D I S I N I KA M I B E R N A F A S
Sebuah true story disampaikan secara naratif ……………………..
Tidak seorangpun yang menyangka ada orang sekejam itu .
Kejam memang sungguh-sungguh kejam , sanggup memecahkan periuk nasi orang .
Sanggup menutup sumber rezeki ramai orang.
Mereka merasa menang dan Berjaya dengan menganiaya orang
lain yang tidak mengusik dan mengganggu kehidupan mereka .
“Macam mana ……………………………….??? mereka tidak tahu siapa kita ? , mereka tidak
tahu dengan siapa mereka berhadapan ?”,
pak Kenok berkata dengan bangganya .
“Untunglah perjuangan kita cepat Berjaya”, pak Koneng menjawab
dengan gembira.
“Perjuangan yang mudah ,…………………… dia siapa ,……………… kita
siapa ,………………………. kita angkat saja telepon , berlari berterbirit-biritlah
pegawai tu mengikut telunjuk kita , mana boleh main-main , Tanya lah siapa dulu
kita …………………………….???”, pak Kenok semakin
berselera untuk berkata-kata .
“Semuanya diam saja tak ada reaksi apa-apapun dari mereka”,
pak Koneng menambah lagi .
“Apa yang boleh mereka buat
………….??? , pegawai itu sudah kita pegang ,…………………… sudah mesti dia menurut telunjuk kita ,
semalam datang lori besar, habis semua barang-barang dan alat-alat perniagaan
mereka diangkut , tentulah tak dapat mereka berniaga lagi , semua alat-alat
memasak , semua kerusi meja habis semua , entah kemana diangkut , semua itu atas
perintah pegawai itu”, pak Kenok bertambah-tambah sombongnya.
“Aku pun merasa seronok , dengan
begitu , bertambah naiklah harga rumah kita di sini , sebab tidak ada orang
berniaga di sini , membuat bising dan kacau saja , tak ada kelas”, kata pak
Koneng berpuas hati .
“Kita mahu menjadikan tempat ini
, tempat yang ada kelas , tidak mahu bercampur aduk dengan tempat berniaga ,
dengan rumah besar seperti rumah kita ini , selayaknya kita bina tempat
kediaman yang tenang aman dan damai , ye lah mestilah sesuai dengan level kita
sebagai orang atasan yang ada duit . Kita bukan orang sembarangan , pegawaipun
dapat kita beli”, pak Kenok bertambah seronok dan bergairah untuk berkata-kata,
dan dapat membanggakan dirinya .
“Memang mereka tak sedarkan
diri………………… , dari awal lagi seharusnya mereka sudah tahu , di mana mereka
harus berniaga . Takkanlah mereka tak tahu bahwa mereka tak layak untuk berjiran
dengan kita”, pak Koneng pun merasa mendapat angin pula untuk membanggakan diri
.
“Mereka seharusnya sudah tahu ,
pegawai itu sudah kita pegang, sudah kita beli , apapun kesalahan-kesalahan
kita , pegawai yang berkuasa itupun tak berani angkat mulut . Beranikah pegawai
itu menegur kesalahan pembuatan jalan ?. Setengah jalan itu bukan tanah kita ,
sudah termakan tanah orang , tetapi adakah pegawai itu kesah ? Tetap juga pegawai meluluskan pembuatan
jalan itu”, pak Kenok meneruskan lagi mencari bukti-bukti kehebatan dirinya.
“Ah……………. Syukurlah kalau begitu
, beruntungnya kita menjadi orang yang berduit ini , semua dapat kita beli ,
mengenai hal ini , seharusnya semua orang tahu”, pak Koneng pun tertawa lebar ,
dengan senyum puas .
Selain Pak Kenok dan Pak Koneng ,
banyak lagi yang tertawa lebar , pak Seman ,pak Miun , pak Sewot , pak dollah ,
pak Jail , pak Ireng , dan semua pak cik-pakcik yang merasa dari level ‘atasan’
yang sanggup membeli apa-apa saja dengan duit , berlumba-lumba tertawa lebar .
