lah siapa dulu kita  …………………………….???”, pak Kenok semakin berselera untuk berkata-kata .
“Semuanya diam saja tak ada reaksi apa-apapun dari mereka”, pak Koneng menambah lagi .
“Apa yang boleh mereka buat ………….??? , pegawai itu sudah kita pegang ,……………………  sudah mesti dia menurut telunjuk kita , semalam datang lori besar, habis semua barang-barang dan alat-alat perniagaan mereka diangkut , tentulah tak dapat mereka berniaga lagi , semua alat-alat memasak , semua kerusi meja habis semua , entah kemana diangkut , semua itu atas perintah pegawai itu”, pak Kenok bertambah-tambah sombongnya.
“Aku pun merasa seronok , dengan begitu , bertambah naiklah harga rumah kita di sini , sebab tidak ada orang berniaga di sini , membuat bising dan kacau saja , tak ada kelas”, kata pak Koneng berpuas hati .
“Kita mahu menjadikan tempat ini , tempat yang ada kelas , tidak mahu bercampur aduk dengan tempat berniaga , dengan rumah besar seperti rumah kita ini , selayaknya kita bina tempat kediaman yang tenang aman dan damai , ye lah mestilah sesuai dengan level kita sebagai orang atasan yang ada duit . Kita bukan orang sembarangan , pegawaipun dapat kita beli”, pak Kenok bertambah seronok dan bergairah untuk berkata-kata, dan dapat membanggakan dirinya .
“Memang mereka tak sedarkan diri………………… , dari awal lagi seharusnya mereka sudah tahu , di mana mereka harus berniaga . Takkanlah mereka tak tahu bahwa mereka tak layak untuk berjiran dengan kita”, pak Koneng pun merasa mendapat angin pula untuk membanggakan diri .
“Mereka seharusnya sudah tahu , pegawai itu sudah kita pegang, sudah kita beli , apapun kesalahan-kesalahan kita , pegawai yang berkuasa itupun tak berani angkat mulut . Beranikah pegawai itu menegur kesalahan pembuatan jalan ?. Setengah jalan itu bukan tanah kita , sudah termakan tanah orang , tetapi adakah pegawai itu kesah ?   Tetap juga pegawai meluluskan pembuatan jalan itu”, pak Kenok meneruskan lagi mencari bukti-bukti kehebatan dirinya.
“Ah……………. Syukurlah kalau begitu , beruntungnya kita menjadi orang yang berduit ini , semua dapat kita beli , mengenai hal ini , seharusnya semua orang tahu”, pak Koneng pun tertawa lebar , dengan senyum puas .

Selain Pak Kenok dan Pak Koneng , banyak lagi yang tertawa lebar , pak Seman ,pak Miun , pak Sewot , pak dollah , pak Jail , pak Ireng , dan semua pak cik-pakcik yang merasa dari level ‘atasan’ yang sanggup membeli apa-apa saja dengan duit , berlumba-lumba tertawa lebar .
Tertawalah ya tertawalah tiada siapa yang melarang .

                        ……………………………………

Tak sampai hati Atan melihat keadaan  ibunya , terasa mahu lari dia dari berjumpa dengan ibunya.
Deraian air mata ibu dan isak tangis,yang tak tertahan, tak tahan pula Atan melihatnya .
Rasa mahu lari Atan dari menghadapi ibunya yang teramat sangat dilanda kesedihan itu.
“Mengapa mereka hendak meroboh kedai kita Atan ? ……………….. Mengapa barang-barang kita diambilnya semua Atan ? …………………
Hutang kita untuk kmembuat kadai itu dan membeli barang-barang itu belumpun habis terbayar , mengapa mereka merampas barang-barang kita Atan ? ………………….. Mengapa ??????????????????????? Apa salah kita  ????????????????????????” Ibu Atan terus menangis , pertanyaan itu diulang-ulangnya entah beberapa kali , dia tak habis pikir , dan tidak mendapatkan jawapannya .
“Mak  !!!!!!!!!!!!!!!!!   Atan tak tahu ,   Mak  !!  Macam manaAtan hendak menjawap pertanyaan Mak !!!!!!!!!!  Atan tak tahu  ,  memang Atan betul-betul tak tahu .” jawab Atan dengan sebak .
“Apa salah kita ?   Sanggup orang-orang itu menganiaya kita , memecahkan periuk nasi kita , ramai cucu-cucu mak menumpang makan,hasil dari kedai itu, sanggup , sampai hati orang-orang itu menganiaya ramai orang ?” ibu Atan meluahkan perasaan sedihnya .