Tertawalah ya tertawalah tiada
siapa yang melarang .
……………………………………
Tak sampai hati Atan melihat
keadaan ibunya , terasa mahu lari dia
dari berjumpa dengan ibunya.
Deraian air mata ibu dan isak
tangis,yang tak tertahan, tak tahan pula Atan melihatnya .
Rasa mahu lari Atan dari
menghadapi ibunya yang teramat sangat dilanda kesedihan itu.
“Mengapa mereka hendak meroboh
kedai kita Atan ? ……………….. Mengapa barang-barang kita diambilnya semua Atan ?
…………………
Hutang kita untuk kmembuat kadai
itu dan membeli barang-barang itu belumpun habis terbayar , mengapa mereka
merampas barang-barang kita Atan ? ………………….. Mengapa ???????????????????????
Apa salah kita ????????????????????????”
Ibu Atan terus menangis , pertanyaan itu diulang-ulangnya entah beberapa kali ,
dia tak habis pikir , dan tidak mendapatkan jawapannya .
“Mak !!!!!!!!!!!!!!!!! Atan tak tahu , Mak
!! Macam manaAtan hendak menjawap
pertanyaan Mak !!!!!!!!!! Atan tak
tahu ,
memang Atan betul-betul tak tahu .” jawab Atan dengan sebak .
“Apa salah kita ? Sanggup orang-orang itu menganiaya kita ,
memecahkan periuk nasi kita , ramai cucu-cucu mak menumpang makan,hasil dari
kedai itu, sanggup , sampai hati orang-orang itu menganiaya ramai orang ?” ibu Atan
meluahkan perasaan sedihnya .
“Mak ………….!!!!!!! Kita orang
teraniaya , bagaimana kalau kita sembahyang hajatkan saja siapa yang menganiaya
kita itu , do’a orang teraniaya pasti dikabulkan Tuhan . Kita do’akan saja
supaya herot mulutnya, buta matanya sebelah , cengkok tangannya , lumpuh
kakinya, atau sesak nafasnya . Macam-macam lagi dapat kita do’a kan , biar
padan mukanya , seronok sangat menganiaya orang , biar dia rasa”, Atan melepaskan sakit hatinya pula , sakit
hati terhadap orang yang menganiaya , dan kesian melihat kesedihan ibunya .
Ibu Atan ternganga mendengarkan
kata-kata anaknya , tidak biasanya Atan mengeluarkan kata-kata sekejam itu ,
apalagi melakukan kerja sekejam itu , dia mengenal anaknya sebagai seorang
pengasih penyayang , lemah lembut , dan senyumnya membuat orang simpatik .
“Atan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! mengapa cakap macam tu , Tak baik kita
menganiaya orang macam tu
!!!!!!”, ibunya bersuara dan berhenti menangis .
“Kan dia yang dulu menganiaya
kita ? Apa salahnya kita balas?”, Atan menjawab .
“Apapun yang kita minta kepada
Allah , apa yang kita do’akan , haruslah yang baik-baik saja, kita do’akan
supaya mereka diberi petunjuk dan hidayah semoga terbuka hatinya untuk berbuat
baik sesama manusia apalagi sesama Isalam”, ibu Atan menasehati .
“Mak ni baik sangat ……………………….!!!
Sekali-sekali kita buat pula orang itu supaya dia serik dan berhenti menganiaya orang . Sesudah
kita dianiaya begini , entah siapa lagi yang akan dianiayanya . Dia sangat
berleluasa .
Kalau sudah cengkok tangannya , herot mulutnya , macam mana lagi dia nak
buat jahat kepada orang lain”, Atan mempertahankan hujahnya.
“Atan ……………..!!!!!!!, tak baik ,
mak kata tak baik , tak baiklah , dengar cakap mak”, ibu Atan berkata selamba.
“Mak …………………..!!!! kita ni teraniaya , apa kita nak buat , apa
daya kita untuk melawan orang-orang berduit itu
? Kita tak salahpun jadi salah
juga . Kita berniaga membuat kedai di atas tanah kita sendiri apa salahnyanya
? Mak tengok berapa banyak kedai –kedai
kecil berdiri di sepanjang jalan, apakah orang berniaga di kedai-kedai yang
bukan tanahnya sendiri itu dapat lessen untuk brerniaga ? Di pasar borong itu
,orang asing yang berniaga, apakah mereka di beri lessen perniagaan dan dapat
tapak pula tempat berniaga ?
Mengapa Mak ??????????????????? Mengapa ?????????????????????? Kita berniaga
diatas tanah kita sendiri tak boleh ke Mak ????????????? Orang yang berniaga di
tepi jalan itu orang berduit ke Mak ???
mengapa mereka dibiarkan bertahun-tahun , tidak diganggupun . Mereka
kebanyakkannya orang asing , orang asing itu datang ke Negara kita ini membawa
banyak duit ke Mak , untuk membeli lessen ? ….
semua orang itu banyak duit
ke ? dapat membeli lessen . Dapat pula
membeli apa yang mereka hendak ?” Atan menyuarakan perasaannya yang tak dapat
dibendungnya .
“Cuba mak pikir , orang-orang
yang berniaga liar itu kebanyakkannya orang asing , mereka mendirikan
kedai-kedai bukan di atas tanah mereka , mereka berniaga itu Mak rasa dapat
lessen ke ,… tak ? ………………. Berapa
kesalahan mereka Mak ?......................... , Tidak ada apa-apa tindakan
kepada mereka . Adakah ini adil Mak
? Kita rakyat Negara ini mengapa
kita diperlakukan begini ?” , Tak habis-habis rasa kecewa di hati Atan .
“Orang-orang itu berniaga ,
tak ada orang yang dengki , jadi tak
adalah yang mengadu”, Mak Atan menduga-duga .
“Kalau ada orang mengadu ,
barulah ada tindakan ………………… , kalau tak
ada , tak adalah tindakan , walaupun kesalahannya jelas dan nyata ?...........
Begitu ke Mak ? Kalau begitu ,
kerja- kerja dijalankan berdasarkan pengaduan ? Kalau Tak ada orang orang yang dengki , yang busuk hati , orang yang jahat sesama
Islam yang suka mengadu , tidak perlukah orang-orang pejabat tu buat kerja
? Perlu ke , kita membina
sebanyak-banyaknya orang busuk hati , orang dengki, orang yang jahat , yang
suka mengadu , supaya kerja-kerja berjalan ?................................
Orang yang bukan Islam tak suka mengadu , tidak adalah apa-apa tindakan kepada mereka
, walaupun mereka berbuat suatu kesalahan
………………???????????????????? Betul ke Mak , undang-undang Negara kita
macam itu ?
Kalau begitu Dapatkah ditegakkan
keadilan ?”, banyaknya factor-faktor penyebab Atan tak puashati .
“Entahlah Tan , tanah kita ini
tanah pertanian peninggalan dari bapamu,
itu saja yang Mak tahu , kita berniaga di situ , memang hanya itulah
tanah pusaka yang kita ada ………….. , salah ke tu
…………………..?” itulah yang dapat
dijelaskan oleh ibu Atan .
“Tanah kita tanah pertanian
,……………………… Tak bolehkah seorang petani
berniaga Mak ?”, Atan meneruskan .
“Kita berniaga di atas tanah kita
, tidak sedikitpun termakan tanah orang
, Mak tengok berapa banyak tanah kita yang diambil orang untuk membuat jalan
untuk laluan mereka ? Mak ………………….!!!! Dimana letaknya keadilan ?” memang tak
habis persoalan dalam kepala Atan.