“Mak ………….!!!!!!! Kita orang teraniaya , bagaimana kalau kita sembahyang hajatkan saja siapa yang menganiaya kita itu , do’a orang teraniaya pasti dikabulkan Tuhan . Kita do’akan saja supaya herot mulutnya, buta matanya sebelah , cengkok tangannya , lumpuh kakinya, atau sesak nafasnya . Macam-macam lagi dapat kita do’a kan , biar padan mukanya , seronok sangat menganiaya orang , biar dia rasa”,  Atan melepaskan sakit hatinya pula , sakit hati terhadap orang yang menganiaya , dan kesian melihat kesedihan ibunya .
Ibu Atan ternganga mendengarkan kata-kata anaknya , tidak biasanya Atan mengeluarkan kata-kata sekejam itu , apalagi melakukan kerja sekejam itu , dia mengenal anaknya sebagai seorang pengasih penyayang , lemah lembut , dan senyumnya membuat orang simpatik . 

“Atan  !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!  mengapa cakap macam tu , Tak baik kita menganiaya  orang  macam tu   !!!!!!”, ibunya bersuara dan berhenti menangis  .
“Kan dia yang dulu menganiaya kita ? Apa salahnya kita balas?”, Atan menjawab .
“Apapun yang kita minta kepada Allah , apa yang kita do’akan , haruslah yang baik-baik saja, kita do’akan supaya mereka diberi petunjuk dan hidayah semoga terbuka hatinya untuk berbuat baik  sesama  manusia apalagi sesama   Isalam”, ibu Atan menasehati .
“Mak ni baik sangat ……………………….!!! Sekali-sekali kita buat pula orang itu supaya dia  serik dan berhenti menganiaya orang . Sesudah kita dianiaya begini , entah siapa lagi yang akan dianiayanya . Dia sangat berleluasa .
  Kalau sudah cengkok tangannya , herot mulutnya , macam mana lagi dia nak buat jahat kepada orang lain”, Atan mempertahankan hujahnya.
“Atan ……………..!!!!!!!, tak baik , mak kata tak baik , tak baiklah , dengar cakap mak”, ibu Atan berkata selamba.
“Mak …………………..!!!!  kita ni teraniaya , apa kita nak buat , apa daya kita untuk melawan orang-orang berduit itu  ?  Kita tak salahpun jadi salah juga . Kita berniaga membuat kedai di atas tanah kita sendiri apa salahnyanya ?  Mak tengok berapa banyak kedai –kedai kecil berdiri di sepanjang jalan, apakah orang berniaga di kedai-kedai yang bukan tanahnya sendiri itu dapat lessen untuk brerniaga ? Di pasar borong itu ,orang asing yang berniaga, apakah mereka di beri lessen perniagaan dan dapat tapak pula tempat berniaga ?
Mengapa Mak  ???????????????????   Mengapa ?????????????????????? Kita berniaga diatas tanah kita sendiri tak boleh ke Mak ????????????? Orang yang berniaga di tepi jalan itu orang berduit ke Mak ???  mengapa mereka dibiarkan bertahun-tahun , tidak diganggupun . Mereka kebanyakkannya orang asing , orang asing itu datang ke Negara kita ini membawa banyak duit ke Mak , untuk membeli lessen ? ….   semua orang itu banyak duit ke  ? dapat membeli lessen . Dapat pula membeli apa yang mereka hendak ?” Atan menyuarakan perasaannya yang tak dapat dibendungnya .
“Cuba mak pikir , orang-orang yang berniaga liar itu kebanyakkannya orang asing , mereka mendirikan kedai-kedai bukan di atas tanah mereka , mereka berniaga itu Mak rasa dapat lessen ke ,… tak ? ……………….  Berapa kesalahan mereka Mak ?......................... , Tidak ada apa-apa tindakan kepada mereka . Adakah ini adil Mak  ?  Kita rakyat Negara ini mengapa kita diperlakukan begini ?” , Tak habis-habis rasa kecewa di hati Atan .
“Orang-orang itu berniaga , tak  ada orang yang dengki , jadi tak adalah yang mengadu”, Mak Atan menduga-duga .
“Kalau ada orang mengadu , barulah ada tindakan  ………………… , kalau tak ada , tak adalah tindakan , walaupun kesalahannya jelas dan nyata ?...........
Begitu ke Mak ? Kalau begitu , kerja- kerja dijalankan berdasarkan pengaduan ? Kalau Tak  ada orang orang yang dengki ,  yang busuk hati , orang yang jahat sesama Islam yang suka mengadu , tidak perlukah orang-orang pejabat  tu   buat kerja  ? Perlu ke , kita  membina sebanyak-banyaknya orang busuk hati , orang dengki, orang yang jahat , yang suka mengadu , supaya kerja-kerja berjalan ?................................ Orang yang bukan Islam tak suka mengadu , tidak adalah apa-apa tindakan kepada mereka , walaupun mereka berbuat suatu kesalahan  ………………???????????????????? Betul ke Mak , undang-undang Negara kita macam itu ?
Kalau begitu Dapatkah ditegakkan keadilan ?”, banyaknya factor-faktor penyebab Atan tak puashati .
“Entahlah Tan , tanah kita ini tanah pertanian peninggalan dari bapamu,  itu saja yang Mak tahu , kita berniaga di situ , memang hanya itulah tanah pusaka yang kita ada ………….. ,   salah  ke  tu  …………………..?”  itulah yang dapat dijelaskan oleh ibu Atan .

“Tanah kita tanah pertanian ,………………………  Tak bolehkah seorang petani berniaga Mak ?”, Atan meneruskan .
“Kita berniaga di atas tanah kita ,  tidak sedikitpun termakan tanah orang , Mak tengok berapa banyak tanah kita yang diambil orang untuk membuat jalan untuk laluan mereka ? Mak ………………….!!!! Dimana letaknya keadilan ?” memang tak habis persoalan dalam kepala Atan.
“Makpun tak tahu menjawabnya ,cubalah bertanya kepada siapa-siapa yang dapat mencarikan jawapan untuk soalan kamu itu”, ibu Atanpun terdiam mendengarkan persoalan  Atan yang panjang lebar itu .

                                 ………………………………………………………………

“Sudah terjawabkah persoalan kamu Atan?”Ibu Atan bertanya , kelihatan dia agak tenang , tetapi kesedihan wajahnya tidak berkurang .
“Ada yang sudah dan ada yang belum ,Mak . Tetapi sembahyang hajat rasa nak buat juga mak !” jawab Atan .
“Jangan Atan  …………….!!!!!  Dahsyat akibat dari SOLAT HAJAT TU …..!!!!!!!!!!!!!!!!!!  Tak payah kita mebalasnya macam tu sekali ,   Kita do’akan  mereka mendapat hidayah dan petunjuk . Berdo’a kepada Allah mesti yang baik-baik saja , jangan ada do,a yang tak baik .
Allah MAHA KUASA DAN MAHA ADIL , biarlah Allah yang menentukan segala-galanya . Kalau Allah berkehendak sangat mudah baginya.
Biarlah kita dianiaya jangan kita yang menganiaya”, ibu Atan menambahkan nasehatnya .
“Terima kasih Mak ……!!!!  Mak mendidik kami sangat baik , Atan bangga dengan Mak, Mak mendidik kami , tidak lain tujuannya menyelamatkan kami dunia dan akhirat . Mak beritahu kami bahwa kehidupan dunia ini sementara………….. , dunia adalah tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan yang kekal untuk akhirat nanti , dunia ini adalah mainan , hiasan yang melalaikan, Mak melarang kami terpesona dengan keindahan dunia , HIDUP YANG SEBENARNYA ADALAH DIAKHIRAT NANTI”, Atan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya ………………………………………                                                                                                              

Hari itu ibu Atan datang juga ke kedainya , disapunya dan dibersihkannya juga seperti biasa.
“Tapi Atan lihat Mak tetap sedih juga , Atanpun jadi sedih ,bercampur marah , macam mana Atan dapat tenang melihat keadaan Mak macam tu?” Atan bertanya kepada ibunya .
“Atan anakku macam mana Mak tak sedih , di sinilah di kedai ini mak merasakan ketenteraman , kedamaian , setelah ditinggalkan bapakmu, disini sering berkumpul saudara-saudaramu , datang menengok Mak , mereka datang menolong Mak , datang menolong kerja-kerja Mak , dapat makan bersama-sama , seperti masa kecil dulu di kala bapamu masih ada”, ibu Atan mencurahkan perasaan hatinya .
“Sejak bapamu meninggalkan kita , hati mak sangat kosong, mak dapat mengisi hati mak dengan kehadiran anak-anak di sisi Mak.
Di sinilah , di tanah pusaka peninggalan Bapakmu ini , di kedai ini , masih terasa bayangan bapamu tetap ada bersama kita”, ibu Atan bermadah dengan sedihnya.
“Mengapalah kedai ini  harus ditutup , dilarang kami untuk bersama-sama .
DI SINI LAH KAMI BERNAFAS , DI SINILAH KAMI MENIKMATI KEBERSAMAAN , DI TANAH PUSAKA INI”, IBU ATAN MENGINGAT KEMBALI KEHIDUPANNYA YANG LALU , Kehidupan bahagia yang telah lama luput darinya . Air matanya berderai-derai , menggelinding di pipinya , entah sampai bila pula akan berhenti  ……………………………………………………



                                                               ……………………………………………………………………

1 comment:

  1. sabar ye...kami customer rahman palace mmg sedih. rindu steamboat dkt rahman palace. Semoaga Allah melindungi anda....

    ReplyDelete