“Makpun tak tahu menjawabnya
,cubalah bertanya kepada siapa-siapa yang dapat mencarikan jawapan untuk soalan
kamu itu”, ibu Atanpun terdiam mendengarkan persoalan Atan yang panjang lebar itu .
………………………………………………………………
“Sudah terjawabkah persoalan kamu
Atan?”Ibu Atan bertanya , kelihatan dia agak tenang , tetapi kesedihan wajahnya
tidak berkurang .
“Ada yang sudah dan ada yang
belum ,Mak . Tetapi sembahyang hajat rasa nak buat juga mak !” jawab Atan .
“Jangan Atan …………….!!!!!
Dahsyat akibat dari SOLAT HAJAT TU …..!!!!!!!!!!!!!!!!!! Tak payah kita mebalasnya macam tu sekali , Kita do’akan
mereka mendapat hidayah dan petunjuk . Berdo’a kepada Allah mesti yang
baik-baik saja , jangan ada do,a yang tak baik .
Allah MAHA KUASA DAN MAHA ADIL ,
biarlah Allah yang menentukan segala-galanya . Kalau Allah berkehendak sangat
mudah baginya.
Biarlah kita dianiaya jangan kita
yang menganiaya”, ibu Atan menambahkan nasehatnya .
“Terima kasih Mak ……!!!! Mak mendidik kami sangat baik , Atan bangga
dengan Mak, Mak mendidik kami , tidak lain tujuannya menyelamatkan kami dunia
dan akhirat . Mak beritahu kami bahwa kehidupan dunia ini sementara………….. ,
dunia adalah tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan yang kekal untuk akhirat
nanti , dunia ini adalah mainan , hiasan yang melalaikan, Mak melarang kami
terpesona dengan keindahan dunia , HIDUP YANG SEBENARNYA ADALAH DIAKHIRAT
NANTI”, Atan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya ………………………………………
Hari itu ibu Atan datang juga ke
kedainya , disapunya dan dibersihkannya juga seperti biasa.
“Tapi Atan lihat Mak tetap sedih
juga , Atanpun jadi sedih ,bercampur marah , macam mana Atan dapat tenang melihat
keadaan Mak macam tu?” Atan bertanya kepada ibunya .
“Atan anakku macam mana Mak tak
sedih , di sinilah di kedai ini mak merasakan ketenteraman , kedamaian ,
setelah ditinggalkan bapakmu, disini sering berkumpul saudara-saudaramu ,
datang menengok Mak , mereka datang menolong Mak , datang menolong kerja-kerja
Mak , dapat makan bersama-sama , seperti masa kecil dulu di kala bapamu masih
ada”, ibu Atan mencurahkan perasaan hatinya .
“Sejak bapamu meninggalkan kita ,
hati mak sangat kosong, mak dapat mengisi hati mak dengan kehadiran anak-anak
di sisi Mak.
Di sinilah , di tanah pusaka
peninggalan Bapakmu ini , di kedai ini , masih terasa bayangan bapamu tetap ada
bersama kita”, ibu Atan bermadah dengan sedihnya.
“Mengapalah kedai ini harus ditutup , dilarang kami untuk
bersama-sama .
DI SINI LAH KAMI BERNAFAS , DI
SINILAH KAMI MENIKMATI KEBERSAMAAN , DI TANAH PUSAKA INI”, IBU ATAN MENGINGAT
KEMBALI KEHIDUPANNYA YANG LALU , Kehidupan bahagia yang telah lama luput
darinya . Air matanya berderai-derai , menggelinding di pipinya , entah sampai
bila pula akan berhenti ……………………………………………………
……………………………………………………………………
sabar ye...kami customer rahman palace mmg sedih. rindu steamboat dkt rahman palace. Semoaga Allah melindungi anda....
ReplyDelete